Ilustrasi buku Pacar Merah Indonesia (bagian 1) sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar

Resensi Buku Pacar Merah Indonesia, Kisah Spionase Tan Malaka dalam Balutan Fiksi Sejarah

30 June 2025   |   21:30 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Kisah Tan Malaka saat memberontak terhadap tatanan kolonial Belanda bagi sebagian orang mungkin dianggap mitos, atau cerita-cerita legendaris kepahlawanan. Tokoh revolusioner ini, selalu bergerak dengan cara klandestin. Bergerak antara tampak dan tidak.

Tan, sebagaimana ditulis dalam sejarah, muncul dan menghilang bagai titisan dewa. Belasan negara dia kunjungi, demi cita-cita utama: kemerdekan Indonesia. Meski akhirnya hidupnya berakhir tragis, di ujung senapan tentara republik yang didirikannya.

Baca juga: Resensi Makhluk Bumi, Novel Fantasi tentang Pencarian Jati Diri di Dunia Asing

Kisah hidup Bapak Republik Indonesia, ini diungkai dengan cergas dalam kisah fiksi berjudul Pacar Merah Indonesia, karya Matu Mona. Pacar Merah Indonesia, merupakan roman sejarah yang mengungkai tokoh-tokoh pemimpin utama Partai Komunis Indonesia orde kolonial.

Kelima tokoh itu adalah Pacar Merah (Tan Malaka), Darsonoff (Darsono), Ivan Alminsky (Alimin), Mussote (Muso) dan Semounoff (Semaun). Mereka menjadi buronan pemerintah kolonial Belanda akibat aktivitas politiknya yang dianggap radikal dan mengancam kekuasaan.

Mengambil latar Bangkok, roman ini terinspirasi dari surat-surat Tan Malaka untuk Adinegoro. Matu Mona, menulis Pacar Merah Indonesia, pertama kali sebagai cerita bersambung di harian Pewarta Deli, pada 1934-1938, sebelum akhirnya bertemu dengan Tan, di Singapura.
 
 

Terdiri dari 12 bab, buku ini mengajak pembaca untuk mengikuti avonturisme Tan Malaka, saat menyuarakan kemerdekaan Indonesia dari berbagai negara seperti Filipina, Thailand, China, Uni Soviet, dan negara Eropa lainnya. Tan dalam buku ini juga dikenal sebagai belut yang licin.

Keunikan dari buku ini adalah pembaca diajak untuk mengetahui kisah laiknya mendengar tuturan pendongeng. Kendati terasa janggal, karena masih menggunakan Ejaan Van Ophuijsen, serta istilah bahasa asing, lewat kisah di dalamnya, pembaca seolah sedang diajak kembali ke masa lalu.

Saat membaca bagian kisah percintaan antara Vichitra (nama samaran Tan Malaka) dengan Mlle. Ninon, misal. Kita akan diajak mengungkai roman cinta dengan balutan spionase, dan tentu saja kisah-kisah pemberontakan, dan bagaimana solidaritas antar sesama bangsa yang melihat kesetaraan.

Dari pembentukan karakter, tokoh utama Pacar Merah juga bukan dilukiskan sebagai seorang hero. Pacar merah adalah manusia biasa, dapat mengalami gangguan mental/fisik, memerlukan solidaritas dan bala bantuan material para kamerad, terutama dari Djalumin, seorang kelasi kapal, yang kemungkinan besar tokoh fiksi.

Namun, ada satu hal yang patut menjadi kritik. Munculnya para tokoh dalam buku ini saat bertemu dengan satu dan yang lain seolah turun langit. Salah satunya dalam bab Cinta Seorang Gadis (halaman 207), di mana sekonyong-konyong muncul Phya Sakhon, tunangan Ninon, yang membuntutinya.

Secara umum, membaca Pacar Merah Indonesia, buku pertama akan mengajak kita untuk menyelami sisi lain dari sosok bernama lengkap Ibrahim Datuk Tan Malaka. Seorang revolusioner yang memiliki 23 nama samaran, poliglot, dan menempuh 89.000 kilometer untuk dapat kembali ke Tanah Airnya tercinta.

Data Buku
Judul: Pacar Merah Indonesia (buku pertama)
Penulis: Matu Mona
Penyunting: Ardi Yunanto
Ilustrasi Sampul: Bambang Nurdiansyah
Penata Letak: Ardi Yunanto
Tahun Terbit: Januari, 2025
Jumlah Halaman: 278 Halaman
Penerbit: baNANA
ISBN: 9786239824976

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 
 

SEBELUMNYA

Lisa BLACKPINK Jual Baju Preloved dan Donasikan Hasilnya untuk 50 Negara

BERIKUTNYA

Cek Spek Lengkap & Harga Mobil Listrik Xiaomi YU7 yang Baru Rilis di China

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: