Mengintip Perputaran Bisnis Jasa Maklon Skincare dan Kosmetik di Indonesia
02 September 2025 |
14:30 WIB
Industri kecantikan dan perawatan diri di Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan yang signifikan dari tahun ke tahun. Berdasarkan proyeksi pasar dari Statista, nilai industri kosmetik nasional diperkirakan akan mencapai US$9,7 miliar pada 2025, dengan tingkat pertumbuhan tahunan sebesar 4,33 persen hingga 2030.
Selain brand besar, pasar kecantikan juga diramaikan oleh merek-merek baru dari para wirausaha muda. Salah satu pendorong utama munculnya pelaku UMKM di sektor kecantikan ini adalah mulai menjamurnya layanan maklon. Dengan adanya jasa maklon, pelaku usaha bisa memulai bisnis perawatan kecantikan tanpa harus membangun fasilitas atau pabrik sendiri.
Apalagi, perusahaan manufaktur tersebut tidak hanya menyediakan jasa pembuatan produk tetapi juga hingga layak edar dengan pengurusan legalitas usaha. Salah satu jasa layanan maklon yang sudah melayani hingga ratusan pelaku usaha kosmetik dan skincare adalah Athena Royal Kosmetik.
Baca Juga: Kosmetik Murah Meriah dari China Rajai Pasar Asia Tenggara
Sejak didirikan pada 2020 lalu, perusahaan manufaktur yang berbasis di Bogor tersebut telah memproduksi lebih dari 400 produk untuk 200 brand mulai dari skincare, bodycare, kosmetik, hingga parfum. “Kami bantu semua dari nol mulai dari konsep, produksi, digital branding, hingga pengurusan BPOM dan halal,” tutur Rian, tim marketing dari Athena Royal Kosmetik.
Untuk memproduksi produk kosmetik dan skincare di Athena Royal, klien hanya perlu memesan minimal 1.000 pcs dengan harga produksi mulai dari Rp10.000 hingga Rp20.000 per item sehingga dengan modal sekitar Rp20 juta, seseorang sudah bisa memulai bisnis kecantikan.
“Dari modal itu, harga jual di pasaran bisa berkali lipat bergantung pada branding dan marketing-nya. Misalnya untuk body lotion atau serum yang modalnya Rp20.000 bisa dijual sekitar Rp70.000 hingga Rp100.000 per botol,” tuturnya.
Selama lima tahun berjalan, bisnis Royal Athena berkembang signifikan. Terlihat dari kapasitas produksi yang pada awalnya sekitar 100.000-an per bulan, saat ini bisa mencapai sekitar 3 juta hingga 3,5 juta pcs per bulan.
Adapun produk-produk yang paling banyak diproduksi masih didominasi oleh face care, terutama serum. Bahan aktif seperti niacinamide, centella asiatica, dan tranexamic acid masih menjadi favorit. “Whitening masih jadi tren utama. Niacinamide selalu muncul dalam kampanye meskipun bahan lain seperti arbutin atau peptide sebenarnya juga potensial,” jelas Rian.
Selain skincare, tren parfum juga mulai meningkat. Banyak pelaku usaha yang mulai melirik dan menambah parfum ke dalam rangkaian produknya. “Memang dari sisi kapasitas baru sekitar 5% tetapi pasar parfum ini akan terus bertumbuh. Adapun wangi favorit masyarakat Indonesia adalah wangi-wangi segar dan manis seperti buah, bunga, dan vanila,” ucapnya.
PT Neo Kosmetik Industri yang sudah 22 tahun berkecimpung dalam dunia maklon mencatat adanya pertumbuhan yang signifikan terutama saat pandemi. Milla, Digital Marketing Neo Kosmetik Industri mengatakan ketika itu banyak orang yang peduli dengan perawatan diri.
“Produksi kami pun ikut meningkat tajam bahkan mencapai hingga jutaan pcs per bulan,” ucapnya.
Hingga kini, Neo Kosmetik juga telah melayani lebih dari 200 brand dengan berbagai produk mulai dari skincare, hair care, body care, serum, serta makeup, dan parfum. Diakui olehnya sebagian besar klien yang membuat produk di Neo Kosmetik biasanya berupa rangkaian skincare mulai dari day cream, night cream, serum, toner, dan facial wash.
Adapun minimal order untuk membuat produk di Neo Kosmetik adalah 1.000 pcs per produk. “Karena sebagian adalah rangkaian biasanya butuh 3 hingga 5 produk, modalnya itu sekitar Rp100 juta. Namun itu sangat bergantung kebutuhan, dan bahan aktif yang digunakan,” jelasnya.
Hingga saat ini, klien Neo Kosmetik berasal dari seluruh Indonesia, mulai dari Jabodetabek hingga Sumatera dan Kalimantan. “Kami juga bantu konsultasi dari nol. Banyak yang datang belum tahu mau bikin produk apa, dan kami bantu mulai dari formulasi hingga BPOM dan halal,” ujar Mila.
Mayoritas brand lokal memang masih berfokus pada pasar dalam negeri, tetapi beberapa mulai mengejar pasar ekspor. Untuk membantu pelaku usaha menembus pasar ekspor, pabrik juga dapat membantu pelaku usaha mengurus sertifikasi internasional seperti ISO dan FDA.
Perusahaan jasa maklon lainnya yang juga kian ekspansif menyasar pelaku usaha khususnya di Jabodetabek adalah PT Mash Moshem Indonesia yang berbasis di Tulungagung, Jawa Timur. Indah Nuraisyah, Business Development Mash Moshem mengatakan ada dua model kerja sama yang disediakan oleh perusahaannya.
Yakni original equipment manufacture (OEM) dimana perusahaan sudah membuat produk jadi yang kemudian dapat di rebranding oleh klien. Untuk menggunakan model ini, maka klien bisa memesan minimal 100 pcs dengan modal sekitar Rp10 juta hingga Rp15 juta, sudah termasuk kemasan.
Selain itu, ada pula model bisnis ODM (original development manufacture) dimana klien bersama dengan perusahaan melakukan pengembangan formula produk dari awal sesuai kebutuhan klien. “Untuk model bisnis ini maka MOQ minimalnya 1.000 pcs,” jelasnya.
Bagi klien yang ingin melakukan tester atau uji coba sebelum membeli atau memproduksi dalam jumlah besar, maka perusahaan menyediakan produk sampel dengan revisi hingga tiga kali. Jika sudah didapatkan formula yang tepat, baru kemudian produk dapat diproduksi secara massal.
“Setiap formula benar-benar kami jaga kerahasiaannya melalui prinsip one client, one formula. Untuk menjaga eksklusivitas, maka katalog OEM juga kami batasi maksimal 25 brand per enam bulan,” tuturnya.
Sama halnya dengan Royal Athena dan Neo Kosmetik, perusahaan yang telah beroperasi selama 10 tahun ini juga membantu klien dalam hal pengurusan seluruh legalitas hingga sertifikat untuk ekspor. Termasuk juga klaim produk vegan jika klien menginginkan formula produk yang lebih bersifat alami. Apalagi Mash Moshem juga memiliki fasilitas produksi berstandar CPKB Grade
Adapun beberapa produk yang dikembangkan mulai dari skincare, body care, parfum, makeup, hingga baby care. “Siapa saja yang ingin memiliki brand sendiri, maka bisa memulai bisnis bersama kami. Baik UMKM, pemilik brand yang sedang berkembang, maupun individu yang ingin bermimpi membangun produk kecantikan,” tutur Ivana Azarine, Business Development Mash Moshem Indonesia.
Selain menyediakan layanan pembuatan produk, Mash Moshem juga aktif memberikan pendampingan berkelanjutan kepada para klien, mulai dari strategi pemasaran hingga cara membangun brand awareness.
“Kami tidak hanya menjual produk, tetapi juga mendampingi klien agar bisa memasarkan merek mereka sendiri. Setiap dua bulan sekali, kami menyelenggarakan seminar atau webinar online yang dapat diikuti seluruh pelanggan dari berbagai daerah di Indonesia. Melalui forum ini, mereka bisa belajar cara berjualan, membangun awareness, dan mengembangkan bisnis kosmetik dengan lebih terarah,” tutur Arin.
Selain perusahaan lokal, peluang bisnis jasa maklon juga menarik perusahaan asal China yang mulai ekspansi ke Indonesia sejak 2023 lalu melalui PT Biosphere Indonesia Cosmetics. Jihan Gozalim Sales Leader PT Biosphere Indonesia Cosmetics mengatakan bahwa perusahaan membawa teknologi langsung dari pusat risetnya yang berlokasi di China.
“Kami membawa dan memperkenalkan teknologi dan formulasi tersebut ke pasar Indonesia,” tuturnya.
Salah satu inovasinya yakni pembuatan serum tanpa kandungan air karena menggunakan ekstraksi jus alami 100% sebagai bahan dasar sehingga diklaim lebih efektif menyerap dan menutrisi kulit. Dengan berbagai teknologi terkini, tak heran bila banyak perusahaan skincare yang menjalin Kerjasama dengan Biosphere untuk memproduksi berbagai produk unggulan mereka.
“Kami tidak hanya memproduksi untuk Perusahaan skincare local saja tetapi juga telah menjangkau pasar internasional termasuk Filipina, Malaysia, dan saat ini Tengah menjajaki ekspansi ke Belgia,” tuturnya.
Adapun untuk pesanan besar di pasar luar negeri, kapasitasnya mencapai sekitar 20.000 pcs per batch, sedangkan untuk produk lokal hanya sekitar 5.000 pcs. Namun untuk beberapa produk tertentu maka minimal pesanan sekitar 10.000 pcs per item dengan modal awal sekitar Rp 100 juta.
Baca Juga: BPOM Cabut Izin Edar 14 Kosmetik Produk Pengencang Payudara dan Organ Intim
Selain brand besar, pasar kecantikan juga diramaikan oleh merek-merek baru dari para wirausaha muda. Salah satu pendorong utama munculnya pelaku UMKM di sektor kecantikan ini adalah mulai menjamurnya layanan maklon. Dengan adanya jasa maklon, pelaku usaha bisa memulai bisnis perawatan kecantikan tanpa harus membangun fasilitas atau pabrik sendiri.
Apalagi, perusahaan manufaktur tersebut tidak hanya menyediakan jasa pembuatan produk tetapi juga hingga layak edar dengan pengurusan legalitas usaha. Salah satu jasa layanan maklon yang sudah melayani hingga ratusan pelaku usaha kosmetik dan skincare adalah Athena Royal Kosmetik.
Baca Juga: Kosmetik Murah Meriah dari China Rajai Pasar Asia Tenggara
Sejak didirikan pada 2020 lalu, perusahaan manufaktur yang berbasis di Bogor tersebut telah memproduksi lebih dari 400 produk untuk 200 brand mulai dari skincare, bodycare, kosmetik, hingga parfum. “Kami bantu semua dari nol mulai dari konsep, produksi, digital branding, hingga pengurusan BPOM dan halal,” tutur Rian, tim marketing dari Athena Royal Kosmetik.
Untuk memproduksi produk kosmetik dan skincare di Athena Royal, klien hanya perlu memesan minimal 1.000 pcs dengan harga produksi mulai dari Rp10.000 hingga Rp20.000 per item sehingga dengan modal sekitar Rp20 juta, seseorang sudah bisa memulai bisnis kecantikan.
“Dari modal itu, harga jual di pasaran bisa berkali lipat bergantung pada branding dan marketing-nya. Misalnya untuk body lotion atau serum yang modalnya Rp20.000 bisa dijual sekitar Rp70.000 hingga Rp100.000 per botol,” tuturnya.
Selama lima tahun berjalan, bisnis Royal Athena berkembang signifikan. Terlihat dari kapasitas produksi yang pada awalnya sekitar 100.000-an per bulan, saat ini bisa mencapai sekitar 3 juta hingga 3,5 juta pcs per bulan.
Adapun produk-produk yang paling banyak diproduksi masih didominasi oleh face care, terutama serum. Bahan aktif seperti niacinamide, centella asiatica, dan tranexamic acid masih menjadi favorit. “Whitening masih jadi tren utama. Niacinamide selalu muncul dalam kampanye meskipun bahan lain seperti arbutin atau peptide sebenarnya juga potensial,” jelas Rian.
Selain skincare, tren parfum juga mulai meningkat. Banyak pelaku usaha yang mulai melirik dan menambah parfum ke dalam rangkaian produknya. “Memang dari sisi kapasitas baru sekitar 5% tetapi pasar parfum ini akan terus bertumbuh. Adapun wangi favorit masyarakat Indonesia adalah wangi-wangi segar dan manis seperti buah, bunga, dan vanila,” ucapnya.
Produksi Jutaan Pieces per Bulan
PT Neo Kosmetik Industri yang sudah 22 tahun berkecimpung dalam dunia maklon mencatat adanya pertumbuhan yang signifikan terutama saat pandemi. Milla, Digital Marketing Neo Kosmetik Industri mengatakan ketika itu banyak orang yang peduli dengan perawatan diri.
“Produksi kami pun ikut meningkat tajam bahkan mencapai hingga jutaan pcs per bulan,” ucapnya.
Hingga kini, Neo Kosmetik juga telah melayani lebih dari 200 brand dengan berbagai produk mulai dari skincare, hair care, body care, serum, serta makeup, dan parfum. Diakui olehnya sebagian besar klien yang membuat produk di Neo Kosmetik biasanya berupa rangkaian skincare mulai dari day cream, night cream, serum, toner, dan facial wash.
Adapun minimal order untuk membuat produk di Neo Kosmetik adalah 1.000 pcs per produk. “Karena sebagian adalah rangkaian biasanya butuh 3 hingga 5 produk, modalnya itu sekitar Rp100 juta. Namun itu sangat bergantung kebutuhan, dan bahan aktif yang digunakan,” jelasnya.
Hingga saat ini, klien Neo Kosmetik berasal dari seluruh Indonesia, mulai dari Jabodetabek hingga Sumatera dan Kalimantan. “Kami juga bantu konsultasi dari nol. Banyak yang datang belum tahu mau bikin produk apa, dan kami bantu mulai dari formulasi hingga BPOM dan halal,” ujar Mila.
Mayoritas brand lokal memang masih berfokus pada pasar dalam negeri, tetapi beberapa mulai mengejar pasar ekspor. Untuk membantu pelaku usaha menembus pasar ekspor, pabrik juga dapat membantu pelaku usaha mengurus sertifikasi internasional seperti ISO dan FDA.
Perusahaan jasa maklon lainnya yang juga kian ekspansif menyasar pelaku usaha khususnya di Jabodetabek adalah PT Mash Moshem Indonesia yang berbasis di Tulungagung, Jawa Timur. Indah Nuraisyah, Business Development Mash Moshem mengatakan ada dua model kerja sama yang disediakan oleh perusahaannya.
Yakni original equipment manufacture (OEM) dimana perusahaan sudah membuat produk jadi yang kemudian dapat di rebranding oleh klien. Untuk menggunakan model ini, maka klien bisa memesan minimal 100 pcs dengan modal sekitar Rp10 juta hingga Rp15 juta, sudah termasuk kemasan.
Selain itu, ada pula model bisnis ODM (original development manufacture) dimana klien bersama dengan perusahaan melakukan pengembangan formula produk dari awal sesuai kebutuhan klien. “Untuk model bisnis ini maka MOQ minimalnya 1.000 pcs,” jelasnya.
Beda Klien, Beda Formula
Bagi klien yang ingin melakukan tester atau uji coba sebelum membeli atau memproduksi dalam jumlah besar, maka perusahaan menyediakan produk sampel dengan revisi hingga tiga kali. Jika sudah didapatkan formula yang tepat, baru kemudian produk dapat diproduksi secara massal.
“Setiap formula benar-benar kami jaga kerahasiaannya melalui prinsip one client, one formula. Untuk menjaga eksklusivitas, maka katalog OEM juga kami batasi maksimal 25 brand per enam bulan,” tuturnya.
Sama halnya dengan Royal Athena dan Neo Kosmetik, perusahaan yang telah beroperasi selama 10 tahun ini juga membantu klien dalam hal pengurusan seluruh legalitas hingga sertifikat untuk ekspor. Termasuk juga klaim produk vegan jika klien menginginkan formula produk yang lebih bersifat alami. Apalagi Mash Moshem juga memiliki fasilitas produksi berstandar CPKB Grade
Adapun beberapa produk yang dikembangkan mulai dari skincare, body care, parfum, makeup, hingga baby care. “Siapa saja yang ingin memiliki brand sendiri, maka bisa memulai bisnis bersama kami. Baik UMKM, pemilik brand yang sedang berkembang, maupun individu yang ingin bermimpi membangun produk kecantikan,” tutur Ivana Azarine, Business Development Mash Moshem Indonesia.
Selain menyediakan layanan pembuatan produk, Mash Moshem juga aktif memberikan pendampingan berkelanjutan kepada para klien, mulai dari strategi pemasaran hingga cara membangun brand awareness.
“Kami tidak hanya menjual produk, tetapi juga mendampingi klien agar bisa memasarkan merek mereka sendiri. Setiap dua bulan sekali, kami menyelenggarakan seminar atau webinar online yang dapat diikuti seluruh pelanggan dari berbagai daerah di Indonesia. Melalui forum ini, mereka bisa belajar cara berjualan, membangun awareness, dan mengembangkan bisnis kosmetik dengan lebih terarah,” tutur Arin.
Selain perusahaan lokal, peluang bisnis jasa maklon juga menarik perusahaan asal China yang mulai ekspansi ke Indonesia sejak 2023 lalu melalui PT Biosphere Indonesia Cosmetics. Jihan Gozalim Sales Leader PT Biosphere Indonesia Cosmetics mengatakan bahwa perusahaan membawa teknologi langsung dari pusat risetnya yang berlokasi di China.
“Kami membawa dan memperkenalkan teknologi dan formulasi tersebut ke pasar Indonesia,” tuturnya.
Salah satu inovasinya yakni pembuatan serum tanpa kandungan air karena menggunakan ekstraksi jus alami 100% sebagai bahan dasar sehingga diklaim lebih efektif menyerap dan menutrisi kulit. Dengan berbagai teknologi terkini, tak heran bila banyak perusahaan skincare yang menjalin Kerjasama dengan Biosphere untuk memproduksi berbagai produk unggulan mereka.
“Kami tidak hanya memproduksi untuk Perusahaan skincare local saja tetapi juga telah menjangkau pasar internasional termasuk Filipina, Malaysia, dan saat ini Tengah menjajaki ekspansi ke Belgia,” tuturnya.
Adapun untuk pesanan besar di pasar luar negeri, kapasitasnya mencapai sekitar 20.000 pcs per batch, sedangkan untuk produk lokal hanya sekitar 5.000 pcs. Namun untuk beberapa produk tertentu maka minimal pesanan sekitar 10.000 pcs per item dengan modal awal sekitar Rp 100 juta.
Baca Juga: BPOM Cabut Izin Edar 14 Kosmetik Produk Pengencang Payudara dan Organ Intim
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.