Motif batik slobog. (Sumber: Wikimedia Commons)

Filosofi Batik Slobog Simbol Duka dan Harapan

20 August 2025   |   19:30 WIB
Image
Luh Muni Wiraswari Mahasiswa Universitas Padjadjaran

Kain batik telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya takbenda. Warisan kebudayaan bangsa Indonesia ini merupakan hasil perpaduan seni dan teknologi yang berkembang hingga saat ini. Setiap corak kain batik memiliki keragaman yang sarat akan makna.

Salah satu motif batik yang kini menjadi sorotan adalah batik slobog yang dikenakan oleh Gustika Jusuf Hatta, cucu dari Mohammad Hatta, pada hari perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Negara. 

Baca juga: Makna Motif Sawunggaling dan Batik Parang yang Menghiasi Gaun Barbie One of A Kind

Menurutnya, dalam budaya Jawa, pemakaian kain bukan sekadar busana, tetapi juga isyarat. Masyarakat Jawa kerap kali menyisipkan simbol-simbol tertentu dalam berpakaian. Hal ini mendorong Gustika untuk memilih kain slobog sebagai busananya dalam memperingati Kemerdekaan RI.

“Walau bukan Kamisan, pagi ini aku memilih kebaya hitam yang sengaja kupadukan dengan batik slobog untuk memperingati 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia,” tulisnya dalam keterangan unggahan tersebut. 

Batik slobog berasal dari Solo dan Yogyakarta, tempat di mana kain ini berkembang dan menjadi populer. Berbeda dengan batik parang yang mencerminkan keberanian atau batik kawung yang mencerminkan kemurnian, batik slobog justru menyimpan makna duka.
 

Kata “slobog” berasal dari “labok” yang berarti longgar atau tidak terikat. Motif ini kemudian berkaitan erat dengan suasana duka, sebab longgar yang dimaksud mencerminkan kelonggaran hati, keikhlasan, dan pelepasan. 

Oleh karenanya, batik slobog sering kali digunakan dalam acara pemakaman sebagai simbol harapan agar jiwa seseorang yang telah meninggal memperoleh tempat yang baik di alam sana. 

Namun, tak hanya sampai sana, makna kain batik slobog juga melambangkan kesabaran dan keteguhan hati dalam menjalani kehidupan. Batik slobog juga bisa digunakan bagi seseorang yang sedang ditimpa musibah dalam hidup.

Kain ini dihiasi oleh untaian garis berbentuk persegi dengan pola teratur yang melambangkan keteguhan dan keteraturan. Beberapa motif juga memiliki pola diagonal yang rapi sebagai simbol kelapangan hati. 

Setiap warna yang menghiasi kain ini juga melambangkan simbol yang berbeda-beda. Hitam berarti keteguhan, ketabahan, serta ketenangan dalam menghadapi perpisahan. Sementara itu, putih berarti kesucian juga ketulusan. Berbeda lagi dengan warna coklat yang menyimbolkan kebijaksanaan dan biru atau abu-abu yang memberi kesan tenang dan seimbang.

“Dukaku lahir dari rasa cinta yang mendalam pada Republik ini. Bagiku, berkabung bukan berarti putus asa; dan merayakan bukan berarti menutup mata. Berkabung adalah jeda untuk jujur menatap sejarah, memelihara ingatan, dan menagih hak rakyat dan janji-janji konstitusi kepada Republik Indonesia,” ungkap Gustika.

Perpaduan kebaya hitam dan batik slobog dengan campuran berbagai warna memang mencerminkan rasa duka yang dialami Gustika. Namun, hal ini juga merupakan simbol protes atas situasi yang terjadi di negeri ini. Seperti yang ditulis dalam unggahannya, benih harapan bisa tumbuh melalui duka yang berasal dari doa-doa.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

SEBELUMNYA

Sejarah Pickleball, Olahraga asal Amerika Serikat yang Mirip Padel

BERIKUTNYA

Cara Daftar KIP Kuliah 2025 Periode Terbaru, Cek Besaran Bantuan & Syaratnya

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga