Pengunjung mengamati beragam buku saat Festival Literasi dan Pasar Buku Keliling Nusantara bertajuk Patjarmerah Kecil di Pos Bloc, Jakarta, Jumat (5/7/2024). (Sumber foto: Hypeabis.id/Arief Hermawan P)

Buku Bajakan Marak, Penulis dan Penerbit Kehilangan Harapan Hidup dari Royalti

06 September 2025   |   10:00 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Pembajakan buku masih menjadi persoalan klasik yang terus menghantui industri penerbitan di Indonesia. Lemahnya penegakan hukum membuat praktik ini berulang dari waktu ke waktu, bahkan berkembang dengan berbagai modus baru sehingga terkesan ada pembiaran terhadap pelaku.

CEO Bentang Pustaka, Salman Faridi, menilai hingga kini belum ada medium yang benar-benar mampu menyelamatkan buku. Berbeda dengan musik yang terbantu kehadiran layanan streaming digital atau film melalui platform OTT, dunia buku masih mencari format inovatif yang bisa melindungi karya penulis sekaligus memudahkan pembaca untuk mengaksesnya secara legal.

Baca juga: Yuk Beli Buku Original! Simak 7 Cara Bedakan Buku Asli & Bajakan

“Buku ini menurut saya belum ketemu jalan keluarnya sehingga yang sangat merugikan untuk penerbit itu salah satunya adalah pembajakan buku cetak dan pembajakan buku dalam bentuk PDF,” ujarnya kepada Hypeabis.id, beberapa waktu lalu.

Sejak novel Laskar Pelangi terbit pada 2005, Bentang Pustaka katanya mulai menghadapi pembajakan hingga saat ini. Sejak itu pula, pihaknya gencar melakukan kampanye stop pembajakan buku.

Kampanye dan edukasi dilakukan mulai dari penulis hingga para pembaca dengan berbagai cara. Upaya termasuk melalui media sosial dengan memberi kesadaran tentang bedanya buku asli dan buku bajakan. 

“Harusnya memang yang lebih berperan itu di pemerintah. Hukumnya ada, payung hukumnya ada, tapi mungkin kayak tidur pulas,” sebutnya.

Sudah beragam cara diupayakan untuk menghentikan, tetapi pembajakan selalu muncul dengan modus-modus terbaru. Di satu sisi, masyarakat sendiri banyak yang menikmati buku bajakan yang notabene harganya dijual lebih murah. 

Tentu hal ini sangat merugikan penerbit, padahal keuntungan yang didapat dari penjualan buku sangat sedikit karena harus dibagi lagi bukan hanya kepada penulis tetapi juga distributor. Belum lagi biaya untuk promosi dan marketing. 

“Jadi, secara finansial jelas besar pengaruhnya. Ini juga berpengaruh juga terhadap nanti pendapatan penulis. Penulis akhirnya tidak bisa hidup dari royaltinya karena banyak bukunya dibajak,” tegas Salman. 

Berbeda dengan para pembajak yang hanya mengeluarkan biaya untuk mencetak buku saja. Keuntungan yang didapat mereka tetap besar, meskipun buku dijual dengan harga murah. 

Kendati demikian, Salman mengapresiasi langkah positif Kementerian Ekonomi Kreatif yang membuat gebrakan gerakan dengan menggandeng lokapasar. Salman menyebut dia sudah jarang menemukan buku-buku bajakan di lokapasar, terutama sejak langkah konkret Kemenekraf. 

“Ini menimbulkan efek cerah buat para pembajak. Kalau dulu kan kita setengah mati juga membujuk lokapasar untuk menutup satu produk [buku bajakan],” tuturnya.


Buku Digital

Lantas apakah penerbitan buku digital bisa menjadi solusi juga untuk menghadapi pembajakan buku ini? Salman berpendapat buku digital kurang diminati di pasar Indonesia, tidak seperti di wilayah Eropa Barat atau Amerika Utara yang didorong oleh device seperti Kindle lewat Amazon. 

Di Indonesia, pasar e-book yang dedicated menurutnya tidak besar. Baik di iOS atau Google melalui Playbooks, tampaknya tidak terlalu serius mengembangkan ekosistem yang akan sama menguntungkannya dengan buku cetak dari sisi teknologi. 

Kemudian, pasar terbesar yang disasar oleh aplikasi seperti iOS dan Android di smartphone, tidak terlalu menarik untuk membaca buku karena distraksi yang terlalu besar. Smartphone diketahui lebih cocok untuk sarana telekomunikasi, interaksi, dan hiburan.

Meskipun harga buku digital lebih murah dibandingkan cetak, Salman menyebut hal ini juga belum bisa mendorong minat masyarakat untuk mengkonsumsinya. “Kalau saya hitung, kalau murni dari pembelian berdasarkan device sekarang lewat playbook, itu 1 persen [pangsa pasarnya],” tuturnya.

Penulis sekaligus pendiri Penerbit baNANA Yusi Avianto Pareanom mengatakan sejauh ini buku-buku yang diterbitkan perusahaannya belum menjadi target pembajakan. Kendati demikian, masalah ini tetap harus ditemukan jalan keluarnya. 

Sama seperti pencuri, pembajak buku jelas tidak menghargai pihak-pihak yang terlibat dalam pembuatan buku tersebut, baik penulis, penerbit, hingga orang-orang yang bergerak di industri buku ini secara legal. Sayangnya memang, isu klasik ini menurutnya tidak pernah dianggap serius oleh pemerintah. 

Akan sangat merugikan bila pembajakan juga dirasakan para penerbit rumahan seperti baNANA dimana buku yang laris masih terbilang sedikit. “Cuma kembali lagi ke masalahnya, ini kan tidak terlalu seksi untuk pemerintah,” imbuhnya.

Dia berharap pemerintah memperhatikan nasib ekosistem penerbitan buku di Tanah Air. Tindakan tegas dengan langkah hukum harus digencarkan untuk memberikan efek jera. Kampanye stop buku bajakan kepada pembaca juga harus digencarkan.

Sementara pihak lokapasar sebaiknya lebih selektif terhadap produk yang dipasarkan para penjual. Sistem verifikasi perlu ditingkatkan.

Di sisi lain, Yusi menyebut para penerbit independen rencananya akan membuat semacam perserikatan atau untuk mengatur langkah-langkah konkret untuk menyuarakan lawan pembajakan. “Kalau punya satu organisasi bersama, ini kan juga lebih kuat kalau melakukan langkah-langkah legal maupun yang lain,” tuturnya.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Arah Kepemilikan Properti Berubah di Tangan Milenial & Gen Z

BERIKUTNYA

Rundown Hari Kedua Pestapora 6 September 2025, Ada JKT48 hingga Sheila on 7

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga