Persiapan Sudah 95 Persen, Teater Koma Siap All Out Pentaskan Lakon Mencari Semar
13 August 2025 |
11:03 WIB
1
Like
Like
Like
Teater Koma siap kembali memukau penikmat seni dengan menggelar produksi terbarunya bertajuk Mencari Semar. Lakon yang menandai pentas ke-235 dari kelompok teater yang didirikan mendiang Nano Riantiarno ini bakal digelar pada 13-17 Agustus 2025 di Ciputra Artpreneur Theater, Jakarta Pusat.
Pertunjukan ini bukan sekadar pementasan biasa. Mengusung naskah fantasi yang memadukan mitologi Jawa dengan alur cerita futuristik, Mencari Semar menjanjikan kekayaan elemen mulai dari kekuatan narasi, visual memukau, musik, tarian, hingga teknologi panggung, yang semuanya dirangkai dalam satu pengalaman teater yang imersif.
Sutradara Rangga Riantiarno mengatakan berbagai latihan intensif sudah dimulai sejak Mei 2025 lalu. Selama dua setengah bulan terakhir, dirinya dan tim banyak berkutat dengan penguasaan naskah, koreografi, tata panggung, hingga pencahayaan dan musik pengiring.
"Sekarang sudah 95 persen. Sudah asyik banget buat ditonton, saya tadi saja duduk di kursi penonton. Ya, sisa 5 persen tinggal ketepatan saja, kayak cahaya, musik, suara, atau ada yang kesandung-sandung, itu biasa," ungkap Rangga.
Baca juga: Plunge, Lakon Teater Tentang Perempuan yang Menolak Dilupakan
Rangga menjelaskan, Teater Koma kembali menghadirkan tokoh Semar karena beberapa pementasan terakhir memang berkaitan dengan dunia pewayangan. Saat pandemi Covid-19, mereka sempat membawakan seri Punakawan, yang sebagian besar pemainnya juga terlibat di pentas kali ini, kecuali Emanuel yang kini memerankan Gareng.
Situasi itu membuatnya lebih mudah menulis naskah karena sudah mengenal gaya akting tiap pemain. Selain itu, dirinya juga merasa proses latihan kali ini juga terasa lebih hidup dan menyenangkan.
Berbekal pengalaman membawakan peran di panggung sebelumnya, para pemain bisa lebih cepat menjiwai karakter. Eksplorasi saat latihan pun berjalan lancar, kreatif, dan penuh ide baru.
Meski begitu, tantangan tetap ada, katanya, terutama bagi pemain yang memerankan karakter robot. Mereka harus melakukan riset mendalam untuk mempelajari gerak, suara, dan ekspresi yang pas. Rangga melihatnya sebagai kesempatan berharga bagi para aktor untuk mengembangkan kemampuan mereka ke arah yang berbeda.
"Ceritanya terinspirasi dari lakon-lakon wayang Teater Koma sebelumnya, dipadukan dengan kemajuan teknologi yang mendekati kisah fiksi ilmiah yang saya kenal, sehingga menghadirkan pentas wayang yang dibumbui sedikit unsur fiksi ilmiah," imbuhnya.
Rangga menambahkan saat menggarap naskah ini, dirinya juga terinspirasi dari karya-karya mendiang ayahnya, N. Riantiarno, yang selalu memasukkan lirik lagu ke dalam naskah. Tradisi itu dia teruskan dalam pementasan Mencari Semar.
Di luar itu, Rangga menyebut elemen khas Teater Koma tetap hadir kuat, mulai dari kostum penuh warna, nyanyian jenaka, hingga tarian teatrikal dan humor cerdas yang relevan dengan keadaan saat ini. Dengan pendekatan visual yang sinematik dan struktur panggung yang fleksibel, pementasan ini diharapkan mampu memberikan pengalaman teater yang segar, relevan, dan memikat lintas generasi.
Sementara itu, Produser Ratna Riantiarno mengungkapkan, tahun ini Teater Koma telah menginjak usia ke-48. Sejak berdiri pada 1977, kelompok teater ini berusaha menjaga konsistensi dengan menghadirkan dua produksi panggung setiap tahunnya.
Konsistensi tersebut, menurut Ratna, mendapat sambutan hangat dari para penonton setia. Dukungan mereka bahkan datang dari tiga hingga empat generasi, yang terus mengikuti karya-karya Teater Koma dari masa ke masa.
Bagi Ratna, apresiasi tersebut menjadi sumber energi dan motivasi untuk tetap berkarya. Dia menegaskan semangat tersebut penting agar Teater Koma bisa terus bertahan dan relevan di tengah tantangan serta perubahan zaman.
"Momentum ini kami jaga sebagai bagian dari perjalanan menuju ulang tahun ke-50 Teater Koma pada 2027, sekaligus ungkapan terima kasih atas dukungan dan energi penonton yang membuat kami semangat berkarya dan tidak pernah titik, selalu Koma,” ujar Ratna.
Ditulis dan disutradarai oleh Rangga Riantiarno, Mencari Semar mengisahkan tentang Semar, sang panakawan bijak yang menyimpan pusaka sakti bernama Jimat Kalimasada dalam tubuhnya di masa pensiunnya.
Seiring berjalannya waktu, dari masa depan, muncul Kekaisaran Nimacha, sebuah peradaban futuristik yang hidupnya terbangun karena ada Perintah Utama, tetapi kemudian terancam punah pula olehnya.
Mereka menemukan catatan sejarah tentang Kalimasada dan meyakini bahwa jimat itu mampu menulis ulang Perintah Utama. Demi menguasainya, para Agen ditugaskan untuk mencari Semar dan membawanya ke Ruang Putih, ruang ilusi yang dirancang untuk menarik keluar Kalimasada.
Pementasan Mencari Semar berlangsung setiap hari mulai 13 hingga 17 Agustus 2025, pukul 19.30 WIB, dengan dua pertunjukan khusus di hari Sabtu (16 Agustus) pada pukul 13.30 dan 19.30, serta Minggu (17 Agustus) pukul 13.30 WIB.
Tiket pertunjukan masih tersedia dan dapat diperoleh melalui situs resmi Teater Koma dan melalui platform pembelian tiket. Harga tiket bervariasi mulai dari Rp100.000 hingga Rp850.000.
Baca juga: 7 Pertunjukan Seni Siap Digelar Agustus 2025, Teater Koma hingga Konser Jumbo
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Pertunjukan ini bukan sekadar pementasan biasa. Mengusung naskah fantasi yang memadukan mitologi Jawa dengan alur cerita futuristik, Mencari Semar menjanjikan kekayaan elemen mulai dari kekuatan narasi, visual memukau, musik, tarian, hingga teknologi panggung, yang semuanya dirangkai dalam satu pengalaman teater yang imersif.
Sutradara Rangga Riantiarno mengatakan berbagai latihan intensif sudah dimulai sejak Mei 2025 lalu. Selama dua setengah bulan terakhir, dirinya dan tim banyak berkutat dengan penguasaan naskah, koreografi, tata panggung, hingga pencahayaan dan musik pengiring.
"Sekarang sudah 95 persen. Sudah asyik banget buat ditonton, saya tadi saja duduk di kursi penonton. Ya, sisa 5 persen tinggal ketepatan saja, kayak cahaya, musik, suara, atau ada yang kesandung-sandung, itu biasa," ungkap Rangga.
Baca juga: Plunge, Lakon Teater Tentang Perempuan yang Menolak Dilupakan

Seniman dari Teater Koma mementaskan Mencari Semar di Ciputra Artpreneur, Jakarta, Selasa (12/8/2025). Bisnis/Robby Fathan
Situasi itu membuatnya lebih mudah menulis naskah karena sudah mengenal gaya akting tiap pemain. Selain itu, dirinya juga merasa proses latihan kali ini juga terasa lebih hidup dan menyenangkan.
Berbekal pengalaman membawakan peran di panggung sebelumnya, para pemain bisa lebih cepat menjiwai karakter. Eksplorasi saat latihan pun berjalan lancar, kreatif, dan penuh ide baru.
Meski begitu, tantangan tetap ada, katanya, terutama bagi pemain yang memerankan karakter robot. Mereka harus melakukan riset mendalam untuk mempelajari gerak, suara, dan ekspresi yang pas. Rangga melihatnya sebagai kesempatan berharga bagi para aktor untuk mengembangkan kemampuan mereka ke arah yang berbeda.
"Ceritanya terinspirasi dari lakon-lakon wayang Teater Koma sebelumnya, dipadukan dengan kemajuan teknologi yang mendekati kisah fiksi ilmiah yang saya kenal, sehingga menghadirkan pentas wayang yang dibumbui sedikit unsur fiksi ilmiah," imbuhnya.
Rangga menambahkan saat menggarap naskah ini, dirinya juga terinspirasi dari karya-karya mendiang ayahnya, N. Riantiarno, yang selalu memasukkan lirik lagu ke dalam naskah. Tradisi itu dia teruskan dalam pementasan Mencari Semar.
Di luar itu, Rangga menyebut elemen khas Teater Koma tetap hadir kuat, mulai dari kostum penuh warna, nyanyian jenaka, hingga tarian teatrikal dan humor cerdas yang relevan dengan keadaan saat ini. Dengan pendekatan visual yang sinematik dan struktur panggung yang fleksibel, pementasan ini diharapkan mampu memberikan pengalaman teater yang segar, relevan, dan memikat lintas generasi.
Sementara itu, Produser Ratna Riantiarno mengungkapkan, tahun ini Teater Koma telah menginjak usia ke-48. Sejak berdiri pada 1977, kelompok teater ini berusaha menjaga konsistensi dengan menghadirkan dua produksi panggung setiap tahunnya.
Konsistensi tersebut, menurut Ratna, mendapat sambutan hangat dari para penonton setia. Dukungan mereka bahkan datang dari tiga hingga empat generasi, yang terus mengikuti karya-karya Teater Koma dari masa ke masa.
Bagi Ratna, apresiasi tersebut menjadi sumber energi dan motivasi untuk tetap berkarya. Dia menegaskan semangat tersebut penting agar Teater Koma bisa terus bertahan dan relevan di tengah tantangan serta perubahan zaman.
"Momentum ini kami jaga sebagai bagian dari perjalanan menuju ulang tahun ke-50 Teater Koma pada 2027, sekaligus ungkapan terima kasih atas dukungan dan energi penonton yang membuat kami semangat berkarya dan tidak pernah titik, selalu Koma,” ujar Ratna.

Seniman dari Teater Koma mementaskan Mencari Semar di Ciputra Artpreneur, Jakarta, Selasa (12/8/2025). Bisnis/Robby Fathan
Seiring berjalannya waktu, dari masa depan, muncul Kekaisaran Nimacha, sebuah peradaban futuristik yang hidupnya terbangun karena ada Perintah Utama, tetapi kemudian terancam punah pula olehnya.
Mereka menemukan catatan sejarah tentang Kalimasada dan meyakini bahwa jimat itu mampu menulis ulang Perintah Utama. Demi menguasainya, para Agen ditugaskan untuk mencari Semar dan membawanya ke Ruang Putih, ruang ilusi yang dirancang untuk menarik keluar Kalimasada.
Pementasan Mencari Semar berlangsung setiap hari mulai 13 hingga 17 Agustus 2025, pukul 19.30 WIB, dengan dua pertunjukan khusus di hari Sabtu (16 Agustus) pada pukul 13.30 dan 19.30, serta Minggu (17 Agustus) pukul 13.30 WIB.
Tiket pertunjukan masih tersedia dan dapat diperoleh melalui situs resmi Teater Koma dan melalui platform pembelian tiket. Harga tiket bervariasi mulai dari Rp100.000 hingga Rp850.000.
Baca juga: 7 Pertunjukan Seni Siap Digelar Agustus 2025, Teater Koma hingga Konser Jumbo
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.