Sawah. (Sumber: Freepik)

Sistem Subak di Bali, Warisan Pengetahuan yang Bisa Cegah Banjir

11 September 2025   |   19:31 WIB
Image
Luh Muni Wiraswari Mahasiswa Universitas Padjadjaran

Berita banjir di sebagian wilayah Bali menjadi topik pembicaraan dalam satu hari ke belakang. Tak ada yang menyangka bahwa pulau yang terkenal dengan keindahan dan pariwisatanya akan diterpa bencana banjir dengan arus air yang deras dan tinggi. BNPB pun secara resmi menetapkan status darurat banjir di Bali selama satu minggu.

Banjir melanda di 144 titik yang tersebar di daerah Denpasar, Gianyar, Badung, Tabanan, Jembrana, dan Karangasem. Peristiwa ini disusul oleh bencana lainnya, seperti tanah longsor, pohon tumbang, jembatan putus, jalan rusak, hingga bangunan yang jebol. Sejauh ini, dilaporkan bahwa terdapat 14 korban jiwa dan 2 orang hilang dalam pencarian. 

Baca juga: Awas Korsleting! Begini Cara Tangani Perangkat Elektronik yang Terendam Banjir

Jika dilihat secara historis dan dari aspek budaya, Bali sebenarnya memiliki kearifan lokal yang bisa mencegah dan mengatasi bencana banjir melalui sistem pengairan. Sistem ini dinamakan sistem Subak, dilandasi atas konsep terkenal di Bali: Tri Hita Karana. Konsep Tri Hita Karana mengajarkan tentang proses menuju kesejahteraan melalui menjaga harmonisasi hubungan antarmanusia, hubungan manusia dengan alam, juga dengan Tuhan.

Sistem Subak merupakan warisan budaya yang telah diakui oleh UNESCO. Tradisi ini juga telah diperkenalkan dalam World Water Forum ke-10. Sistem irigasi ini memiliki sejarah yang panjang dan sudah diimplementasikan di Bali sejak lebih dari seribu tahun yang lalu.

Sebagai bagian dari negara agraris, sistem pengairan Subak melibatkan para petani untuk mengorganisir manajemen air demi keberlanjutan air dalam aspek pertanian ataupun keberlangsungan kehidupan masyarakat di Bali. Sistem Subak dijalankan secara kolektif, biasanya terdiri dari 50 hingga 400 petani yang mengelola pasokan air secara bergilir dalam satu kelompok.

Sumber mata air dialirkan dari gunung menuju persawahan secara adil dan merata sehingga tak ada petani yang kekurangan air saat musim kemarau. Sistem Subak memiliki komponen berupa hutan yang dapat melindungi sumber air, sawah terasering dan hamparannya, bendungan desa, serta pura. Komponen-komponen ini berusaha dilindungi untuk menjaga kualitas air dan ekosistem.

Sistem Subak menekankan nilai gotong royong untuk mencapai kesejahteraan bersama. Selain itu, aspek spiritual seperti upacara yang dilakukan di pura juga menjadi poin dalam sistem ini. Nilai-nilai yang dianut oleh sistem Subak menciptakan harmonisasi untuk keberlanjutan pertanian di Bali.

Menurut artikel dalam Jurnal Bappeda Litbang pada tahun 2018, perkembangan sistem subak sebagai sistem irigasi di zaman terdahulu berada di bawah pengaruh raja-raja. Di masa sekarang, kewenangan mengenai subak tentu melibatkan tanggung jawab pemerintah. 

Namun, bagaimana kondisi Subak di Bali saat ini?

Berdasarkan Data Statistik Pertanian 2024 yang dirilis oleh Kementerian Pertanian, lahan sawah di Bali selama periode 2016-203 menyusut sebesar 15,27%. Sawah merupakan komponen paling penting di dalam sistem Subak, sehingga menurut penelitian Wayan Windia di tahun 2018, hal ini menjadi kekhawatiran untuk keberlanjutan sistem Subak di Bali.

Dalam penelitian yang sama, Wayan Windia menjelaskan bahwa di beberapa tempat, lahan pertanian dialihfungsikan menjadi bangunan ataupun destinasi tertentu untuk kepentingan industri pariwisata. Wayan Windia juga menuliskan bahwa sektor pertanian semakin tersisihkan, mengakibatkan Subak yang semakin lemah.

Lahan sawah dan hutan yang menjadi komponen penting dalam Subak semakin menyusut sehingga daerah resapan air semakin menipis. Oleh karenanya, bencana banjir dan pencemaran air pun tak dapat dihindari.

Baca juga: Sejumlah Kawasan Wisata di Bali Terdampak Akibat Banjir

SEBELUMNYA

4 Rekomendasi Gamepad Murah Berkualitas untuk Main Roblox

BERIKUTNYA

Tip Memilih Robot Vacuum Agar Rumah Bersih Maksimal

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga