Game Roblox (Sumber gambar: Play Store/Roblox Corporation)

Risiko Konten Negatif Hingga Kejahatan Siber Mengintai Anak-anak di Roblox

16 September 2025   |   09:19 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Popularitas Roblox telah mengubah cara anak-anak bersosialisasi di dunia digital dengan menciptakan ruang virtual yang interaktif. Anak-anak dapat berkolaborasi, berkomunikasi, dan berkreasi bersama melalui gim atau pengalaman yang mereka buat.

Platform ini mendorong kreativitas dan kerja sama, tetapi juga memunculkan tantangan seperti paparan terhadap interaksi negatif atau konten yang tidak sesuai. Pasalnya, semua kalangan usia dan latar belakang bebas mengakses platform ini. 

Baca juga: Psikolog Ungkap Dampak Positif & Negatif Main Roblox bagi Anak-Anak

Pemerhati Budaya dan Komunikasi Digital Firman Kurniawan menerangkan Roblox telah banyak berubah sejak pertama kali diluncurkan pada 2006 lalu. Dulunya hanya sekadar permainan, kini Roblox telah berevolusi menjadi sebuah metaverse, simulasi dunia nyata di dalam ruang digital.

Di dalamnya ada interaksi orang dewasa yang bisa dimasuki oleh anak-anak. “Seperti kita membiarkan anak yang di bawah umur memasuki dunia tanpa batas. Itu bahayanya,” tegas Firman kepada Hypeabis.id, beberapa waktu lalu. 

Mengenai fenomena ini, tanggung jawab utama katanya bukan hanya pada orang tua, melainkan juga pemerintah dan pengembang platform. Mereka bisa membuat sistem filtering atau sensor pada Roblox sehingga tetap aman ketika dimainkan anak-anak.

Roblox katanya bisa mencontoh Instagram yang menghadirkan ruang khusus remaja, yang tidak bisa diakses anak-anak di bawah umur. Kalaupun ingin mengakses, perlu persetujuan orang tua. 

“Jadi anak-anak yang di bawah umur hanya bisa masuk ke ruang tertentu, kemudian juga ketika dia follow atau di-follow orang lain juga sepengetahuan orang tuanya,” jelas Firman.

Firman menilai sulit mengandalkan pengawasan orang tua sepenuhnya. Sebab, banyak orang tua belum teredukasi secara digital, termasuk mengenal seluk beluk Roblox. Berbeda dengan Generasi Alpha yang saat ini hampir seluruh waktunya ada di dunia digital.

Ruang digital saat ini pun terbilang semakin “liar”. Firman menilai ruang digital, terutama media sosial belakangan didesain untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi baru dengan cara membuat pengguna berinteraksi selama mungkin.

Untuk meningkatkan interaksi ini, penyedia platform memainkan algoritma. Fenomena tersebut mendorong para pembuat konten termasuk pengembang permainan di Roblox untuk memproduksi hal-hal yang sensasional agar lebih disukai dan dibagikan. Akibatnya, banyak konten yang beredar berisi kekerasan maupun konten lain yang memberi pengaruh buruk. 

"Bagi pengembangnya, yang penting orang bisa lama di sana. Kalau lama, iklan yang masuk. Peluang iklan lebih besar, pendapatan mereka lebih banyak," ungkapnya.
 

Orang tua mengawasi anak bermain mobile game. (Sumber foto: Freepik)

Orang tua mengawasi anak bermain mobile game. (Sumber foto: Freepik)

Executive Director Indonesia Information and Communication Technology (ICT) Institute, Heru Sutadi menyebut pengembang Roblox dapat menerapkan filter konten otomatis, moderasi ketat oleh tim manusia, dan sistem pelaporan yang responsif untuk memastikan konten aman. Edukasi pengguna tentang pedoman komunitas, verifikasi usia, dan alat pengawasan orang tua juga penting. 

“Selain itu, algoritma AI dapat digunakan untuk mendeteksi konten berbahaya secara proaktif, ditambah dengan pembaruan rutin pedoman konten menjaga relevansi dengan tren digital,” tuturnya. 

Hal lain yang menjadi sorotannya yakni transaksi mikro di Roblox yang memang menawarkan manfaat seperti pengalaman bermain yang lebih kaya dan peluang belajar tentang pengelolaan keuangan digital. Namun, risikonya termasuk pengeluaran berlebihan, terutama pada anak-anak yang belum memahami nilai uang. 

Potensi adiksi dan penipuan dalam transaksi juga perlu diwaspadai. Pengembang dapat membatasi transaksi dengan kontrol orang tua dan edukasi literasi keuangan untuk meminimalkan risiko.

Selain itu, Heru melihat ada banyak risiko keamanan digital di Roblox seperti penipuan melalui penawaran item atau mata uang virtual, perundungan siber, dan paparan konten yang tidak pantas. Serangan phishing dan akun yang diretas juga mengancam. “Anak-anak mungkin tanpa sengaja mengungkap informasi pribadi,” ucapnya.

Kurangnya kesadaran anak-anak tentang berbagi informasi sensitif memang memperburuk risiko. Untuk itu, pengembang katanya harus menerapkan enkripsi kuat, autentikasi dua faktor, dan kebijakan privasi yang transparan. 

Edukasi kepada anak-anak dan orang tua tentang keamanan data juga krusial untuk mencegah penyalahgunaan. “Pengembang disarankan meningkatkan sistem keamanan, menyediakan alat pelaporan yang mudah, dan mengedukasi pengguna tentang ancaman siber untuk menciptakan lingkungan bermain yang lebih aman,” jelas Heru.

Baca juga: Roblox Perluas Fitur Estimasi Usia, Batasan Chat Dewasa–Anak Diperketat

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

SEBELUMNYA

Ethical Franchising Jadi Solusi Bisnis Waralaba yang Lebih Adil dan Transparan

BERIKUTNYA

Minum Matcha Seminggu Sekali, Wanita di AS Alami Anemia dan Palpitasi Jantung

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga