Ilustrasi gelas tradisional. Sumber gambar: Freepik

Bisnis Warkop Kekinian, Padukan Konsep Gaya Klasik dan Modern

13 September 2025   |   14:00 WIB
Image
Aisyah Putri Maulidina Mahasiswa Universitas Padjadjaran

Sejak dulu, warung kopi atau warkop sudah menjadi pilihan masyarakat Indonesia untuk dijadikan tempat berkumpul yang nyaman karena pilihan menu yang sederhana dan harga terjangkau. Seiring perkembangan zaman, warkop juga turut bertransformasi menjadi lebih modern, tanpa meninggalkan identitas aslinya.

Age de’Jiwo (39) dan Puja Devkan (27) adalah sahabat yang memiliki hobi memasak dan menjamu orang. Karena hal tersebut, keduanya mendapatkan ide untuk membuka usaha yang sesuai dengan kesenangan mereka.

Pada bulan April 2025, kedua sahabat yang akrab disapa Age dan Puja ini membuka warung kopi yang diberi nama Warkop Kandang Ayam, di tempat tinggal Age yang terletak di dalam gang daerah Jakarta Selatan. 

Dua sohib itu sadar betul bahwa kemampuan mereka belum dapat mencapai untuk membuka coffee shop yang memiliki lebih banyak tantangan, apalagi mereka lebih menyukai tempat nongkrong yang sederhana dan intimate.

Dengan branding warkop yang sederhana, homey, ditambah sentuhan desain tempat ala Japanese style, Warkop Kandang Ayam tetap berhasil meraih kepopuleran dalam waktu yang cukup singkat sejak didirikan empat bulan yang lalu. 

Baca juga: Bisnis Kafe Tak Lagi Sama, Gen Z Ngopi dengan Cara Berbeda 

Selain itu, keaktifan Age dan Puja dalam menggunakan sosial media untuk mempromosikan Warkop Kandang Ayam juga memberikan jangkauan target pasar yang lebih luas, mayoritas pengunjung mereka adalah anak-anak muda yang berasal dari sekitar Jabodetabek, seperti Bogor, Kelapa Gading, hingga Bojong Gede.

Selain orang-orang yang menyukai kopi, warkop mereka juga dikunjungi para pemilik usaha FnB, hal ini membuat tempat usaha tersebut tidak hanya sekadar tempat minum kopi, tetapi juga wadah diskusi dan saling dukung antara para pelaku usaha FnB. 

“Teman-teman yang mengunjungi juga banyak yang memiliki background yang sama, yaitu memiliki usaha FnB, jadi kami bisa saling diskusi, mendukung dan mempromosikan usaha satu sama lain melalui pertemuan kami di sini maupun saat kami berkunjung ke tempat mereka,” Ujar Age saat ditemui Hypeabis.id
 

Dengan ciri khas sederhana yang autentik dari Warkop Kandang Ayam, Age mengaku berhasil mendapatkan penghasilan sekitar belasan hingga puluhan juta per bulan. Akan tetapi, pendapatan ini tidak hanya akan mereka nikmati sendiri, beberapa persen keuntungan mereka akan dibagikan ke saudara-saudara di daerah NTB. 

Berbagai keberhasilan yang mereka dapat tentu tidak terhindar dari beberapa tantangan, seperti tempat yang pernah over capacity di saat mereka mengadakan acara spesial. Meski begitu, hal ini tidak mengurungkan harapan Age dan Puja untuk terus menjadikan warkop mereka sebagai tempat untuk saling berbagi dan menginspirasi satu sama lain.

Sama dengan Age dan Puja, Ghany Anugrah (25) selaku pemilik Sarjana Warkop juga memiliki ide untuk membangun usaha warkop karena merasa lebih nyaman untuk berkumpul di warkop dibandingkan coffee shop dengan teman-teman kuliahnya.

Bersama tiga teman kuliahnya di Teknik Mesin ITB, Ghany kemudian mencoba peruntungan dengan membuka usaha bernama Sarjana Warkop di daerah Jatinangor, Jawa Barat. 

Ghany sendiri memang memiliki ketertarikan dengan dunia bisnis, usaha warkop yang awalnya hanya dijadikan pekerjaan sampingan, pada akhirnya membuatnya lebih serius untuk melanjutkan usaha ini.

Sarjana Warkop dipoles oleh Ghany dengan campuran beberapa budaya urban dari kota-kota besar ditambah sentuhan Japanese Style di bagian menu dan desain warkop. Lokasi yang dipilih Ghany untuk Sarjana Warkop juga disesuaikan dengan target pasar yang ingin dijangkau, yakni mahasiswa. 

“Pada 2023 itu pertama kali pengumuman mahasiswa tahun pertama ITB akan dipindahkan ke kampus Jatinangor. Dari situ, warkop kami yang memiliki konsep sesuai dan dekat dengan kebiasaan mahasiswa yang suka berkumpul di warkop dan itulah alasan Sarkop dibuka di Jatinangor,” ungkap Ghany. 

Dalam menjalankan usahanya, Ghany yang terbiasa melakukan sesuatu berdasarkan data karena latar belakangnya sebagai anak teknik, turut melakukan hal yang sama. Semua keputusan untuk Sarkop diambil dari data-data yang juga dia kumpulkan dari pengunjung melalui kuesioner.

Meskipun begitu, perjalanan merintis Sarkop tidak semulus pemikiran awalnya saat akan membuka usaha ini. Dalam 6 bulan pertama, Ghany mengaku profit yang didapat tidak sesuai dengan harapan, hal ini yang membuat dia terus menggencarkan berbagai strategi untuk menyampaikan pesan yang ditawarkan Sarkop. 

Ghany rajin membuat konten-konten sosial media, mengundang konten kreator yang juga mahasiswa di sekitar, serta membuat menu-menu promo untuk menjangkau seluruh lapisan masyarakat lokal maupun pendatang di Jatinangor.

Dengan begitu, Sarkop mulai berhasil maju dan meraih kestabilan dalam pendapatannya setiap bulan. Ghany berharap Sarkop tidak hanya dapat stabil dan hadir untuk mahasiswa di Jatinangor, tetapi juga di daerah lain di masa depan. 

Baca juga: Rekomendasi Warung Kaki Lima Legendaris di Jakarta: Soto Tangkar hingga Nasgor Kambing 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News
Editor:

SEBELUMNYA

Daftar Lengkap Nominasi 16th Korea Drama Awards 2025

BERIKUTNYA

Art & Bali 2025 Dibuka, 17 Galeri dari Lima Negara Hadir di Nuanu Creative City

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga