Indonesia Jadi Sasaran Empuk Penjahat Siber, Kaspersky Tangkal 20 Juta Serangan
19 August 2025 |
21:17 WIB
Indonesia menjadi target empuk serangan ransomware canggih dan Advanced Persistent Threats (APT). Terungkap dari data perusahaan keamanan siber dan privasi digital global, Kaspersky, yang berhasil menghentikan 20 juta serangan dari berbagai sumber daring yang ditujukan kepada pengguna di Tanah Air, sepanjang tahun lalu.
Igor Kuznetsov, Direktur Tim Riset & Analisis Global Kaspersky (GReAT), mengatakan dari data tersebut, terdapat sekitar 3 juta serangan dengan eksploitasi dan 3 juta serangan lainnya menggunakan backdoor yang berhasil dicegah. Pada 2024, telemetri terbaru Kaspersky juga mendeteksi lebih dari 649.267 upaya malware perbankan terhadap pengguna di Indonesia.
Temuan ini, katanya, sejalan dengan pengumuman terbaru dari Kementerian Komunikasi dan Digital yang menyebutkan terdapat 800.000 laporan terkait penipuan perbankan di Indonesia. Menurutnya, hal ini patut menjadi perhatian karena kerugian finansial akibat kejahatan siber di Indonesia dapat mencapai Rp476 miliar.
"Indonesia adalah negara yang kaya akan data. Dengan tingkat penetrasi internet Indonesia yang tinggi, tidak mengherankan jika data berharga ini menarik para pelaku kejahatan siber,” ujarnya saat temu media di Jakarta, Selasa (19/8/2025).
Baca juga: Serangan Siber Makin Kompleks, Sasar Perusahaan Besar Hingga Menengah Pakai Metode Ini
Sementara itu, Kaspesky menyebut Indonesia pada tahun lalu menghadapi jumlah serangan ransomware tertinggi di antara negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara, yaitu sebanyak 57.554 serangan.
Kuznetsov mengungkap, salah satunya datang dari internal FunkSec, sebuah kelompok ransomware yang menggambarkan masa depan kejahatan siber massal lantaran bertenaga AI, multifungsi, sangat adaptif, dan beroperasi dalam jumlah besar.
Kelompok ini bahkan menawarkan tebusan serendah US$10.000 untuk memaksimalkan keuntungan. Internal FunkSec menargetkan sektor pemerintahan, teknologi, keuangan, dan pendidikan.
Organisasi-organisasi di Indonesia juga dihantui kelompok-kelompok APT canggih yang menargetkan individu dan sektor-sektor penting di Indonesia. Kelompok APT yang menargetkan Indonesia pada 2024 menurut Kaspersky antara lain, Mysterious Elephant, Spring Dragon, Ocean Lotus, Toddycat, Lazarus, Tetris Phantom, dan Sidewinder.
Kuznetsov menerangkan, SideWinder menjadi yang paling terkenal dan paling aktif di antara kelompok APT yang mengincar Indonesia. Dijuluki sebagai "ancaman paling agresif di Asia Pasifik", aktor ancaman ini menargetkan pemerintah, militer, dan entitas diplomatik di kawasan tersebut dengan spear phishing dan platform serangan canggih.
Menurutnya, masa depan siber Indonesia menjanjikan pertumbuhan pesat, tetapi juga menghadirkan tantangan keamanan yang semakin kompleks. “Akselerasi pesat ekonomi digitalnya, adopsi teknologi baru seperti IoT, AI, dan 5G, sejalan dengan tren peningkatan serangan siber yang menargetkan negara ini,” kata Kuznetsov.
Seiring serangan siber yang semakin canggih, dia menilai pertahanan siber Indonesia seharusnya tidak lagi terbatas pada pengamanan sistem, melainkan menjadi bagian dari strategi pertahanan aktif. Melindungi infrastruktur informasi vital (VII) nasional merupakan langkah yang patut dilakukan pemerintah Indonesia.
Pemerintah harus menggabungkan pembagian intelijen ancaman berkelanjutan, respons insiden yang cepat, dan kolaborasi publik-swasta yang lebih kuat untuk mendeteksi, menghentikan, dan mencegah serangan-serangan ini. Semua perlu dilakukan sebelum berdampak pada infrastruktur penting dan mempengaruhi kepercayaan publik.
“Bangsa yang berhasil dalam persaingan digital bukanlah bangsa dengan peralatan termahal, melainkan bangsa yang mampu membangun postur digital aktif, dimulai dengan kombinasi kemampuan teknis, kesadaran yang kuat, dan keberanian untuk bertindak sebelum serangan terjadi,” tuturnya.
Baca juga: Dark AI Jadi Pedang Baru Penjahat Siber di Dunia Maya
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Igor Kuznetsov, Direktur Tim Riset & Analisis Global Kaspersky (GReAT), mengatakan dari data tersebut, terdapat sekitar 3 juta serangan dengan eksploitasi dan 3 juta serangan lainnya menggunakan backdoor yang berhasil dicegah. Pada 2024, telemetri terbaru Kaspersky juga mendeteksi lebih dari 649.267 upaya malware perbankan terhadap pengguna di Indonesia.
Temuan ini, katanya, sejalan dengan pengumuman terbaru dari Kementerian Komunikasi dan Digital yang menyebutkan terdapat 800.000 laporan terkait penipuan perbankan di Indonesia. Menurutnya, hal ini patut menjadi perhatian karena kerugian finansial akibat kejahatan siber di Indonesia dapat mencapai Rp476 miliar.
"Indonesia adalah negara yang kaya akan data. Dengan tingkat penetrasi internet Indonesia yang tinggi, tidak mengherankan jika data berharga ini menarik para pelaku kejahatan siber,” ujarnya saat temu media di Jakarta, Selasa (19/8/2025).
Baca juga: Serangan Siber Makin Kompleks, Sasar Perusahaan Besar Hingga Menengah Pakai Metode Ini
Sementara itu, Kaspesky menyebut Indonesia pada tahun lalu menghadapi jumlah serangan ransomware tertinggi di antara negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara, yaitu sebanyak 57.554 serangan.
Kuznetsov mengungkap, salah satunya datang dari internal FunkSec, sebuah kelompok ransomware yang menggambarkan masa depan kejahatan siber massal lantaran bertenaga AI, multifungsi, sangat adaptif, dan beroperasi dalam jumlah besar.
Kelompok ini bahkan menawarkan tebusan serendah US$10.000 untuk memaksimalkan keuntungan. Internal FunkSec menargetkan sektor pemerintahan, teknologi, keuangan, dan pendidikan.
Organisasi-organisasi di Indonesia juga dihantui kelompok-kelompok APT canggih yang menargetkan individu dan sektor-sektor penting di Indonesia. Kelompok APT yang menargetkan Indonesia pada 2024 menurut Kaspersky antara lain, Mysterious Elephant, Spring Dragon, Ocean Lotus, Toddycat, Lazarus, Tetris Phantom, dan Sidewinder.
Kuznetsov menerangkan, SideWinder menjadi yang paling terkenal dan paling aktif di antara kelompok APT yang mengincar Indonesia. Dijuluki sebagai "ancaman paling agresif di Asia Pasifik", aktor ancaman ini menargetkan pemerintah, militer, dan entitas diplomatik di kawasan tersebut dengan spear phishing dan platform serangan canggih.
Menurutnya, masa depan siber Indonesia menjanjikan pertumbuhan pesat, tetapi juga menghadirkan tantangan keamanan yang semakin kompleks. “Akselerasi pesat ekonomi digitalnya, adopsi teknologi baru seperti IoT, AI, dan 5G, sejalan dengan tren peningkatan serangan siber yang menargetkan negara ini,” kata Kuznetsov.
Seiring serangan siber yang semakin canggih, dia menilai pertahanan siber Indonesia seharusnya tidak lagi terbatas pada pengamanan sistem, melainkan menjadi bagian dari strategi pertahanan aktif. Melindungi infrastruktur informasi vital (VII) nasional merupakan langkah yang patut dilakukan pemerintah Indonesia.
Pemerintah harus menggabungkan pembagian intelijen ancaman berkelanjutan, respons insiden yang cepat, dan kolaborasi publik-swasta yang lebih kuat untuk mendeteksi, menghentikan, dan mencegah serangan-serangan ini. Semua perlu dilakukan sebelum berdampak pada infrastruktur penting dan mempengaruhi kepercayaan publik.
“Bangsa yang berhasil dalam persaingan digital bukanlah bangsa dengan peralatan termahal, melainkan bangsa yang mampu membangun postur digital aktif, dimulai dengan kombinasi kemampuan teknis, kesadaran yang kuat, dan keberanian untuk bertindak sebelum serangan terjadi,” tuturnya.
Baca juga: Dark AI Jadi Pedang Baru Penjahat Siber di Dunia Maya
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.