Survei YouGov: Media Sosial Pengaruhi Gen Z Belanja Hingga Ambil Keputusan
03 September 2025 |
20:00 WIB
Indonesia menghadapi lanskap yang makin dinamis dalam dunia informasi dan media. Dengan masyarakat yang didominasi kalangan Gen Z dan milenial, pola konsumsi media nyatanya makin personal di seluruh lini mula dari streaming hingga media sosial.
Laporan YouGov Indonesia dalam Media Consumption Report 2025 membeberkan kebiasaan masyarakat Indonesia dalam mengonsumsi media. Kini, masyarakat tidak lagi ditentukan oleh dominasi satu platform. Mereka lebih menggemari pengalaman lintas format yang terksan lebih fleksibel dan membuat irisan antara pengalaman layar, audio, dan interaksi makin samar.
Baca juga: Survei: 45 Persen Gen Z Dengarkan Podcast Lebih dari 1 Jam per Hari
Menurut General Manager YouGov Indonesia dan India Edward Hutasoit, makin pecahnya lanskap media saat ini justru konsumsi media makin menyangku pengalaman yang aktif, emosional, dan sangat dipengaruhi oleh generasi. Khususnya bagi Gen Z, media sosial menjadi subjek yang mendorong penggunaan media sosial makin kencang.
Bahkan, temuan YouGov mengatakan, mereka tak sekadar menggunakannya saja. Media sosial di mata Gen Z menjadi wadah bereksplorasi, berbelanja, bahkan mengambil keputusan. Dalam angka, setidaknya sebanyak 81% masyarakat Indonesia aktif di media sosial dengan 61% pengguna harian berasal dari Gen Z.
Kemudian di tangan Gen Z, platform media sosial TikTok menjadi platform dengan pertumbuhan tercepat, kra-kira hampir 2 dari 3 Gen Z mengatakan penggunaannya meningkat jika dibandingkan tahun lalu. Dari mulanya sebagai pengguna, siapa sangka jika platform media sosial menggiring mereka pada keputusan-keputusan krusial, sampai ke soal berbelanja.
Laporan YouGov mengatakan setidaknya 73% pengguna pernah membeli sesuatu setelah mereka melihat iklan di media sosial. Uniknya, angka ini melonjak mencapai 78% di kalangan perempuan. Ini membuktikan pasar pemasaran secara digital memberikan efek besar dalam ketertarikan Gen Z untuk berbelanja.
Berbicara soal interaksi, batas-batas Gen Z menggunakan beragam media sosial untuk berinteraksi boleh terbilang kabur. Mereka tak ada preferensi yang pasti untuk menetap di satu media. Sebanyak 72% di antara pengguna media sosial disebut melakukan multitasking lintas media. Ini menandai setiap momen bisa menjadi potensi titik interaksi mereka di dunia maya.
Oleh karena itu, menurut Edward, bukan kanal lagi, konteks menjadi penentu bagaimana media di Indonesia digunakan. Umbuh sebagai digital natives, masyarakat kini bisa mengonsumsi media apa saja dalam waktu cepat.
Misalnya, saat perjalanan mendengarkan radio, kemudian sebelum tidak mendengarkan podcast, menonton tv, dan sebagainya. Bahkan, Edward mengungkap jika sudah banyak orang yang mengonsumsi lebih dari 1 media dalam satu waktu.
“Misalnya saat menonton televisi, dilakukan sambil menggunakan media sosial dalam waktu bersamaan,” katanya. Ini membuktikan bahwa masyarakat Indonesia menggunakan media untuk membentuk kehidupan emosinal maupun praktis dengan cara-cara yang berbeda dan personal pada tiap tahap kehidupan mereka.
“Dari perubahan preferensi platform hingga meningkatnya perilaku multi-screen, kami melihat sinyal yang jelas tentang arah audiens ke depan. Tantangan sekaligus peluangnya adalah bagaimana menerjemahkan wawasan ini menjadi strategi konten yang lebih cerdas, kampanye yang lebih relevan, serta pengalaman digital yang lebih inklusif,” tambah Edward.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Laporan YouGov Indonesia dalam Media Consumption Report 2025 membeberkan kebiasaan masyarakat Indonesia dalam mengonsumsi media. Kini, masyarakat tidak lagi ditentukan oleh dominasi satu platform. Mereka lebih menggemari pengalaman lintas format yang terksan lebih fleksibel dan membuat irisan antara pengalaman layar, audio, dan interaksi makin samar.
Baca juga: Survei: 45 Persen Gen Z Dengarkan Podcast Lebih dari 1 Jam per Hari
Menurut General Manager YouGov Indonesia dan India Edward Hutasoit, makin pecahnya lanskap media saat ini justru konsumsi media makin menyangku pengalaman yang aktif, emosional, dan sangat dipengaruhi oleh generasi. Khususnya bagi Gen Z, media sosial menjadi subjek yang mendorong penggunaan media sosial makin kencang.
Bahkan, temuan YouGov mengatakan, mereka tak sekadar menggunakannya saja. Media sosial di mata Gen Z menjadi wadah bereksplorasi, berbelanja, bahkan mengambil keputusan. Dalam angka, setidaknya sebanyak 81% masyarakat Indonesia aktif di media sosial dengan 61% pengguna harian berasal dari Gen Z.
Kemudian di tangan Gen Z, platform media sosial TikTok menjadi platform dengan pertumbuhan tercepat, kra-kira hampir 2 dari 3 Gen Z mengatakan penggunaannya meningkat jika dibandingkan tahun lalu. Dari mulanya sebagai pengguna, siapa sangka jika platform media sosial menggiring mereka pada keputusan-keputusan krusial, sampai ke soal berbelanja.
Laporan YouGov mengatakan setidaknya 73% pengguna pernah membeli sesuatu setelah mereka melihat iklan di media sosial. Uniknya, angka ini melonjak mencapai 78% di kalangan perempuan. Ini membuktikan pasar pemasaran secara digital memberikan efek besar dalam ketertarikan Gen Z untuk berbelanja.
Berbicara soal interaksi, batas-batas Gen Z menggunakan beragam media sosial untuk berinteraksi boleh terbilang kabur. Mereka tak ada preferensi yang pasti untuk menetap di satu media. Sebanyak 72% di antara pengguna media sosial disebut melakukan multitasking lintas media. Ini menandai setiap momen bisa menjadi potensi titik interaksi mereka di dunia maya.
Oleh karena itu, menurut Edward, bukan kanal lagi, konteks menjadi penentu bagaimana media di Indonesia digunakan. Umbuh sebagai digital natives, masyarakat kini bisa mengonsumsi media apa saja dalam waktu cepat.
Misalnya, saat perjalanan mendengarkan radio, kemudian sebelum tidak mendengarkan podcast, menonton tv, dan sebagainya. Bahkan, Edward mengungkap jika sudah banyak orang yang mengonsumsi lebih dari 1 media dalam satu waktu.
“Misalnya saat menonton televisi, dilakukan sambil menggunakan media sosial dalam waktu bersamaan,” katanya. Ini membuktikan bahwa masyarakat Indonesia menggunakan media untuk membentuk kehidupan emosinal maupun praktis dengan cara-cara yang berbeda dan personal pada tiap tahap kehidupan mereka.
“Dari perubahan preferensi platform hingga meningkatnya perilaku multi-screen, kami melihat sinyal yang jelas tentang arah audiens ke depan. Tantangan sekaligus peluangnya adalah bagaimana menerjemahkan wawasan ini menjadi strategi konten yang lebih cerdas, kampanye yang lebih relevan, serta pengalaman digital yang lebih inklusif,” tambah Edward.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.