Proses Kreatif Sutradara Daryl Wilson Garap Film Animasi Panji Tengkorak
27 August 2025 |
14:09 WIB
1
Like
Like
Like
Komik legendaris Panji Tengkorak karangan Hans Jaladara akan segera hadir dalam bentuk film animasi di layar lebar. Proyek ini digarap oleh rumah produksi Falcon Pictures dengan menggandeng animator dari Kumata Studio, Daryl Wilson, sebagai sutradaranya.
Daryl mengungkapkan bahwa produksi animasi Panji Tengkorak berlangsung sejak tiga tahun terakhir. Meski begitu, wacana untuk mengadaptasi komik legendaris tersebut sebenarnya telah dibicarakan jauh lebih awal.
Baca juga: 5 Fakta Unik Komik Panji Tengkorak yang Diangkat Jadi Film Animasi
Daryl mengatakan Falcon sebagai pemegang hak cipta karakter karya Hans Jaladara, beberapa tahun terakhir ini memang tengah mencari bentuk alih wahana yang tepat atas karya tersebut. Berbagai ide sempat muncul, tetapi akhirnya Falcon lebih memilih untuk mencoba dengan format yang belum pernah ada sebelumnya, yakni animasi.
Saat itu, kata Daryl, Falcon dan dirinya ingin memperlebar segmentasi film animasi di Indonesia lewat Panji Tengkorak. Menurutnya, selama ini film animasi Indonesia identik dengan tontonan anak-anak dan keluarga. Padahal, animasi bisa menyasar segmen remaja hingga dewasa seperti yang banyak dilakukan di Jepang.
"Waktu itu, kita merasa cerita Panji Tengkorak sangat cocok untuk dibawa ke ranah tersebut karena memiliki tema yang lebih luas dan emosional," ungkap Daryl kepada Hypeabis.id
Proses penulisan naskah dimulai sejak akhir 2020. Tim kreatif melakukan riset dari buku-buku komik asli, termasuk karakter-karakter yang sudah dikenal pembaca sejak lama. Daryl mengakui, salah satu tantangan terbesar dalam tahap ini ialah bagaimana caranya memperkenalkan kembali Panji Tengkorak kepada generasi muda yang mungkin belum mengenalnya.
"Generasi 70-an atau 80-an mungkin masih mengalami zaman komik ini, tetapi bagaimana dengan generasi sekarang? Jadi, itu sih, gimana kita bisa mengeksplorasi cerita, tetapi tidak melupakan ada generasi yang juga perlu dasar dari karakter ini sebelum kita membawanya ke arah yang lebih jauh," imbuhnya.
Kendati demikian, proses kreatif naskah skenario berjalan cukup lancar. Sebab, Daryl merasa Panji Tengkorak sejak awal sudah memiliki dasar yang kuat. Baginya, Panji Tengkorak merupakan karya lokal yang visioner.
Di era ketika komikus lain menciptakan pahlawan super yang gagah, Hans Jaladara justru menghadirkan sosok anti-hero dengan latar belakang yang kelam.
Kontras inilah yang menjadi titik eksplorasi utama dalam adaptasi animasi Panji Tengkorak. Bukan sekadar kisah kepahlawanan, film ini mencoba menggali sisi manusiawi dari Panji, antara kelemahan, kemarahan, hingga pencarian penebusan, yang menjadikannya relevan dengan penonton masa kini.
Daryl menyebut film animasinya nanti tidak hanya mengulang cerita lama, tapi juga memperdalam sisi emosional karakter. Bagi penggemar lama, akan ada lapisan baru yang lebih intens dalam memahami sosok Panji.
Sementara untuk penonton baru, film ini menghadirkan kisah pemuda yang hidup dalam dendam sekaligus dorongan cinta.
"Secara cerita, kami tidak membuatnya sama persis dengan komik. Jadi, kami mengambil DNA karakternya saja, lalu menghadirkan dunianya sebagai dengan cerita yang akan dibawakan," jelasnya.
Dalam film, dirinya akan menggambarkan setting cerita berada di masa Jawa kuno, ketika kerajaan-kerajaan kecil masih saling berebut kekuasaan. Unsur sejarah dan budaya tetap digunakan sebagai acuan, meski dengan sentuhan imajinasi khas animasi.
Dalam perjalanannya, setelah naskah selesai, proses produksi kemudian langsung dikerjakan. Produksi film ini berjalan dalam durasi kurang lebih tiga tahun dan melibatkan sebanyak 250 orang.
Jumlah tim yang mencapai 250 orang ini tidak seluruhnya adalah animator. Selayaknya sebuah film, kata Daryl, karya ini juga melibatkan banyak elemen, dari penulis naskah, desainer, hingga ahli efek visual.
Menurutnya, semua kru yang terlibat merupakan tenaga profesional di bidang animasi. Setiap departemen, mulai dari kamera, lighting, hingga desain properti, dikerjakan oleh orang-orang yang sudah terbiasa membuat film animasi berkualitas.
“Kami tidak terburu-buru. Targetnya bukan hanya rilis, tapi menghadirkan kualitas yang bisa memuaskan ekspektasi penonton,” ujar Daryl.
Film ini menceritakan perjalanan Panji yang rela menyerahkan jiwanya kepada kekuatan gelap demi membalas kematian istrinya. Niat awalnya untuk mengakhiri hidup justru membuatnya terjerat dalam kendali ilmu hitam yang menguasai tubuh dan batinnya.
Dalam pengembaraan yang tak menentu, dia dipertemukan dengan seorang pendekar tua yang memintanya membantu mengejar seorang bandit pencuri pusaka legendaris. Pusaka tersebut diyakini memiliki kemampuan untuk mematahkan kekuatan ilmu hitam yang sedang mengikat Panji. Permintaan itu kemudian menyeret Panji ke dalam konflik besar antar dua kerajaan, sekaligus menyingkap rahasia kelam tentang masa lalunya sendiri.
Tak hanya mengandalkan premis yang kuat, film animasi ini juga semakin menarik perhatian lewat jajaran aktor ternama yang mengisi suara para karakter. Denny Sumargo dipercaya menghidupkan sosok Panji, Aghniny Haque sebagai Gantari, dan Cok Simbara berperan sebagai Lembugiri.
Deretan aktor lain seperti Tanta Ginting (Kalawereng), Donny Damara (Bramantya), Donny Alamsyah (Wirabaya), Nurra Datau (Murni), Candra Mukti (Kuwuk), Pritt Timothy (Nagamas), hingga Revaldo turut memperkuat cast, memberikan jaminan pengalaman audio yang kaya dan imersif bagi penonton.
Film ini mulai tayang di bioskop seluruh Indonesia pada 28 Agustus 2025.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Daryl mengungkapkan bahwa produksi animasi Panji Tengkorak berlangsung sejak tiga tahun terakhir. Meski begitu, wacana untuk mengadaptasi komik legendaris tersebut sebenarnya telah dibicarakan jauh lebih awal.
Baca juga: 5 Fakta Unik Komik Panji Tengkorak yang Diangkat Jadi Film Animasi
Daryl mengatakan Falcon sebagai pemegang hak cipta karakter karya Hans Jaladara, beberapa tahun terakhir ini memang tengah mencari bentuk alih wahana yang tepat atas karya tersebut. Berbagai ide sempat muncul, tetapi akhirnya Falcon lebih memilih untuk mencoba dengan format yang belum pernah ada sebelumnya, yakni animasi.
Saat itu, kata Daryl, Falcon dan dirinya ingin memperlebar segmentasi film animasi di Indonesia lewat Panji Tengkorak. Menurutnya, selama ini film animasi Indonesia identik dengan tontonan anak-anak dan keluarga. Padahal, animasi bisa menyasar segmen remaja hingga dewasa seperti yang banyak dilakukan di Jepang.
"Waktu itu, kita merasa cerita Panji Tengkorak sangat cocok untuk dibawa ke ranah tersebut karena memiliki tema yang lebih luas dan emosional," ungkap Daryl kepada Hypeabis.id
Proses penulisan naskah dimulai sejak akhir 2020. Tim kreatif melakukan riset dari buku-buku komik asli, termasuk karakter-karakter yang sudah dikenal pembaca sejak lama. Daryl mengakui, salah satu tantangan terbesar dalam tahap ini ialah bagaimana caranya memperkenalkan kembali Panji Tengkorak kepada generasi muda yang mungkin belum mengenalnya.
"Generasi 70-an atau 80-an mungkin masih mengalami zaman komik ini, tetapi bagaimana dengan generasi sekarang? Jadi, itu sih, gimana kita bisa mengeksplorasi cerita, tetapi tidak melupakan ada generasi yang juga perlu dasar dari karakter ini sebelum kita membawanya ke arah yang lebih jauh," imbuhnya.
Kendati demikian, proses kreatif naskah skenario berjalan cukup lancar. Sebab, Daryl merasa Panji Tengkorak sejak awal sudah memiliki dasar yang kuat. Baginya, Panji Tengkorak merupakan karya lokal yang visioner.
Di era ketika komikus lain menciptakan pahlawan super yang gagah, Hans Jaladara justru menghadirkan sosok anti-hero dengan latar belakang yang kelam.
Kontras inilah yang menjadi titik eksplorasi utama dalam adaptasi animasi Panji Tengkorak. Bukan sekadar kisah kepahlawanan, film ini mencoba menggali sisi manusiawi dari Panji, antara kelemahan, kemarahan, hingga pencarian penebusan, yang menjadikannya relevan dengan penonton masa kini.
Daryl menyebut film animasinya nanti tidak hanya mengulang cerita lama, tapi juga memperdalam sisi emosional karakter. Bagi penggemar lama, akan ada lapisan baru yang lebih intens dalam memahami sosok Panji.
Sementara untuk penonton baru, film ini menghadirkan kisah pemuda yang hidup dalam dendam sekaligus dorongan cinta.
"Secara cerita, kami tidak membuatnya sama persis dengan komik. Jadi, kami mengambil DNA karakternya saja, lalu menghadirkan dunianya sebagai dengan cerita yang akan dibawakan," jelasnya.
Dalam film, dirinya akan menggambarkan setting cerita berada di masa Jawa kuno, ketika kerajaan-kerajaan kecil masih saling berebut kekuasaan. Unsur sejarah dan budaya tetap digunakan sebagai acuan, meski dengan sentuhan imajinasi khas animasi.
Dalam perjalanannya, setelah naskah selesai, proses produksi kemudian langsung dikerjakan. Produksi film ini berjalan dalam durasi kurang lebih tiga tahun dan melibatkan sebanyak 250 orang.
Jumlah tim yang mencapai 250 orang ini tidak seluruhnya adalah animator. Selayaknya sebuah film, kata Daryl, karya ini juga melibatkan banyak elemen, dari penulis naskah, desainer, hingga ahli efek visual.
Menurutnya, semua kru yang terlibat merupakan tenaga profesional di bidang animasi. Setiap departemen, mulai dari kamera, lighting, hingga desain properti, dikerjakan oleh orang-orang yang sudah terbiasa membuat film animasi berkualitas.
“Kami tidak terburu-buru. Targetnya bukan hanya rilis, tapi menghadirkan kualitas yang bisa memuaskan ekspektasi penonton,” ujar Daryl.
Film ini menceritakan perjalanan Panji yang rela menyerahkan jiwanya kepada kekuatan gelap demi membalas kematian istrinya. Niat awalnya untuk mengakhiri hidup justru membuatnya terjerat dalam kendali ilmu hitam yang menguasai tubuh dan batinnya.
Dalam pengembaraan yang tak menentu, dia dipertemukan dengan seorang pendekar tua yang memintanya membantu mengejar seorang bandit pencuri pusaka legendaris. Pusaka tersebut diyakini memiliki kemampuan untuk mematahkan kekuatan ilmu hitam yang sedang mengikat Panji. Permintaan itu kemudian menyeret Panji ke dalam konflik besar antar dua kerajaan, sekaligus menyingkap rahasia kelam tentang masa lalunya sendiri.
Tak hanya mengandalkan premis yang kuat, film animasi ini juga semakin menarik perhatian lewat jajaran aktor ternama yang mengisi suara para karakter. Denny Sumargo dipercaya menghidupkan sosok Panji, Aghniny Haque sebagai Gantari, dan Cok Simbara berperan sebagai Lembugiri.
Deretan aktor lain seperti Tanta Ginting (Kalawereng), Donny Damara (Bramantya), Donny Alamsyah (Wirabaya), Nurra Datau (Murni), Candra Mukti (Kuwuk), Pritt Timothy (Nagamas), hingga Revaldo turut memperkuat cast, memberikan jaminan pengalaman audio yang kaya dan imersif bagi penonton.
Film ini mulai tayang di bioskop seluruh Indonesia pada 28 Agustus 2025.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.