Sutradara Yusron Fuadi Hadirkan Perlawanan Perempuan Lewat Film Darah Nyai
13 August 2025 |
16:30 WIB
1
Like
Like
Like
Setelah mencuri perhatian publik lewat Tengkorak (2017) dan Setan Alas (2023), sutradara Yusron Fuadi bakal kembali merilis film terbarunya bertajuk Darah Nyai. Film fitur ketiganya ini mencoba mengetengahkan isu-isu perempuan yang masih kerap terpinggirkan.
Lewat kisah ini, Yusron ingin mengajak penonton melihat perempuan sebagai subjek yang berdaya, bukan sekadar korban. Baginya, Darah Nyai bukan sekadar cerita fiksi, melainkan suara perlawanan terhadap pandangan yang merendahkan perempuan.
Baca juga: Film Darah Nyai Bangkitkan Kembali Bentuk B-Movie yang Makin Langka di Bioskop
"Film ini membawa pesan sederhana tapi penting, yakni hentikan kekerasan seksual dan perlakuan tidak adil terhadap perempuan," ungkap Yusron.
Sutradara asal Yogyakarta ini menekankan bahwa perempuan memiliki keberadaan dan hak yang setara dengan laki-laki. Darah Nyai dibuat sebagai wadah untuk menyampaikan pesan tersebut kepada publik.
Namun, bukan Yusron namanya jika tak mengemas isu ini dalam bentuk yang berbeda. Alih-alih menempatkan perempuan dalam balutan korban dari sistem, dirinya justru lebih tertarik menempatkan perempuan sebagai subjek yang melawan.
Menurut Yusron, banyak film cenderung menampilkan perempuan sebagai korban yang terus-menerus menderita, sering kali untuk kepentingan festival atau sensasi. Hal itu membuatnya tergerak untuk menghadirkan narasi yang berbeda.
Darah Nyai berusaha membalik keadaan dengan menampilkan perempuan sebagai sosok yang berani melawan. Film ini tidak lagi menghadirkan mereka sekadar sebagai korban semata.
"Aku melihat banyak film yang memotret perempuan yang tersakiti dan memanen itu entah untuk masuk festival atau apa. Nah, kita mau membalaskan dendam yang kok perempuan tersakiti terus, ayo kita balas dendam, begitu," imbuhnya.
Hal itu diwujudkan Yusron dengan menempatkan karakter utama bernama Rara sebagai pusat cerita. Dia digambarkan sebagai perempuan yang mendapatkan kekuatan super dari Nyai Roro Kidul untuk melakukan pembalasan dendam kepada geng perdagangan manusia yang dipimpin oleh karakter bernama Boni.
Sebab, Nyai Roro Kidul marah terhadap geng tersebut lantaran telah menyakiti karakter bernama Lisa dan membuang tubuhnya ke laut. Sang ratu pantai selatan itu menganggap tindakan para penjahat bukan hanya tak bermoral, tapi juga telah menyakiti laut. Dalam aksinya, Rara terlihat melakukan penyerangan terhadap para penjahat perdagangan manusia itu.
Sementara itu, Hikmat Darmawan, penulis naskah sekaligus produser, mengatakan bahwa tim produksinya berusaha menjaga perspektif perempuan dengan hati-hati dalam cerita ini. Mereka menghindari penafsiran sepihak terhadap pengalaman perempuan, apalagi dari sudut pandang laki-laki saja.
Untuk itu, mereka selalu melibatkan konsultan untuk mendiskusikan naskahnya. Selain itu, para pemeran perempuan di film ini juga dilibatkan dalam pengembangan naskah.
Hikmat menambahkan kebetulan penulis di proyek ini memang seluruhnya laki-laki, tapi hal itu bukan pilihan yang disengaja. Justru karena kondisi itu, mereka merasa perlu mendapat pendampingan yang memadai ketika membahas isu-isu sensitif seperti kekerasan terhadap perempuan. Pendekatan ini dianggap penting agar cerita tetap akurat dan menghormati perspektif yang diangkat.
"Ini kebetulan saja, dilalahnya cowok semua yang nulis. Tapi itu kecelakaan. Makanya kami selalu meminta pendampingan," jelasnya.
Hal menarik dari film ini, katanya, ialah Nyai Roro Kidul yang digambarkan tak sekadar sebagai entitas mistis semata. Hikmat dan tim berupaya menonjolkan sisi kepemimpinan, keberanian, dan kemandirian tokoh tersebut. Menurutnya, ini cara yang tepat untuk menampilkan representasi perempuan yang kuat.
Hikmat berharap Darah Nyai tidak hanya menjadi tontonan, tapi juga bahan refleksi. Dia ingin penonton mempertanyakan kembali cara mereka melihat dan memperlakukan perempuan dalam kehidupan sehari-hari, sekaligus sistem besar yang menaunginya selama ini.
Darah Nyai yang mengangkat legenda Nyi Roro Kidul dari Laut Selatan merupakan karya debut dari rumah produksi Imaginarium Pictures. Tidak seperti kebanyakan film horor lainnya, karya ini mengusung subgenre yang jarang diangkat, yaitu jagal mistis (mystic-slasher). Filmnya pun dikemas dengan pendekatan B-movie yang cukup menarik.
Film ini ditulis oleh Azzam Firullah bersama Hikmat Darmawan yang juga menjadi produser bersama Steve Wirawan dan Rayner Wijaya. Deretan pemainnya meliputi Violla Georgie, Jessica Katharina, Rory Asyari, Vonny Anggraini, serta Nai Djenar Maisa Ayu.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Lewat kisah ini, Yusron ingin mengajak penonton melihat perempuan sebagai subjek yang berdaya, bukan sekadar korban. Baginya, Darah Nyai bukan sekadar cerita fiksi, melainkan suara perlawanan terhadap pandangan yang merendahkan perempuan.
Baca juga: Film Darah Nyai Bangkitkan Kembali Bentuk B-Movie yang Makin Langka di Bioskop
"Film ini membawa pesan sederhana tapi penting, yakni hentikan kekerasan seksual dan perlakuan tidak adil terhadap perempuan," ungkap Yusron.
Sutradara asal Yogyakarta ini menekankan bahwa perempuan memiliki keberadaan dan hak yang setara dengan laki-laki. Darah Nyai dibuat sebagai wadah untuk menyampaikan pesan tersebut kepada publik.
Namun, bukan Yusron namanya jika tak mengemas isu ini dalam bentuk yang berbeda. Alih-alih menempatkan perempuan dalam balutan korban dari sistem, dirinya justru lebih tertarik menempatkan perempuan sebagai subjek yang melawan.
Menurut Yusron, banyak film cenderung menampilkan perempuan sebagai korban yang terus-menerus menderita, sering kali untuk kepentingan festival atau sensasi. Hal itu membuatnya tergerak untuk menghadirkan narasi yang berbeda.
Darah Nyai berusaha membalik keadaan dengan menampilkan perempuan sebagai sosok yang berani melawan. Film ini tidak lagi menghadirkan mereka sekadar sebagai korban semata.
"Aku melihat banyak film yang memotret perempuan yang tersakiti dan memanen itu entah untuk masuk festival atau apa. Nah, kita mau membalaskan dendam yang kok perempuan tersakiti terus, ayo kita balas dendam, begitu," imbuhnya.
Hal itu diwujudkan Yusron dengan menempatkan karakter utama bernama Rara sebagai pusat cerita. Dia digambarkan sebagai perempuan yang mendapatkan kekuatan super dari Nyai Roro Kidul untuk melakukan pembalasan dendam kepada geng perdagangan manusia yang dipimpin oleh karakter bernama Boni.
Sebab, Nyai Roro Kidul marah terhadap geng tersebut lantaran telah menyakiti karakter bernama Lisa dan membuang tubuhnya ke laut. Sang ratu pantai selatan itu menganggap tindakan para penjahat bukan hanya tak bermoral, tapi juga telah menyakiti laut. Dalam aksinya, Rara terlihat melakukan penyerangan terhadap para penjahat perdagangan manusia itu.
Sementara itu, Hikmat Darmawan, penulis naskah sekaligus produser, mengatakan bahwa tim produksinya berusaha menjaga perspektif perempuan dengan hati-hati dalam cerita ini. Mereka menghindari penafsiran sepihak terhadap pengalaman perempuan, apalagi dari sudut pandang laki-laki saja.
Untuk itu, mereka selalu melibatkan konsultan untuk mendiskusikan naskahnya. Selain itu, para pemeran perempuan di film ini juga dilibatkan dalam pengembangan naskah.
Hikmat menambahkan kebetulan penulis di proyek ini memang seluruhnya laki-laki, tapi hal itu bukan pilihan yang disengaja. Justru karena kondisi itu, mereka merasa perlu mendapat pendampingan yang memadai ketika membahas isu-isu sensitif seperti kekerasan terhadap perempuan. Pendekatan ini dianggap penting agar cerita tetap akurat dan menghormati perspektif yang diangkat.
"Ini kebetulan saja, dilalahnya cowok semua yang nulis. Tapi itu kecelakaan. Makanya kami selalu meminta pendampingan," jelasnya.
Hal menarik dari film ini, katanya, ialah Nyai Roro Kidul yang digambarkan tak sekadar sebagai entitas mistis semata. Hikmat dan tim berupaya menonjolkan sisi kepemimpinan, keberanian, dan kemandirian tokoh tersebut. Menurutnya, ini cara yang tepat untuk menampilkan representasi perempuan yang kuat.
Hikmat berharap Darah Nyai tidak hanya menjadi tontonan, tapi juga bahan refleksi. Dia ingin penonton mempertanyakan kembali cara mereka melihat dan memperlakukan perempuan dalam kehidupan sehari-hari, sekaligus sistem besar yang menaunginya selama ini.
Darah Nyai yang mengangkat legenda Nyi Roro Kidul dari Laut Selatan merupakan karya debut dari rumah produksi Imaginarium Pictures. Tidak seperti kebanyakan film horor lainnya, karya ini mengusung subgenre yang jarang diangkat, yaitu jagal mistis (mystic-slasher). Filmnya pun dikemas dengan pendekatan B-movie yang cukup menarik.
Film ini ditulis oleh Azzam Firullah bersama Hikmat Darmawan yang juga menjadi produser bersama Steve Wirawan dan Rayner Wijaya. Deretan pemainnya meliputi Violla Georgie, Jessica Katharina, Rory Asyari, Vonny Anggraini, serta Nai Djenar Maisa Ayu.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.