Ilustrasi perempuan mengalami mimpi buruk. (Sumber: Freepik)

Mimpi Buruk, Apakah Berhubungan dengan Kesehatan?

21 August 2025   |   21:59 WIB
Image
Luh Muni Wiraswari Mahasiswa Universitas Padjadjaran

Tersesat di tempat antah-berantah, dikejar makhluk supranatural yang menyeramkan, hingga terjatuh dari gedung tinggi. Skenario mimpi buruk yang rasanya seperti kenyataan ini kerap kali membuat kita keringat dingin saat tertidur.

Dahulu, mimpi buruk dianggap dapat menguras energi kehidupan. Saat ini, teori tentang mimpi dalam perspektif sains modern masih di tahap pencarian. Ketakutan akan hubungan mimpi buruk dan kesehatan masih belum hilang. 

Baca juga: Jangan Asal, Begini Teknik Berjalan Kaki agar Bermanfaat untuk Kesehatan

Terdapat beberapa teori mengenai mimpi secara general. Misalnya, teori psikodinamis tentang mimpi yang mengatakan bahwa mimpi hadir sebagai wujud hasrat alam bawah sadar kita atau teori neurokognitif yang menganggap bahwa mimpi hasil dari evolusi otak secara alami. Banyak riset yang mempercayai bahwa mimpi dipicu oleh imajinasi dari kepribadian masing-masing orang.

Sementara itu, beberapa riset menunjukkan bahwa mimpi buruk secara spesifik dapat berhubungan dengan kondisi kesehatan seseorang, baik kesehatan fisik maupun mental. Meski mimpi buruk bisa terjadi di dalam mimpi semua orang, tetapi riset menemukan bahwa mimpi buruk menjadi gejala umum dari gangguan kesehatan mental. Lebih dari 70% orang dengan PTSD, depresi berat, dan gangguan kesehatan mental lainnya mengalami mimpi buruk tingkat kronis. 

Studi Neurotherapeutics juga menemukan bahwa gangguan tidur dengan mimpi buruk berkepanjangan atau yang biasa disebut dengan nightmare disorder terjadi pada orang dengan diagnosis gangguan mental PTSD. Penelitian yang sama juga menyebutkan bahwa mimpi buruk sering kali diikuti oleh halusinasi yang intens dan terasa nyata. 

Abidemi Otaiku, seorang ahli neurologi di Imperial College London meneliti tentang mimpi buruk bersama timnya. Hasil riset yang baru dilaksanakan ini menunjukkan bahwa mimpi buruk dapat menjadi gejala penyakit neurologis, seperti Parkinson disease dan demensia.

Otaiku juga mempresentasikan bahwa ia dan tim mengukur telomer atau bagian ujung kromosom yang dikaitkan dengan penuaan dini. Hasil pengukuran ini menemukan bahwa orang-orang yang rentan mengalami mimpi buruk menunjukkan tanda-tanda penuaan dini karena hormon stres yang dipicu oleh mimpi buruk yang dialaminya. 

Mimpi buruk dapat menimbulkan hormon stres kortisol. Jika kadarnya besar dan berlangsung lama, hormon ini dapat memicu penuaan sel menjadi lebih cepat. Selain itu, penelitian yang dilakukan Allison Campbell dan rekan-rekannya pada 2023 lalu juga menunjukkan hubungan frekuensi mimpi buruk dan sistem kardiovaskular.
 
Mimpi buruk bisa menjadi gejala, peringatan bagi kondisi kesehatan kita. Namun, mimpi buruk juga bisa menjadi penyebab gangguan kesehatan karena memicu hormon stres. Mengobati mimpi buruk lebih sulit daripada mendeteksinya. Oleh karenanya, bantuan terapi dari profesional sangat diperlukan. 

Meskipun demikian, perlu diingat bahwa studi tentang mimpi buruk masih belum banyak dieksplorasi. Bidang ini masih membutuhkan banyak waktu untuk berkembang. Jadi, jika mengalami mimpi buruk berlebihan, Genhype perlu melakukan konsultasi ke psikoterapi.

Baca juga: Ini Lo 7 Mimpi Paling Umum Dialami dan Makna di Baliknya

SEBELUMNYA

Gemini for Home, Asisten Rumah Tangga Berbasis AI yang Akan Gantikan Google Assistant

BERIKUTNYA

Pengguna iPhone Mau Coba Sensasi Ponsel Lipat Samsung Terbaru? Begini Caranya

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: