Ilustrasi junk food. (Sumber gambar: Fábio Alves/unsplash.com)

Hati-Hati, Konsumsi Ultra-Processed Food Bisa Ganggu Hormon dan Sperma

14 September 2025   |   08:30 WIB
Image
M. Taufikul Basari Jurnalis dan Editor Hypeabis.id

Konsumsi makanan ultra-processed (olahan tinggi) selama ini kerap dikaitkan dengan berbagai penyakit kronis seperti obesitas, diabetes tipe 2, hingga penyakit jantung. Kini, sebuah penelitian terbaru menambahkan satu temuan lain yang cukup mengkhawatirkan: makanan jenis ini berpotensi menurunkan kesehatan reproduksi pria, termasuk kualitas sperma.

Riset yang dipublikasikan di Cell Metabolism pada 28 Agustus lalu ini mengungkap bahwa diet tinggi ultra-processed food bisa memicu kenaikan berat badan, kadar kolesterol, hingga lemak tubuh. Lebih jauh lagi, para peneliti menemukan bahwa kualitas sperma cenderung menurun saat peserta mengonsumsi makanan olahan tinggi secara teratur.

“Penelitian ini memberikan bukti bahwa konsumsi ultra-processed food berdampak buruk terhadap kesehatan metabolik dan reproduksi, bahkan ketika jumlah kalori yang dikonsumsi sama dengan diet lain,” tulis peneliti dalam laporannya, dikutip dari Healthline.

Baca Juga: Sering Ngidam Makanan Manis? Mungkin Ini Penyebabnya

Dalam studi tersebut, peneliti merekrut 43 pria berusia 20–35 tahun. Setiap peserta menjalani dua pola makan berbeda selama tiga minggu: diet ultra-processed dan diet unprocessed, dengan jeda tiga bulan di antaranya.

Hasilnya cukup konsisten. Peserta yang menjalani diet ultra-processed mengalami penurunan kadar hormon testosteron dan follicle-stimulating hormone (FSH), yang berperan penting dalam produksi sperma. Selain itu, tubuh mereka juga menunjukkan peningkatan paparan phthalate cxMINP, zat kimia yang biasa ditemukan dalam plastik dan dikenal sebagai pengganggu hormon (endocrine disruptor).

Temuan ini semakin memperkuat dugaan bahwa kemasan plastik makanan olahan bisa menjadi salah satu sumber zat berbahaya yang mengganggu sistem hormonal pria. Menariknya, para peneliti juga menyinggung tren penurunan jumlah sperma global hingga 60% sejak 1970-an, yang bertepatan dengan semakin meluasnya konsumsi makanan ultra-processed.

 

Bukan Sekadar Jumlah Kalori


Philip Werthman, MD, ahli urologi sekaligus direktur Center for Male Reproductive Medicine and Vasectomy Reversal di Los Angeles, menekankan bahwa kualitas makanan jauh lebih penting daripada sekadar jumlah kalori. “Bukan soal seberapa banyak kalori yang Anda konsumsi, tapi jenis kalori yang masuk ke tubuh,” ujarnya.

Hal ini didukung oleh Kristin Kirkpatrick, ahli gizi dari Cleveland Clinic, yang menyebut bahwa meski seseorang terlihat sehat secara umum, konsumsi makanan olahan tinggi tetap bisa meningkatkan risiko gangguan hormon dan penyakit kronis.

Menurut data Centers for Disease Control and Prevention (CDC), rata-rata orang Amerika mendapatkan sekitar 55% kalori harian mereka dari makanan ultra-processed. Angka ini sedikit lebih tinggi pada kelompok usia di bawah 19 tahun.

Jenis makanan yang masuk kategori ini antara lain burger, sandwich cepat saji, minuman manis, kue dan pastry, hingga camilan asin. Ciri khasnya adalah padat kalori, rendah serat, tinggi gula, garam, dan lemak tidak sehat.

Sebuah studi lain yang terbit pada April 2025 bahkan memperkirakan bahwa konsumsi ultra-processed food berkontribusi pada 124.000 kematian yang sebenarnya bisa dicegah di Amerika Serikat hanya dalam dua tahun.

 

Gaya Hidup Sehat untuk Kesuburan Pria

Meski temuan ini terdengar mengkhawatirkan, para ahli menegaskan bahwa gaya hidup sehat dapat membantu menjaga kesehatan reproduksi pria. Michael Eisenberg, MD, profesor urologi di Stanford University, menekankan pentingnya pola makan seimbang, olahraga teratur, serta menjaga berat badan ideal. Sementara Werthman menambahkan agar pria—terutama yang sedang berusaha memiliki anak—menghindari alkohol, rokok, hingga paparan panas berlebihan seperti sauna dan jacuzzi yang dapat sementara menurunkan kualitas sperma.

Kirkpatrick juga mengingatkan, setiap kali seseorang memilih makanan ultra-processed, berarti ada kesempatan hilang untuk mengonsumsi makanan sehat lain seperti buah, sayur, biji-bijian, atau lemak sehat yang justru melindungi tubuh dari penyakit jantung.

“Tubuh adalah satu sistem yang saling terhubung,” kata Werthman. “Apa yang Anda makan akan berpengaruh langsung, tidak hanya pada kesehatan jantung atau metabolisme, tapi juga pada fungsi reproduksi.”

Nah, Genhype, temuan ini menjadi pengingat bahwa pilihan makanan sehari-hari punya dampak jauh lebih besar dari sekadar rasa kenyang. Konsumsi ultra-processed food memang praktis dan mudah diakses, tetapi risikonya terhadap kesehatan jantung, metabolisme, hingga kesuburan pria tidak bisa diabaikan.

Baca Juga: 25 Persen Milenial dan Gen Z Rutin Coba Makanan Viral Tiap Bulan

SEBELUMNYA

Panduan Memilih Perhiasan Elegan untuk Acara Kondangan

BERIKUTNYA

10 Inspirasi Outfit Kondangan Simpel, Maxi Dress sampai Gaun Asimetris

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga