Ilustrasi penjahat siber. (Sumber gambar: Max Bender/Unsplash)

Dark AI Jadi Pedang Baru Penjahat Siber di Dunia Maya

12 August 2025   |   22:30 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Teknologi kecerdasan buatan terus berkembang dan membuka peluang kejahatan siber yang kian kompleks. Terbaru, muncul istilah Dark AI di Asia Pasifik yang melancarkan ancaman digital mulai dari serangan phishing sederhana hingga spionase siber yang didukung negara.

Sergey Lozhkin, Kepala Tim Riset & Analisis Global (GReAT) untuk META dan APAC di Kaspersky menerangkan, sejak ChatGPT mendapatkan popularitas global pada 2023, pihaknya mengamati beberapa adopsi AI yang bermanfaat, mulai dari tugas-tugas sederhana seperti pembuatan video hingga deteksi dan analisis ancaman teknis. 

Kendati demikian di saat yang sama, pelaku kejahatan siber menggunakannya untuk meningkatkan kemampuan serangan mereka. “Kita memasuki era keamanan siber dan masyarakat di mana AI adalah perisai dan Dark AI adalah pedangnya,” ujarnya, dikutip Hypeabis.id, Selasa (12/8/2025). 

Baca juga: Serangan Siber Makin Kompleks, Sasar Perusahaan Besar Hingga Menengah Pakai Metode Ini 

Dark AI atau AI gelap mengacu pada penerapan model bahasa besar (LLM) lokal atau jarak jauh yang tidak dibatasi dalam kerangka kerja penuh. Sistem chatbot ini digunakan untuk tujuan berbahaya, tidak etis, dan tidak sah. 

Sistem ini beroperasi di luar kendali keamanan, kepatuhan, atau tata kelola standar, yang seringkali memungkinkan kemampuan seperti penipuan, manipulasi, serangan siber, atau penyalahgunaan data tanpa pengawasan.

Lozhkin menjelaskan bahwa penggunaan AI berbahaya yang paling umum dan terkenal saat ini adalah dalam bentuk Black Hat GPT, yang muncul sejak pertengahan 2023. 

Black Hat GPT sengaja dibuat, dimodifikasi, dan digunakan untuk melakukan aktivitas yang tidak etis, ilegal, atau berbahaya. Produknya seperti menghasilkan kode berbahaya, merancang email phishing yang lancar dan persuasif untuk serangan massal maupun tertarget, membuat deepfake suara dan video, bahkan mendukung operasi Red Team. 

Model AI ini dapat berupa privat atau semi-privat. Contoh yang diketahui antara lain WormGPT, DarkBard, FraudGPT, dan Xanthorox, yang dirancang atau diadaptasi untuk mendukung kejahatan siber, penipuan, dan otomatisasi berbahaya. 

Selain penggunaan Dark AI yang umum, Lozhkin mengungkapkan bahwa para ahli Kaspersky kini mengamati tren yang lebih gelap, yakni aktor negara-bangsa memanfaatkan LLM dalam kampanye mereka. 

OpenAI baru-baru ini mengungkapkan telah menggagalkan lebih dari 20 operasi siber terselubung yang mencoba menyalahgunakan perangkat AI-nya. “Kita dapat memperkirakan para pelaku ancaman akan menciptakan cara yang lebih cerdas untuk mempersenjatai AI generatif yang beroperasi di ekosistem ancaman publik dan privat. Kita harus bersiap menghadapinya,” jelas Lozhkin.

Laporan OpenAI juga mengungkapkan bahwa para pelaku kejahatan siber telah menggunakan LLM untuk menciptakan persona palsu yang meyakinkan, merespons target secara real-time, dan menghasilkan konten multibahasa yang dirancang untuk menipu korban dan menerobos filter keamanan tradisional. 

Seiring dengan semakin mudah diakses dan mumpuninya perangkat dark AI, Lozhkin mengatakan penting bagi organisasi dan individu di Asia Pasifik untuk memperkuat higiene keamanan siber, berinvestasi dalam deteksi ancaman yang didukung oleh AI itu sendiri, dan terus mempelajari bagaimana teknologi ini dapat dieksploitasi. 

Baca juga: Waspada Serangan Siber Pakai AI, Begini Cara Mencegahnya  

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News
Editor:

SEBELUMNYA

Film dan Drakor Terbaru dengan Karakter Utama Perempuan, Project Y hingga You and Everything Else

BERIKUTNYA

Ari Lasso Kritik WAMI soal Pengelolaan Royalti

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga