ilustrasi konser (sumber : wendywei/pexels)

Liburan dan Konser Jadi Prioritas, Experience Economy Makin Menguat di 2025

29 July 2025   |   17:00 WIB
Image
Dewi Andriani Jurnalis Hypeabis.id

Like
Di tengah ketidakpastian ekonomi dan penurunan daya beli masyarakat, sektor yang menawarkan pengalaman justru mengalami pertumbuhan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir memunculkan fenomena yang disebut sebagai experience economy.

Fenomena ini sejalan dengan data terbaru yang dirilis Lokadata.id berjudul Pola Perilaku Konsumen Muda yang memperlihatkan bahwa pola konsumsi masyarakat, khususnya generasi muda usia 18 hingga 34 tahun, lebih memilih membelanjakan uang mereka untuk kegiatan yang memberikan pengalaman dan nilai emosional secara personal ketimbang konsumsi barang dan kebutuhan pokok (experience spending).

Baca juga: Enggak Harus Mahal, Begini Tip Liburan Gen Z Biar Tetap Maksimal

Suwandi Ahmad, Chief Data Officer Lokadata.id mengatakan bahwa tren ini tidak muncul begitu saja. Pergeseran pola perilaku tersebut telah terjadi sekitar tahun 2018 hingga 2019 dan makin diperkuat sejak pandemi melanda.

"Jika pada 2019 masyarakat lebih fokus pada belanja barang dan aktivitas konsumtif seperti makan di luar dan belanja di mall, maka saat ini preferensinya bergeser untuk menciptakan kenangan atau pengalaman mulai dari berlibur, nonton konser, hingga staycation," jelasnya dalam forum Power Lunch Peluang Bisnis di Musim Libur Sekolah yang diselenggarakan GDP Venture.

Menurutnya, sepanjang 2019 hingga 2025, lanskap pariwisata dan gaya hidup masyarakat pun mengalami perubahan. Dari dominasi wisata alam dan budaya konvensional, tren bergeser ke aktivitas berbasis hiburan seperti konser dan festival, hingga atraksi budaya.

Bahkan di era saat ini, muncul fenomena revenge travel yang menjadikan konser musik internasional dan festival sebagai magnet wisata baru. Masyarakat rela melakukan gig-tripping alias bepergian ke kota atau negara lain hanya untuk menonton konser.

“Harga tiket konser yang meningkat karena adanya lonjakan permintaan dan terbatasnya pasokan tidak mengurangi minat untuk menonton konser,” jelasnya

Perubahan perilaku tersebut, nyatanya ikut mempengaruhi pengeluaran masyarakat. Lokadata mencatat adanya lonjakan pengeluaran yang signifikan untuk kebutuhan non-makanan sepanjang 2024, terutama dari kalangan menengah ke atas. Rerata pengeluaran rumah tangga non-makanan kelas ekonomi Upper 1 naik 41%, sementara Upper 2 naik 16%, dan 4% untuk Middle 1.

“Dibandingkan pengeluaran makanan, jelas terlihat peningkatan willingness to pay untuk hal-hal di luar kebutuhan pokok termasuk liburan dan hiburan,” tuturnya.

Pola perubahan perilaku konsumen tersebut sangat terlihat selama musim libur sekolah dan long weekend. Dari sektor perjalanan dan atraksi, layanan fotografi, hingga pertunjukan teater, masyarakat kini makin mengutamakan konsumsi berbasis pengalaman yang bersifat personal, emosional, dan layak dibagikan.

Platform perjalanan tiket.com mencatat lonjakan transaksi yang signifikan selama musim liburan sekolah 2025, dengan akomodasi meningkat akomodasi naik 79%, atraksi wisata naik 45%, dan tiket penerbangan naik 38%.


Tren Micro-Break

Di luar periode liburan sekolah, sepanjang paruh pertama 2025 tiket.com juga mencatat pertumbuhan transaksi sebesar 54% dibandingkan tahun lalu yang didorong oleh meningkatnya kebiasaan masyarakat untuk mengambil jeda singkat dari rutinitas, atau yang kini dikenal sebagai tren micro-break.

“Sebelum pandemi, masyarakat umumnya menunggu libur panjang untuk berlibur. Kini, ada kebutuhan baru untuk rehat sejenak dari rutinitas, entah melalui perjalanan singkat, menonton konser, atau sekadar menikmati aktivitas hiburan di akhir pekan panjang,” ujar Gaery Undarsa, Co-Founder & CMO tiket.com.

Selain itu, pihaknya juga melihat adanya pergeseran waktu liburan dari libur panjang ke liburan singkat. Begitu juga dengan destinasi pilihan, ketimbang memilih berlibur ke luar negeri saat ini masyarakat lebih memilih untuk berlibur ke destinasi domestik. Termasuk waktu liburan dari liburan tahunan menjadi momen-momen jeda yang lebih sering dan lebih personal.

"Saat ini motivasi konsumen berlibur bukan lagi soal jarak tetapi makna dari momen itu sendiri," tuturnya.


Antusiasme Pertunjukan

Selain tiket.com, Galeri Indonesia Kaya juga ikut mendapatkan berkah dari fenomena tersebut, Ini terlihat dari antusiasme pengunjung yang selama periode libur sekolah mencapai lebih dari 27.000 orang.

“Fenomena war tiket kini tak hanya terjadi di konser berbayar, bahkan masyarakat berlomba mendapatkan tiket gratis di GIK seperti yang ramai dibagikan di media sosial karena masyarakat ingin menjadi bagian dari momen sosial bersama,” jelas Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation.

Tak hanya menghadirkan hiburan, GIK juga memperkuat fungsi edukatifnya melalui konten interaktif yang dirancang khusus untuk generasi muda. Cerita rakyat seperti Lutung Kasarung dari Jawa dan Empat Raja dari Papua disajikan lewat panel digital interaktif, menjadikan GIK sebagai destinasi liburan sekolah yang mendidik sekaligus menghibur bagi seluruh keluarga.

Di luar galeri, dua pertunjukan musikal berbayar yang diselenggarakan Galeri Indonesia Kaya bersama pihak ketiga selama periode liburan sekolah, yaitu Keluarga Cemara yang diadakan selama 30 hari dan Petualangan Sherina yang diadakan selama 15 hari berhasil menarik total lebih dari 43.000 penonton, dengan tiket Petualangan Sherina yang habis terjual.

Menurutnya, teater kini menjadi alternatif hiburan yang tak kalah menarik dibanding konser atau film layar lebar. “Menonton teater hari ini bukan hanya dianggap keren, tapi juga mencerminkan minat pada konten yang cerdas dan bernilai budaya,” jelasnya.

Sementara itu, SweetEscape, layanan fotografi profesional yang hadir di lebih dari 500 kota di seluruh dunia, mencatat lonjakan permintaan lebih dari 35% selama liburan sekolah. 

David Soong, Founder & CEO SweetEscape mengatakan, tren dokumentasi kini tidak lagi terpusat di objek wisata populer, tetapi juga bergeser ke villa tempat menginap dan ruang terbuka lainnya yang lebih personal.

“Fotografer kami kini tak jarang berperan ganda sebagai pemandu lokal, menunjukkan spot-spot tersembunyi yang estetik dan Instagramable,” ujarnya.

Tren ini juga memperkuat fenomena experience sharing, dimana konsumen ingin segera membagikan momen liburannya melalui media sosial. Untuk mendukung kebutuhan tersebut, SweetEscape menjanjikan seluruh hasil foto yang telah diedit maksimal bisa diunduh dalam waktu 48 jam bahkan seringkali sudah dapat diunduh keesokan harinya.
 
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 
 

SEBELUMNYA

Melirik Profesi Personal Trainer yang Kian Menjanjikan di Tengah Tren Hidup Sehat

BERIKUTNYA

Final U-23 Indonesia vs Vietnam, Cek Daftar Lokasi Nobar di Jakarta

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga