Hypereport: Deretan Stasiun Radio Bersejarah di Indonesia
13 September 2025 |
18:30 WIB
Hari Radio Nasional diperingati pada 11 September tiap tahunnya. Peringatan ini dibuat untuk mengenang hari lahir Radio Republik Indonesia (RRI), sekaligus pengingat akan pentingnya radio sebagai media komunikasi dan penyebaran informasi bagi masyarakat.
Sejak berdirinya, radio telah menjadi media yang memainkan peran penting dalam penyebaran informasi di Indonesia. Pada masa perjuangan, radio menjadi alat komunikasi tercepat untuk menyampaikan pesan-pesan penting dari pemerintah kepada rakyat, terutama di masa genting seperti agresi militer Belanda.
Baca juga: Radio Bukan Sekadar Nostalgia, Tapi Juga Andalan di Masa Krisis
Baca juga: Radio Bukan Sekadar Nostalgia, Tapi Juga Andalan di Masa Krisis
Setelah kemerdekaan, radio berkembang pesat menjadi media yang sangat populer. Radio juga menjadi panggung bagi seniman dan budayawan untuk mengekspresikan diri. Sandiwara radio, wayang golek, dan pertunjukan musik tradisional menjadi teman setia masyarakat, menemani aktivitas sehari-hari dan mempererat ikatan dengan akar budaya.
Era reformasi membawa angin segar dengan lahirnya stasiun radio swasta yang menyajikan beragam format siaran, memberikan lebih banyak pilihan bagi pendengar. Meskipun teknologi digital dan internet hadir sebagai pesaing, radio tetap bertahan dan beradaptasi.
Radio juga telah menjadi inkubator bagi kreativitas dan inovasi. Banyak seniman, musisi, dan penyiar berbakat lahir dari dunia radio. Program-program radio yang kreatif dan inovatif memberikan inspirasi bagi masyarakat dan mendorong perkembangan budaya populer Indonesia.
Tidak hanya menghibur, radio juga mendidik. Program edukasi, diskusi, dan talkshow memberikan informasi penting dan memperluas wawasan masyarakat, berperan sebagai sarana pendidikan informal yang efektif.
Hingga saat ini, radio tetap menjadi media yang andal dalam menyebarkan informasi. Meskipun teknologi telah berkembang pesat dan munculnya berbagai platform digital, radio masih memiliki jangkauan yang luas, terutama di daerah-daerah yang belum memiliki akses internet yang memadai.
Hal ini menjadikan radio sebagai media komunikasi yang tetap relevan di berbagai situasi, terutama saat terjadi bencana alam atau kondisi darurat lainnya, di mana jaringan komunikasi lain mungkin terganggu. Stasiun radio merambah platform online, podcast, dan media sosial, menjangkau pendengar yang lebih luas dan memastikan suara mereka tetap relevan di era modern.
Dalam perjalanannya, perkembangan radio di Indonesia diwarnai dengan munculnya sejumlah radio bersejarah yang berperan dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan, hingga akhirnya membentuk lembaga penyiaran nasional. Radio-radio ini menjadi sarana untuk menyebarkan informasi, menggalang semangat perjuangan, dan mengkoordinasikan gerakan-gerakan perlawanan terhadap penjajah.
Dirangkum dari berbagai sumber resmi, berikut adalah beberapa radio bersejarah di Indonesia.
1. Bataviase Radio Vereniging (BRV)
Dikutip dari arsip RRI Yogyakarta, Bataviase Radio Vereniging (BRV) adalah stasiun radio pertama di Indonesia yang mengudara pertama kali pada 16 Juni 1925. Saat itu, BRV memiliki dua kanal yaitu Stadzender (Program Lokal) dan Archipelzender (Program Nasional), yang bersiaran dari daerah Harmoni Jakarta dan menggunakan Bahasa Belanda dalam mata acaranya.
Kelahiran BRV disusul sejumlah stasiun radio lainnya di sejumlah wilayah di Tanah Air, seperti Nederlandsch-Indische Radio Omroep Maatschappij (NIROM, Jakarta), Solosche Radio Vereniging (SRV, Surakarta), Vereniging Oosterse Radio Luisteraars (VORO, Bandung), Eerste Madioense Radio Omroep (ERVO, Madiun), dan Meyers Omroep voor Allen (MOVA, Medan).
Hampir keseluruhannya saat itu dimiliki pihak swasta, terkecuali NIROM, yang kemudian berkembang menjadi stasiun radio terbesar karena mendapat bantuan penuh dari pemerintah Hindia Belanda. Perkembangan NIROM yang pesat itu juga ditopang keuntungan yang besar dari "pajak radio".
Semakin banyak pesawat radio di kalangan masyarakat, semakin banyak uang yang diterima oleh NIROM. Dengan demikian, NIROM dapat meningkatkan daya pancarnya, mengadakan stasiun-stasiun relay, hingga mengadakan sambungan telepon khusus dengan kota-kota besar.
Namun, segera disadari bahwa NIROM lebih bersifat perusahaan yang mencari keuntungan finansial dan membantu kukuhnya penjajahan di Hindia Belanda. Akhirnya, kondisi itu mendorong munculnya pelopor radio siaran usaha bangsa Indonesia yakni Solosche Radio Vereniging (SRV).
2. Solosche Radio Vereeniging (SRV)
Mulai beroperasi sejak 1 April 1933, SRV merupakan siaran radio pertama milik masyarakat pribumi Indonesia. Dikutip dari laman Komdigi, SRV lahir sebagai kerjasama bangsawan Surakarta, Mangkunegara VII dan Sarsito Mangunkusumo. SRV dibuat untuk menyebarluaskan kebudayaan dan kesenian tradisional.
Pendirian SRV merupakan awal pertumbuhan jaringan Radio Ketimuran yang dikelola sendiri oleh bangsa Indonesia dan bertujuan untuk mengangkat derajat kebangsaan melalui penyebaran kesenian dan kebudayaan Nusantara. Setelah terbentuknya SRV, kemudian siaran radio lain milik masyarakat pribumi lainnya bermunculan seperti MARVO, VORL, CIRVO, EMRO dan Radio Semarang.
SRV memiliki acara unggulan berupa siaran kebudayaan dan kesenian tradisional nusantara serta acara khusus untuk anak-anak. Secara konsisten SRV berpegang teguh pada prinsip kesenian sebagai persemaian nasionalisme dan kemenangan dalam perlawanan budaya. Sebagai bentuk perjuangan yang dilakukan kaum penyiaran Indonesia melawan hegemoni budaya Barat yang masuk akibat pendudukan dan penjajahan Belanda.
Kebijakan siaran SRV kemudian dijadikan sebagai garis kebijakan siaran Radio Ketimuran lainnya, yaitu komitmen isi siaran Rasio Ketimuran harus memberikan ruang seluas-luasnya bagi budaya dan kesenian Timur. Hal ini yang menjadi dasar pengembangan jaringan Radio Ketimuran di berbagai wilayah lain yang berafiliasi dengan SRV dan mendorong terbentuknya asosiasi radio Perikatan Perkumpulan Radio Ketimuran (PPRK) pada 28 Maret 1937.
3. Pusat Jawatan Radio (Hoso Kanri Kyoku)
Dengan jatuhnya Hindia Belanda ke tangan Kekaisaran Jepang pada Maret 1942, Jepang membubarkan radio-radio swasta dan menerapkan siaran secara terpusat lewat pendirian Pusat Jawatan Radio (Hoso Kanri Kyoku), pusat radio siaran dan berkedudukan di Jakarta. Adapun, cabang-cabangnya dinamai Jawatan Radio (Hoso Kyoku), yang terdapat di Bandung, Purwakarta, Yogyakarta, Surakarta, Semarang, Surabaya dan Malang.
Di setiap cabang juga terdapat Shodanso yang bertugas mengawasi penggunaan radio agar masyarakat tidak mendengarkan siaran radio luar negeri. Radio pun benar-benar dijadikan alat propaganda dengan berisi berita-berita perang maupun larangan memperdengarkan bahasa maupun lagu berbahasa asing.
Meski demikian, selama kependudukan Jepang, kebudayaan dan kesenian mendapat kemajuan yang pesat. Kala itu rakyat mendapat kesempatan untuk mengembangkan kebudayaan dan kesenian, jauh lebih dibandingkan dengan zaman penjajahan Belanda. Kesempatan ini menyebabkan pula munculnya seniman-seniman pencipta lagu-lagu Indonesia baru.
4. Radio Republik Indonesia (RRI)
Seiring dengan kekalahan Jepang, siaran radio Hoso Kyoku pun dihentikan pada 19 Agustus 1945. Sebulan setelahnya, Radio Republik Indonesia (RRI) didirikan, sebagaimana dikutip dari laman resmi KPI. Saat itu, masyarakat menjadi buta akan informasi dan tidak tahu apa yang harus dilakukan setelah Indonesia merdeka.
Apalagi, radio-radio luar negeri saat itu mengabarkan bahwa tentara Inggris yang mengatasnamakan sekutu akan menduduki Jawa dan Sumatera. Menanggapi hal tersebut, orang-orang yang pernah aktif di radio pada masa penjajahan Jepang menyadari radio merupakan alat yang diperlukan oleh pemerintah Republik Indonesia untuk berkomunikasi dan memberi tuntunan kepada rakyat mengenai apa yang harus dilakukan.
Wakil-wakil dari 8 bekas radio Hosu Kyoku pun mengadakan pertemuan bersama pemerintah di Jakarta. Pada 11 September 1945 pukul 17.00, delegasi radio sudah berkumpul di bekas gedung Raad Van Indje Pejambon dan diterima sekretaris negara. Delegasi radio yang saat itu mengikuti pertemuan adalah Abdulrahman Saleh, Adang Kadarusman, Soehardi, Soetarji Hardjolukita, Soemarmadi, Sudomomarto, Harto dan Maladi.
Para delegasi mengimbau pemerintah untuk mendirikan radio sebagai alat komunikasi antara pemerintah dengan rakyat. Radio dipilih sebagai alat komunikasi karena lebih cepat dan tidak mudah terputus saat pertempuran. Akhirnya terbentuk lah Persatuan Radio Republik Indonesia yang akan meneruskan penyiaran dari 8 stasiun di Jawa.
Hasil akhir dari rapat itu adalah didirikannya RRI dengan Abdulrachman Saleh sebagai pemimpinnya. Tanggal pertemuan itu lah yang selanjutnya diperingati sebagai Hari Radio Nasional sekaligus Hari Ulang Tahun (HUT) RRI.
5. Radio Rimba Raya (RRR)
Radio Rimba Raya merupakan media komunikasi yang sangat vital pada masa perang Agresi Militer Belanda untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia pada 1948-1949. Radio ini dijadikan sebagai sarana komunikasi perjuangan untuk menangkis propaganda musuh yang berusaha melemahkan semangat para pejuang.
Dilansir dari situs Kementerian Keuangan, Belanda kala itu masih tidak mengakui kemerdekaan Indonesia sehingga pada 19 Desember 1948 Agresi Militer kembali terjadi. Belanda menebar berita bohong tentang bubarnya Indonesia ke seluruh dunia, lalu memutus semua akses Indonesia ke dunia internasional dengan cara menghancurkan Radio Republik Indonesia (RRI) di Yogyakarta.
Namun, di kawasan Kabupaten Aceh Tengah, ada sebuah radio bernama Radio Rimba Raya yang masih mengudara. Radio Rimba Raya inilah yang akhirnya menyuarakan bahwa Indonesia masih ada dan merdeka. Siaran Radio Rimba Raya dilakukan menggunakan stasiun radio berkekuatan 1 kilowatt pada frekuensi 19,25 dan 61 meter.
Siaran tersebut berisi bantahan-batahan terhadap klaim Belanda tentang bubarnya Indonesia dan disiarkan menggunakan 3 bahasa, yaitu bahasa Inggris, bahasa Urdu, dan bahasa Indonesia. Siaran tersebut disiarkan sampai ke Malaysia, Singapura, Vietnam, Filipina, Australia, hingga Eropa.
Radio Rimba Raya terus berperan aktif sampai saat Pemerintahan Belanda mengakui kedaulatan Indonesia pada 27 Desember 1949 melalui Konferensi Meja Bundar di Den Haag. Peristiwa penting itu akhirnya diabadikan pada sebuah monumen nasional yaitu Tugu Perjuangan Radio Rimba Raya yang terletak di Kampung Rimba Raya, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Aceh.
6. Radio Malabar
Satu lagi stasiun radio bersejarah di Indonesia yakni Radio Malabar. Menukil dari situs Kementerian Kebudayaan, stasiun radio Malabar merupakan stasiun media komunikasi nirkabel pertama di dunia yang mampu menjangkau jarak antar benua, dari Indonesia ke Belanda yang jaraknya mencapai 12.000 Kilometer.
Kawat antenanya membentang sepanjang dua Kilometer antara Gunung Halimun dan Gunung Puntang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Pembangunan Stasiun Malabar mulai dirintis sejak Agustus 1917, yang dirancang oleh Dr. Ir. Cornelis Johannes de Groot, seorang ahli teknik elektro lulusan sebuah universitas di Karlsruhe, Jerman, yang menulis disertasi tentang pengaruh iklim tropis pada koneksi radio.
Stasiun Radio Malabar akhirnya diresmikan oleh Gubernur Jenderal Dirk Fock pada tanggal 5 Mei 1923, dan pembangunannya disempurnakan hingga tahun 1927.
Latar belakang pembangunan Radio Malabar bertujuan untuk menyambungkan komunikasi Belanda dan Indonesia secara langsung tanpa kabel (nirkabel), mengingat saat itu sedang terjadi Perang Dunia I yang tidak memungkinkan ketersediaan kabel, serta rentan secara teknis dan politik. Maka, koneksi gelombang panjang pun dipilih.
Stasiun Radio Malabar dilengkapi dengan 2 pemancar busur berkekekuatan 2.400 KW dan diklaim menjadi pemancar terkuat di dunia yang pernah dibuat pada masa itu. Stasiun Malabar berakhir pada 1946 bertepatan dengan peristiwa Bandung Lautan Api yang memaksa bangunan megah ini dihancurkan sendiri agar tidak bisa digunakan oleh pihak musuh.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.