Mendikdasmen 'Larang' Roblox, Psikolog Imbau Orang Tua Dampingi Anak Bermain Game
05 September 2025 |
09:33 WIB
Roblox kini menjadi fenomena di kalangan anak-anak dan remaja, lantaran menawarkan dunia virtual yang luas dan kreativitas tanpa batas. Dengan jenis gim yang beragam dan fitur sosial yang memungkinkan interaksi dengan pemain lain, Roblox berhasil memikat banyak orang untuk menghabiskan waktu berjam-jam di dalamnya.
Namun, popularitasnya yang tinggi juga menimbulkan kekhawatiran bagi orang tua dan tenaga pendidik, terutama terkait konten yang tidak selalu sesuai usia. Interaksi dengan pemain asing dan potensi kecanduan, dapat memengaruhi perkembangan sosial dan emosional anak.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mengimbau anak-anak untuk tidak bermain gim Roblox. Imbauan ini, dia sampaikan saat meninjau program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di SDN Cideng 02 Pagi, Gambir, Jakarta Pusat.
Mu'ti menilai gim tersebut menampilkan banyak konten kekerasan yang tidak pantas untuk anak. Karenanya, dia menekankan pentingnya literasi digital sejak dini agar anak-anak terhindar dari akses informasi atau permainan yang berbahaya.
“Kalau main HP, tidak boleh menonton (konten) kekerasan, yang ada berantemnya dan kata-kata yang jelek, nah yang main blok-blok (Roblox) tadi itu jangan ya karena itu tidak baik,” kata Mendikdasmen.
Baca juga: Roblox Perluas Fitur Estimasi Usia, Batasan Chat Dewasa–Anak Diperketat
Lebih lanjut, dia mengingatkan orang tua untuk memperkuat edukasi dan mendampingi anak saat menggunakan gawai, guna mencegah dampak negatif dari pemakaian gadget yang berlebihan.
Menanggapi imbauan tersebut, Psikolog Klinis Rut Eli Hadadsha, menjelaskan bahwa Roblox bukanlah satu gim dengan konten tunggal, melainkan sebuah platform yang memungkinkan pengguna membuat dan bermain berbagai gim buatan komunitas.
“Karena Roblox memberi ruang bagi pengguna untuk membuat gim sendiri, ada kemungkinan beberapa di antaranya mengandung kekerasan ringan atau konten yang kurang sesuai, sehingga pengawasan orang tua dan kontrol konten sangat krusial,” ujarnya.
Rut menambahkan bahwa larangan Mendikdasmen terhadap Roblox adalah langkah awal yang baik untuk melindungi anak dari konten yang tidak sesuai usianya. Larangan ini dapat menjadi upaya awal perlindungan, karena paparan kekerasan tidak hanya berasal dari Roblox saja.
Meskipun terdapat fitur parental control dan pengaturan privasi, fitur tersebut tidak sepenuhnya menghilangkan risiko yang mungkin dihadapi anak saat mengakses platform ini.
"Pada anak-anak usia dini, terutama yang masih berada di usia SD, kemampuan otak mereka belum cukup berkembang untuk bisa melakukan pemikiran yang kritis dan penalaran terhadap moral serta hal-hal yang benar dan salah," ujar Rahma.
Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa bagian otak yang bertanggung jawab terhadap fungsi kognitif yang lebih tinggi seperti kendali dorongan, fleksibilitas berpikir, penyelesaian masalah, penalaran, pemikiran abstrak dan kritis, dan lainnya, mulai berkembang secara efektif dan efisien ketika anak-anak memasuki masa remaja, hingga usia dewasa awal.
Orang tua bisa mendampingi anak saat bermain gim di perangkat digital. Hal ini bisa mencegah risiko anak terpapar oleh media yang menampilkan perilaku kekerasan atau perilaku lainnya yang belum sesuai dengan usia mereka.
"Orang tua bisa memberikan pengawasan, refleksi, dan komunikasi yang aktif ketika anak bermain gim di platform digital atau mengakses gadget.” imbuhnya.
Memilih jenis gim yang sesuai dengan usia anak juga sangat penting. Anak-anak SD bisa diperkenalkan dengan permainan seperti puzzle sederhana, gim yang melatih memori dan konsentrasi, gim dengan visualisasi konkret, serta gim kolaboratif yang mendorong interaksi dengan teman sebaya.
Pada tingkat Sekolah Dasar, anak-anak sedang berada dalam fase perkembangan kognitif dan kemampuan berpikir. Mereka mulai memahami aturan, logika, serta kompetensi sosial, sehingga permainan seperti puzzle, teka-teki silang, atau sudoku sangat sesuai untuk mendukung perkembangannya.
“Anak-anak usia SD sekitar 7-12 tahun mengalami peningkatan kemampuan berpikir konkret yang semakin matang. Mereka mulai memahami aturan yang konsisten dan logika, meskipun masih memerlukan contoh konkret," katanya.
Meski begitu, penting sekali bagi orang tua untuk mendampingi anak saat bermain gim. Sebab, mereka masih mengalami kesulitan untuk bisa membedakan perilaku yang tepat dilakukan di dunia nyata dengan di dunia virtual.
"Orang tua perlu secara aktif mendampingi dan berkomunikasi dengan anak-anak mereka saat menggunakan gadget untuk melindungi mereka dari konten dan perilaku yang tidak sesuai," ujarnya.
Beberapa waktu lalu, Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, secara tegas meminta pengembang gim Roblox untuk memperbaiki sistem di platformnya agar sesuai dengan aturan perlindungan anak yang berlaku di Indonesia. Permintaan ini disampaikan setelah adanya kekhawatiran dari orang tua dan pendidik mengenai konten serta interaksi yang tidak pantas di gim tersebut.
Dalam pertemuan dengan perwakilan Roblox Asia Pacific, Meutya Hafid meminta Roblox membatasi akses komunikasi antar pengguna anak, menyaring konten user-generated yang vulgar, dan memperjelas fitur kontrol orang tua (parental control).
“Pembenahan ini memastikan anak-anak Indonesia terlindungi dari konten dan interaksi yang berpotensi membahayakan di ruang digital,” jelasnya, dikutip melalui laman resmi Kemkomdigi.
Dia berharap Roblox, yang telah terdaftar sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) sejak 2022, bisa menjadi contoh dalam membangun ekosistem internet yang aman, bermanfaat, dan produktif. Kementerian Komdigi akan memberikan waktu bagi Roblox untuk melakukan perbaikan dan akan melakukan evaluasi rutin guna memastikan platform tersebut memenuhi regulasi yang berlaku di Indonesia.
Baca juga: Pecah Rekor, Game Roblox Dimainkan 47,3 Juta Pemain Secara Bersamaan
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Namun, popularitasnya yang tinggi juga menimbulkan kekhawatiran bagi orang tua dan tenaga pendidik, terutama terkait konten yang tidak selalu sesuai usia. Interaksi dengan pemain asing dan potensi kecanduan, dapat memengaruhi perkembangan sosial dan emosional anak.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mengimbau anak-anak untuk tidak bermain gim Roblox. Imbauan ini, dia sampaikan saat meninjau program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di SDN Cideng 02 Pagi, Gambir, Jakarta Pusat.
Mu'ti menilai gim tersebut menampilkan banyak konten kekerasan yang tidak pantas untuk anak. Karenanya, dia menekankan pentingnya literasi digital sejak dini agar anak-anak terhindar dari akses informasi atau permainan yang berbahaya.
“Kalau main HP, tidak boleh menonton (konten) kekerasan, yang ada berantemnya dan kata-kata yang jelek, nah yang main blok-blok (Roblox) tadi itu jangan ya karena itu tidak baik,” kata Mendikdasmen.
Baca juga: Roblox Perluas Fitur Estimasi Usia, Batasan Chat Dewasa–Anak Diperketat
Lebih lanjut, dia mengingatkan orang tua untuk memperkuat edukasi dan mendampingi anak saat menggunakan gawai, guna mencegah dampak negatif dari pemakaian gadget yang berlebihan.
Menanggapi imbauan tersebut, Psikolog Klinis Rut Eli Hadadsha, menjelaskan bahwa Roblox bukanlah satu gim dengan konten tunggal, melainkan sebuah platform yang memungkinkan pengguna membuat dan bermain berbagai gim buatan komunitas.
“Karena Roblox memberi ruang bagi pengguna untuk membuat gim sendiri, ada kemungkinan beberapa di antaranya mengandung kekerasan ringan atau konten yang kurang sesuai, sehingga pengawasan orang tua dan kontrol konten sangat krusial,” ujarnya.
Rut menambahkan bahwa larangan Mendikdasmen terhadap Roblox adalah langkah awal yang baik untuk melindungi anak dari konten yang tidak sesuai usianya. Larangan ini dapat menjadi upaya awal perlindungan, karena paparan kekerasan tidak hanya berasal dari Roblox saja.
Meskipun terdapat fitur parental control dan pengaturan privasi, fitur tersebut tidak sepenuhnya menghilangkan risiko yang mungkin dihadapi anak saat mengakses platform ini.
Mendampingi Anak Bermain Game
Psikolog dan Konselor Sekolah Cikal Lebak Bulus, Rahma Dianti, memaparkan bahwa anak-anak, terutama di usia dini pada jenjang PAUD, TK, hingga SD, masih membutuhkan pengawasan secara atentif dari orang tua saat bermain gim."Pada anak-anak usia dini, terutama yang masih berada di usia SD, kemampuan otak mereka belum cukup berkembang untuk bisa melakukan pemikiran yang kritis dan penalaran terhadap moral serta hal-hal yang benar dan salah," ujar Rahma.
Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa bagian otak yang bertanggung jawab terhadap fungsi kognitif yang lebih tinggi seperti kendali dorongan, fleksibilitas berpikir, penyelesaian masalah, penalaran, pemikiran abstrak dan kritis, dan lainnya, mulai berkembang secara efektif dan efisien ketika anak-anak memasuki masa remaja, hingga usia dewasa awal.
Orang tua bisa mendampingi anak saat bermain gim di perangkat digital. Hal ini bisa mencegah risiko anak terpapar oleh media yang menampilkan perilaku kekerasan atau perilaku lainnya yang belum sesuai dengan usia mereka.
"Orang tua bisa memberikan pengawasan, refleksi, dan komunikasi yang aktif ketika anak bermain gim di platform digital atau mengakses gadget.” imbuhnya.
Memilih jenis gim yang sesuai dengan usia anak juga sangat penting. Anak-anak SD bisa diperkenalkan dengan permainan seperti puzzle sederhana, gim yang melatih memori dan konsentrasi, gim dengan visualisasi konkret, serta gim kolaboratif yang mendorong interaksi dengan teman sebaya.
Pada tingkat Sekolah Dasar, anak-anak sedang berada dalam fase perkembangan kognitif dan kemampuan berpikir. Mereka mulai memahami aturan, logika, serta kompetensi sosial, sehingga permainan seperti puzzle, teka-teki silang, atau sudoku sangat sesuai untuk mendukung perkembangannya.
“Anak-anak usia SD sekitar 7-12 tahun mengalami peningkatan kemampuan berpikir konkret yang semakin matang. Mereka mulai memahami aturan yang konsisten dan logika, meskipun masih memerlukan contoh konkret," katanya.
Meski begitu, penting sekali bagi orang tua untuk mendampingi anak saat bermain gim. Sebab, mereka masih mengalami kesulitan untuk bisa membedakan perilaku yang tepat dilakukan di dunia nyata dengan di dunia virtual.
"Orang tua perlu secara aktif mendampingi dan berkomunikasi dengan anak-anak mereka saat menggunakan gadget untuk melindungi mereka dari konten dan perilaku yang tidak sesuai," ujarnya.
Beberapa waktu lalu, Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, secara tegas meminta pengembang gim Roblox untuk memperbaiki sistem di platformnya agar sesuai dengan aturan perlindungan anak yang berlaku di Indonesia. Permintaan ini disampaikan setelah adanya kekhawatiran dari orang tua dan pendidik mengenai konten serta interaksi yang tidak pantas di gim tersebut.
Dalam pertemuan dengan perwakilan Roblox Asia Pacific, Meutya Hafid meminta Roblox membatasi akses komunikasi antar pengguna anak, menyaring konten user-generated yang vulgar, dan memperjelas fitur kontrol orang tua (parental control).
“Pembenahan ini memastikan anak-anak Indonesia terlindungi dari konten dan interaksi yang berpotensi membahayakan di ruang digital,” jelasnya, dikutip melalui laman resmi Kemkomdigi.
Dia berharap Roblox, yang telah terdaftar sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) sejak 2022, bisa menjadi contoh dalam membangun ekosistem internet yang aman, bermanfaat, dan produktif. Kementerian Komdigi akan memberikan waktu bagi Roblox untuk melakukan perbaikan dan akan melakukan evaluasi rutin guna memastikan platform tersebut memenuhi regulasi yang berlaku di Indonesia.
Baca juga: Pecah Rekor, Game Roblox Dimainkan 47,3 Juta Pemain Secara Bersamaan
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.