Ilustrasi penyiar radio. (Sumber gambar: Freepik)

Hypereport: Menilik Kondisi & Tantangan Industri Radio di Dunia Digital dan Era Media Sosial

17 September 2025   |   13:04 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan media sosial, radio masih mendapatkan tempat tersendiri di kalangan masyarakat termasuk anak muda. Menurut survei GoodStats tahun 2024, sebanyak 52 persen anak muda masih mendengarkan radio dalam frekuensi sebulan sekali atau lebih. 
 
Sebanyak 14,6 persen responden diantaranya mengaku mendengarkan radio setiap 2-4 hari sekali. Bahkan, 10,8 persen responden mengaku mengakses radio setiap hari. Adapun, mayoritas dari mereka mendengarkan radio untuk menghilangkan rasa bosan maupun kesepian sebagaimana diakui 73,4 persen responden.
 
Hasil survei yang melibatkan 500 responden itu menunjukkan musik jadi konten pilihan utama anak muda di radio. Mayoritas anak muda atau 72 persen responden mengaku bahwa musik sebagai konten favorit mereka di radio. Hal ini menunjukkan bahwa radio masih jadi salah satu medium andalan bagi anak muda untuk mendengarkan lagu-lagu sampai ulasan musik terkini yang mereka sukai. 
 
Selain musik, konten-konten favorit lainnya di radio termasuk berita (40 persen), talkshow (26 persen), informasi situasi lalu lintas (26 persen), hingga ceramah agama (14,6 persen). Adapun, hasil survei menunjukkan bahwa mayoritas anak muda saat ini punya preferensi mendengarkan radio dalam durasi yang relatif singkat yakni rata-rata 45 menit.  

Baca juga laporan terkait: 
Ketua Dewan Kehormatan Standar Profesional Radio Siaran Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI), Chandra Novriadi, mengamini bahwa secara umum radio masih punya tempat di tengah serbuan berbagai media.

Namun, di tengah perilaku konsumen yang semakin akrab dengan digitalisasi dan layanan on demand, radio pun harus hadir di berbagai platform serta memberikan value yang beda seperti lokalitas, real time, hingga kedekatan pada komunitas. 
 
Dalam praktiknya, mayoritas stasiun radio kini mengudara secara hybrid. Tetap siaran konvensional melalui analog terrestrial (FM/AM), sekaligus hadir di berbagai platform lain seperti siaran streaming melalui website dan mobile app serta media sosial seperti live video di YouTube/TikTok/IG Live.
 
Chandra menyampaikan secara volume, analog terrestrial (AM/FM) masih menjadi media dominan bagi masyarakat dalam mendengarkan radio, karena jangkauan massal dan kebiasaan mendengar radio di mobil. Di sisi lain, minat mendengarkan radio melalui streaming mobile app dan website pun terus bertumbuh.  
 
"Sebenarnya pemerintah juga sudah menerbitkan regulasi yang mengakomodasi teknologi digital terestrial [DAB+/DRM] di Indonesia, tapi kelihatannya radio swasta belum tertarik karena pendengar harus beli pesawat penerima khusus untuk mendengarkannya," ujarnya kepada Hypeabis.id. 
 
Eksistensi radio sampai saat ini tidak terlepas dari sejumlah adaptasi yang dilakukan agar tetap relevan. Chandra menuturkan saat ini radio mengudara dalam konsep simulcast dan multiplatform. Selain melakukan siaran, stasiun radio juga melakukan live streaming hingga mengunggah potongan konten ke media sosial (IG/TikTok/YouTube). 
 
Hal tersebut mulai lazim dilakukan di banyak stasiun, juga didorong oleh pelatihan dan regulasi untuk lebih adaptif. Selain itu, radio juga kini hadir secara streaming dan podcasting yakni time-shifted listening berupa rekaman segmen, best cuts, dan serial audio. 
 
Termasuk, adaptasi dalam bentuk data-driven sales yakni bundling spot on-air, konten digital, dan event komunitas, serta eksperimen format radio berupa branded content, live report, ad-libs, UGC, dan niche community.
 
Menurutnya, radio masih penting untuk terus eksis di era digital saat ini. Sebab, radio punya sejumlah peran penting di antaranya memberikan informasi yang real time dengan kedekatan lokal seperti informasi tentang lalu lintas, bencana, pemilu, dan isu kota lainnya.
 
"Radio juga punya peran dalam distribusi berita dan isu publik. Di ekosistem berita, konsumsi via platform digital naik, dan konten audio atau podcast berperan sebagai companion format," imbuh pria yang juga menjabat sebagai Direktur FeMale Radio itu.
 
Selain itu, radio juga berperan sebagai penyeimbang sekaligus verifikator di tengah banjir hoaks di media sosial. Termasuk, menjadi wadah terciptanya komunitas dimana penyiar menjadi teman setia bagi para pendengar, sehingga radio memiliki engagement atau kedekatan organik yang sulit direplikasi oleh platform lain.  

Baca juga: Radio Bukan Sekadar Nostalgia, Tapi Juga Andalan di Masa Krisis 
 

Tantangan Industri Radio Kini

Meski masyarakat masih mendengarkan radio, sejumlah tantangan pun dihadapi oleh stasiun-stasiun radio saat ini. Chandra mengatakan dari sisi penjualan, pendapatan iklan radio (radio advertising expenditure) terus turun meskipun laju penurunannya mulai melambat. 
 
Hal tersebut membuat radio kini juga gencar mencari peluang monetisasi di berbagai platform sehingga bisa memperoleh pendapatan lain misalnya dari penghasilan di platform digital maupun dari event komunitas.
 
Senada, Wakil Pemimpin Redaksi Elshinta, Krisanti, mengatakan saat ini kondisi bisnis radio tidak sedang baik-baik saja, padahal eksistensinya penting sebagai media mainstream untuk menyajikan berita aktual dan terpercaya. Menurutnya, kehadiran AI dan media sosial dalam menyebar berita yang belum terjamin kebenarannya menjadi disrupsi yang kuat bagi arus media.
 
Di saat yang bersamaan, dia mengakui beratnya persaingan dengan media on demand seperti Spotify yang menekan kondisi finansial industri radio. Krisanti pun meminta perhatian dari pemerintah untuk memberi dukungan positif pada eksistensi radio, untuk meminimalisasi dampak buruk dari keberadaan media baru atau media on demand.
 
Station Manager Sonora FM, Vivi Lesmana, menyampaikan kondisinya tidak jauh berbeda dengan yang dialami Radio Elshinta. Berdasarkan data Nielsen, pendengar radio mengalami penurunan dan diduga mereka beralih ke platform lain sehingga berpengaruh pada revenue yang diperoleh secara keseluruhan. Dengan adanya efisiensi, dia justru merasakan nihilnya dukungan dari pemerintah.
 
“Data dari Komdigi, 56 radio dihentikan karena 6 bulan off siaran, lalu frekuensi diambil negara. Apakah masih bisa survive? Saya berharap KPI [Komisi Penyiaran Pusat] bisa beraudiensi dengan presiden, kementerian atau lembaga untuk bersama membantu media konvensional yang sudah membantu membangun Indonesia. Aturan kebijakan harusnya bisa mempermudah mengakomodir radio," katanya dikutip dari situs resmi KPI.
 
Aditya selaku perwakilan PRSSNI menyampaikan berbagai upaya sudah dilakukan untuk bisa mempertahankan keberlangsungan radio. Namun, fakta bahwa hakikat radio adalah media murah, dan model bisnisnya melalui iklan dari pemerintah dan merek, keberadaan influencer dan Key Opinion Leader (KOL) pada media on demand, disrupsi internet, persaingan dengan media audio visual, serta perbedaan pengenaan biaya izin siar masih menjadi sederet tantangan yang penting untuk diperhatikan. 
 
Dia juga menyebutkan tentang klasifikasi penetapan pembayaran royalti yang ditetapkan Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN) yang dianggap kurang sesuai dengan profil penyiaran. "Pasar radio ada dua, yaitu pendengar dan pengiklan. 10 atau 20 tahun lalu, kita bikin program bagus, promosikan, dapat pendengar, dibawa ke pengiklan, beres. Namun setelah Meta dan Google masuk handphone, bubar," katanya. 
 
Selain dari sisi pendapatan, radio juga masih menghadapi beberapa tantangan lainnya. Chandra mengatakan masifnya konten-konten di media sosial dan video pendek merubah fragmentasi atensi masyarakat. Publik terbiasa melihat konten audio visual, sehingga butuh ketertarikan dan minat yang besar untuk mendengarkan radio.
 
Tantangan lainnya termasuk kepatuhan dan kualitas siaran yakni masih adanya pelanggaran konten di radio walaupun jumlahnya sangat sedikit dibanding medium lain, serta perlunya investasi dan edukasi publik terkait transisi teknologi menuju ekosistem digital radio (DAB+/DRM). 

Baca juga: Hari Radio Nasional dan Sejarah Berdirinya Radio Republik Indonesia 
 

Tren Radio Mendatang

Chandra berpendapat ke depan, akan ada beberapa tren yang hadir dalam dunia radio. Menurutnya, radio nantinya akan menjadi semacam audio network, yakni stasiun bertindak sebagai audio-first brand yang memayungi konten yang didistribusikan secara terintegrasi ke berbagai platform, baik analog terrestrial (AM/FM), streaming melalui web dan app, podcast dan video-podcast, media sosial maupun event komunitas. 
 
Selain itu, visual radio akan makin banyak digunakan yakni studio-cam plus klip vertikal, serta strategi pendekatan audiens yang lebih lokal (geo-local dan community commerce) yaitu integrasi live report, event hyper local dan social commerce.
 
"Trennya termasuk pogrammatic dan branded audio, jadi berupa paket iklan lintas on-air plus digital audio dan event. Karena itu dibutuhkan pengukuran cross-platform yang lebih baik," tuturnya. Selain itu, diharapkan proses transformasi dan uji coba elemen radio digital (DAB+/DRM) akan lebih serius, sehingga radio bisa paralel dengan FM. 
 
Sementara dari sisi infrastruktur, ada peluang untuk menggunakan 5G Broadcast sebagai salah satu teknologi broadcasting pada masa yang akan datang. Chandra mengungkap beberapa negara Eropa seperti Jerman, Inggris, Italia sudah melakukan uji coba tersebut. Begitu juga Korea Selatan dan China. 
 
"Di Asia Tenggara, Indonesia sudah mulai melakukan uji coba di fase awal, disusul Malaysia dan Thailand. Masih banyak tantangan untuk mewujudkannya memang, tapi secara teknis teknologi ini menjanjikan," tambahnya. 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor:

SEBELUMNYA

Sinopsis Serial A Hundred Memories, Drakor Baru yang Dibintangi Kim Da-mi dan Shin Ye-eun

BERIKUTNYA

Jadwal Tayang & Alur Cerita Film Dilanjutkan Salah Disudahi Perih

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga