Kemenpar Dorong Desa Tommo Jadi Desa Wisata, Tawarkan Atraksi Nyepi dan Ngaben
27 August 2025 |
16:30 WIB
Kementerian Pariwisata menilai bahwa Desa Tommo, Mamuju, Sulawesi Barat dapat dikembangkan menjadi desa wisata. Tempat ini memiliki berbagai macam daya tarik yang dapat dijadikan paket wisata dan ditawarkan ke wisatawan. Salah satu di antaranya adalah prosesi Ngaben dan perayaan Nyepi.
Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa mengatakan bahwa Desa Tommo memiliki dua acara keagamaan penting, yakni Nyepi dan Ngaben. Saat Nyepi, momen Pengerupukan atau tradisi yang berlangsung satu hari sebelum hari perayaan yang ditandai dengan parade ogoh-ogoh telah menjadi daya tarik desa dan menarik banyak pengunjung.
Baca juga: 7 Destinasi Desa Wisata Unik untuk Mengisi Liburan Tahun Baru
Sementara itu, prosesi Ngaben massal yang berlangsung tiga tahun satu kali juga menjadi daya tarik yang luar biasa. "Banyak orang datang ke Bali hanya untuk menyaksikan Ngaben. Jadi saya pikir ini bisa jadi salah satu atraksi,” katanya.
Dengan keberadaan atraksi itu, Ni Luh menilai masyarakat Sulawesi Barat dan sekitarnya tidak perlu pergi ke Bali untuk menyaksikan Ngaben. Mereka cukup datang ke Desa Mamuju untuk melihat prosesi tersebut.
“Daya tarik ini dapat dikemas menjadi paket-paket wisata. Oleh karena itu, Desa Tommo sudah saatnya bertransformasi menjadi desa wisata,” ujarnya.
Dia pun berharap pemerintah daerah ikut membantu penyusunan dan penyiapan proses perubahan Desa Tommo menjadi desa wisata. Pemda juga perlu mendorong pembentukan kelembagaan desa melalui Kelompok Sadar Wisata.
Ni Luh mengatakan, pengembangan desa wisata berbasis komunitas menjadi salah satu program utama Kementerian Pariwisata. Program ini menargetkan peningkatan kualitas dan jumlah desa wisata, sekaligus mempercepat pertumbuhan ekonomi masyarakat serta daya saingnya di kancah global.
Dalam upaya menjadikan Desa Tommo sebagai desa wisata, Ni Luh berdialog langsung dengan masyarakat dan menyerap aspirasi terkait pengembangannya. Masyarakat menyampaikan berbagai usulan, mulai dari kebutuhan fasilitas untuk mendukung aktivitas keagamaan, insentif desa, hingga pelatihan SDM pariwisata.
Merespons masukan masyarakat, Kementerian Pariwisata akan melakukan koordinasi dan berdiskusi lebih dalam dengan Pemerintah Daerah Mamuju untuk mengambil langkah konkret guna memajukan Desa Tommo.
"Utamanya tentu agar ini bisa bermanfaat untuk umat dalam konteks keagamaan, termasuk upacara dan ritual, juga mudah-mudahan nanti ke depan bisa menjadi daya tarik wisata untuk masyarakat di luar Desa Tomo ini," katanya.
Untuk diketahui, Desa Tommo merupakan desa yang terbentuk dari hasil transmigrasi sejumlah penduduk Bali ke Sulawesi Barat, sehingga sebagian besar masyarakat Desa Tommo beragama Hindu. Namun, saat ini, Desa Tommo juga merupakan rumah bagi etnis Bugis, Mandar, Jawa, Sunda, dan Toraja.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa mengatakan bahwa Desa Tommo memiliki dua acara keagamaan penting, yakni Nyepi dan Ngaben. Saat Nyepi, momen Pengerupukan atau tradisi yang berlangsung satu hari sebelum hari perayaan yang ditandai dengan parade ogoh-ogoh telah menjadi daya tarik desa dan menarik banyak pengunjung.
Baca juga: 7 Destinasi Desa Wisata Unik untuk Mengisi Liburan Tahun Baru
Sementara itu, prosesi Ngaben massal yang berlangsung tiga tahun satu kali juga menjadi daya tarik yang luar biasa. "Banyak orang datang ke Bali hanya untuk menyaksikan Ngaben. Jadi saya pikir ini bisa jadi salah satu atraksi,” katanya.
Dengan keberadaan atraksi itu, Ni Luh menilai masyarakat Sulawesi Barat dan sekitarnya tidak perlu pergi ke Bali untuk menyaksikan Ngaben. Mereka cukup datang ke Desa Mamuju untuk melihat prosesi tersebut.
“Daya tarik ini dapat dikemas menjadi paket-paket wisata. Oleh karena itu, Desa Tommo sudah saatnya bertransformasi menjadi desa wisata,” ujarnya.
Dia pun berharap pemerintah daerah ikut membantu penyusunan dan penyiapan proses perubahan Desa Tommo menjadi desa wisata. Pemda juga perlu mendorong pembentukan kelembagaan desa melalui Kelompok Sadar Wisata.
Ni Luh mengatakan, pengembangan desa wisata berbasis komunitas menjadi salah satu program utama Kementerian Pariwisata. Program ini menargetkan peningkatan kualitas dan jumlah desa wisata, sekaligus mempercepat pertumbuhan ekonomi masyarakat serta daya saingnya di kancah global.
Dalam upaya menjadikan Desa Tommo sebagai desa wisata, Ni Luh berdialog langsung dengan masyarakat dan menyerap aspirasi terkait pengembangannya. Masyarakat menyampaikan berbagai usulan, mulai dari kebutuhan fasilitas untuk mendukung aktivitas keagamaan, insentif desa, hingga pelatihan SDM pariwisata.
Merespons masukan masyarakat, Kementerian Pariwisata akan melakukan koordinasi dan berdiskusi lebih dalam dengan Pemerintah Daerah Mamuju untuk mengambil langkah konkret guna memajukan Desa Tommo.
"Utamanya tentu agar ini bisa bermanfaat untuk umat dalam konteks keagamaan, termasuk upacara dan ritual, juga mudah-mudahan nanti ke depan bisa menjadi daya tarik wisata untuk masyarakat di luar Desa Tomo ini," katanya.
Untuk diketahui, Desa Tommo merupakan desa yang terbentuk dari hasil transmigrasi sejumlah penduduk Bali ke Sulawesi Barat, sehingga sebagian besar masyarakat Desa Tommo beragama Hindu. Namun, saat ini, Desa Tommo juga merupakan rumah bagi etnis Bugis, Mandar, Jawa, Sunda, dan Toraja.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.