Muhammad Zaidy: Izin Syuting di New York Lebih Praktis daripada di Indonesia
16 September 2025 |
12:30 WIB
Sineas Muhammad Zaidy baru saja mendapat pengalaman menarik saat menjadi showrunner di produksi serial orisinal Netflix, Ratu Ratu Queens: The Series. Dia harus mengurus izin syuting di New York, tepatnya di Times Square, kawasan yang selama ini dikenal tidak mudah diakses untuk keperluan film.
Meski awalnya membayangkan akan menghadapi kesulitan besar, pria yang karib disapa Eddy ini justru merasakan proses yang terbilang lancar. Dia pun bersyukur karena Ratu Ratu Queens: The Series bisa tetap syuting di persimpangan yang dikenal paling padat di New York tersebut.
Eddy mengatakan secara keseluruhan proses perizinan di New York berjalan lancar karena mereka sudah memiliki aturan yang jelas, sistematis, dan memberikan kepastian waktu yang pasti. Jika harus dibandingkan dengan Indonesia, situasinya masih berbeda jauh.
Baca Juga: Pengalaman Asri Welas, Blokir Jalanan Times Square Demi Syuting Serial Netflix
"Harus diakui, industri perfilman di Amerika jauh lebih mapan. Namun, kita perlu tahu nih, mereka mungkin sudah melakukan ini 100 tahun kali ya. Industrinya sudah dibangun lama, sehingga mereka lebih punya tata cara yang resmi dan jelas, mereka punya union-union dan segala macam. Sementara itu, di Indonesia, kita baru sedang menuju ke sana," ungkap Eddy kepada Hypeabis.id.
Eddy menjelaskan bahwa perizinan syuting di New York dikelola secara terpusat di bawah otoritas Wali Kota. Prosesnya hanya membutuhkan pengajuan ke satu lembaga resmi, dan begitu izin diberikan, produksi bisa langsung berjalan.
Dia menambahkan, aturan serta prosedur pengajuan izin sudah dirancang dengan rinci dan transparan. Pihak produksi hanya perlu menyiapkan dokumen lengkap sebelum diserahkan, bahkan yang menarik disediakan pula panduan khusus yang dapat membantu kru memahami proses dan memilih tempat yang sedang dibutuhkan.
Dalam hal ini, kata Eddy, pemerintah setempat telah memiliki data dan memetakan berbagai lokasi yang kerap digunakan untuk syuting film maupun serial. Lokasi-lokasi itu kemudian dibagi dalam beberapa kategori, seperti red zone yang populer tapi karena satu dan lain hal lebih sulit diakses. Namun, lokasi tersebut tetap bisa digunakan. Ada pula green zone yang relatif mudah mendapatkan persetujuan.
"Bisa dibilang, kita hanya akan ribet di awal, kayak paperwork harus jelas dan segala macam. Di Indonesia, sebenarnya begitu, tetapi bedanya lebih ribet di birokrasi lah, belum banyak perizinan kanan-kiri, dari warga setempat, ormas, dan lain-lain. Bedanya lagi di Indonesia banyak pungutan-pungutan liar, jujur saja. Sementara di Amerika tidak mengenal itu," jelasnya.
Belum lagi, kata Eddy, tingkat kesulitan perizinan syuting di Indonesia juga bisa berbeda-beda tergantung wilayah. Dia mencontohkan Jakarta dan Bandung yang dikenal rumit sekaligus membutuhkan biaya tinggi, sedangkan di New York prosesnya jauh lebih sederhana karena semua sudah diatur jelas dan tinggal dijalankan sesuai prosedur.
Dia pun berharap mekanisme perizinan di Indonesia dapat diperbaiki ke depannya. Menurutnya, aspek ini sangat penting karena berpengaruh langsung terhadap kelancaran produksi film maupun serial.
Jika hal ini tidak segera dibenahi, Indonesia berisiko tertinggal dalam persaingan internasional, yang mana saat ini makin banyak film-film mencari latar baru untuk lokasinya. Oleh karena itu, negara lain pun kini berlomba mampu menawarkan sistem yang lebih efisien sekaligus ramah terhadap industri kreatif.
Di luar itu, Eddy mengatakan Times Square menjadi lokasi syuting yang diperjuangkan sejak awal karena beberapa alasan. Dipilih lokasi ini karena Times Square merupakan landmark yang paling mudah dikenali di New York. Menurutnya, kawasan ini mampu menghadirkan energi kota besar yang sesuai dengan semangat dan konteks cerita dalam Ratu Ratu Queens: The Series.
Dia menjelaskan bahwa salah satu karakter di serial ini, Bia, digambarkan memiliki banyak peran dalam hidupnya. Mulai dari paparazzi, pekerja serabutan, karyawan supermarket, hingga street performer, dan latar Times Square dianggap paling pas untuk menampilkan sisi tersebut.
Street performer, kata Eddy, memang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Times Square. Oleh karena itu, menempatkan Bia di lokasi ini membuat cerita terasa lebih natural sekaligus autentik dengan realitas kota New York.
Eddy menambahkan bahwa karakter lainnya, Party, juga memiliki adegan khusus di kawasan ini. Dia digambarkan tengah melewati Times Square untuk sekadar mengenang kembali pengalaman lamanya di kota tersebut, yang kemudian menghadirkan nuansa nostalgia dalam alur cerita.
Dengan begitu, lanjut Eddy, Times Square bukan hanya berfungsi sebagai latar visual. Kawasan ini sekaligus menjadi simbol yang mempertemukan berbagai lapisan kehidupan karakter, menambah kedalaman emosional, dan memperkuat identitas serial.
Baca Juga: Aktris Hayati Azis Cerita Pengalaman Berkesan Syuting Film Sweet Dreams
Meski awalnya membayangkan akan menghadapi kesulitan besar, pria yang karib disapa Eddy ini justru merasakan proses yang terbilang lancar. Dia pun bersyukur karena Ratu Ratu Queens: The Series bisa tetap syuting di persimpangan yang dikenal paling padat di New York tersebut.
Eddy mengatakan secara keseluruhan proses perizinan di New York berjalan lancar karena mereka sudah memiliki aturan yang jelas, sistematis, dan memberikan kepastian waktu yang pasti. Jika harus dibandingkan dengan Indonesia, situasinya masih berbeda jauh.
Baca Juga: Pengalaman Asri Welas, Blokir Jalanan Times Square Demi Syuting Serial Netflix
"Harus diakui, industri perfilman di Amerika jauh lebih mapan. Namun, kita perlu tahu nih, mereka mungkin sudah melakukan ini 100 tahun kali ya. Industrinya sudah dibangun lama, sehingga mereka lebih punya tata cara yang resmi dan jelas, mereka punya union-union dan segala macam. Sementara itu, di Indonesia, kita baru sedang menuju ke sana," ungkap Eddy kepada Hypeabis.id.
Eddy menjelaskan bahwa perizinan syuting di New York dikelola secara terpusat di bawah otoritas Wali Kota. Prosesnya hanya membutuhkan pengajuan ke satu lembaga resmi, dan begitu izin diberikan, produksi bisa langsung berjalan.
Dia menambahkan, aturan serta prosedur pengajuan izin sudah dirancang dengan rinci dan transparan. Pihak produksi hanya perlu menyiapkan dokumen lengkap sebelum diserahkan, bahkan yang menarik disediakan pula panduan khusus yang dapat membantu kru memahami proses dan memilih tempat yang sedang dibutuhkan.
Dalam hal ini, kata Eddy, pemerintah setempat telah memiliki data dan memetakan berbagai lokasi yang kerap digunakan untuk syuting film maupun serial. Lokasi-lokasi itu kemudian dibagi dalam beberapa kategori, seperti red zone yang populer tapi karena satu dan lain hal lebih sulit diakses. Namun, lokasi tersebut tetap bisa digunakan. Ada pula green zone yang relatif mudah mendapatkan persetujuan.
"Bisa dibilang, kita hanya akan ribet di awal, kayak paperwork harus jelas dan segala macam. Di Indonesia, sebenarnya begitu, tetapi bedanya lebih ribet di birokrasi lah, belum banyak perizinan kanan-kiri, dari warga setempat, ormas, dan lain-lain. Bedanya lagi di Indonesia banyak pungutan-pungutan liar, jujur saja. Sementara di Amerika tidak mengenal itu," jelasnya.
Belum lagi, kata Eddy, tingkat kesulitan perizinan syuting di Indonesia juga bisa berbeda-beda tergantung wilayah. Dia mencontohkan Jakarta dan Bandung yang dikenal rumit sekaligus membutuhkan biaya tinggi, sedangkan di New York prosesnya jauh lebih sederhana karena semua sudah diatur jelas dan tinggal dijalankan sesuai prosedur.
Dia pun berharap mekanisme perizinan di Indonesia dapat diperbaiki ke depannya. Menurutnya, aspek ini sangat penting karena berpengaruh langsung terhadap kelancaran produksi film maupun serial.
Jika hal ini tidak segera dibenahi, Indonesia berisiko tertinggal dalam persaingan internasional, yang mana saat ini makin banyak film-film mencari latar baru untuk lokasinya. Oleh karena itu, negara lain pun kini berlomba mampu menawarkan sistem yang lebih efisien sekaligus ramah terhadap industri kreatif.
Times Square Jadi Lokasi Kunci di Serial
Di luar itu, Eddy mengatakan Times Square menjadi lokasi syuting yang diperjuangkan sejak awal karena beberapa alasan. Dipilih lokasi ini karena Times Square merupakan landmark yang paling mudah dikenali di New York. Menurutnya, kawasan ini mampu menghadirkan energi kota besar yang sesuai dengan semangat dan konteks cerita dalam Ratu Ratu Queens: The Series.
Dia menjelaskan bahwa salah satu karakter di serial ini, Bia, digambarkan memiliki banyak peran dalam hidupnya. Mulai dari paparazzi, pekerja serabutan, karyawan supermarket, hingga street performer, dan latar Times Square dianggap paling pas untuk menampilkan sisi tersebut.
Street performer, kata Eddy, memang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Times Square. Oleh karena itu, menempatkan Bia di lokasi ini membuat cerita terasa lebih natural sekaligus autentik dengan realitas kota New York.
Eddy menambahkan bahwa karakter lainnya, Party, juga memiliki adegan khusus di kawasan ini. Dia digambarkan tengah melewati Times Square untuk sekadar mengenang kembali pengalaman lamanya di kota tersebut, yang kemudian menghadirkan nuansa nostalgia dalam alur cerita.
Dengan begitu, lanjut Eddy, Times Square bukan hanya berfungsi sebagai latar visual. Kawasan ini sekaligus menjadi simbol yang mempertemukan berbagai lapisan kehidupan karakter, menambah kedalaman emosional, dan memperkuat identitas serial.
Baca Juga: Aktris Hayati Azis Cerita Pengalaman Berkesan Syuting Film Sweet Dreams
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.