Penulis Andre Septiawan. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta)

Hypeprofil Penulis Andre Septiawan: Merawat Bahasa & Sejarah lewat Karya Sastra

12 September 2025   |   14:04 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

Andre Septiawan tengah melakukan riset untuk karya novel anyarnya. Bukan sejarah Minang, kali ini dia akan mengulik histori pemberontakan masyarakat dalam beberapa peristiwa, seperti Operasi Seroja di Timor Timur tahun 1975 dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dari tahun 1976 hingga 2005.
 
Peristiwa sejarah PRRI atau Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia pada 1958 di Sumatera Barat, tanah kelahirannya, mendorong Andre untuk mengulik beberapa kejadian pemberontakan serupa yang ada di daerah-daerah lain. Dia ingin menggali latar belakang sekaligus sudut pandang dari masyarakat yang dicap sebagai 'pemberontak' tersebut dalam memandang Indonesia.

Baca juga: Karya Sastra yang Masuk Daftar Panjang Penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2025
 
Andre melakukan riset secara literatur serta mewawancarai sejumlah kenalannya yang lahir dan tumbuh di Timor Leste dan Aceh. "Saya ingin melihat bagaimana masyarakat-masyarakat yang dianggap pemberontak dalam artian di wilayah Indonesia ini, melihat Indonesia itu seperti apa," katanya saat ditemui Hypeabis.id di Jakarta, belum lama ini.
 
Sebagai penulis, Andre memang dikenal kerap mengeksplorasi sejarah dan kekayaan budaya lokal khususnya Minangkabau ke dalam karya-karya fiksinya. Namanya mulai mencuri perhatian di kancah sastra Indonesia lantaran karyanya pernah terpilih di ajanv Emerging Writers Program di Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2018. 
 
Di UWRF 2018, dua puisi ciptaannya lolos seleksi yakni "Dalam Perjalanan ke Bukittinggi" dan "Pasar Malam", yang menceritakan tentang kenangan dan keinginan masa kini. Setelah itu, pada tahun yang sama, buku kumpulan puisi ciptaannya diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) berjudul Suara Murai dan Puisi-puisi Lainnya.
 
Buku setebal 98 halaman itu berisi kumpulan puisi yang mengangkat budaya, identitas, dan mitologi masyarakat Minang Pariaman. Antologi puisi Suara Murai dan Puisi-puisi Lainnya juga masuk ke dalam daftar pendek Kusala Sastra Khatulistiwa 2019 untuk kategori puisi.
 
Dua tahun berselang, Andre kembalu meluncurkan buku kumpulan puisi Kalau Begitu Kita Juduli Prosa Ini Omelan (2020) yang diterbitkan oleh Elex Media Komputindo. Dalam buku ini, penulis kelahiran tahun 1995 itu menghadirkan karya yang menyentuh kehidupan sehari-hari dengan gaya unik dan berani namun penuh makna.
 
Pada 2022, Andre masih menekuni kemampuannya dalam menulis puisi dan meluncurkan buku 17 Puisi Cinta untuk Frida. Karya setebal 93 halaman ini menjadi buku kedua dirinya yang diterbitkan oleh Elex Media Komputindo.
 

Sumber gambar: KPG.

Inyik Balang (2024). (Sumber gambar: KPG)

Nama Andre kembali menyita perhatian penikmat sastra di Tanah Air saat karya novel pertamanya, Inyik Balang (2024), yang diterbitkan oleh KPG mendapat berbagai penghargaan. Novel tersebut berhasil memenangkan hadiah Sastra Ayu Utami untuk Pemula "Rasa" 2025, serta masuk ke dalam daftar pendek buku prosa pilihan Tempo pada 2024 dan daftar Panjang Kusala Sastra Khatulistiwa pada 2025.
 
Mengangkat mitologi inyiak balang yang dalam bahasa Minangkabau berarti 'harimau belang' atau dipercaya sebagai sosok harimau penjaga hutan, novel yang ditulis dengan pendekatan realis-magis ini merentang kisah satu abad sejarah di Tanah Minangkabau, berkelindan legenda dan peristiwa sejarah mulai era 1800-an hingga Orde Baru.
 
Adapun, karya terbaru Andre yakni Mangala Ni Foa, novelet eksperimental yang merekonstruksi bahasa dari rumpun Polinesia, Taiwan, Filipina, dan Madagaskar. Terinspirasi oleh Moana dan Avatar, karya ini menciptakan "Banua", dunia imajiner yang mengajak pembaca membayangkan alternatif sejarah masyarakat kepulauan.
 
Sebuah eksperimen sastra yang menerobos batas genre konvensional, menawarkan perjalanan intelektual dalam format ringkas namun mendalam. Lebih dari sekadar kisah, Mangala Ni Foa adalah upaya rekonstruksi budaya yang mengajak pembaca melihat sejarah sebagai ruang di mana imajinasi dan realitas saling bertemu.
 
Ada alasan tersendiri mengapa Andre kerap mengeksplorasi kekayaan budaya dan sejarah Minangkabau dalam karya-karyanya. Sebelum akhirnya terjun ke dunia kepenulisan, Andre mengaku sangat tertarik dengan kekayaan tradisi sastra lisan yang ada di tanah kelahirannya.
 
Ketertarikannya pada tradisi sastra lisan membuatnya akrab dengan berbagai mitologi, budaya, dan sejarah khususnya Minangkabau. Tak ayal, tema-tema itu pula lah yang tersaji dalam karya-karyanya. "Karena input yang saya berikan ke diri saya itu mitos, sejarah, bahan bacaan saya. Output-nya juga lebih kurang hal yang sama," ucapnya.
 
Awal ketertarikan Andre pada dunia kepenulisan tak bisa dilepaskan dari latar belakang pendidikannya yakni sarjana Sastra Inggris di Universitas Andalas. Sejak kuliah, dia sudah terbiasa menulis dan membaca banyak buku sastra.
 
"Dosen-dosen di kampus juga cukup men-trigger saya, misalnya kalau kita bisa terbitkan tulisan di media nasional, enggak usah masuk kelas atau enggak usah ikut ujian. Atmosfer sastra di Sumatera Barat itu juga masih ada walaupun tidak banyak, diskusi-diskusi sastra itu bisa ada tiap minggu," ujarnya.
 

Sumber gambar: Elex Media Komputindo.

Sumber gambar: Elex Media Komputindo.

Diakui oleh Andre, ajang UWRF 2018 menjadi dorongan terbesar bagi dirinya untuk menekuni dunia sastra. Berawal dari menulis puisi, hingga kini dia memfokuskan diri untuk mengeksplorasi tema-tema seputar mitologi, sejarah dan budaya lokal. Termasuk, mengulik penggunaan gaya bahasa tahun 1930-an hingga 1940-an yang membuat ciri khas tersendiri dari karya-karyanya.
 
Hal itu tidak terlepas dari referensi bacaannya yakni buku-buku sastra terbitan Balai Pustaka, seperti Sengsara Membawa Nikmat (1929) karya Tulis Sutan Sati, Katak Hendak Jadi Lembu (1935) karya Sutan Iskandar, dan Atheis (1949) karya Achdiat Karta Mihardja.
 
"Makanya misalkan yang sudah baca tulisan-tulisan saya itu, mereka kebanyakan bilang ini seperti baca tulisan-tulisan klasik, Balai Pustaka tahun segitu. Karena referensi saya juga itu," ucap penulis berusia 30 tahun itu. 
 
Sebagai penulis, Andre berharap bisa terus mengangkat narasi-narasi sejarah dengan sudut pandang yang berbeda dalam karya-karyanya. Termasuk, memperkenalkan keragaman kosa kata bahasa Indonesia yang jarang diketahui publik.
 
"Belakangan saya sadar ternyata lewat tulisan kita bisa mengajak orang untuk kembali mengenal sejarah dan sebagainya. Walaupun sebenarnya bukan cuma saya sendiri dari Sumatera Barat, saya ingin menghadirkan sejarah-sejarah yang jarang sekali orang tahu sebenarnya," tuturnya.
 
Menurut Andre, dunia sastra di Tanah Air saat ini terus menunjukkan perkembangan yang positif. Banyak penulis yang terus melahirkan karya dengan ragam tema dan gaya bercerita, begitupun banyaknya festival sastra yang dibuat di berbagai daerah, alih-alih hanya terpusat di kota-kota besar seperti Jakarta.
 
"Ini upaya yang baik agar semakin menghidupkan sastra, yang utama sekali memberi kesempatan kepada penulis daerah untuk berkembang. Maksudnya enggak semuanya harus berpusat di Jakarta," katanya.
 
Dia pun berharap agar pemerintah bisa melihat tren positif tersebut, lalu memberikan dukungan dan sponsor kepada para penulis, penerbit, dan komunitas agar dunia sastra di Indonesia bisa semakin berkembang, memastikan regenerasi penulis-penulis berbakat di Tanah Air terus berjalan.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

5 Konser Musik Gratis Weekend Ini 12-14 September 2025 di Jakarta dan Sekitarnya

BERIKUTNYA

Bisnis Florist Saleeya, Eksplorasi Gaya Buket Bunga yang Bersih dan Berkarakter

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga