Ilustrasi digital activism. (Sumber: Freepik)

Polarisasi Akibat Aktivisme Digital dan Cara Mengatasinya

03 September 2025   |   08:00 WIB
Image
Luh Muni Wiraswari Mahasiswa Universitas Padjadjaran

Digital activism atau juga dikenal sebagai cyber activism merupakan suatu bentuk aktivisme yang menggunakan internet sebagai platform utama. Jika telah menyebarkan template IG Story, memposting ulang unggahan-unggahan di media sosial, ataupun berkomentar di Tiktok, seagai bentuk penyampaian aspirasi, berarti Genhype tengah melakukan digital activism.

Digital activism bermula dari perkembangan internet dan munculnya situs blog. Para aktivis pun mulai menyebarkan aktivisme melalui platform digital. Menurut Britannica, eksperimen yang dilakukan sejak 1980-an ini bermula dari pemanfaatan internet sebagai media distribusi informasi sebab memungkinkan para aktivis untuk menjangkau audiens yang lebih luas.

Baca Juga: Link & Cara Edit Foto Warna Pink-Hijau, Mudah Tanpa Aplikasi

Pada era digital, aksi demonstrasi tidak hanya dilakukan di lapangan, tetapi juga melalui media daring dan media sosial. Pergerakan yang dilakukan pun semakin kreatif, melalui petisi, kampanye di media sosial dengan informasi yang dapat dikonsumsi publik secara luas, hingga para kreator yang mengunggah karya seninya di media sosial sebagai bentuk perlawanan.

Tak hanya sampai di sana, hacktivism alias aksi protes dengan meretas situs juga bisa terjadi. Selain hactivism, yang menarik perhatian juga adalah aksi demonstrasi yang diadakan dalam salah satu server permainan di Roblox. Fenomena ini semakin memperluas jangkauan aktivisme yang dilakukan.

Studi dalam Journal Of Middle East and Islamic Studies menemukan bahwa media sosial dapat meningkatkan dan memperluas mobilisasi politik. Hambatan partisipasi publik berkurang sehingga siapa pun bisa terlibat dalam aktivisme secara inklusif.

 

Brave Pink dan Green Hero


Belakangan ini, digital activism di Indonesia telah menggunakan simbol-simbol yang dituangkan pada warna. Pada awal tahun, para aktivis menggunakan warna biru tua sebagai bentuk resistensi, warna ini dikenal sebagai blue resistence. Kemudian, beberapa hari lalu, muncul dua warna baru, yakni merah muda dan hijau yang juga menjadi simbol perlawanan, disebut brave pink dan green hero.

Adanya digital activism juga dapat membentuk solidaritas pergerakan yang semakin kuat. Misalnya, aksi demonstrasi yang lebih terorganisir. Kemudian, informasi mengenai bantuan medis dan lain-lain juga dapat disebarkan dengan cepat dan luas sehingga membantu keberlangsungan aksi.

Meskipun media sosial memiliki potensi signifikan untuk meningkatkan keterlibatan politik dan mengorganisir masyarakat, pergerakan ini dapat menimbulkan masalah polarisasi. Arus digital yang semakin masif dapat memicu adanya disinformasi.

 

Polarisasi dalam Digital Activism


Berdasarkan penelitian, disinformasi biasanya disebarkan melalui platform seperti Facebook, WhatsApp, dan Twitter sehingga dapat menimbulkan distorsi atau penyimpangan makna dari informasi yang sebenarnya. Disinformasi ini dapat menghambat pergerakan yang ada.

Oleh karena itu, literasi digital menjadi kemampuan yang sangat esensial untuk memitigasi risiko polarisasi. Literasi merupakan kemampuan yang dibutuhkan untuk menangkap, mengevaluasi, serta menciptakan informsi dalam media digital. Tidak hanya aktif mencari sumber informasi, tetapi kita perlu kritis terhadap informasi yang diterima.

Kemampuan literasi digital yang baik dapat meminimalisir kondisi algoritma echo chamber dan bubble filter yang juga dapat menimbulkan polarisasi. Keduanya dapat memicu sikap defensif terhadap pendapat pribadi karena hanya terpapar oleh informasi-informasi yang sejalan dengan perspektif sama. 

Menurut jurnal Berkala Ilmu Perpustakaan dan Informasi, keduanya terjadi seperti efek domino. Sistem algoritma media sosial akan menyajikan konten dengan topik yang sesuai dengan pengguna, dilihat berdasarkan aktivitas like, click, search, comment, dan share. Kemudian, sistem ini akan mengumpulkan para pengguna yang memiliki opini atau topik serupa. Sistem algoritma juga dapat menyembunyikan konten yang tidak sesuai dengan pendapat pengguna.

Oleh karenanya, untuk mencegah disinformasi dan polarisasi dalam ruang digital, sikap terbuka dan kritis terhadap informasi adalah kuncinya. Pada dasanya, ruang digital juga merupakan ruang diskusi yang membuat kita saling bertukar pendapat. Meski demikian, pendapat dan informasi ini tak semata-mata harus kita terima tanpa menyaringnya dengan kritis.

Baca Juga: Arti Warna Pink & Hijau, Simbol Solidaritas yang Viral di Dunia Maya

SEBELUMNYA

Rekomendasi Kdrama Tentang Pendewasaan, Ada 2521 hingga Our Unwritten Seoul

BERIKUTNYA

Membangun Kembali Ruang Publik yang Tangguh Lewat Halte-halte Bus Jakarta

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga