Pasar Sepatu Ramah Lingkungan Penuh Tantangan, Node Organic Beralih ke Bisnis Bio-Kimia
11 July 2025 |
13:30 WIB
Dalam beberapa tahun terakhir, isu keberlanjutan mulai mendapat tempat di berbagai sektor industri, tak terkecuali fesyen. Sepatu ramah lingkungan menjadi salah satu inovasi yang digadang-gadang bisa menjadi solusi atas limbah tekstil dan karet sintetis yang mencemari bumi.
Namun, di balik semangat hijau tersebut, realita di lapangan tidak selalu sejalan. Hal itu dirasakan langsung oleh David Chrisnaldi, pendiri Node, brand lokal yang pernah mencoba membangun ekosistem sepatu berkelanjutan di Indonesia.
Baca juga: Bisnis Kemasan Ramah Lingkungan Kian Dilirik, Ini Peluang & Tantangannya
David meluncurkan Node Organic pada Oktober 2020 dengan visi menghadirkan sepatu berbasis biomaterial, seperti outsole biodegradable dan kain dari bahan nabati, yang tidak hanya nyaman dipakai, tetapi juga ramah lingkungan dari awal hingga akhir siklus hidupnya.
Selama empat tahun, Node menjalani proses produksi dan distribusi skala kecil, bahkan sempat menjalin kolaborasi dengan Eiger di 2023. Selain itu, mereka juga perah menyuplai outsole biodegradable untuk Orba Shoes di Selandia Baru pada 2021, produk yang kemudian memenangkan sejumlah penghargaan internasional.
Di balik pencapaian tersebut, David mengakui bahwa pasar sepatu ramah lingkungan di Indonesia masih belum siap. Apalagi sepatu ini dijual dengan harga mulai dari Rp350.000 hingga Rp1 juta .
“Kami tidak memiliki competitive advantage untuk menjadikan bisnis sepatu kami sebagai perusahaan besar dan memberikan dampak positif yang luas bagi masyarakat. Permintaan stagnan dari 2020 sampai 2023, dan justru menurun di 2024,” ujar David.
Menurutnya, masyarakat Indonesia belum menjadikan isu keberlanjutan sebagai faktor utama dalam membeli sepatu. Sementara dari sisi ekosistem, tantangannya pun tak kalah besar. Pasalnya, membuat sepatu ramah lingkungan bukan sekadar mengganti bahan sintetis dengan bahan daur ulang atau nabati.
Justru tantangan terbesarnya ada pada konsistensi penggunaan material yang sejalan dari hulu ke hilir. Menurut David, untuk membuat sepatu ramah lingkungan yang sesuai dengan prinsip cradle to cradle, semua komponennya harus bisa didaur ulang atau terurai dengan aman di alam.
“Kalau benangnya dari plastik daur ulang tapi outsole-nya biodegradable, itu malah jadi masalah. Lem-nya beda, konstruksinya beda, dan ujung-ujungnya tetap menyumbang mikroplastik ke tanah,” jelasnya.
Secara umum, sepatu berkelanjutan terbagi dua yaitu berbasis material daur ulang dan berbasis material biodegradable. Sayangnya, kombinasi keduanya justru sering menimbulkan masalah baru jika tidak ditangani dengan rekayasa material dan proses yang holistik.
“Kalau kain dari plastik daur ulang dipasangkan dengan outsole biodegradable, lemnya sering tidak cocok. Akhirnya harus dijahit, dan pilihan benang sintetis lebih banyak warnanya. Ketika sepatu rusak dan dibuang, bagian biodegradable memang hancur, tapi bagian daur ulang justru menyumbang mikroplastik ke tanah,” jelasnya.
Sepatu dari bahan nabati lebih nyaman dipakai karena lebih sejuk, grip kuat, dan empuk. Sebaliknya, sepatu dari bahan daur ulang cenderung panas, keras, licin, dan bau kimia menyengat. “Kalau ingin sepatu yang benar-benar ramah lingkungan dan berdampak besar, riset material harus tuntas dulu,” tuturnya.
Sayangnya di Indonesia, teknologi dan variasi material yang mendukung hal ini masih sangat terbatas mulai dari benang, kain, hingga lem. “Semuanya belum lengkap. Ekosistemnya belum terbentuk,” katanya.
Hal ini pula yang menjadi salah satu alasan utama mengapa David memutuskan untuk mempivot bisnisnya ke bidang bahan baku kimia nabati yang lebih menjanjikan secara industri. Selain karena permintaan untuk sepatu sustainable di Indonesia masih minim, ekosistemya juga belum matang.
Pada awal 2025, David akhirnya secara resmi menghentikan lini sepatu Node Organic dan bertransformasi menjadi Node Biochemicals. Hal ini tidak lepas juga dari banyaknya calon pembeli luar negeri saat dirinya mengikuti pameran di Australia dan Spanyol, yang justru tertarik pada teknologi karet biosilika sekam padi Node, bukan sepatunya.
“Mereka tanya, bisa enggak kirim bahan baku Biosilika sekam padinya dan Comptibilizer nya saja karena pabrik mereka ada di Vietnam. Permintaan semacam ini yang mendorong kami memutuskan untuk pivot ke bio-kimia.”
Selama ini, David memang telah mengembangkan biosilika dari sekam padi (BSB-90 dan BS-95) serta compatibilizer CMZ-E yang kini dipatenkan, untuk kebutuhan produksi barang jadi karet.
Setelah diperkenalkan kepada sejumlah relasi, permintaan sampel mulai berdatangan dari berbagai distributor kimia di Bulgaria dan Hong Kong, serta dari produsen sepatu berskala besar di Taiwan.
Beberapa pabrik karet lokal yang memproduksi outsole, insole, komponen otomotif, dan ban kendaraan juga menunjukkan ketertarikan. Hingga saat ini, produk Biosilika dan CMZ-E yang telah digunakan langsung oleh para pembeli tidak pernah menerima keluhan.
Dengan bahan baku yang kini dicari sebagai solusi pengganti bahan kimia sintetis dalam industri karet, Node melihat peluang pasar yang jauh lebih besar, hingga US$1,5 miliar secara global.
“Fokus kami sekarang cost-down dan keberlanjutan. Buyer mau mencoba kalau harga bisa bersaing, dan keberlanjutan jadi ‘bonus’,” ungkap David.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Namun, di balik semangat hijau tersebut, realita di lapangan tidak selalu sejalan. Hal itu dirasakan langsung oleh David Chrisnaldi, pendiri Node, brand lokal yang pernah mencoba membangun ekosistem sepatu berkelanjutan di Indonesia.
Baca juga: Bisnis Kemasan Ramah Lingkungan Kian Dilirik, Ini Peluang & Tantangannya
David meluncurkan Node Organic pada Oktober 2020 dengan visi menghadirkan sepatu berbasis biomaterial, seperti outsole biodegradable dan kain dari bahan nabati, yang tidak hanya nyaman dipakai, tetapi juga ramah lingkungan dari awal hingga akhir siklus hidupnya.
Selama empat tahun, Node menjalani proses produksi dan distribusi skala kecil, bahkan sempat menjalin kolaborasi dengan Eiger di 2023. Selain itu, mereka juga perah menyuplai outsole biodegradable untuk Orba Shoes di Selandia Baru pada 2021, produk yang kemudian memenangkan sejumlah penghargaan internasional.
Di balik pencapaian tersebut, David mengakui bahwa pasar sepatu ramah lingkungan di Indonesia masih belum siap. Apalagi sepatu ini dijual dengan harga mulai dari Rp350.000 hingga Rp1 juta .
“Kami tidak memiliki competitive advantage untuk menjadikan bisnis sepatu kami sebagai perusahaan besar dan memberikan dampak positif yang luas bagi masyarakat. Permintaan stagnan dari 2020 sampai 2023, dan justru menurun di 2024,” ujar David.
Menurutnya, masyarakat Indonesia belum menjadikan isu keberlanjutan sebagai faktor utama dalam membeli sepatu. Sementara dari sisi ekosistem, tantangannya pun tak kalah besar. Pasalnya, membuat sepatu ramah lingkungan bukan sekadar mengganti bahan sintetis dengan bahan daur ulang atau nabati.
Justru tantangan terbesarnya ada pada konsistensi penggunaan material yang sejalan dari hulu ke hilir. Menurut David, untuk membuat sepatu ramah lingkungan yang sesuai dengan prinsip cradle to cradle, semua komponennya harus bisa didaur ulang atau terurai dengan aman di alam.
“Kalau benangnya dari plastik daur ulang tapi outsole-nya biodegradable, itu malah jadi masalah. Lem-nya beda, konstruksinya beda, dan ujung-ujungnya tetap menyumbang mikroplastik ke tanah,” jelasnya.
Secara umum, sepatu berkelanjutan terbagi dua yaitu berbasis material daur ulang dan berbasis material biodegradable. Sayangnya, kombinasi keduanya justru sering menimbulkan masalah baru jika tidak ditangani dengan rekayasa material dan proses yang holistik.
“Kalau kain dari plastik daur ulang dipasangkan dengan outsole biodegradable, lemnya sering tidak cocok. Akhirnya harus dijahit, dan pilihan benang sintetis lebih banyak warnanya. Ketika sepatu rusak dan dibuang, bagian biodegradable memang hancur, tapi bagian daur ulang justru menyumbang mikroplastik ke tanah,” jelasnya.
Sepatu dari bahan nabati lebih nyaman dipakai karena lebih sejuk, grip kuat, dan empuk. Sebaliknya, sepatu dari bahan daur ulang cenderung panas, keras, licin, dan bau kimia menyengat. “Kalau ingin sepatu yang benar-benar ramah lingkungan dan berdampak besar, riset material harus tuntas dulu,” tuturnya.
Sayangnya di Indonesia, teknologi dan variasi material yang mendukung hal ini masih sangat terbatas mulai dari benang, kain, hingga lem. “Semuanya belum lengkap. Ekosistemnya belum terbentuk,” katanya.
Hal ini pula yang menjadi salah satu alasan utama mengapa David memutuskan untuk mempivot bisnisnya ke bidang bahan baku kimia nabati yang lebih menjanjikan secara industri. Selain karena permintaan untuk sepatu sustainable di Indonesia masih minim, ekosistemya juga belum matang.
Pada awal 2025, David akhirnya secara resmi menghentikan lini sepatu Node Organic dan bertransformasi menjadi Node Biochemicals. Hal ini tidak lepas juga dari banyaknya calon pembeli luar negeri saat dirinya mengikuti pameran di Australia dan Spanyol, yang justru tertarik pada teknologi karet biosilika sekam padi Node, bukan sepatunya.
“Mereka tanya, bisa enggak kirim bahan baku Biosilika sekam padinya dan Comptibilizer nya saja karena pabrik mereka ada di Vietnam. Permintaan semacam ini yang mendorong kami memutuskan untuk pivot ke bio-kimia.”
Selama ini, David memang telah mengembangkan biosilika dari sekam padi (BSB-90 dan BS-95) serta compatibilizer CMZ-E yang kini dipatenkan, untuk kebutuhan produksi barang jadi karet.
Setelah diperkenalkan kepada sejumlah relasi, permintaan sampel mulai berdatangan dari berbagai distributor kimia di Bulgaria dan Hong Kong, serta dari produsen sepatu berskala besar di Taiwan.
Beberapa pabrik karet lokal yang memproduksi outsole, insole, komponen otomotif, dan ban kendaraan juga menunjukkan ketertarikan. Hingga saat ini, produk Biosilika dan CMZ-E yang telah digunakan langsung oleh para pembeli tidak pernah menerima keluhan.
Dengan bahan baku yang kini dicari sebagai solusi pengganti bahan kimia sintetis dalam industri karet, Node melihat peluang pasar yang jauh lebih besar, hingga US$1,5 miliar secara global.
“Fokus kami sekarang cost-down dan keberlanjutan. Buyer mau mencoba kalau harga bisa bersaing, dan keberlanjutan jadi ‘bonus’,” ungkap David.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.