Modest Fashion Indonesia Nomor Satu Dunia: Peluang dan Potensi Bersaing di Level Internasional
29 July 2025 |
22:00 WIB
Industri mode Tanah Air makin diperhitungkan di kancah global. Diketahui, Indonesia menorehkan prestasi gemilang dengan menjadi negara dengan performa terbaik di sektor modest fashion dalam laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE) Report 2024/2025 yang dirilis oleh DinarStandard.
Menurut Advisory Indonesian Fashion Chamber (IFC) Ali Charisma, Indonesia saat ini telah menjadi salah satu pemain utama, khususnya dalam segmen busana tertutup. Meski begitu, dari capaian SGIE Report 2024/2025 tadi, perlu didalami kembali peluang dan tantangannya.
Baca juga: IN2MOTIONFEST 2025 Siap Bawa Modest Fashion Indonesia Mendunia
Namun, keberhasilan di pasar lokal belum otomatis menjamin dominasi di ranah global. Bila dibandingkan dengan negara-negara lain yang juga mengembangkan modest fashion, Ali menilai posisi kreatif Indonesia cukup kuat.
Tetapi, ketika disejajarkan dengan industri fashion konvensional yang sudah lebih mapan secara internasional, Indonesia masih punya jarak yang harus dikejar.
"PR kita sekarang adalah bagaimana bisa bersaing secara kreatif dengan fashion yang sudah mendunia, bukan hanya dengan sesama negara yang bermain di modest fashion," jelasnya.

Busana Modest (Sumber Foto: IFC)
Salah satu tantangan utama adalah bagaimana mendorong kreativitas yang tak hanya bertumpu pada kekayaan budaya seperti wastra, tetapi juga mampu mengintegrasikan aspek teknologi dalam proses perancangannya.
Teknologi di sini, katanya, bisa berarti tekstil yang memiliki fungsi khusus atau pakaian yang dirancang dengan teknologi yang sesuai kebutuhan masyarakat modern. Misalnya, penggunaan bahan yang lebih ringan, tahan lama, ramah lingkungan, atau memiliki fitur seperti anti-UV dan cepat kering. Selain itu, desain pun perlu disesuaikan dengan gaya hidup masa kini yang lebih praktis, multifungsi, dan mudah dipadupadankan.
"Wastra itu penting, tapi bukan satu-satunya. Kita juga harus kembangkan teknologi produk dan memperkuat aspek handmade," katanya.
Indonesia punya potensi besar dalam hal kerajinan tangan, namun kualitas hasilnya masih perlu ditingkatkan agar bisa diterima pasar global. Ali melihat ini bukan sebagai kekurangan, melainkan kekuatan yang belum sepenuhnya tergarap.
Dari sisi selera pasar internasional, dia mengungkap bahwa wastra Indonesia masih bisa sangat diterima, tergantung bagaimana pendekatannya. Untuk segmen kelas menengah ke atas, gaya yang kaya ornamen justru punya tempat tersendiri.
Ali mencontohkan pasar seperti Italia dan Spanyol yang cenderung menyukai desain yang bold dan penuh warna, misalnya seperti desain-desain rumah mode Dolce & Gabbana. Karakteristik tersebut yang sejalan dengan wastra Indonesia seperti batik atau songket dengan motif kaya.
"Pasar seperti Perancis atau Inggris lebih suka yang refined, sementara Italia dan Spanyol suka yang bold. Kita tinggal sesuaikan penyajiannya, kalau digarap dengan cara yang tepat, saya yakin pasar itu bisa kita masuki," katanya.
Sejalan dengan perubahan selera global, tren modest fashion saat ini juga bergeser ke arah yang lebih esensial, misalnya seperti produk yang fungsional, awet, dan tidak sekadar mengikuti tren musiman. Konsumen makin sadar bahwa busana yang bisa dipakai berkali-kali, modelnya sederhana namun berkualitas tinggi, adalah pilihan yang lebih bijak.
Karena itu, banyak desainer kini fokus pada desain yang basic, minimalis, tapi tetap menarik secara visual. Misalnya, jaket dan tunik bisa dipadu padankan dengan bawahan seperti celana, rok, outer, dan lainnya, untuk menciptakan tampilan yang beragam walau dipakai berkali-kali.
Kalaupun ada elemen wastra seperti batik atau songket yang kaya motif, biasanya dikombinasikan dengan potongan yang simpel agar tetap seimbang. Ini mencerminkan pergeseran minat konsumen kelas menengah atas yang kini lebih memperhatikan kualitas dan daya tahan produk, bukan hanya sekadar mengikuti tren yang sedang berlangsung.
Dengan basis pasar domestik yang kuat dan potensi budaya yang kaya, Indonesia punya semua fondasi untuk melangkah lebih jauh. Tantangannya adalah menyeimbangkan kekayaan tradisi dengan inovasi modern yang mampu bersaing di panggung dunia.
Penyelenggaraan IN2MOTIONFEST (IN2MF) 2025 menjadi salah satu tonggak penting dalam mendorong desainer lokal menembus pasar global. Ajang mode ini dihelat pada 8-12 Oktober 2025 di JIEXPO Convention Centre & Theatre, Jakarta.
Tema yang diusung tahun ini, yakni One Vision, One Movement: Advancing Indonesia Modest Fashion Through Synergy & Collaboration. IN2MOTIONFEST 2025 mengedepankan gerakan kolektif, kolaborasi, dan sinergi lintas sektor pelaku industri untuk membawa modest fashion Indonesia ke pasar internasional.
Tahun lalu, puncak acara IN2MOTIONFEST 2024 makin mendunia setelah berhasil mencetak Rekor Dunia Festival Busana Berkarakter (Modest Fashion) Berbasis Wastra dengan Koleksi Terbanyak (1.550 Koleksi, 208 Desainer Lokal, 10 Desainer Internasional) dari MURI.
Dari sisi bisnis, penyelenggaraannya mencatat besaran realisasi, komitmen dan potensi penjualan serta business matching, termasuk pembiayaan, total senilai 72,9 miliar rupiah.
Performa Modest Fashion Indonesia di Kancah Global
Indonesia menorehkan prestasi gemilang dengan menjadi negara dengan performa terbaik di sektor modest fashion dalam laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE) Report 2024/2025 yang dirilis oleh DinarStandard. Capaian ini menempatkan Indonesia di peringkat pertama dunia, mengungguli negara-negara seperti Malaysia, Italia, Turki, dan Singapura.Keberhasilan ini merupakan buah dari strategi nasional yang terintegrasi dan berkelanjutan, termasuk pelaksanaan program Indonesia Global Halal Fashion (IGHF) yang diinisiasi oleh Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH).
Program ini melibatkan sinergi antara pemerintah, pelaku industri tekstil, desainer, dan produsen kain bersertifikat halal. Selama 2024, promosi aktif dilakukan di lima negara, yaitu Indonesia, Malaysia, Inggris (London), Italia (Milan), dan Prancis (Paris).
“Pencapaian ini adalah titik tolak untuk melompat lebih tinggi dan memainkan peran utama Indonesia dalam membentuk masa depan ekonomi halal dunia yang inklusif, inovatif, dan berkeadaban,” ujar Kepala BPJPH, Ahmad Haikal Hasan.
Penguatan ekosistem modest fashion di Indonesia dilakukan dari hulu ke hilir. Upaya ini mencakup penyediaan bahan baku halal, proses produksi yang sesuai standar, hingga strategi branding dan promosi di kancah global. Langkah ini juga menjadi bagian dari persiapan menjelang penerapan kewajiban sertifikasi halal untuk barang gunaan, termasuk produk fesyen, yang akan diberlakukan mulai Oktober 2026.
Secara keseluruhan, Indonesia tetap bertahan di posisi ketiga dalam indeks global SGIE, namun mencatat peningkatan pesat di beberapa sektor, termasuk modest fashion (peringkat 1), pariwisata ramah Muslim (peringkat 2), serta kosmetik dan farmasi halal (peringkat 2).
Prestasi ini mempertegas peran Indonesia sebagai pusat industri halal dunia. Lebih dari sekadar capaian peringkat, hal ini menunjukkan bahwa ekonomi Islam bisa tumbuh pesat melalui pendekatan kreatif, kolaboratif, dan berbasis nilai.
Ke depan, sinergi antara pemerintah dan pelaku industri diharapkan semakin kuat, agar Indonesia tidak hanya menjadi pemimpin kawasan, tetapi juga penggerak utama ekonomi halal global.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.