Ilustrasi bangku taman. Sumber: Unsplash.

Bangku Berpaku hingga Trotoar Miring, Apa Itu Hostile Architecture?

07 August 2025   |   17:00 WIB
Image
Aisyah Putri Maulidina Mahasiswa Universitas Padjadjaran

Dalam merancang ruang kota, setiap elemen desain tak sekadar soal estetika, ada maksud dan pesan yang disisipkan di baliknya. Salah satunya adalah hostile architecture atau arsitektur eksklusif,  pendekatan desain yang sengaja dibuat untuk membatasi aktivitas tertentu di ruang publik.

Mulai dari duduk terlalu lama hingga tidur di tempat umum. Bentuknya bisa berupa bangku yang diberi sekat, permukaan kasar di bawah jembatan, hingga paku-paku kecil di trotoar. Menurut penelitian Universitas Pembangunan Jaya, hostile architecture pertama kali ditemukan di Inggris pada abad ke-19. Fenomena ini terjadi dengan tujuan awal untuk mengurangi perbuatan yang seharusnya tidak dilakukan di fasilitas publik, misalnya, memasang kawat berduri di bagian ujung tembok dan jendela untuk mencegah burung-burung liar buang air. 

Baca juga: Sejarah Arsitektur & Interior Kapel Sistina, Tempat Konklaf Pemilihan Paus Baru

Selain itu, arsitektur ini biasanya digunakan untuk mencegah kerusakan properti umum, seperti mencegah tunawisma menggunakan properti ruang publik untuk tidur atau beristirahat. Mengutip The Urbanist, seorang profesor di Sekolah Kebijakan Publik di Institut Teknologi Georgia, Robert Rosenberger menjelaskan bahwa hostile architecture seperti mencegah kebanyakan orang menyadari keberadaan fasilitas tersebut dengan membuat elemen desain tertentu. 

Dampak hostile architecture mungkin tidak akan dirasakan oleh masyarakat umum karena terlihat seperti dekorasi atau desain yang unik. Namun, bagi kelompok masyarakat tertentu, mereka akan merasakan kegiatan yang dapat dilakukan di ruang publik jadi terbatas.

Menurut Rosenberger, hostile architecture seringkali dilakukan oleh pihak terkait untuk membatasi penggunaan ruang publik bagi kelompok masyarakat tertentu yang biasanya kurang beruntung. Contohnya ketika tunawisma tidak bisa menggunakan halte bus untuk tidur, namun hal ini dilakukan demi kenyamanan pengguna bus agar bisa menunggu bus di halte.

Desain yang paling umum digunakan dalam hostile architecture adalah desain anti-tunawisma. Di Seattle, Amerika Serikat penerapan hostile architecture terlihat dari penempatan tempat parkir sepeda di bawah jembatan layang, di area para tunawisma kemungkinan besar menggunakannya untuk tidur. 

Di Indonesia, hostile architecture juga kerap ditemukan pada bangku-bangku taman yang dibuat tidak nyaman untuk berbaring atau jembatan penyebrangan orang yang tidak ditutup atap agar masyarakat tidak berlama-lama di sana.

Keberadaan fasilitas publik dengan hostile architecture di kota-kota besar mendapatkan tanggapan yang berbeda dari beberapa pihak. Menurut Temple University, hostile architecture akan berpengaruh terhadap kesehatan tunawisma dan memperburuk kesenjangan sosial di kota-kota besar. Sementara itu, menurut ahli bioetika dan ilmuwan kesehatan masyarakat di Universitas Teknologi Swinburne, Dr. Evie Kendal desain-desain hostile architecture yang diterapkan pada fasilitas publik dapat melukai masyarakat, terutama kelompok masyarakat rentan. 

Dilansir dari NSS Magazine, penerapan hostile architecture dalam 20 tahun terakhir di seluruh dunia, telah dikritik oleh sejarawan, jurnalis, serta profesor arsitektur bahwa hal ini akan menghambat interaksi sosial dan meningkatkan individualisme. Hostile architecture tidak hanya mengubah perkotaan, namun sifat ruang publik dan kepercayaan antar masyarakat.

Baca juga: 5 Kampus dengan Jurusan Arsitektur Terbaik di Indonesia

SEBELUMNYA

Arti & Asal-Usul Yapping, Istilah yang Populer di Media Sosial

BERIKUTNYA

Asal Usul Nama-Nama Bulan Purnama: Dari Wolf Moon hingga Blue Moon

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: