Ekspor Sepatu Indonesia Menguat, Pemerintah Dorong Modernisasi Industri Alas Kaki
15 August 2025 |
06:44 WIB
Prospek ekspor produk sepatu terus menunjukkan tren positif, menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu produsen alas kaki terbesar di dunia. Data Kementerian Perindustrian mencatat, ekspor alas kaki nasional sepanjang Januari–Maret 2025 mencapai US$1,89 miliar, tumbuh 13,80 persen secara tahunan.
Posisi Indonesia pun menguat di tingkat global, yakni berada di peringkat ke-6 eksportir alas kaki terbesar dunia dengan pangsa pasar 3,99 persen.
Namun, tantangan global seperti perubahan regulasi perdagangan, ketegangan geopolitik, hingga tuntutan standar produksi yang semakin ketat, mendorong pemerintah memperkuat daya saing industri lewat modernisasi teknologi dan promosi terpadu.
Baca juga: Pasar Sepatu Ramah Lingkungan Penuh Tantangan, Node Organic Beralih ke Bisnis Bio-Kimia
Upaya ini ditunjukkan melalui Indo Leather & Footwear (ILF) Expo dan Indo Garment Textile (IGT) Expo 2025 yang digelar pada 14–16 Agustus 2025 di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Pameran internasional ini menghadirkan lebih dari 280 peserta, termasuk 70 UMKM, dari 11 negara, serta menargetkan 15.000 pengunjung dari dalam dan luar negeri.
Staf Ahli Menteri Bidang Penguatan Kemampuan Industri Dalam Negeri, Adie Rochmanto Pandiangan menegaskan bahwa ajang ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat ekosistem industri dari hulu ke hilir.
“Ekspor sepatu kita sudah membaik, tapi kita harus siap menghadapi disrupsi global dan memenuhi standar ketat pasar internasional, termasuk kewajiban penggunaan bahan baku lokal sejak tahap produksi,” ujarnya.
Adi juga menyoroti pentingnya pembaruan teknologi produksi. Menurutnya, masih banyak mesin industri yang sudah berusia puluhan tahun. “Untuk meningkatkan produktivitas dan menghasilkan produk bernilai tambah tinggi, pembaruan dengan teknologi digital adalah keharusan. Tanpa itu, sulit bagi kita bersaing di pasar global,” tegasnya.
Selain Kemenperin, dukungan juga datang dari Kementerian Pariwisata Deputi Bidang Wisata Vinsensius Jemadu menilai bahwa industri alas kaki, kulit, dan tekstil memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata belanja Indonesia.
"Pameran ini bukan hanya tentang transaksi bisnis, tetapi juga membangun citra Indonesia sebagai destinasi wisata belanja yang menawarkan produk kreatif berkualitas tinggi,” ujarnya.
Vinsensius mendorong agar merek lokal semakin menguat di pasar domestik dan menjadi incaran wisatawan mancanegara.
CEO Krista Exhibitions, Daud D. Salim menyampaikan bahwa ILF dan IGT Expo hadir sebagai wadah untuk menyatukan ide kreatif, kemajuan teknologi, dan potensi kerja sama bisnis.
“Kami ingin memastikan potensi besar Indonesia di sektor kulit dan alas kaki berkembang menjadi kekuatan yang diakui dunia. Pameran ini adalah ruang untuk menginspirasi, membangun kemitraan, dan membuka akses pasar yang lebih luas,” jelasnya.
Selain pameran dagang, acara ini juga menampilkan fashion show, talk show industri, kontes kebaya dan batik dalam rangka HUT RI ke-80, perayaan HUT APRISINDO, serta business matching yang mempertemukan produsen lokal dengan pembeli potensial dari dalam dan luar negeri.
Dengan kombinasi promosi industri dan pariwisata, ILF dan IGT Expo 2025 diharapkan menjadi motor penggerak baru bagi pertumbuhan ekonomi kreatif dan industri manufaktur nasional.
Baca juga: Hypeprofil: Yukka Harlanda dan Perjalanan 15 Tahun Mendirikan Brand Sepatu Brodo
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Posisi Indonesia pun menguat di tingkat global, yakni berada di peringkat ke-6 eksportir alas kaki terbesar dunia dengan pangsa pasar 3,99 persen.
Namun, tantangan global seperti perubahan regulasi perdagangan, ketegangan geopolitik, hingga tuntutan standar produksi yang semakin ketat, mendorong pemerintah memperkuat daya saing industri lewat modernisasi teknologi dan promosi terpadu.
Baca juga: Pasar Sepatu Ramah Lingkungan Penuh Tantangan, Node Organic Beralih ke Bisnis Bio-Kimia
Upaya ini ditunjukkan melalui Indo Leather & Footwear (ILF) Expo dan Indo Garment Textile (IGT) Expo 2025 yang digelar pada 14–16 Agustus 2025 di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Pameran internasional ini menghadirkan lebih dari 280 peserta, termasuk 70 UMKM, dari 11 negara, serta menargetkan 15.000 pengunjung dari dalam dan luar negeri.
Staf Ahli Menteri Bidang Penguatan Kemampuan Industri Dalam Negeri, Adie Rochmanto Pandiangan menegaskan bahwa ajang ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat ekosistem industri dari hulu ke hilir.
“Ekspor sepatu kita sudah membaik, tapi kita harus siap menghadapi disrupsi global dan memenuhi standar ketat pasar internasional, termasuk kewajiban penggunaan bahan baku lokal sejak tahap produksi,” ujarnya.
Adi juga menyoroti pentingnya pembaruan teknologi produksi. Menurutnya, masih banyak mesin industri yang sudah berusia puluhan tahun. “Untuk meningkatkan produktivitas dan menghasilkan produk bernilai tambah tinggi, pembaruan dengan teknologi digital adalah keharusan. Tanpa itu, sulit bagi kita bersaing di pasar global,” tegasnya.
Selain Kemenperin, dukungan juga datang dari Kementerian Pariwisata Deputi Bidang Wisata Vinsensius Jemadu menilai bahwa industri alas kaki, kulit, dan tekstil memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata belanja Indonesia.
"Pameran ini bukan hanya tentang transaksi bisnis, tetapi juga membangun citra Indonesia sebagai destinasi wisata belanja yang menawarkan produk kreatif berkualitas tinggi,” ujarnya.
Vinsensius mendorong agar merek lokal semakin menguat di pasar domestik dan menjadi incaran wisatawan mancanegara.
CEO Krista Exhibitions, Daud D. Salim menyampaikan bahwa ILF dan IGT Expo hadir sebagai wadah untuk menyatukan ide kreatif, kemajuan teknologi, dan potensi kerja sama bisnis.
“Kami ingin memastikan potensi besar Indonesia di sektor kulit dan alas kaki berkembang menjadi kekuatan yang diakui dunia. Pameran ini adalah ruang untuk menginspirasi, membangun kemitraan, dan membuka akses pasar yang lebih luas,” jelasnya.
Selain pameran dagang, acara ini juga menampilkan fashion show, talk show industri, kontes kebaya dan batik dalam rangka HUT RI ke-80, perayaan HUT APRISINDO, serta business matching yang mempertemukan produsen lokal dengan pembeli potensial dari dalam dan luar negeri.
Dengan kombinasi promosi industri dan pariwisata, ILF dan IGT Expo 2025 diharapkan menjadi motor penggerak baru bagi pertumbuhan ekonomi kreatif dan industri manufaktur nasional.
Baca juga: Hypeprofil: Yukka Harlanda dan Perjalanan 15 Tahun Mendirikan Brand Sepatu Brodo
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.