Mahasiswa UPH sebagai bagian dari generasi muda (Sumber gambar: UPH)

Mendiktisaintek Ungkap Karakter Generasi Muda untuk Bisa Bersaing di Kancah Global

15 August 2025   |   07:50 WIB
Image
Dewi Andriani Jurnalis Hypeabis.id

Di tengah arus globalisasi dan revolusi teknologi, generasi muda Indonesia menghadapi realitas ganda. Di satu sisi, mereka hidup pada era penuh peluang dengan akses informasi tanpa batas. Di sisi lain, mereka juga dihadapkan pada pengaruh budaya instan hingga tekanan ekonomi yang menuntut adaptasi cepat. 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, sekitar 25 persen populasi Indonesia adalah pemuda berusia 16–30 tahun. Kelompok ini merupakan bonus demografi yang berpotensi menjadi motor penggerak kemajuan. Akan tetapi, potensi tersebut hanya akan terwujud jika dibarengi dengan kualitas sumber daya manusia yang unggul dan karakter yang kuat.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menilai bahwa meski Indonesia memiliki potensi besar, baik dari sisi sumber daya alam maupun jumlah penduduk, posisi negara ini masih tertinggal dibandingkan negara maju. 

Baca juga: Mengenal Istilah Mental Strawberry yang Identik dengan Generasi Muda 

Saat ini, pendapatan per kapita Indonesia berada di kisaran US$5.000 per tahun per orang, jauh di bawah ambang US$15.000 yang menjadi indikator kemajuan. 

Menurutnya, mahasiswa dan anak muda yang mendapatkan kesempatan menempuh pendidikan tinggi adalah kelompok terpilih. Mereka memikul tanggung jawab besar untuk membantu membawa 300 juta penduduk Indonesia menuju kesejahteraan. 

“Ini sulit tapi bukan mustahil. Untuk mencapainya kita harus membangun fondasi industri yang kuat dan meningkatkan kualitas pendidikan tinggi,” ujarnya saat memberikan sambutan dalam UPH Festival 2025, Distinguished Guest Speaker, Kamis (14/8/2025). 

Dia menekankan pentingnya memiliki mimpi besar, tekad yang kuat dan karakter pantang menyerah. Dia menyebut, banyak tokoh dunia yang memiliki tiga kesamaan yang bisa dicontoh oleh para generasi muda untuk dapat berkembang yakni keberanian, kegigihan, dan keyakinan.

“Perbedaan antara mereka yang berhasil dan yang tidak terletak pada kemauan untuk bangkit kembali setelah gagal. Jangan mudah menyerah,” ujarnya. 
 

Mendiktisaintek Brian Yuliarto berpidato di depan mahasiswa UPH (Sumber gambar: UPH)

Mendiktisaintek Brian Yuliarto berpidato di depan mahasiswa UPH (Sumber gambar: UPH)

Mendiktisaintek juga menekankan pentingnya fighting spirit, yakni daya juang yang konsisten, agar generasi muda mampu bersaing di kancah global. Dia membandingkan etos kerja mahasiswa Korea Selatan yang rela mempresentasikan riset hingga larut malam, dengan mahasiswa di Indonesia yang cenderung cepat puas. 

“Nasionalisme kita jangan berhenti di simbol bendera. Bendera kita harus hadir dalam bentuk produk-produk unggulan yang diakui dunia. Kita harus bermimpi menciptakan karya yang membuat bendera Indonesia berkibar di pasar global,” tegasnya.

Senada dengan itu, Founder dan Chairman Yayasan Pendidikan Pelita Harapan, James Riady, menegaskan bahwa pendidikan sejati bukan sekadar transfer pengetahuan dan keterampilan. 

“Pendidikan adalah proses membangun karakter, menanamkan nilai kebenaran, serta mempersiapkan hati untuk melayani. Kita belajar bukan hanya untuk sukses pribadi, tetapi juga untuk melayani sesama, membangun bangsa, dan memuliakan Tuhan,” ungkapnya. 

Sementara itu, Menteri Kesehatan Budi Sadikin mengingatkan bahwa kemajuan suatu bangsa juga ditentukan oleh kualitas hidup warganya. Menurutnya, pendidikan dan kesehatan adalah dua pilar yang tidak dapat dipisahkan dalam membangun masyarakat yang produktif dan sejahtera. 

“Indonesia harus menjadi negara yang bukan hanya pintar, tetapi juga sehat dan adil bagi semua. Peran generasi muda sangat krusial untuk mewujudkannya,” katanya. 

Dia mengajak mahasiswa untuk tidak hanya mengejar kesuksesan pribadi, tetapi juga mengabdi bagi masyarakat luas. Bahwa pendidikan bukan hanya proses akademis, melainkan sebuah panggilan untuk melayani dan membangun bangsa. 

Baca juga: Hypereport: Ketika Pendidikan dan Keahlian Bukan Jaminan Bagi Generasi Muda Sukses di Dunia Kerja 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News
Editor:

SEBELUMNYA

Polemik Royalti Musik Kian Memanas, Ini Poin Penting yang Disorot PHRI

BERIKUTNYA

Begini Tanggapan WAMI terkait Protes Royalti Ari Lasso

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga