Perajin Alas Kaki & Produk Kulit Punya Cara Kreatif Tembus Pasar Global
10 August 2025 |
16:00 WIB
Industri kulit dan alas kaki Indonesia memasuki fase pertumbuhan yang menjanjikan. Kualitas produk yang diakui pasar internasional telah membuka peluang baru, tidak hanya bagi produsen besar, tetapi juga bagi pelaku industri kecil dan menengah (IKM) untuk menembus pasar ekspor.
Data Kementerian Perindustrian mencatat, ekspor alas kaki nasional sepanjang Januari–Maret 2025 mencapai US$1,89 miliar, tumbuh 13,80 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Posisi Indonesia pun menguat di tingkat global, yakni berada di peringkat ke-6 eksportir alas kaki terbesar dunia dengan pangsa pasar 3,99 persen.
Baca juga: 5 Strategi UMKM Indonesia Menembus Pasar Ekspor Australia
Amerika Serikat menjadi pasar utama, sementara Eropa terutama Jerman, Belanda, dan Belgia serta Asia seperti Jepang, China, dan Korea Selatan menjadi target strategis. Kinerja ini membuktikan bahwa produk buatan Indonesia semakin diakui kualitasnya di kancah internasional.
“Produk-produk kita kini tidak hanya diterima, tetapi juga diakui secara global karena kualitas dan daya saingnya yang semakin kuat,” ujar Daud D. Salim, CEO Krista Exhibitions, penyelenggara Indo Leather & Footwear (ILF) Expo 2025.
Masuknya Indonesia dalam jajaran eksportir papan atas dunia itu menciptakan kebutuhan terhadap pemasok bahan baku, komponen, hingga produk jadi yang berkualitas dan inovatif. IKM yang mampu memanfaatkan momentum ini bisa mengisi ceruk pasar, mulai dari pembuatan sepatu berbahan kulit lokal, desain khusus berbasis wastra, hingga produksi aksesori kulit untuk fashion dan furnitur.
Untuk dapat memperluas pasar di kancah internasional, ada beberapa langkah strategis yang dapat diambil pelaku usaha. Pertama, dengan melakukan inovasi produk, pelaku usaha bisa menawarkan desain yang unik, nyaman, dan fungsional, termasuk menggabungkan elemen lokal seperti tenun atau batik dengan desain modern.
Kedua, gunakan bahan baku yang berkualitas. Utamakan kulit dan material berkualitas tinggi yang sesuai standar internasional, termasuk sertifikasi ramah lingkungan. Ketiga, lakukan branding dan storytelling denga mengangkat cerita tentang proses pembuatan, nilai budaya, atau keberlanjutan produk untuk menarik konsumen global yang semakin sadar etika produksi.
Keempat, lakukan digitalisasi pemasaran dengan memanfaatkan e-commerce lintas negara dan media sosial untuk menjangkau pembeli internasional. Kelima, kolaborasi industri dengan bermitra bersama produsen besar, asosiasi, atau desainer untuk memperluas jaringan dan mendapatkan akses pasar.
Keenam, dengan ikut serta dalam berbagai ajang pameran baik nasioal maupun internasional, Salah satunya seperti Indo Leather & Footwear (ILF) Expo 2025 yang akan berlangsung 14–16 Agustus 2025. “Pameran ini bisa menjadi wadah strategis bagi pelaku UMKM untuk bertemu langsung dengan pembeli potensial dari dalam dan luar negeri,” tutur Daud.
Pada tahun ini, pameran menghadirkan lebih dari 280 peserta, termasuk 50 UMKM, dari 11 negara, dengan target 15.000 pengunjung. Selain memamerkan produk, ILF Expo juga menggelar business matching dan networking dinner yang mempertemukan pelaku industri dengan asosiasi seperti APRISINDO, APRINDO, dan APPMI.
Dengan momentum ekspor yang terus meningkat, dukungan pemerintah, dan adanya ajang pameran berskala internasional, UMKM di sektor kulit dan alas kaki memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya di rantai pasok global. Kuncinya ada pada inovasi, kualitas, dan kemampuan membangun jejaring.
Data Kementerian Perindustrian mencatat, ekspor alas kaki nasional sepanjang Januari–Maret 2025 mencapai US$1,89 miliar, tumbuh 13,80 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Posisi Indonesia pun menguat di tingkat global, yakni berada di peringkat ke-6 eksportir alas kaki terbesar dunia dengan pangsa pasar 3,99 persen.
Baca juga: 5 Strategi UMKM Indonesia Menembus Pasar Ekspor Australia
Amerika Serikat menjadi pasar utama, sementara Eropa terutama Jerman, Belanda, dan Belgia serta Asia seperti Jepang, China, dan Korea Selatan menjadi target strategis. Kinerja ini membuktikan bahwa produk buatan Indonesia semakin diakui kualitasnya di kancah internasional.
“Produk-produk kita kini tidak hanya diterima, tetapi juga diakui secara global karena kualitas dan daya saingnya yang semakin kuat,” ujar Daud D. Salim, CEO Krista Exhibitions, penyelenggara Indo Leather & Footwear (ILF) Expo 2025.
Masuknya Indonesia dalam jajaran eksportir papan atas dunia itu menciptakan kebutuhan terhadap pemasok bahan baku, komponen, hingga produk jadi yang berkualitas dan inovatif. IKM yang mampu memanfaatkan momentum ini bisa mengisi ceruk pasar, mulai dari pembuatan sepatu berbahan kulit lokal, desain khusus berbasis wastra, hingga produksi aksesori kulit untuk fashion dan furnitur.
Untuk dapat memperluas pasar di kancah internasional, ada beberapa langkah strategis yang dapat diambil pelaku usaha. Pertama, dengan melakukan inovasi produk, pelaku usaha bisa menawarkan desain yang unik, nyaman, dan fungsional, termasuk menggabungkan elemen lokal seperti tenun atau batik dengan desain modern.
Kedua, gunakan bahan baku yang berkualitas. Utamakan kulit dan material berkualitas tinggi yang sesuai standar internasional, termasuk sertifikasi ramah lingkungan. Ketiga, lakukan branding dan storytelling denga mengangkat cerita tentang proses pembuatan, nilai budaya, atau keberlanjutan produk untuk menarik konsumen global yang semakin sadar etika produksi.
Keempat, lakukan digitalisasi pemasaran dengan memanfaatkan e-commerce lintas negara dan media sosial untuk menjangkau pembeli internasional. Kelima, kolaborasi industri dengan bermitra bersama produsen besar, asosiasi, atau desainer untuk memperluas jaringan dan mendapatkan akses pasar.
Keenam, dengan ikut serta dalam berbagai ajang pameran baik nasioal maupun internasional, Salah satunya seperti Indo Leather & Footwear (ILF) Expo 2025 yang akan berlangsung 14–16 Agustus 2025. “Pameran ini bisa menjadi wadah strategis bagi pelaku UMKM untuk bertemu langsung dengan pembeli potensial dari dalam dan luar negeri,” tutur Daud.
Pada tahun ini, pameran menghadirkan lebih dari 280 peserta, termasuk 50 UMKM, dari 11 negara, dengan target 15.000 pengunjung. Selain memamerkan produk, ILF Expo juga menggelar business matching dan networking dinner yang mempertemukan pelaku industri dengan asosiasi seperti APRISINDO, APRINDO, dan APPMI.
Dengan momentum ekspor yang terus meningkat, dukungan pemerintah, dan adanya ajang pameran berskala internasional, UMKM di sektor kulit dan alas kaki memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya di rantai pasok global. Kuncinya ada pada inovasi, kualitas, dan kemampuan membangun jejaring.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.