Teater Tetas mementaskan lakon Plunge, dalam pembukaan DITP di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Selasa, 5 Agustus 2025. (sumber gambar: Hypeabis.id/Robby Fathan)

Daftar 7 Pertunjukan di DITP 2025, dari Grup Teater asal Bali hingga Vietnam

06 August 2025   |   21:35 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Pencinta kesenian teater sepertinya siap semringah pada bulan Agustus tahun ini.  Pasalnya, komite Teater Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) tahun ini kembali menggelar program Djakarta International Theater Platform (DITP) pada 5 sampai 12 Agustus 2025.

Mengusung tema kuratorial “rumah || panggung”, DITP 2025, program ini hadir untuk membangun jejaring kerja di antara praktisi teater, seniman pertunjukan, dan peneliti, serta membangun ekosistem kepenontonan di kawasan Asia Tenggara.

Baca juga: DITP 2025 Hadir di TIM, Panggung Pertunjukan dan Dialog Budaya Asia Tenggara

Selain menampilkan senarai pertunjukan teater, dan tari di atas panggung, perhelatan ini juga menggelar diskusi, dan lokakarya mengenai perkembangan dan tantangan produksi teater yang dapat diakses oleh publik di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Nah biar nggak penasaran, yuk simak pertunjukan apa saja yang bakal meramaikan agenda DITP tahun ini:


1. Plunge (Teater Tetas,Jakarta)

Plunge mengisahkan seorang tokoh pembawa berita di televisi Singapura bernama Isabel, dan seorang keturunan etnis Tionghoa bernama Ina yang hidup serta kuliah di Jakarta. Keduanya merupakan perempuan dengan latar tempat berbeda, akan tetapi terdampak peristiwa yang sama, yakni krisis ekonomi dan kerusuhan 1998.

Plunge ditulis oleh Jean Tay, penulis drama asal Singapura pada 2007. Naskah ini diterjemahkan oleh Muhammad Abe dari Indonesian Dramatic Reading Festival (IDRF) ke dalam bahasa Indonesia untuk Asia Playwrights Meeting di Yogyakarta tahun 2019.

Pertunjukan ini telah digelar di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki Jakarta pada Selasa, (5/8/25). Lewat Plunge, penonton diajak menafsir kembali Krisis Moneter Asia 1997-1998 sebagai peristiwa regional bersama yang membentuk ulang lanskap politik dan domestik.


2. Tidur Lambak (Tapir Studio, Malaysia)

 
 

Lakon ini akan mengajak penonton untuk mengubah panggung menjadi ruang untuk jeda bersama, termasuk mengundang para hadirin untuk berbaring, beristirahat, dan terhanyut dalam mimpi komunal. Pertunjukkan ini disajikan selama 15 menit—durasi ideal untuk tidur singkat (power nap).

Pertunjukkan ini nantinya akan diperankan oleh dua orang peran yang saling bertolak belakang, yaitu sebagai orang yang butuh tidur agar sehat dan produktif, sekaligus sebagai agen kapitalisme yang mengharuskan orang untuk bangun dan terjaga.

Melalui lanskap suara yang imersif dan tekstur yang familiar, peserta akan diberikan kesempatan untuk “tidur sore” dan mengalami ragam ekologi tidur yang ada dalam kehidupan urban. Tidur Lambak akan digelar pada 5-8 Agustus dengan durasi 15 menit di area TIM.


3. Gerak dari Cikini (Nungki Kusumastuti, Jakarta)

Merupakan pertunjukan ceramah oleh Nungki Kusmastuti sebagai refleksi terhadap kawasan budaya tertua di Indonesia, yakni Taman Ismail Marzuki (TIM), yang juga adalah rumah dari Djakarta Internasional Theater Platform.

Sebagai seniman sekaligus akademisi sejarah tari, Nungki akan memetakan pengalaman hidupnya bersama dan di TIM sejak tahun 1970-an, sebuah ruang yang memupuk pertumbuhan artistiknya seiring dengan berkembangnya sejarah tari Indonesia.

Pada pertunjukan ceramah ini, Nungki juga merefleksikan bagaimana tubuhnya bergerak di antara peta dunia seni dan akademik, serta hubungan keduanya. Gerak dari Cikini akan dihelat pada Kamis, 7 Agustus 2025, pada pukul 20.00-21.00 WIB, di Teater Kecil, Jakarta.


4. The Lessons of Silence (Agnes Christina, Magelang)

The Lessons of Silence merupakan pertunjukan yang merancang dramaturgi pembungkaman sebagai refleksi atas penghapusan dan ketakutan yang dialami oleh warga Indonesia keturunan Tionghoa sepanjang sejarah bangsa.

Kisahnya akan mengikuti seorang gadis yang menjalani hari yang kerap bermain bulu tangkis di depan rumah dengan tetangga sebayanya. Namun, keadaan tersebut berubah total saat orang tuanya mengajak untuk mengungsi saat terjadinya kerusuhan 1998.

The Lessons of Silence akan dipentaskan pada Jumat, 8 Agustus 2025, pukul 20.00-22.00 WIB, di Teater Wahyu Sihombing, Jakarta.
 

5. The Voices After Cak (Mulawali Institute, Bali)

 
 

Merupakan pertunjukan teater tari yang berangkat dari pengalaman berlatih getaran pada kecak—serta gerak tari dan koreografi lainnya—sebagai metode penciptaan untuk mempercakapkan perubahan sosial dan ikatan kerumunan warga.

Getar kecak digunakan sebagai rute penyebrangan imajinasi tentang Bali, sekaligus membaca ulang ruang hidup kewargaan dari masing-masing kota asal para penampil. Pertunjukan ini berfokus pada aspek tubuh, getaran, vokal, serta biografi para penampil.

The Voices After Cak digagas oleh Wayan Su mahardika dan pertama kali dikembangkan di Bali melalui program Produksi Karya Inovatif Yayasan Kelola. Karya ini akan dipentaskan di Tuti Indra Malaon, Teater, TIM, Jakarta, pada Sabtu 9 Agustus 2025, pukul 20.00-21.30 WIB.


6. Bayang Kaki Limo (Teater Sambilan Ruang, Padang)

Bayang Kaki Limo akan mengadopsi bentuk sandiwara kampuang, jenis teater yang populer di Minangkabau. Teater Sambilan Ruang biasanya menciptakan dan menampilkan karya bersama warga kampung, menggunakan teras, balai warga, atau ruang terbuka di antara rumah sebagai panggungnya.

Ditampilkan dalam Bahasa Minang, pertunjukan ini akan mengeksplorasi dinamika bertetangga dan politik sehari-hari yang dekat dengan masyarakat. Karya ini tidak sekadar merawat “tradisi” sebagai pilihan estetika semata, namun ia menggunakan bahasa, lawakan, dan cara tutur yang khas.

Karya ini akan dipentaskan di Kolam Planetarium, TIM, Jakarta, pada Minggu, 10 Agustus 2025, pukul 20.00-21.00 WIB.


7. Mother Doesn't Know Mnemosyne (Trà Nguyá»…n, Vietnam)

Pertunjukan ini akan memadukan mitologi Yunani, ingatan antar generasi, dan sejarah politik Vietnam. Pertunjukan ini membangkitkan sang dewi ingatan Yunani bukan sebagai mitos semata, tetapi sebagai kehadiran yang membayangi antara peran ibu, kekerasan aparat, dan duka kehilangan.

Menggunakan permainan engklek sebagai konfigurasi spasialnya, panggung menjadi medan untuk bermain, trauma, dan perpecahan yang puitis. Ingatan tidak dipentaskan sebagai narasi yang runut, tapi sebagai atmosfer yang menghantui, pekat, terpecah.

Konsep panggung Tra mencerminkan rumah panggung sebagai ruang antara tempat ingatan bersemayam dalam kepingan, mengambang antara kejelasan dan ketidakjelasan, antara yang diingat dan yang dibiarkan samar. Lakon ini akan dipentaskan di Teater Wahyu Sihombing, pada 11-12 August 2025, pukul 20.00-21.00 WIB & 16.00-17.00 WIB.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Sinopsis Drama Korea The Defects, Upaya Bertahan Hidup Anak-anak Adopsi

BERIKUTNYA

Strategi Buttonscarves Bangun Brand Lewat Pendekatan Komunitas

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga