Edelweiss Wonokitri, Desa Adat Tengger dengan Pesona Bunga Abadi di Kaki Bromo
08 September 2025 |
20:00 WIB
Di ketinggian hampir 2.000 meter di atas permukaan laut, terletak sebuah desa yang berdampingan dengan wilayah sekitar Bromo bernama Desa Edelweiss Wonokitri. Justru uniknya, kampung ini menjadi titik perhentian terakhir sebelum memasuki kawasan Bromo dari arah Pasuruan.
Di sana, nuansa kabut tipis tampak di perbukitan. Aroma tanah pegunungan yang segar menyambut langkah pengunjung yang datang. Bukan hanya sekadar desa pegunungan biasa, Desa Edelweis Wonokitri memampangkan keindahan alam dan kearifan budaya berpadu menjadi satu pengalaman perjalanan yang jarang ditemukan di tempat lain. Dan tentu saja, daya tarik utamanya adalah hamparan bunga edelweiss, tanaman berjuluk bunga abadi yang melegenda.
Baca Juga: Wisata Open Trip Makin Diminati, Ini Destinasi Favorit & Gambaran Biayanya
Bunga edelweiss di Wonokitri tumbuh di sebuah taman khusus yang dirawat dengan penuh cinta oleh warga setempat. Berbeda dengan edelweiss liar yang dilarang dipetik, edelweiss di sini dibudidayakan secara legal dan berkelanjutan. Setiap musim, ribuan kuntum berbunga serentak membentuk lautan putih kekuningan ala edelweiss, begitu kontras dengan langit biru dan lanskap perbukitan hijau.
Berdiri di tengah taman, pengunjung bisa merasakan sensasi seolah tenang. Angin gunung yang sejuk menggoyang kelopak bunga perlahan, sementara di kejauhan, siluet Gunung Bromo dan Gunung Batok berdiri gagah.
Banyak wisatawan datang untuk berfoto, tapi lebih dari itu, desa ini menawarkan kesempatan untuk belajar. Warga dengan ramah mengajak pengunjung memahami proses pembibitan, perawatan, hingga cara memanen bunga agar tetap lestari.
Wonokitri juga merupakan rumah bagi salah satu masyarakat adat tertua di Jawa Timur, Suku Tengger. Masyarakatnya memandang edelweiss sebagai bunga sakral yang digunakan dalam upacara adat seperti Yadnya Kasada. Dalam ritual ini, hasil bumi dan bunga edelweiss dipersembahkan ke kawah Bromo sebagai ungkapan syukur.
Keramahan orang Tengger begitu terasa. Senyum, hingga setiap obrolan kecil terasa hangat. Beberapa rumah membuka pintu bagi wisatawan untuk merasakan One Day Being Tengger People, sebuah pengalaman tinggal bersama warga, mencicipi makanan khas, belajar membuat sesaji, hingga ikut dalam kegiatan harian di ladang.
Selain itu, banyak hal bisa dilakukan di Wonokitri, baik untuk penjelajah aktif maupun pencari ketenangan. Banyak pengunjung berburu foto instagramable, spot foto datang dari hamparan edelweiss dengan latar gunung dan kabut pagi.
Kemudian wisatawan juga bisa belajar budidaya edelweiss dengan mengikuti tur singkat bersama pemandu lokal, lalu melihat proses menanam, hingga membuat kerajinan berbahan edelweiss kering.
Wisatawan juga bisa menyaksikan seni tradisi atau ikut serta dalam kegiatan adat, menyeruput kopi robusta lokal sambil memandangi lanskap pegunungan dari teras terbuka, hingga menyusuri jalur desa hingga ke titik pandang yang menghadap langsung ke Gunung Bromo dan Semeru.
Desa Wonokitri berada sekitar 1,5 jam perjalanan dari pusat Kota Pasuruan. Pengunjung akan melewati jalur berkelok khas pegunungan. Sepanjang jalan, sawah berundak, perkebunan sayur, dan pemandangan jurang yang estetik juga akan menemani.
Bagi yang membawa kendaraan pribadi, akses cukup mudah karena jalannya sudah beraspal meski di beberapa titik menanjak curam. Alternatifnya, banyak pengunjung juga yang menggunakan jasa travel atau ojek jeep wisata yang sering mangkal di kota atau rest area menuju Bromo.
Wisatawan disarankan datang pagi dan memakai jaket tebal. Suhu di sini bisa turun di bawah 15 derajat Celcius terutama pagi dan malam. Saran lainnya, jika berinteraksi dengan warga atau mengikuti kegiatan adat, ikuti aturan yang diberikan pemandu. Wisatawan juga bisa mencoba membeli kerajinan atau makanan dari warga sebagai bentuk dukungan langsung.
Baca Juga: Pesona Pantai Pemuteran, Indahnya Biorock di Pulau Dewata
Di sana, nuansa kabut tipis tampak di perbukitan. Aroma tanah pegunungan yang segar menyambut langkah pengunjung yang datang. Bukan hanya sekadar desa pegunungan biasa, Desa Edelweis Wonokitri memampangkan keindahan alam dan kearifan budaya berpadu menjadi satu pengalaman perjalanan yang jarang ditemukan di tempat lain. Dan tentu saja, daya tarik utamanya adalah hamparan bunga edelweiss, tanaman berjuluk bunga abadi yang melegenda.
Baca Juga: Wisata Open Trip Makin Diminati, Ini Destinasi Favorit & Gambaran Biayanya
Bunga edelweiss di Wonokitri tumbuh di sebuah taman khusus yang dirawat dengan penuh cinta oleh warga setempat. Berbeda dengan edelweiss liar yang dilarang dipetik, edelweiss di sini dibudidayakan secara legal dan berkelanjutan. Setiap musim, ribuan kuntum berbunga serentak membentuk lautan putih kekuningan ala edelweiss, begitu kontras dengan langit biru dan lanskap perbukitan hijau.
Berdiri di tengah taman, pengunjung bisa merasakan sensasi seolah tenang. Angin gunung yang sejuk menggoyang kelopak bunga perlahan, sementara di kejauhan, siluet Gunung Bromo dan Gunung Batok berdiri gagah.

Wonokitri (Sumber gambar: Desaedelweisswonokitri.com)
Wonokitri juga merupakan rumah bagi salah satu masyarakat adat tertua di Jawa Timur, Suku Tengger. Masyarakatnya memandang edelweiss sebagai bunga sakral yang digunakan dalam upacara adat seperti Yadnya Kasada. Dalam ritual ini, hasil bumi dan bunga edelweiss dipersembahkan ke kawah Bromo sebagai ungkapan syukur.
Keramahan orang Tengger begitu terasa. Senyum, hingga setiap obrolan kecil terasa hangat. Beberapa rumah membuka pintu bagi wisatawan untuk merasakan One Day Being Tengger People, sebuah pengalaman tinggal bersama warga, mencicipi makanan khas, belajar membuat sesaji, hingga ikut dalam kegiatan harian di ladang.
Selain itu, banyak hal bisa dilakukan di Wonokitri, baik untuk penjelajah aktif maupun pencari ketenangan. Banyak pengunjung berburu foto instagramable, spot foto datang dari hamparan edelweiss dengan latar gunung dan kabut pagi.
Kemudian wisatawan juga bisa belajar budidaya edelweiss dengan mengikuti tur singkat bersama pemandu lokal, lalu melihat proses menanam, hingga membuat kerajinan berbahan edelweiss kering.

Wonokitri (Sumber gambar: Desaedelweisswonokitri.com)
Desa Wonokitri berada sekitar 1,5 jam perjalanan dari pusat Kota Pasuruan. Pengunjung akan melewati jalur berkelok khas pegunungan. Sepanjang jalan, sawah berundak, perkebunan sayur, dan pemandangan jurang yang estetik juga akan menemani.
Bagi yang membawa kendaraan pribadi, akses cukup mudah karena jalannya sudah beraspal meski di beberapa titik menanjak curam. Alternatifnya, banyak pengunjung juga yang menggunakan jasa travel atau ojek jeep wisata yang sering mangkal di kota atau rest area menuju Bromo.
Wisatawan disarankan datang pagi dan memakai jaket tebal. Suhu di sini bisa turun di bawah 15 derajat Celcius terutama pagi dan malam. Saran lainnya, jika berinteraksi dengan warga atau mengikuti kegiatan adat, ikuti aturan yang diberikan pemandu. Wisatawan juga bisa mencoba membeli kerajinan atau makanan dari warga sebagai bentuk dukungan langsung.
Baca Juga: Pesona Pantai Pemuteran, Indahnya Biorock di Pulau Dewata
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.