Review Film Darah Nyai, Saat Mitos Jadi Perangkat Hukum Alternatif
25 August 2025 |
06:32 WIB
1
Like
Like
Like
Film Darah Nyai garapan Yusron Fuadi menempatkan mitos lokal di posisi yang cukup menarik. Dalam film debut rumah produksi Imaginarium Pictures ini, mitos tidak dijadikan sebagai alat eksploitasi ketakutan penonton, tetapi justru menjadi tawaran perangkat hukum alternatif.
Dalam kehidupan sehari-hari, mitos memang masih hidup di banyak daerah sebagai alat kontrol sosial. Akan tetapi, film horor umumnya mengecilkan fungsi itu hanya sebatas sesuatu yang seram.
Misalnya, larangan anak-anak bermain di luar rumah saat maghrib karena diyakini bisa diculik makhluk mitologi seperti kolong wewe. Mitos ini secara tidak langsung berfungsi sebagai aturan, agar anak-anak menganggap rumah sebagai tempat yang aman saat malam hari.
Dalam Darah Nyai, mitos yang dipakai adalah sosok Nyai Roro Kidul, penguasa Pantai Selatan. Cerita film ini dimulai dari liburan sepasang kekasih, Rara (Violla Georgie) dan Ifan (Robert Chaniago), ke sebuah penginapan di tepi pantai.
Baca juga: Review Film Kitab Sijjin & Illiyyin: Dendam Keluarga Disfungsional
Liburan yang awalnya menyenangkan berubah jadi ide buruk saat Ifan memaksa berhubungan badan dengan Rara. Dalam situasi terpojok, jiwa Rara tiba-tiba dibawa ke alam lain dan bertemu dengan Nyai Sumekar (Jessica Katharina), dayang Nyai Roro Kidul.
Dari pertemuan itu, Rara diperlihatkan tragedi yang menimpa Lisa, seorang korban pemerkosaan dan pembunuhan. Lisa adalah korban kekerasan seksual brutal dari empat pria, yakni Arthur, Nathan, Doddy, dan Boni.
Mereka memperkosanya, lalu membunuh dan membuang jasadnya ke laut seolah semua bisa tertutupi. Akan tetapi, perbuatan tersebut justru memicu kemarahan Nyai.
Baginya, perbuatan itu bukan hanya kejahatan pada manusia, tetapi juga penghinaan terhadap lautan yang dia jaga. Pertemuan tersebut mengubah hidup Rara. Nyai menjadikannya perantara untuk menuntut balas.
Babak berikutnya berisi dengan deretan pembunuhan demi pembunuhan yang dilakukan Rara, khas film slasher pada umumnya. Meski pola ceritanya berulang, metode pembunuhan yang dipakai Rara selalu mengejutkan.
Dari setrika panas hingga pipa air, semua dipakai sebagai alat eksekusi yang menghadirkan efek sadis dan membuat penonton bergidik. Kendati begitu, dalam kebrutalannya, Darah Nyai berhasil mengubah posisi mitos yang sering dianggap sekadar dongeng yang penuh absurditas, kini justru menjadi perangkat regulasi sosial.
Dalam film, sistem formal dianggap tak terlalu efektif menangani masalah-masalah tersebut. Dalam situasi itulah, Nyai kemudian hadir sebagai “hakim bayangan” yang menghukum pelaku dengan caranya sendiri.
Cerita ini menyingkap kegagalan sistem hukum dalam masyarakat, sehingga mitos lebih dipercaya daripada aturan resmi. Mitos pun seolah mengisi kekosongan yang ditinggalkan institusi formal.
Ada ironi ketika sesuatu dianggap mitos justru menjadi tumpuan harapan baru baik itu oleh karakter atau penonton itu sendiri, sedangkan sistem yang ada malah berubah jadi mitos baru yang seolah pantas ditinggalkan.
Di luar itu, dari sisi visual, film ini terasa segar karena mengusung gaya b-movie yang jarang tampil di layar lebar belakangan. Ciri khasnya tampak pada pencahayaan kontras yang kadang kasar, warna darah yang berlebihan, hingga make-up prostetik sederhana yang kelihatan “palsu” tapi efektif menimbulkan rasa ngeri.
Teknik kamera pun tak kalah khas b-movie, dari handheld yang goyah, zoom mendadak ke wajah korban, hingga framing yang sering tidak presisi. Hal itu menjadi daya tarik yang asyik diikuti.
Sementara itu, kredit khusus juga rasanya perlu diberikan kepada Violla Georgie sebagai Rara. Dia berhasil membawakan transformasi karakter seorang perempuan muda yang rapuh, takut, dan mungkin terjebak dalam relasi toksik dengan kekasihnya, menjadi figur penuh amarah yang jadi perpanjangan tangan Nyai Roro Kidul.
Pada akhirnya, Darah Nyai menawarkan pengalaman baru dalam menonton film slasher. Meski ada catatan, terutama soal naskah yang terkadang terasa dragging, film ini tetap menghadirkan horor berdarah yang segar.
Baca juga: Review Nobody 2: Sentuhan Brutal Timo Tjahjanto di Panggung Hollywood
.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Dalam kehidupan sehari-hari, mitos memang masih hidup di banyak daerah sebagai alat kontrol sosial. Akan tetapi, film horor umumnya mengecilkan fungsi itu hanya sebatas sesuatu yang seram.
Misalnya, larangan anak-anak bermain di luar rumah saat maghrib karena diyakini bisa diculik makhluk mitologi seperti kolong wewe. Mitos ini secara tidak langsung berfungsi sebagai aturan, agar anak-anak menganggap rumah sebagai tempat yang aman saat malam hari.
Dalam Darah Nyai, mitos yang dipakai adalah sosok Nyai Roro Kidul, penguasa Pantai Selatan. Cerita film ini dimulai dari liburan sepasang kekasih, Rara (Violla Georgie) dan Ifan (Robert Chaniago), ke sebuah penginapan di tepi pantai.
Baca juga: Review Film Kitab Sijjin & Illiyyin: Dendam Keluarga Disfungsional

Still photo film Darah Nyai (Sumber gambar: IMDb)
Dari pertemuan itu, Rara diperlihatkan tragedi yang menimpa Lisa, seorang korban pemerkosaan dan pembunuhan. Lisa adalah korban kekerasan seksual brutal dari empat pria, yakni Arthur, Nathan, Doddy, dan Boni.
Mereka memperkosanya, lalu membunuh dan membuang jasadnya ke laut seolah semua bisa tertutupi. Akan tetapi, perbuatan tersebut justru memicu kemarahan Nyai.
Baginya, perbuatan itu bukan hanya kejahatan pada manusia, tetapi juga penghinaan terhadap lautan yang dia jaga. Pertemuan tersebut mengubah hidup Rara. Nyai menjadikannya perantara untuk menuntut balas.

Still photo film Darah Nyai (Sumber gambar: IMDb)
Dari setrika panas hingga pipa air, semua dipakai sebagai alat eksekusi yang menghadirkan efek sadis dan membuat penonton bergidik. Kendati begitu, dalam kebrutalannya, Darah Nyai berhasil mengubah posisi mitos yang sering dianggap sekadar dongeng yang penuh absurditas, kini justru menjadi perangkat regulasi sosial.
Dalam film, sistem formal dianggap tak terlalu efektif menangani masalah-masalah tersebut. Dalam situasi itulah, Nyai kemudian hadir sebagai “hakim bayangan” yang menghukum pelaku dengan caranya sendiri.
Cerita ini menyingkap kegagalan sistem hukum dalam masyarakat, sehingga mitos lebih dipercaya daripada aturan resmi. Mitos pun seolah mengisi kekosongan yang ditinggalkan institusi formal.
Ada ironi ketika sesuatu dianggap mitos justru menjadi tumpuan harapan baru baik itu oleh karakter atau penonton itu sendiri, sedangkan sistem yang ada malah berubah jadi mitos baru yang seolah pantas ditinggalkan.
Di luar itu, dari sisi visual, film ini terasa segar karena mengusung gaya b-movie yang jarang tampil di layar lebar belakangan. Ciri khasnya tampak pada pencahayaan kontras yang kadang kasar, warna darah yang berlebihan, hingga make-up prostetik sederhana yang kelihatan “palsu” tapi efektif menimbulkan rasa ngeri.
Teknik kamera pun tak kalah khas b-movie, dari handheld yang goyah, zoom mendadak ke wajah korban, hingga framing yang sering tidak presisi. Hal itu menjadi daya tarik yang asyik diikuti.
Sementara itu, kredit khusus juga rasanya perlu diberikan kepada Violla Georgie sebagai Rara. Dia berhasil membawakan transformasi karakter seorang perempuan muda yang rapuh, takut, dan mungkin terjebak dalam relasi toksik dengan kekasihnya, menjadi figur penuh amarah yang jadi perpanjangan tangan Nyai Roro Kidul.
Pada akhirnya, Darah Nyai menawarkan pengalaman baru dalam menonton film slasher. Meski ada catatan, terutama soal naskah yang terkadang terasa dragging, film ini tetap menghadirkan horor berdarah yang segar.
Baca juga: Review Nobody 2: Sentuhan Brutal Timo Tjahjanto di Panggung Hollywood
.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.