Ilustrasi penjahat siber. (Sumber gambar: Max Bender/Unsplash)

Kejahatan Siber Jadi Ekosistem Bisnis yang Terorganisir

19 August 2025   |   22:30 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Dalam lanskap digital yang kian kompleks, ancaman siber tidak lagi terbatas pada peretas individu. Ekosistem serangan siber telah berevolusi menjadi sebuah industri kriminal terorganisir yang canggih dan terus mengincar keuntungan.

Direktur Tim Riset & Analisis Global Kaspersky (GReAT) Igor Kuznetsov, mengatakan salah satu kelompok ancaman siber paling menakutkan yang dihadapi bisnis saat ini adalah ransomware. Mereka bukan sekadar penjahat biasa yang bertindak sendiri, melainkan sebuah ekosistem bisnis yang terorganisir dengan rapi. 

“Jadi, ransomware saat ini merupakan ekosistem bisnis yang besar,” ujarnya saat temu media di bilangan Menteng, Jakarta, Selasa (19/8/2025). 

Baca juga: Dark AI Jadi Pedang Baru Penjahat Siber di Dunia Maya 

Indonesia menjadi negara yang mengalami serangan ransomware tertinggi di kawasan Asia Tenggara, yaitu sebanyak 57.554 serangan. Kuznetsov mengungkap, salah satunya datang dari Internal FunkSec yang muncul akhir tahun lalu. 

Kelompok ransomware ini bisa dikatakan menggambarkan masa depan kejahatan siber massal lantaran menggunakan teknologi AI untuk membuat alat untuk menyebarkan malware yang multifungsi, sangat adaptif, dan beroperasi dalam jumlah besar.

Kelompok ini menargetkan semua perusahaan bahkan dengan tebusan hanya US$10.000. Internal FunkSec menargetkan sektor pemerintahan, teknologi, keuangan, dan pendidikan. 

Ada pula kelompok Initial Access Brokers (IAB) yang bertanggung jawab untuk mendapatkan akses awal ke sebuah perusahaan dengan mencuri kredensial dan menjualnya di pasar gelap. Setelah akses diperoleh, kelompok lain akan membeli akses tersebut untuk melakukan penyelidikan internal. 

Mereka menganalisis data perusahaan untuk menentukan nilai tebusan yang bisa diminta. Proses serangan ini sering kali bertahap. Para pelaku tidak hanya mengenkripsi data, tetapi juga mencurinya. 

Kuznetsov menyebut kelompok IAB akan meminta tebusan ganda, satu untuk dekripsi data dan yang lain untuk tidak mempublikasikan informasi yang dicuri. Setelah tebusan diajukan, ada pula negosiator profesional yang menangani tawar-menawar dengan korban, sering kali dengan keahlian yang jauh lebih baik daripada korban itu sendiri. 

Selain ransomware, ancaman yang lebih canggih datang dari Advanced Persistent Threats (APT). Kelompok ini sering kali disponsori oleh negara dan tujuan utamanya adalah spionase. 

Kelompok APT yang menargetkan Indonesia pada 2024 menurut Kaspersky antara lain, Mysterious Elephant, Spring Dragon, Ocean Lotus, Toddycat, Lazarus, Tetris Phantom, dan Sidewinder. 

Kuznetsov menerangkan, SideWinder menjadi yang paling terkenal dan paling aktif di antara kelompok APT yang mengincar Indonesia. Dijuluki sebagai ancaman paling agresif di Asia Pasifik, aktor ancaman ini menargetkan pemerintah, militer, dan entitas diplomatik di kawasan tersebut dengan spear phishing dan platform serangan canggih. 

Mysterious Elephant juga cukup menjadi sorotan sebagai kelompok APT. “Mereka mencoba untuk untuk menerima sebanyak mungkin informasi dari pemerintah dan perusahaan,” sebut Kuznetsov. 

Untuk melawan ancaman yang terus berkembang ini, baik individu maupun organisasi menurutnya perlu meningkatkan kewaspadaan. Selalu perbarui perangkat lunak di semua perangkat yang digunakan untuk mencegah penyerang menyusup ke jaringan dengan mengeksploitasi kerentanan. 

Selain itu, Kuznetsov menyarankan untuk melakukan audit keamanan siber pada jaringan dan aset guna mengungkap celah dan sistem yang rentan, serta atasi setiap kelemahan yang ditemukan di perimeter atau di dalam jaringan.

Untuk melindungi perusahaan dari berbagai ancaman, gunakan solusi keamanan yang menyediakan perlindungan real-time, visibilitas ancaman, kemampuan investigasi dan respons EDR dan XDR untuk organisasi dari berbagai skala dan industri. 

Baca juga: Waspada Serangan Siber Pakai AI, Begini Cara Mencegahnya 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 
Editor:

SEBELUMNYA

Indonesia Jadi Sasaran Empuk Penjahat Siber, Kaspersky Tangkal 20 Juta Serangan

BERIKUTNYA

Anggaran MBG dari Dana Pendidikan 2026 Tuai Kritik, Tabrak Konstitusi & Harus Dievaluasi

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: