School of Rock The Musical: Panggung Mimpi & Perlawanan di Sekolah Elit
28 July 2025 |
07:06 WIB
Dewey Finn, seorang yang bermimpi menjadi bintang rock, mengalami nasib sial setelah didepak dari grup bandnya. Terdesak kebutuhan hidup dan tanpa pemasukan, dia nekat menyamar sebagai Ned Schneebly, teman karibnya yang meminjami kamar untuk tidur.
Dengan identitas palsu, dia menerima tawaran mengajar di sekolah dasar elit, Horace Green, yang tentunya bertolak belakang dengan hidupnya. Awalnya, Dewey hanya tergiur oleh gaji besar, karena dari sana dia bisa memiliki kocek untuk menyambung hidup yang luntang-lantung.
Baca juga: Libby Heaney Eksplorasi Lukisan Gua lewat Fisika Kuantum & Seni di Museum MACAN
Namun, rencananya berubah saat menyadari bahwa para murid di kelasnya punya bakat musikal luar biasa. Diam-diam, dia mulai melatih mereka membentuk band rock rahasia, dengan tujuan mengikuti kontes Battle of the Bands, yang menjadi impiannya selama ini.
Tak hanya soal musik, Dewey perlahan mengajarkan anak-anak itu tentang keberanian, ekspresi diri, dan pentingnya mengejar mimpi—sesuatu yang tak pernah mereka dapatkan dari sistem pendidikan formal yang kaku, alih-alih mendukung ekspresi murid.
Premis tersebut ditampilkan dalam pertunjukan musikal bertajuk School of Rock: The Musical – The Next Generation. Berlangsung di Ciputra Artpreneur pada 26 dan 27 Juli 2025, pertunjukan ini merangkai kisah-kisah ajaib di balik kreativitas dan ambisi.
Seperti judulnya, School of Rock: The Musical merupakan versi drama musikal dari film legendaris School of Rock yang diperankan Jack Black. Cerita yang sudah ada sejak 2003 ini kemudian digubah menjadi pertunjukan teater musikal dengan pendekatan ciamik.
Dewey Finn, yang diperankan oleh Bran Vargas, tampil trengginas selama 150 menit pertunjukan. Lagaknya yang seperti rockstar selengean tapi penuh humor juga berhasil membius penonton dengan suaranya yang sesekali serak atau kadang sengau.
Lain dari itu, kisah kehidupan sekolah yang kaku juga berhasil divisualkan dengan baik oleh Bernice Nikki, yang memerankan karakter kepala sekolah Rosalie Mullins. Kepiawaiannya dalam menyanyikan langgam-langgam klasik juga membuat penonton berdecak.
Dia mampu membawa karakter kepala sekolah yang tegas dan berwibawa, yang mengutamakan formalitas dan disiplin, pelan-pelan menjadi cair berkat musik. Terlebih saat dia menyanyikan lagu solonya yang emosional, penonton dapat merasakan kerentanan Rosalie di balik sikap formalnya.
Adegan tersebut tak ayal menjadi titik balik yang memperlihatkan bagaimana musik tak hanya mengubah murid-murid, tapi juga membuka sisi manusiawi sang kepala sekolah yang selama ini tertekan oleh aturan dan ekspektasi.
Berbeda dari versi tahun sebelumnya, kali ini School of Rock: The Musical tampil lebih mulus di setiap pergantian adegan. Hadirnya set panggung yang lebih modern berbentuk tingkat juga memberi gambaran situasi yang lebih memukau.
Produser School of Rock: The Musical sekaligus Founder Hi Jakarta Production, Riri Kumalasari, mengatakan bahwa tahun ini pertunjukan yang mereka hadirkan membawa pembaruan cukup signifikan dibanding edisi sebelumnya. Salah satunya adalah sistem tim ganda.
Pembagian ini memungkinkan lebih banyak anak terlibat dan tetap menjaga energi segar di setiap pertunjukan. Tak hanya dari segi pemain, aspek teknis juga mengalami peningkatan. “Dari composing, set design, lighting, sampai sound, semua beda. Jadi memang lebih upgrade, kali ya kita bilang,” tambahnya.
Riri juga menekankan bahwa pertunjukan kali ini mengadopsi gaya produksi yang lebih modern dibanding sebelumnya. Jika tahun lalu lebih kental dengan nuansa West End tradisional yang banyak menggunakan blackout dan transisi panjang, kini ritme pementasan dibuat lebih dinamis.
Dari segi struktur, pertunjukan ini dibagi ke dalam dua babak utama, yang masing-masing terdiri dari sejumlah adegan dinamis. Setiap adegan dirancang dengan pendekatan visual yang berbeda—baik dari segi tata panggung maupun kostum—sehingga memberikan nuansa yang selalu segar di setiap peralihan.
Musik yang mengiringi pun disesuaikan dengan konteks emosi dan suasana adegan. Komposisi lagu yang variatif—mulai dari yang penuh energi hingga yang lebih melankolis—berhasil memperkuat atmosfer dramatik maupun humoris yang ditampilkan.
Dengan kualitas produksi yang semakin matang, School of Rock: The Musical versi Hi Jakarta Production bukan hanya sekadar adaptasi lokal—melainkan perayaan penuh energi dari semangat pemberontakan yang dibungkus musikalitas cerdas.
Anak-anak di atas panggung tak sekadar tampil, mereka meledakkan energi dengan talenta yang nyaris tak terduga. Di balik dentuman musik rock dan canda yang mengalir, terselip pesan yang membekas: bahwa keberanian menjadi diri sendiri bisa tumbuh dari mana saja—bahkan dari kelas musik yang kacau.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Dengan identitas palsu, dia menerima tawaran mengajar di sekolah dasar elit, Horace Green, yang tentunya bertolak belakang dengan hidupnya. Awalnya, Dewey hanya tergiur oleh gaji besar, karena dari sana dia bisa memiliki kocek untuk menyambung hidup yang luntang-lantung.
Baca juga: Libby Heaney Eksplorasi Lukisan Gua lewat Fisika Kuantum & Seni di Museum MACAN
Namun, rencananya berubah saat menyadari bahwa para murid di kelasnya punya bakat musikal luar biasa. Diam-diam, dia mulai melatih mereka membentuk band rock rahasia, dengan tujuan mengikuti kontes Battle of the Bands, yang menjadi impiannya selama ini.
Tak hanya soal musik, Dewey perlahan mengajarkan anak-anak itu tentang keberanian, ekspresi diri, dan pentingnya mengejar mimpi—sesuatu yang tak pernah mereka dapatkan dari sistem pendidikan formal yang kaku, alih-alih mendukung ekspresi murid.
Premis tersebut ditampilkan dalam pertunjukan musikal bertajuk School of Rock: The Musical – The Next Generation. Berlangsung di Ciputra Artpreneur pada 26 dan 27 Juli 2025, pertunjukan ini merangkai kisah-kisah ajaib di balik kreativitas dan ambisi.
Seperti judulnya, School of Rock: The Musical merupakan versi drama musikal dari film legendaris School of Rock yang diperankan Jack Black. Cerita yang sudah ada sejak 2003 ini kemudian digubah menjadi pertunjukan teater musikal dengan pendekatan ciamik.
Dewey Finn, yang diperankan oleh Bran Vargas, tampil trengginas selama 150 menit pertunjukan. Lagaknya yang seperti rockstar selengean tapi penuh humor juga berhasil membius penonton dengan suaranya yang sesekali serak atau kadang sengau.
Lain dari itu, kisah kehidupan sekolah yang kaku juga berhasil divisualkan dengan baik oleh Bernice Nikki, yang memerankan karakter kepala sekolah Rosalie Mullins. Kepiawaiannya dalam menyanyikan langgam-langgam klasik juga membuat penonton berdecak.
Dia mampu membawa karakter kepala sekolah yang tegas dan berwibawa, yang mengutamakan formalitas dan disiplin, pelan-pelan menjadi cair berkat musik. Terlebih saat dia menyanyikan lagu solonya yang emosional, penonton dapat merasakan kerentanan Rosalie di balik sikap formalnya.
Adegan tersebut tak ayal menjadi titik balik yang memperlihatkan bagaimana musik tak hanya mengubah murid-murid, tapi juga membuka sisi manusiawi sang kepala sekolah yang selama ini tertekan oleh aturan dan ekspektasi.
Berbeda dari versi tahun sebelumnya, kali ini School of Rock: The Musical tampil lebih mulus di setiap pergantian adegan. Hadirnya set panggung yang lebih modern berbentuk tingkat juga memberi gambaran situasi yang lebih memukau.

Para pemain musikal School of Rock: The Musical – The Next Generation, beraksi di Ciputra Artpreneur, Minggu, (27/7/2025). (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)
Produser School of Rock: The Musical sekaligus Founder Hi Jakarta Production, Riri Kumalasari, mengatakan bahwa tahun ini pertunjukan yang mereka hadirkan membawa pembaruan cukup signifikan dibanding edisi sebelumnya. Salah satunya adalah sistem tim ganda.
Pembagian ini memungkinkan lebih banyak anak terlibat dan tetap menjaga energi segar di setiap pertunjukan. Tak hanya dari segi pemain, aspek teknis juga mengalami peningkatan. “Dari composing, set design, lighting, sampai sound, semua beda. Jadi memang lebih upgrade, kali ya kita bilang,” tambahnya.
Riri juga menekankan bahwa pertunjukan kali ini mengadopsi gaya produksi yang lebih modern dibanding sebelumnya. Jika tahun lalu lebih kental dengan nuansa West End tradisional yang banyak menggunakan blackout dan transisi panjang, kini ritme pementasan dibuat lebih dinamis.
Dari segi struktur, pertunjukan ini dibagi ke dalam dua babak utama, yang masing-masing terdiri dari sejumlah adegan dinamis. Setiap adegan dirancang dengan pendekatan visual yang berbeda—baik dari segi tata panggung maupun kostum—sehingga memberikan nuansa yang selalu segar di setiap peralihan.
Musik yang mengiringi pun disesuaikan dengan konteks emosi dan suasana adegan. Komposisi lagu yang variatif—mulai dari yang penuh energi hingga yang lebih melankolis—berhasil memperkuat atmosfer dramatik maupun humoris yang ditampilkan.
Dengan kualitas produksi yang semakin matang, School of Rock: The Musical versi Hi Jakarta Production bukan hanya sekadar adaptasi lokal—melainkan perayaan penuh energi dari semangat pemberontakan yang dibungkus musikalitas cerdas.
Anak-anak di atas panggung tak sekadar tampil, mereka meledakkan energi dengan talenta yang nyaris tak terduga. Di balik dentuman musik rock dan canda yang mengalir, terselip pesan yang membekas: bahwa keberanian menjadi diri sendiri bisa tumbuh dari mana saja—bahkan dari kelas musik yang kacau.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.