Menyelami Tari, Grafis, dan Luka Sejarah di Pameran Agung Kurniawan
02 September 2025 |
07:35 WIB
Dua penari, laki-laki dan perempuan, melangkah naik ke atas meja bundar. Diiringi alunan cha-cha ikonik Indonesia era 1970-an, tubuh mereka mulai bergerak. Gerak-gerik mereka terlihat riang menari rancak dalam alunan ritme yang mengalun.
Namun, tanpa disadari penonton, setiap hentakan kaki di atas meja tersebut bukanlah gerakan biasa. Dengan kakinya, para penari menekan papan kayu berukir (woodcut) dengan metode injak yang tersembunyi di bawah kain.
Setelah kain dibuka, terbentanglah sebuah karya cetak grafis bertajuk Bu Yao Wang Ji (Jangan Lupa). Menggunakan medium kain brokat, visual karya ini memiliki kemiripan dengan karya seni grafis yang terpacak di belakang panggung.
Baca Juga: Gratis! Cek Cara Masuk Pameran Pop Up Stray Kids STAYdium di PIM Jakarta
Figur dalam karya ini cukup misterius. Secara dekat, bentuknya samar. Namun saat penonton mengambil jarak, gambarnya menjadi jelas. Yakni sosok lelaki yang sedang berjongkok dekat gorong-gorong, posenya mengingatkan pada Presiden RI ke-7, Joko Widodo.
Agung Kurniawan, pencipta karya tersebut, menjelaskan bahwa grafis itu ingin menggambarkan sosok presiden Indonesia pasca-reformasi 1998. Seorang pemimpin yang dianggap merakyat, bukan dari kalangan militer, dan terpilih secara demokratis.
Namun, dalam perjalanannya, sosok tersebut justru mengecewakan rakyat yang telah mendukungnya. Agung, yang juga pernah mendukung sosok ini, kemudian memilih untuk menjaga jarak dengan kekuasaan.
“Jadi bagaimana kekuasaan bekerja seperti itu caranya. Kita seolah-olah tidak merasakan [saat berada di dekatnya], tapi begitu jauh, kita dapat melihatnya,” kata seniman yang akrab disapa Agung Leak, itu.
Pertunjukan penari di atas meja ini menjadi pembuka pameran tunggal Agung Kurniawan di ROH Galeri, Jakarta, bertajuk Whoever Stays Until The End Will Tell The Story (Siapa yang Bertahan Hingga Akhir Akan Menceritakan Kisahnya).
Pameran yang berlangsung hingga 7 September 2025 ini menghadirkan proyek jangka panjang Agung Kurniawan, yang dikerjakan dengan tekun selama lebih dari satu dekade. Ada dua tema besar yang digali, yakni tragedi 1965 dan Reformasi.
Sebelum memasuki galeri, publik sudah disodori senarai karya Agung layaknya sebuah novel. Agung merujuk pada novel My Name is Red karya Orhan Pamuk, dengan menghubungkan sejarah Indonesia dan pengalaman kolektif melalui suara yang hidup maupun benda mati.
Salah satunya lewat karya dari relief teralis yang membentuk bayangan berubah-ubah saat terkena cahaya. Misalnya, Self Portrait With Burden, berdimensi 166x108x7 cm, menggambarkan lelaki berpose di atas sepeda motor bebek dengan tangan memegang dagu.
Beberapa relief juga menampilkan sosok anonim atau adegan fiksi, yang mengajukan pertanyaan tentang apa yang terlihat dan tersembunyi sebelum pengunjung masuk ke galeri. Seperti terlihat dalam karya berjudul Komarudin dan The Kimcil, yang dibuat pada 2014–2025.
Memasuki galeri, mata penonton akan langsung tertumbuk pada dinding yang dipenuhi wajah-wajah manusia. Inilah seri Pontius Pilatus Syndrome (2012–2025), kumpulan patung relief dari sabun berwarna-warni yang membentuk wajah lima tokoh yang hilang: Munir, Udin, Marsinah, Trubus, dan Wiji Thukul.
Namun, wajah-wajah tersebut tidak semuanya utuh. Ada yang mulutnya digerogoti tikus, berjamur, atau mungkin lapuk dimakan waktu. Bentuk fisik dari material ini seolah menjadi metafora tentang waktu, atau memori yang menyulut ingatan kolektif dari sejarah gelap.
Merujuk pada judul karya, Pontius Pilatus adalah gubernur Romawi yang memimpin pengadilan Yesus dan memerintahkan untuk menyalibnya. Representasi ini seolah menjadi simbol pengingkaran atau bentuk 'cuci tangan' Pilatus dari tekanan bangsa Yahudi.
Relief sabun yang melapuk dan dicerai-beraikan ini, jika dilekatkan pada narasi sejarah di Indonesia, menjadi simbol dari para pemimpin yang berusaha mengabaikan sejarah masa silam tentang para aktivis, dan masyarakat yang dihilangkan.
“Lima tokoh ini juga mewakili semuanya, yakni wartawan, aktivis buruh, seniman, dan lainnya, di mana kematiannya kita tidak tahu. Termasuk dalam buku sejarah yang dirancang dalam tone yang positif itu,” imbuh Agung.
Beranjak dari karya ini, pengunjung juga akan menemui Srie Series (ink, acrylic, and pencil on paper, 10x15 cm, 2017–2024). Berjumlah 325 gambar, karya ini menjadi narasi memori kolektif tentang tragedi 1965 di Indonesia.
Di bawah gambar tersebut, pengunjung dapat membaca fragmen narasi yang bisa dihidupkan melalui partisipasi audiens. Peserta dapat memegang gambar, merasakan memori, dan mengucapkan kata tersembunyi untuk membentuk konstelasi makna bersama.
Struktur partisipatif ini, papar Agung, lahir dari frustrasinya terhadap format seminar sejarah yang kaku, dengan menawarkan pengalaman kolektif yang lembut antara ucapan dan gambar, sekaligus mengenang sahabatnya, Sri Wahyuni.
Ada pula The Last Dance (2022–2025) yang menggabungkan pakaian korban tragedi 1965 menjadi patung kinetik berputar, disertai musik dan suara Sri Wahyuni. Karya ini membangkitkan nostalgia, makna kehilangan, dan memori sejarah.
Mira Asriningtyas dalam esai kuratorial menegaskan bahwa pameran ini menyoroti praktik Agung Kurniawan, khususnya inovasinya dalam menggabungkan gambar dan pertunjukan sebagai latihan memori.
Kembalinya seniman pada alegori sakral berfungsi sebagai skema untuk menafsirkan ambiguitas moral dalam kehidupan kolektif, sekaligus memandu pengingatan akan relevansi abadi perumpamaan tentang iman, pengkhianatan, harapan, dan pengorbanan.
“Dengan cara serupa, praktik Agung juga dapat dipahami melalui lensa narasi menyeluruh, di mana sejarah Indonesia diceritakan dan tak diceritakan melalui bab-bab yang diucapkan oleh yang hidup maupun yang mati,” katanya.
Baca Juga: PAMERAN TUNGGAL AGUNG KURNIAWAN
Namun, tanpa disadari penonton, setiap hentakan kaki di atas meja tersebut bukanlah gerakan biasa. Dengan kakinya, para penari menekan papan kayu berukir (woodcut) dengan metode injak yang tersembunyi di bawah kain.
Setelah kain dibuka, terbentanglah sebuah karya cetak grafis bertajuk Bu Yao Wang Ji (Jangan Lupa). Menggunakan medium kain brokat, visual karya ini memiliki kemiripan dengan karya seni grafis yang terpacak di belakang panggung.
Baca Juga: Gratis! Cek Cara Masuk Pameran Pop Up Stray Kids STAYdium di PIM Jakarta
Figur dalam karya ini cukup misterius. Secara dekat, bentuknya samar. Namun saat penonton mengambil jarak, gambarnya menjadi jelas. Yakni sosok lelaki yang sedang berjongkok dekat gorong-gorong, posenya mengingatkan pada Presiden RI ke-7, Joko Widodo.

Dua penari chaca saat menari dalam pembuatan karya cetak grafis bertajuk Bu Yao Wang Ji (Jangan Lupa) di ROH Projects (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung).
Namun, dalam perjalanannya, sosok tersebut justru mengecewakan rakyat yang telah mendukungnya. Agung, yang juga pernah mendukung sosok ini, kemudian memilih untuk menjaga jarak dengan kekuasaan.
“Jadi bagaimana kekuasaan bekerja seperti itu caranya. Kita seolah-olah tidak merasakan [saat berada di dekatnya], tapi begitu jauh, kita dapat melihatnya,” kata seniman yang akrab disapa Agung Leak, itu.
Pertunjukan penari di atas meja ini menjadi pembuka pameran tunggal Agung Kurniawan di ROH Galeri, Jakarta, bertajuk Whoever Stays Until The End Will Tell The Story (Siapa yang Bertahan Hingga Akhir Akan Menceritakan Kisahnya).
Pameran yang berlangsung hingga 7 September 2025 ini menghadirkan proyek jangka panjang Agung Kurniawan, yang dikerjakan dengan tekun selama lebih dari satu dekade. Ada dua tema besar yang digali, yakni tragedi 1965 dan Reformasi.
Sebelum memasuki galeri, publik sudah disodori senarai karya Agung layaknya sebuah novel. Agung merujuk pada novel My Name is Red karya Orhan Pamuk, dengan menghubungkan sejarah Indonesia dan pengalaman kolektif melalui suara yang hidup maupun benda mati.
Salah satunya lewat karya dari relief teralis yang membentuk bayangan berubah-ubah saat terkena cahaya. Misalnya, Self Portrait With Burden, berdimensi 166x108x7 cm, menggambarkan lelaki berpose di atas sepeda motor bebek dengan tangan memegang dagu.
Beberapa relief juga menampilkan sosok anonim atau adegan fiksi, yang mengajukan pertanyaan tentang apa yang terlihat dan tersembunyi sebelum pengunjung masuk ke galeri. Seperti terlihat dalam karya berjudul Komarudin dan The Kimcil, yang dibuat pada 2014–2025.

Sejumlah karya Agung Kurniawan dalam pameran Whoever Stays Until The End Will Tell The Story di ROH Projects (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung)
Namun, wajah-wajah tersebut tidak semuanya utuh. Ada yang mulutnya digerogoti tikus, berjamur, atau mungkin lapuk dimakan waktu. Bentuk fisik dari material ini seolah menjadi metafora tentang waktu, atau memori yang menyulut ingatan kolektif dari sejarah gelap.
Merujuk pada judul karya, Pontius Pilatus adalah gubernur Romawi yang memimpin pengadilan Yesus dan memerintahkan untuk menyalibnya. Representasi ini seolah menjadi simbol pengingkaran atau bentuk 'cuci tangan' Pilatus dari tekanan bangsa Yahudi.
Relief sabun yang melapuk dan dicerai-beraikan ini, jika dilekatkan pada narasi sejarah di Indonesia, menjadi simbol dari para pemimpin yang berusaha mengabaikan sejarah masa silam tentang para aktivis, dan masyarakat yang dihilangkan.
“Lima tokoh ini juga mewakili semuanya, yakni wartawan, aktivis buruh, seniman, dan lainnya, di mana kematiannya kita tidak tahu. Termasuk dalam buku sejarah yang dirancang dalam tone yang positif itu,” imbuh Agung.

Pengunjung berpartisipasi dalam pembuatan karya dalam pameran Whoever Stays Until The End Will Tell The Story di ROH Projects (sumber gambar: Hypeabis.id/Robby Fathan)
Di bawah gambar tersebut, pengunjung dapat membaca fragmen narasi yang bisa dihidupkan melalui partisipasi audiens. Peserta dapat memegang gambar, merasakan memori, dan mengucapkan kata tersembunyi untuk membentuk konstelasi makna bersama.
Struktur partisipatif ini, papar Agung, lahir dari frustrasinya terhadap format seminar sejarah yang kaku, dengan menawarkan pengalaman kolektif yang lembut antara ucapan dan gambar, sekaligus mengenang sahabatnya, Sri Wahyuni.
Ada pula The Last Dance (2022–2025) yang menggabungkan pakaian korban tragedi 1965 menjadi patung kinetik berputar, disertai musik dan suara Sri Wahyuni. Karya ini membangkitkan nostalgia, makna kehilangan, dan memori sejarah.
Mira Asriningtyas dalam esai kuratorial menegaskan bahwa pameran ini menyoroti praktik Agung Kurniawan, khususnya inovasinya dalam menggabungkan gambar dan pertunjukan sebagai latihan memori.
Kembalinya seniman pada alegori sakral berfungsi sebagai skema untuk menafsirkan ambiguitas moral dalam kehidupan kolektif, sekaligus memandu pengingatan akan relevansi abadi perumpamaan tentang iman, pengkhianatan, harapan, dan pengorbanan.
“Dengan cara serupa, praktik Agung juga dapat dipahami melalui lensa narasi menyeluruh, di mana sejarah Indonesia diceritakan dan tak diceritakan melalui bab-bab yang diucapkan oleh yang hidup maupun yang mati,” katanya.
Baca Juga: PAMERAN TUNGGAL AGUNG KURNIAWAN
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.