Still film The Smashing Machine (Sumber gambar: Venice Film Festival)

Air Mata Dwayne Johnson Setelah Terima Standing Ovation Film The Smashing Machine di Venice

02 September 2025   |   12:36 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Dwayne Johnson bersama para aktor lain yang terlibat di film biopik The Smashing Machine menunjukkan respons emosional setelah film itu selesai diputar pertama kali di Venice Film Festival 2025, Senin (1/9/2025). Rekaman yang diambil di dalam bioskop menunjukkan aktor yang juga pegulat menangis dengan riuh gemuruh tepuk tangan.

Lampu panggung yang menyala malam itu menghadirkan momen penuh emosi, ketika Johnson, Blunt, Safdie, dan Kerr saling berpelukan hangat. Tepuk tangan meriah pun menggema, disertai sorakan riuh penonton dan tamu undangan, termasuk aktor Seth Rogen yang sejak siang sibuk mengabadikan momen tim mulai dari konferensi pers, karpet merah, hingga di dalam ruang pemutaran.

Baca juga: Frankenstein Disambut 15 Menit Tepuk Tangan di Venice Film Festival, Lampaui Rekor Jay Kelly

Menurut laporan Variety, sambutan hangat tersebut menjadikan The Smashing Machine sebagai penayangan perdana paling emosional di Lido sejak empat tahun lalu, saat Brendan Fraser juga menitikkan air mata saat peluncuran kampanye Oscar untuk The Whale di festival ini.

Di Lido, The Smashing Machine juga mendapat standing ovation selama 15 menit, menjadikannya salah satu penghormatan terpanjang di festival tahun ini. Tak mengherankan, dengan sambutan yang begitu besar, rumor film ini akan diarahkan ke Oscar pun langsung mengemuka.
 

The Smashing Machine digarap oleh sutradara Benny Safdie yang juga menulis skenarionya sekaligus menyunting film ini. Proyek ini diproduksi oleh Out for the Count Productions, Seven Bucks Productions, serta Magnetic Fields Entertainment dengan durasi tayang 123 menit.

Dalam pengerjaannya, Maceo Bishop bertugas sebagai sinematografer, sementara James Chinlund dipercaya sebagai desainer produksi. Heidi Bivens mengurus rancangan kostum, dan Nala Sinephro menghadirkan sentuhan musik yang memperkuat suasana film.

Film ini mengangkat tema biopik yang menyoroti perjalanan hidup Mark Kerr, seorang petarung legendaris seni bela diri campuran sekaligus bintang UFC pada masanya. Kisahnya menelusuri perjuangan, kejayaan, hingga sisi kelam yang membentuk perjalanan karier dan kehidupan pribadinya.

Dalam Director’s Statement, Benny Safdie menegaskan bahwa The Smashing Machine adalah onomatope yang tepat karena langsung membangkitkan gambaran tentang dominasi dan kehancuran. Dirinya melihat sosok Mark Kerr benar-benar mewujudkan julukan itu, dengan kekuatan yang tak hanya terlihat di dalam ring, tetapi juga kemampuannya yang unik saat dia mencoba menjelaskan emosinya tentang hidup. 
 

Kerr dianggap sebagai pribadi yang kompleks, menarik, dan penuh kontradiksi, yang juga harus menghadapi pasang surut kehidupan sebagaimana manusia lainnya. Safdie lantas menyinggung pandangan umum bahwa postur tubuh dan kemampuan fisik seseorang sering diasosiasikan dengan kekuatan emosional. 

Padahal, meski tampak sebagai sosok terkuat di dunia, Kerr tetap manusia yang bisa terluka dan rapuh. Dia menekankan bahwa para pahlawan juga berdarah seperti orang lain, dan setelah meninggalkan ring, mereka harus berhadapan dengan kenyataan hidup yang mungkin selama ini mereka hindari.

Menurut Safdie, hal tersebut menjadi kunci dalam memahami sisi lain dari Mark Kerr. Kehidupan di luar ring justru membuka ruang bagi pertarungan batin yang tak kalah sulit dari laga fisik. Inilah yang membuat kisah Kerr terasa universal, karena memperlihatkan bagaimana seorang legenda tetap harus bergulat dengan kerentanan pribadinya.

Lebih jauh, Safdie bersama Dwayne Johnson dan Emily Blunt selama syuting terus merenungkan bagaimana rasanya menjadi Mark Kerr atau Dawn Staples dalam kehidupan nyata. Timnya selalu ingin menghadirkan empati yang tulus, sehingga penonton bisa merasakan pengalaman emosional para tokoh seakan-akan itu adalah perasaan mereka sendiri. 

Pendekatan ini diharapkan membuat film tidak hanya sekadar kisah biopik, melainkan juga potret mendalam tentang kemanusiaan. "Pertama saya percaya, empati sudah seharusnya keren dan kedua karena saya ingin film ini menjadi kenangan bagi setiap orang yang menontonnya," pungkasnya.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

SEBELUMNYA

Jadwal Laga Timnas U-23 Indonesia vs Laos di Kualifikasi AFC U-23 2026

BERIKUTNYA

Arti Warna Pink & Hijau, Simbol Solidaritas yang Viral di Dunia Maya

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga