Ilustrasi personal trainer. (Sumber foto: Freepik)

Melirik Profesi Personal Trainer yang Kian Menjanjikan di Tengah Tren Hidup Sehat

29 July 2025   |   15:00 WIB
Image
Dewi Andriani Jurnalis Hypeabis.id

Seiring meningkatnya kesadaran masyarakat akan gaya hidup aktif, industri kebugaran di Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Tren ini terlihat dari menjamurnya pusat-pusat kebugaran serta meningkatnya jumlah individu yang mulai rutin berolahraga.

Tak lagi sekadar ajang pamer tubuh, olahraga kini menjadi bagian dari gaya hidup yang menyatu dengan keseharian.

Dalam konteks ini, kebutuhan akan pendamping profesional pun ikut meningkat, personal trainer (PT) kini tidak lagi dipandang sebagai pekerjaan sampingan, melainkan sebagai peluang bisnis yang menjanjikan, baik di pusat kebugaran maupun komunitas olahraga.

Baca juga: Personal Trainer Berperan Penting dalam Mencapai Tujuan Fitnes, Yuk Cek Berapa Tarifnya?

Jansen Ongko, pelatih kebugaran dari Asosiasi Pelatih Kebugaran Indonesia (APKI) mengatakan, potensi bisnis kebugaran sangat besar terutama pasca pandemi di mana, kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dan kebugaran meningkat tajam.

Namun, kini tengah terjadi pergeseran besar dalam industri kebugaran. Mega Gym dari franchise internasional yang dulu mendominasi mulai tersingkir, digantikan oleh gym lokal yang secara konsep dan program menyerupai gym dari luar negeri tetapi dengan harga yang lebih terjangkau.

Beberapa brand lokal berkembang pesat dengan membuka puluhan cabang di seluruh Indonesia mulai dari Fitnes Plus, FitHub, Osbond Gym, Will Fitness, hingga FTL. “Gym lokal ini bisa berkembang karena mereka hadir lebih dekat ke permukiman, kampus, atau kantor dengan harga lebih terjangkau tetapi,” ujar Jansen.

Dalam situasi ini, kehadiran personal trainer menjadi semakin relevan, khususnya bagi pemula atau mereka yang memiliki kondisi khusus. Jansen menyarankan bagi seseorang yang memang tergolong pemula dan memiliki daya beli atau memiliki riwayat cedera sebaiknya menggunakan jasa seorang PT di awal agar lebih mengetahui dasar-dasarnya sehingga meminimalisir cedera yang tidak diinginkan.

Namun diakui olehnya untuk berlatih bersama seorang personal trainer ada paket yang harus dibeli biasanya per 8 sesi, 12 atau 16 sesi. Harganya pun bervariasi sangat bergantung pada faktor demografis, reputasi, dan keterampilan yang dikuasai seorang personal trainer.

“Tarif per sesi sangatlah bervariasi. Di Jakarta Selatan seperti area SCBD bisa Rp800.000 sampai Rp1,5 juta per sesi, sementara di Jakarta Timur bisa mulai dari Rp250.000. Di budget gym malah bisa hanya Rp100.000–Rp200.000,” ujarnya.

Dengan rentang harga tersebut maka pendapatan seorang PT di kota besar bisa sangat beragam. Menurut Jansen, pelatih top tier di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Makassar dan Bali bisa mengantongi Rp15 juta hingga Rp20 juta per bulan, tergantung jumlah klien dan jam kerja.
 

Ilustrasi personal trainer. (Sumber foto: Freepik)

Ilustrasi personal trainer. (Sumber foto: Freepik)

Senada dengan tren yang berkembang, personal trainer Yogi Pramuditya menilai bahwa potensi bisnis di industri pelatih kebugaran sangat menjanjikan, terutama di kota-kota besar. Permintaan tidak hanya datang dari pusat kebugaran, tetapi juga dari komunitas-komunitas olahraga, khususnya kelompok usia produktif yang semakin sadar pentingnya hidup aktif dan sehat.

"Apalagi dengan adanya tren digital seperti online coaching, yang memungkinkan pelatih menjangkau klien lebih luas tanpa batas lokasi,” ujarnya.

Menurut Yogi, tingginya permintaan ini didorong oleh keinginan masyarakat untuk mencapai target kebugaran secara lebih cepat dan aman. Selain itu, maraknya event olahraga serta peran media sosial turut meningkatkan popularitas profesi personal trainer.

Bahkan, saat ini permintaan disebutnya jauh lebih besar daripada pasokan, terutama untuk pelatih yang tersertifikasi dan berpengalaman.

"Banyak gym atau klien pribadi yang masih kesulitan mendapatkan trainer yang benar-benar kompeten, apalagi mereka kini makin selektif,” tambah Yogi.

Terkait pendapatan seorang trainer, Jansen menjelaskan bahwa ini pendapatan seorang PT di kota besar seperti Jakarta bisa mencapai Rp15–20 juta per bulan, tergantung jumlah klien dan tarif yang dipatok. Rentang tarif per sesi pun bervariasi, dari Rp100.000 di gym komunitas hingga Rp1,5 juta di kawasan elite.

Yogi menambahkan bahwa variasi tarif tersebut sangat berkaitan dengan aspek aksesibilitas. Pelatih berpengalaman mungkin bisa mematok harga lebih tinggi, tapi penting juga untuk tetap membuka ruang bagi lebih banyak orang agar bisa menikmati bimbingan personal trainer.

"Kita bisa akali dengan paket kelompok atau sesi hemat tanpa menurunkan kualitas," jelasnya.

Namun, Yogi menegaskan bahwa menjadi seorang pelatih tidak cukup hanya bermodal otot dan kemampuan menyusun jadwal latihan. Pemahaman tentang anatomi tubuh, penyusunan program latihan yang aman, serta keterampilan komunikasi juga menjadi syarat penting.

“Tiap klien beda karakter. Harus sabar, komunikatif, dan tahu bagaimana memotivasi,” kata Yogi.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

SEBELUMNYA

Link Live Streaming Timnas Indonesia vs Vietnam di Final Piala AFF U-23

BERIKUTNYA

Liburan dan Konser Jadi Prioritas, Experience Economy Makin Menguat di 2025

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga