Biaya Perawatan Infrastruktur Kereta Api Tak Boleh Dipangkas Demi Keselamatan Anker & Wisatawan
20 August 2025 |
19:00 WIB
Kereta api menjadi salah satu moda transportasi yang makin banyak diminati, oleh para anak kereta (anker) dan para pelancong di dalam negeri. Akan tetapi, seiring dengan banyak yang menggunakannya, keamanan menjadi bagian yang tidak boleh diabaikan.
Pengamat transportasi Djoko Setijowarno mengatakan bahwa keselamatan dan keamanan harus menjadi perhatian yang tidak boleh ditoleransi oleh pemerintah. Jadi, efisiensi yang dilakukan sebaiknya tidak mengganggu biaya perawatan prasarana. “Efisiensi boleh, tapi anggaran keselamatan jangan dipangkas,” katanya kepada Hypeabis.id.
Djoko mengingatkan, Pemeliharaan dan Pengoperasian Infrastruktur (Infrastructure Maintenance and Operation/IMO) kereta api merupakan tanggung jawab pemerintah atau negara, bukan perusahaan. Jadi, pemerintah harus memenuhinya.
Dia mengingatkan bahwa jembatan kereta api yang digunakan sampai saat ini banyak yang berusia lebih di atas 100 tahun, sehingga perlu mendapatkan pemeliharaan serius agar tidak mendatangkan bahaya.
Baca juga: KAI Klaim Penggunaan Kereta Api Dorong Peningkatan Kualitas Udara di Jabodetabek
Tidak hanya itu, pemerintah juga gencar memperpanjang rel kereta api dan pengguna moda transportasi berbasis rel itu terus bertambah dari tahun ke tahun. Hal ini seharusnya membuat biaya pemeliharaan dan pengoperasian kian ditingkatkan.
“Panjang rel bertambah, mestinya IMO sebagai kewajiban negara untuk menjaga keselamatan harus bertambah dan bukan menurun – apalagi ikut dipangkas demi efisiensi,” katanya.
Tidak sekadar memenuhi tanggung jawab, biaya pemeliharaan dan pengoperasian infrastruktur kereta api juga seharusnya sesuai dengan kebutuhan ideal demi keselamatan.
Untuk diketahui, jumlah penumpang kereta api secara keseluruhan mencapai 240,9 juta pada Januari-Juni 2025. Angka ini mengalami peningkatan sebesar 8,9 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama 2024.
Hampir seluruh layanan transportasi berbasis rel itu juga tercatat mengalami pertumbuhan, dari kereta commuter, kereta api jarak jauh dan lokal, LRT Jabodebek, kereta bandara, kereta wisata, dan LRT Sumatra Selatan.
Pengguna kereta commuter menjadi yang paling besar di antara layanan kereta api. KAI mencatat ada 191,5 juta penumpang selama 6 bulan pertama 2025.
Selain kereta commuter, kereta api jarak jauh dan lokal juga menjadi pemilik terbanyak kedua dengan jumlah penumpang hingga 27,46 juta orang. Angka ini tercatat mengalami peningkatan sebesar 7 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama 2024.
Baca juga: Turis Bule Suka Naik Kereta Api di Indonesia, Ini Kota Tujuan Favoritnya
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Pengamat transportasi Djoko Setijowarno mengatakan bahwa keselamatan dan keamanan harus menjadi perhatian yang tidak boleh ditoleransi oleh pemerintah. Jadi, efisiensi yang dilakukan sebaiknya tidak mengganggu biaya perawatan prasarana. “Efisiensi boleh, tapi anggaran keselamatan jangan dipangkas,” katanya kepada Hypeabis.id.
Djoko mengingatkan, Pemeliharaan dan Pengoperasian Infrastruktur (Infrastructure Maintenance and Operation/IMO) kereta api merupakan tanggung jawab pemerintah atau negara, bukan perusahaan. Jadi, pemerintah harus memenuhinya.
Dia mengingatkan bahwa jembatan kereta api yang digunakan sampai saat ini banyak yang berusia lebih di atas 100 tahun, sehingga perlu mendapatkan pemeliharaan serius agar tidak mendatangkan bahaya.
Baca juga: KAI Klaim Penggunaan Kereta Api Dorong Peningkatan Kualitas Udara di Jabodetabek
Tidak hanya itu, pemerintah juga gencar memperpanjang rel kereta api dan pengguna moda transportasi berbasis rel itu terus bertambah dari tahun ke tahun. Hal ini seharusnya membuat biaya pemeliharaan dan pengoperasian kian ditingkatkan.
“Panjang rel bertambah, mestinya IMO sebagai kewajiban negara untuk menjaga keselamatan harus bertambah dan bukan menurun – apalagi ikut dipangkas demi efisiensi,” katanya.
Tidak sekadar memenuhi tanggung jawab, biaya pemeliharaan dan pengoperasian infrastruktur kereta api juga seharusnya sesuai dengan kebutuhan ideal demi keselamatan.
Untuk diketahui, jumlah penumpang kereta api secara keseluruhan mencapai 240,9 juta pada Januari-Juni 2025. Angka ini mengalami peningkatan sebesar 8,9 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama 2024.
Hampir seluruh layanan transportasi berbasis rel itu juga tercatat mengalami pertumbuhan, dari kereta commuter, kereta api jarak jauh dan lokal, LRT Jabodebek, kereta bandara, kereta wisata, dan LRT Sumatra Selatan.
Pengguna kereta commuter menjadi yang paling besar di antara layanan kereta api. KAI mencatat ada 191,5 juta penumpang selama 6 bulan pertama 2025.
Selain kereta commuter, kereta api jarak jauh dan lokal juga menjadi pemilik terbanyak kedua dengan jumlah penumpang hingga 27,46 juta orang. Angka ini tercatat mengalami peningkatan sebesar 7 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama 2024.
Baca juga: Turis Bule Suka Naik Kereta Api di Indonesia, Ini Kota Tujuan Favoritnya
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.