Film Darah Nyai Bangkitkan Kembali Bentuk B-Movie yang Makin Langka di Bioskop
12 August 2025 |
19:12 WIB
Industri film Indonesia kembali kedatangan satu rumah produksi baru bernama Imaginarium Pictures. Sebagai penanda debutnya di industri, Imaginarium akan merilis satu film fitur perdananya bertajuk Darah Nyai yang mengangkat legenda Nyi Roro Kidul dari Laut Selatan.
Tidak seperti kebanyakan film horor lainnya, karya ini mengusung subgenre yang jarang diangkat, yaitu jagal mistis (mystic-slasher). Filmnya pun dikemas dengan pendekatan B-movie yang cukup menarik.
B-movie merupakan film dengan anggaran rendah, sering kali memiliki kualitas produksi yang kurang, efek khusus yang sederhana, dan plot yang mungkin terasa aneh atau klise. Meskipun begitu, film-film ini memiliki daya tarik tersendiri, terutama bagi penggemar yang mencari hiburan yang unik, tidak konvensional, dan terkadang lucu.
Baca juga: Sajikan Mystic Slasher, Darah Nyai Tayang di Bioskop 21 Agustus 2025
Produser sekaligus penulis naskah, Hikmat Darmawan, mengungkapkan film Darah Nyai mencoba menawarkan pengalaman sinematik berbeda kepada penonton Indonesia dengan menghadirkan tampilan ala film-film B Indonesia dan Hong Kong era 1990-an, serta sentuhan film Giallo Italia tahun 1970-an yang terkenal brutal dan penuh warna kontras.
Perpaduan gaya tersebut tidak sekadar dihadirkan untuk nostalgia. Dia menjelaskan, semua elemen itu dibalut dengan teknik produksi modern dan disesuaikan dengan isu-isu yang relevan dengan penonton masa kini. Tujuannya, katanya, aialah untuk menciptakan pengalaman horor yang terasa segar tanpa kehilangan sentuhan klasik.
"Filmnya film B, tetapi ceritanya kelas A," katanya.
Hikmat mengatakan membuat film horor di tengah pasar film yang dipenuhi genre horor bukanlah perkara mudah. Hal itu, membuat membuat setiap karya harus punya ciri khas agar tidak tenggelam di tengah banyaknya pilihan untuk penonton.
Dia ingin agar film Darah Nyai, yang menjadi debut bagi rumah produksinya, tidak hanya sekadar ikut-ikutan tren horor. Dia juga coba menghindari kesan ingin tampil beda semata tanpa memedulikan antusiasme penonton yang sedang tinggi terhadap film horor.
“Kami percaya bahwa pekerjaan kami tidak diukur dari bagus atau jelek semata. Sering kali, film yang dianggap jelek justru merupakan bentuk perlawanan terhadap hal-hal yang terlalu biasa atau normal,” tegasnya.
Dalam menggarap film ini, terutama dari sajian naskah, dirinya menggandeng sutradara Azzam Fi Rullah ke jajaran penulis untuk meracik Darah Nyai sebelum diserahkan kepada sutradara. Azzam sendiri aktif menjadi sutradara sejumlah film pendek B-Horror dengan semangat independen.
Sementara itu, kursi sutradara diserahkan ke Yusron Fuadi, yang populer setelah film panjang fiksi ilmiah berbalut lokalnya, Tengkorak, pada 2018. Yusron mengaku langsung tertarik saat pertama kali membaca naskahnya. Sebab, naskahnya menawarkan plot cerita yang tak biasa, terlebih karena film ini dikemas dalam B-movie.
“Kesulitannya saya tahu, tapi membayangkan hal-hal absurd di cerita ini justru bikin semangat,” ujarnya
Secara visual, Yusron banyak mengambil inspirasi dari film Hong Kong dan film Indonesia era 1980–1990-an. Gaya pergerakan kamera dan pemilihan warna dari era tersebut dia gunakan untuk membangkitkan nuansa klasik. Terkait dengan warna, Yusron banyak mengeksplorasinya dari judul Darah Nyai.
Menurutnya, "darah" identik dengan merah, sedangkan “nyai” dia asosiasikan dengan hijau. “Sayang sekali kalau dua warna ini tidak kita garap secara spesial,” ujarnya
Selain itu, dirinya pun menjadikan setiap karakter di film ini memiliki warna dominan masing-masing. Hal ini bertujuan agar penonton bisa langsung mengenali karakter hanya dari warna yang mendominasi adegannya
Bagi Yusron, Darah Nyai bukan sekadar film horor. Ini adalah ruang kreatif yang memadukan cerita unik, warna yang simbolis, dan gaya klasik untuk menghadirkan pengalaman menonton yang berbeda dan membekas di layar lebar.
Darah Nyai bercerita tentang karakter bernama Rara yang mendapatkan kekuatan super dari Nyai Roro Kidul untuk melakukan pembalasan dendam kepada geng perdagangan manusia yang dipimpin oleh karakter bernama Boni.
Nyai Roro Kidul marah terhadap geng tersebut lantaran telah menyakiti karakter bernama Lisa dan membuang tubuhnya ke laut. Sang ratu pantai selatan itu menganggap para penjahat juga telah menyakiti laut.
Dalam aksinya, Rara terlihat melakukan penyerangan terhadap para penjahat perdagangan manusia itu. Di sisi lain, polisi juga terus bergerak untuk mencari tahu dalang di balik pembunuhan-pembunuhan yang terjadi.
Film Darah Nyai produksi Imaginarium Pictures & Akasacara ini bakal mulai tayang 21 Agustus 2025 di bioskop-bioskop Indonesia.
Baca juga: Debut di Hollywood Lewat Film Nobody 2, Timo Tjahjanto Belajar Adaptasi Kultur Kerja Baru
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Tidak seperti kebanyakan film horor lainnya, karya ini mengusung subgenre yang jarang diangkat, yaitu jagal mistis (mystic-slasher). Filmnya pun dikemas dengan pendekatan B-movie yang cukup menarik.
B-movie merupakan film dengan anggaran rendah, sering kali memiliki kualitas produksi yang kurang, efek khusus yang sederhana, dan plot yang mungkin terasa aneh atau klise. Meskipun begitu, film-film ini memiliki daya tarik tersendiri, terutama bagi penggemar yang mencari hiburan yang unik, tidak konvensional, dan terkadang lucu.
Baca juga: Sajikan Mystic Slasher, Darah Nyai Tayang di Bioskop 21 Agustus 2025
Produser sekaligus penulis naskah, Hikmat Darmawan, mengungkapkan film Darah Nyai mencoba menawarkan pengalaman sinematik berbeda kepada penonton Indonesia dengan menghadirkan tampilan ala film-film B Indonesia dan Hong Kong era 1990-an, serta sentuhan film Giallo Italia tahun 1970-an yang terkenal brutal dan penuh warna kontras.
Perpaduan gaya tersebut tidak sekadar dihadirkan untuk nostalgia. Dia menjelaskan, semua elemen itu dibalut dengan teknik produksi modern dan disesuaikan dengan isu-isu yang relevan dengan penonton masa kini. Tujuannya, katanya, aialah untuk menciptakan pengalaman horor yang terasa segar tanpa kehilangan sentuhan klasik.
"Filmnya film B, tetapi ceritanya kelas A," katanya.
Hikmat mengatakan membuat film horor di tengah pasar film yang dipenuhi genre horor bukanlah perkara mudah. Hal itu, membuat membuat setiap karya harus punya ciri khas agar tidak tenggelam di tengah banyaknya pilihan untuk penonton.
Dia ingin agar film Darah Nyai, yang menjadi debut bagi rumah produksinya, tidak hanya sekadar ikut-ikutan tren horor. Dia juga coba menghindari kesan ingin tampil beda semata tanpa memedulikan antusiasme penonton yang sedang tinggi terhadap film horor.
“Kami percaya bahwa pekerjaan kami tidak diukur dari bagus atau jelek semata. Sering kali, film yang dianggap jelek justru merupakan bentuk perlawanan terhadap hal-hal yang terlalu biasa atau normal,” tegasnya.
Dalam menggarap film ini, terutama dari sajian naskah, dirinya menggandeng sutradara Azzam Fi Rullah ke jajaran penulis untuk meracik Darah Nyai sebelum diserahkan kepada sutradara. Azzam sendiri aktif menjadi sutradara sejumlah film pendek B-Horror dengan semangat independen.
Sementara itu, kursi sutradara diserahkan ke Yusron Fuadi, yang populer setelah film panjang fiksi ilmiah berbalut lokalnya, Tengkorak, pada 2018. Yusron mengaku langsung tertarik saat pertama kali membaca naskahnya. Sebab, naskahnya menawarkan plot cerita yang tak biasa, terlebih karena film ini dikemas dalam B-movie.
“Kesulitannya saya tahu, tapi membayangkan hal-hal absurd di cerita ini justru bikin semangat,” ujarnya
Secara visual, Yusron banyak mengambil inspirasi dari film Hong Kong dan film Indonesia era 1980–1990-an. Gaya pergerakan kamera dan pemilihan warna dari era tersebut dia gunakan untuk membangkitkan nuansa klasik. Terkait dengan warna, Yusron banyak mengeksplorasinya dari judul Darah Nyai.
Menurutnya, "darah" identik dengan merah, sedangkan “nyai” dia asosiasikan dengan hijau. “Sayang sekali kalau dua warna ini tidak kita garap secara spesial,” ujarnya
Selain itu, dirinya pun menjadikan setiap karakter di film ini memiliki warna dominan masing-masing. Hal ini bertujuan agar penonton bisa langsung mengenali karakter hanya dari warna yang mendominasi adegannya
Bagi Yusron, Darah Nyai bukan sekadar film horor. Ini adalah ruang kreatif yang memadukan cerita unik, warna yang simbolis, dan gaya klasik untuk menghadirkan pengalaman menonton yang berbeda dan membekas di layar lebar.
Darah Nyai bercerita tentang karakter bernama Rara yang mendapatkan kekuatan super dari Nyai Roro Kidul untuk melakukan pembalasan dendam kepada geng perdagangan manusia yang dipimpin oleh karakter bernama Boni.
Nyai Roro Kidul marah terhadap geng tersebut lantaran telah menyakiti karakter bernama Lisa dan membuang tubuhnya ke laut. Sang ratu pantai selatan itu menganggap para penjahat juga telah menyakiti laut.
Dalam aksinya, Rara terlihat melakukan penyerangan terhadap para penjahat perdagangan manusia itu. Di sisi lain, polisi juga terus bergerak untuk mencari tahu dalang di balik pembunuhan-pembunuhan yang terjadi.
Film Darah Nyai produksi Imaginarium Pictures & Akasacara ini bakal mulai tayang 21 Agustus 2025 di bioskop-bioskop Indonesia.
Baca juga: Debut di Hollywood Lewat Film Nobody 2, Timo Tjahjanto Belajar Adaptasi Kultur Kerja Baru
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.