Petugas PPSU membersihkan halte bus yang terbakar (Sumber Foto: Hypeabis.id/Abdurachman)

Membangun Kembali Ruang Publik yang Tangguh Lewat Halte-halte Bus Jakarta

03 September 2025   |   07:16 WIB
Image
Kintan Nabila Jurnalis Hypeabis.id

Halte yang biasanya dipadati penumpang kini tinggal puing hitam. Bangku-bangku logam tempat menanti bus datang sudah hangus, poster layanan publik terbakar sebagian, sementara jembatan penyeberangan di seberangnya penuh coretan dan serpihan kaca.

"Sedikitnya enam halte TransJakarta terbakar dan rusak berat, enam belas halte dirusak termasuk perangkat elektroniknya, belasan jembatan penyeberangan orang (JPO) dicorat-coret. Kerusakan menjalar hingga Senen, Tanjung Priok, dan Cawang," kata Muhamad Akbar, pemerhati transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI).

Jejak kerusuhan yang bermula dari demonstrasi di depan Gedung DPR masih terasa di sepanjang jalan. Terlebih, insiden tragis yang menimpa Affan Kurniawan, pengemudi ojek online yang tewas tertabrak kendaraan taktis saat kericuhan, membuat situasi kian memanas.

Baca Juga: Ini Alasan Aksi Demonstrasi Seharusnya Tidak Merusak Fasilitas Transportasi Umum

Rekaman peristiwa yang tersebar luas di media sosial memicu simpati sekaligus amarah publik. Protes pun meluas ke berbagai kota seperti Solo, Bandung, Makassar, hingga Mataram. Namun, seperti yang sering terjadi, kemarahan yang tak terkelola berakhir pada kerusakan fasilitas publik.

"Ironisnya, ini bukan kali pertama. Tahun 1998, 2019, 2020, dan kini 2025, setiap letupan sosial besar selalu meninggalkan jejak di halte, JPO, atau fasilitas umum lainnya," lanjut Akbar.

Pola ini terus berulang, katanya, fasilitas publik menjadi simbol frustasi dan ruang pelampiasan, serta cerminan rapuhnya relasi antara negara dan warga. Bukan karena disanalah akar masalahnya, tetapi karena hanya itu yang bisa dilihat, disentuh, dan dirusak.

Akbar menjelaskan, fasilitas publik kerap menjadi sasaran dalam setiap ledakan amarah sosial. Ini bukan tanpa alasan, halte dan jembatan penyeberangan adalah wajah negara yang paling kasat mata. Mereka ada di setiap jalan utama, mudah dijangkau, dan nyaris tanpa penjagaan. 

Tak seperti kantor pemerintahan atau markas kepolisian yang dilindungi ketat, halte berdiri tanpa pagar, tanpa kawat berduri, tanpa aparat bersenjata. Kondisi ini membuat fasilitas publik menjadi “sasaran empuk” ketika kekecewaan dan kemarahan tak bisa disalurkan ke pusat masalah yang sebenarnya.

"Dalam psikologi sosial, kemarahan yang tidak dapat dilampiaskan langsung kepada sasaran utama, kerap mencari pelampiasan yang lebih dekat dan lebih lemah," ujarnya.

Dalam kerumunan besar, identitas personal memudar. Individu merasa bebas dari tanggung jawab. Rasa aman karena 'tidak dikenali', mendorong tindakan-tindakan yang sulit dilakukan sendirian. 

Satu aksi destruktif memicu aksi lain, ini menjadi efek domino yang sulit dihentikan ketika situasi sudah memanas. Satu orang melempar batu, yang lain mengikuti. Aksi menyebar seperti api. Tidak terencana, tidak terkendali. 

Fenomena ini juga diperkeruh oleh adanya provokator atau kelompok oportunis yang memanfaatkan situasi. Mereka sengaja memicu kekacauan demi membelokkan pesan aksi damai, belum lagi kelompok penjarah yang memanfaatkan momen untuk menjarah di tengah kekacauan. 
 

Merancang Fasilitas Publik yang Kokoh Secara Struktural dan Sosial

Di balik kerusakan yang mengiris hati ini, ada pelajaran berharga tentang pentingnya merancang fasilitas publik yang tidak hanya indah secara visual tapi juga kokoh strukturnya dan kuat secara sosial. 

"Banyak halte modern di Jakarta memang terlihat futuristik dan Instagramable, namun secara teknis, mungkin memang belum disiapkan untuk menghadapi risiko kerusuhan," ujar Akbar.

Bahan kaca, akrilik, dan komponen elektronik rentan dirusak dan tidak butuh alat berat untuk menghancurkannya. Karena itu, perlu evaluasi serius terhadap desain halte dan fasilitas publik lainnya. 

“Solusinya bukan sekadar mengganti kaca dengan besi, ke depannya halte harus didesain modular (mudah diganti), tahan api, dan anti-vandal. Tapi yang lebih penting, halte harus punya keterikatan sosial dengan komunitas di sekitarnya,” lanjut Akbar.

Ketahanan bukan hanya urusan material, tapi juga urusan relasi sosial. Ketika warga merasa memiliki, mereka juga akan menjaga. Halte yang dikelola bersama warga dapat menjadi ruang publik yang hidup, bukan sekadar tempat menunggu bus saja. 

Ketika halte dijaga oleh warga sekitar seperti pengemudi ojek, pedagang, pelajar, hingga satpam komplek, dari kebersamaan itu bisa lahir komunitas sederhana yang peduli dan aktif merawat halte.

Konsep seperti “Sahabat Halte” bisa menjadi solusi. Dikelola oleh komunitas lokal yang mmembuat mural bersama, pameran karya anak-anak, pertunjukan puisi, atau aksi bersih-bersih rutin.

Seperti mushola kampung yang dijaga bersama, halte pun bisa menjadi ruang hidup bersama. Pemerintah hanya perlu menginisiasi dan memfasilitasi, selebihnya biarkan warga yang menghidupkannya.

Perusakan halte bukan hanya soal kerugian material, tetapi juga cerminan dari ketimpangan sosial, kegagalan komunikasi, dan rapuhnya saluran aspirasi.

Solusinya tak cukup hanya membangun kembali struktur fisiknya. Kita perlu memulihkan rasa percaya, memperkuat keterlibatan sosial, dan menjadikan halte sebagai simbol kehadiran negara yang manusiawi. 

“Halte itu milik kita semua, baik pekerja, pelajar, ibu rumah tangga, hingga lansia, menjaga halte berarti menjaga martabat kota kita sendiri, karena halte adalah titik temu yang menyatukan berbagai latar belakang," tutur Akbar.

Momen ini bisa menjadi titik balik, katanya, sebab merawat halte adalah tanggung jawab kita bersama. Dari halte, kita bisa mulai membangun ulang kepercayaan yang retak antara warga, ruang publik, dan negara. Pemerintah yang lebih mendengar, masyarakat yang lebih peduli, dan ruang publik yang lebih tangguh.   

Baca Juga: Naik Transjakarta, MRT & LRT Gratis Sepekan Hingga 7 September 2025

SEBELUMNYA

Polarisasi Akibat Aktivisme Digital dan Cara Mengatasinya

BERIKUTNYA

5 Cara Menangani Stres dan Gelisah di Tengah Derasnya Arus Informasi

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga