Pacar Merah Indonesia II: Jejak Tan Malaka dan 23 Nama Samarannya
31 July 2025 |
09:00 WIB
Ada banyak nama samaran yang dipakai Tan Malaka, semasa hidupnya. Menurut seri buku Bapak Bangsa, Tempo, setidaknya ada 23 nama samaran yang digunakan 'Macan dari Lembah Suliki' itu selama dia mengembara ke berbagai negara di dunia.
Saat klandestin di Filipina misalnya, Tan memakai nama Elias Fuentes Rivera, dan Estahislau Rivera. Lain lagi saat dalam kejaran tentara kolonial, dan memberontak dari daerah Bayah, Banten,Tan menyamar sebagai kerani dengan nama Ilyas Husein.
Barangkali nama-nama inilah yang menjadi inspirasi Matu Mona, nama pena dari Hasbullah Parindurie (1910-1987), untuk kembali menarasikan avonturisme hidup Tan Malaka dalam seri kedua bukunya, Pacar Merah Indonesia, yang diterbitkan Banana.
Baca Juga: Resensi Buku Pacar Merah Indonesia, Kisah Spionase Tan Malaka dalam Balutan Fiksi Sejarah
Berbeda dari kisah sebelumnya, Tan, kali ini menyamar sebagai Ibrahim el-Molqa, yang membantu bangsa Arab melawan bangsa Yahudi yang hendak menduduki Palestina. Lain dari itu, Tan yang mendapat telegram dari Alminsky (Alimin), juga bertolak ke India untuk menjalankan Pan-Malay.
Pan-Malay adalah gagasan politik dan kultural yang bertujuan menyatukan kelompok etnis rumpun Melayu di Asia Tenggara. Gagasan ini diwacanakan sebagai bentuk solidaritas dan identitas bersama di tengah penjajahan dan perubahan geopolitik pada awal abad ke-20.
Lain dari itu, cerita-cerita dari seri ini juga mengisahkan bagaimana peran Tan Malaka dalam berbagai konflik di Timur dan Barat. Dengan segala keterbatasannya, sang tokoh utama kembali berpetualang bersama Ivan Alminsky, dan Semounov, di negara-negara Eropa.
Terdiri dari 14 bab, membaca novel setebal 238, ini akan memancing pembaca untuk mencari tahu antara yang fiksi dan yang tidak. Tentang bagaimana sosok-sosok revolusioner pada masanya justru melakukan diplomasi dengan cara-cara yang ilegal, alias dari bawah tanah.
Membaca buku ini juga akan mengajak kita untuk menyusuri hal-hal yang jarang diketahui dalam buku-buku sejarah. Lain dari itu, sang penulis, yang kala itu dengan segala keterbatasannya mencari informasi, justru dapat memberikan gambaran utuh tentang kondisi sosial suatu negara yang menjadi latar cerita.
Namun sayang, pembaca sepertinya harus mengakhiri petualangan tersebut saat Tan berada di Palestina. Sebab, seri ketiga dari buku ini, yakni Panggilan Tanah Air, yang kemungkinan diterbitkan pada 1940, akan tetapi hingga saat ini naskahnya belum berhasil ditemukan.
Kisah hidup Tan Malaka sering melahirkan mitos di tengah masyarakat. Dalam narasi sejarah arus utama, dia bahkan kerap disingkirkan dari lingkar kekuasaan dan arus awal revolusi, padahal pemikiran dan perjuangannya sangat berpengaruh dalam arah kemerdekaan Indonesia.
Hadirnya buku ini, tentu dapat menjadi refleksi bagi pembaca, untuk kembali menempatkan namanya yang absen dari buku-buku sejarah. Kendati lewat fiksi, akan tetapi setidaknya pembaca bisa mengenal tokoh yang samar ini, agar kita tidak lupa, dan mengungkai kisah hidupnya dalam sisi yang lain.
Data Buku
Saat klandestin di Filipina misalnya, Tan memakai nama Elias Fuentes Rivera, dan Estahislau Rivera. Lain lagi saat dalam kejaran tentara kolonial, dan memberontak dari daerah Bayah, Banten,Tan menyamar sebagai kerani dengan nama Ilyas Husein.
Barangkali nama-nama inilah yang menjadi inspirasi Matu Mona, nama pena dari Hasbullah Parindurie (1910-1987), untuk kembali menarasikan avonturisme hidup Tan Malaka dalam seri kedua bukunya, Pacar Merah Indonesia, yang diterbitkan Banana.
Baca Juga: Resensi Buku Pacar Merah Indonesia, Kisah Spionase Tan Malaka dalam Balutan Fiksi Sejarah
Berbeda dari kisah sebelumnya, Tan, kali ini menyamar sebagai Ibrahim el-Molqa, yang membantu bangsa Arab melawan bangsa Yahudi yang hendak menduduki Palestina. Lain dari itu, Tan yang mendapat telegram dari Alminsky (Alimin), juga bertolak ke India untuk menjalankan Pan-Malay.
Pan-Malay adalah gagasan politik dan kultural yang bertujuan menyatukan kelompok etnis rumpun Melayu di Asia Tenggara. Gagasan ini diwacanakan sebagai bentuk solidaritas dan identitas bersama di tengah penjajahan dan perubahan geopolitik pada awal abad ke-20.
Lain dari itu, cerita-cerita dari seri ini juga mengisahkan bagaimana peran Tan Malaka dalam berbagai konflik di Timur dan Barat. Dengan segala keterbatasannya, sang tokoh utama kembali berpetualang bersama Ivan Alminsky, dan Semounov, di negara-negara Eropa.
Terdiri dari 14 bab, membaca novel setebal 238, ini akan memancing pembaca untuk mencari tahu antara yang fiksi dan yang tidak. Tentang bagaimana sosok-sosok revolusioner pada masanya justru melakukan diplomasi dengan cara-cara yang ilegal, alias dari bawah tanah.
Membaca buku ini juga akan mengajak kita untuk menyusuri hal-hal yang jarang diketahui dalam buku-buku sejarah. Lain dari itu, sang penulis, yang kala itu dengan segala keterbatasannya mencari informasi, justru dapat memberikan gambaran utuh tentang kondisi sosial suatu negara yang menjadi latar cerita.
Namun sayang, pembaca sepertinya harus mengakhiri petualangan tersebut saat Tan berada di Palestina. Sebab, seri ketiga dari buku ini, yakni Panggilan Tanah Air, yang kemungkinan diterbitkan pada 1940, akan tetapi hingga saat ini naskahnya belum berhasil ditemukan.
Kisah hidup Tan Malaka sering melahirkan mitos di tengah masyarakat. Dalam narasi sejarah arus utama, dia bahkan kerap disingkirkan dari lingkar kekuasaan dan arus awal revolusi, padahal pemikiran dan perjuangannya sangat berpengaruh dalam arah kemerdekaan Indonesia.
Hadirnya buku ini, tentu dapat menjadi refleksi bagi pembaca, untuk kembali menempatkan namanya yang absen dari buku-buku sejarah. Kendati lewat fiksi, akan tetapi setidaknya pembaca bisa mengenal tokoh yang samar ini, agar kita tidak lupa, dan mengungkai kisah hidupnya dalam sisi yang lain.
Data Buku
- Judul: Pacar Merah Indonesia (buku kedua)
- Penulis: Matu Mona
- Penyunting: Ardi Yunanto
- Ilustrasi Sampul: Bambang Nurdiansyah
- Penata Letak: Ardi Yunanto
- Tahun Terbit: Januari, 2025
- Jumlah Halaman: 238 Halaman
- Penerbit: baNANA
- ISBN:9786239824990
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.