Gelombang PHK Mengancam? Saatnya Latih Self-Leadership dan Bangun Rencana Karier Baru
25 July 2025 |
19:11 WIB
Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terus terjadi di berbagai sektor belakangan ini menjadi sinyal kuat bagi para pekerja untuk memikirkan ulang arah karier mereka. Tidak hanya soal keterampilan teknis, tapi juga soal kesiapan mental, kepemimpinan, dan keberanian memimpin diri sendiri.
Fenomena PHK ini bukan hanya sekadar statistik tetapi telah menjadi kenyataan yang menyentuh berbagai lapisan pekerja, termasuk mereka yang sebelumnya berada di level manajerial.
Agus Wibowo, Head Department Bancassurance Sales Learning BNI Life Insurance mengatakan bahwa ketidakpastian karier dan ancaman PHK merupakan salah satu faktor yang tidak bisa dikontrol oleh pekerja.
Baca juga: Waspada Badai PHK, Siapkan 4 Hal Ini untuk Amankan Keuangan
"Kita bekerja untuk perusahaan. Maka kebijakan perusahaan, termasuk layoff, mau tidak mau harus kita terima. Yang bisa kita kontrol adalah bagaimana kita memitigasinya,” ujarnya di sela-sela program Succession Leader yang diselenggarakan oleh Bisnis Indonesia, Jumat (25/7/2025).
Salah satu bentuk mitigasi penting yang harus dipersiapkan oleh pekerja adalah memiliki jiwa entrepreneurship sejak dini, bahkan saat masih aktif bekerja. Jiwa ini mencakup kemampuan melihat peluang serta memiliki jiwa kepemimpinan, tidak hanya untuk orang lain tetapi juga diri sendiri (self-leadership)
“Self-leadership itu lebih berat dibanding memimpin orang lain. Mulai dari bagaimana kita mengelola motivasi diri ketika sedang jatuh, mengenali kelemahan sendiri, hingga mengontrol emosi dan perilaku,” jelasnya.
Apalagi saat berada di posisi lay-off, banyak orang yang merasa terpuruk secara mental hingga berada dalam kondisi demotivasi. Padahal di saat itulah pentingnya kemampuan untuk memimpin diri sendiri, salah satunya dengan memotivasi diri sendiri dan melakukan refleksi terhadap kelemahan dan kekurangan yang dimiliki.
Selain itu yang tidak kalah penting adalah kemampuan mengontrol diri sendiri, termasuk manajemen waktu, manajemen perilaku dan lain sebagainya. “Untuk menjadi pemimpin atau entrepreneur yang kuat, maka kesadaran akan diri sendiri adalah kunci yang penting,” ujarnya.
Berbeda dengan karyawan, menjadi wirausaha berarti siap dengan risiko dan ketidakpastian. Maka, selain self-leadership, pola pikir bertumbuh (growth mindset) juga menjadi bekal utama.
“Kalau kita masih terpaku pada pola pikir lama dan enggan mengikuti perkembangan zaman seperti digitalisasi dan penggunaan marketplace, akan sulit untuk bertahan. Sekarang ini, bisnis bukan hanya soal jualan, tapi bagaimana membangun engagement melalui media sosial,” terangnya.
Agus menyarankan seseorang untuk dapat berpikir bukan hanya out of the box, tapi bahkan berpikir there is no box. Artinya, jangan batasi diri dalam menilai peluang dan ide. Apalagi ketika seseorang yang berasal dari dunia korporasi dan ingin menjadi pengusaha maka dia memiliki keunggulan dibandingkan seorang yang memulai dari nol.
“Pengalaman dalam strategi pemasaran, pembukuan, dan manajemen SDM itu adalah bekal luar biasa. Dibandingkan yang benar-benar otodidak, ini akan sangat mempermudah langkah awal,” katanya.
Agus juga tidak menutup kemungkinan jika karyawan aktif bisa mencoba memulai bisnis sampingan, tetapi dengan catatan penting jangan sampai mengganggu tugas utama dan hindari adanya konflik kepentingan. Karyawa bisa menggunakan waktu di luar jam kerja seperti malam atau akhir pekan untuk memulai usaha sampingan.
Mulailah dari pasar terdekat seperti rekan kerja atau teman dekat untuk uji coba produk secara organik. Dengan cara ini, calon wirausaha bisa mendapatkan masukan awal sebelum melempar produk ke pasar yang lebih luas.
Dalam kondisi ketidakpastian, termasuk kemungkinan PHK, karyawan perlu memiliki perencanaan keuangan yang matang. Agus mengingatkan pentingnya dana darurat. “Minimal 20 persen dari penghasilan dialokasikan untuk tabungan jangka panjang, investasi, atau dana darurat. Idealnya, dana darurat bisa mencukupi kebutuhan hidup 6 bulan. Jadi, ketika terjadi PHK, ada waktu untuk mencari pekerjaan baru atau membangun bisnis,” katanya.
Selain kepemimpinan dan mindset, kemampuan komunikasi adalah elemen krusial dalam transisi dari pekerja menjadi wirausaha. Sebab bagaimanapun seorang pemimpin adalah jembatan antara manajemen atas dan bawah. “Tanpa komunikasi yang baik, pesan dan visi tidak akan tersampaikan dengan efektif,” tutup Agus.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Fenomena PHK ini bukan hanya sekadar statistik tetapi telah menjadi kenyataan yang menyentuh berbagai lapisan pekerja, termasuk mereka yang sebelumnya berada di level manajerial.
Agus Wibowo, Head Department Bancassurance Sales Learning BNI Life Insurance mengatakan bahwa ketidakpastian karier dan ancaman PHK merupakan salah satu faktor yang tidak bisa dikontrol oleh pekerja.
Baca juga: Waspada Badai PHK, Siapkan 4 Hal Ini untuk Amankan Keuangan
"Kita bekerja untuk perusahaan. Maka kebijakan perusahaan, termasuk layoff, mau tidak mau harus kita terima. Yang bisa kita kontrol adalah bagaimana kita memitigasinya,” ujarnya di sela-sela program Succession Leader yang diselenggarakan oleh Bisnis Indonesia, Jumat (25/7/2025).
Salah satu bentuk mitigasi penting yang harus dipersiapkan oleh pekerja adalah memiliki jiwa entrepreneurship sejak dini, bahkan saat masih aktif bekerja. Jiwa ini mencakup kemampuan melihat peluang serta memiliki jiwa kepemimpinan, tidak hanya untuk orang lain tetapi juga diri sendiri (self-leadership)
“Self-leadership itu lebih berat dibanding memimpin orang lain. Mulai dari bagaimana kita mengelola motivasi diri ketika sedang jatuh, mengenali kelemahan sendiri, hingga mengontrol emosi dan perilaku,” jelasnya.
Apalagi saat berada di posisi lay-off, banyak orang yang merasa terpuruk secara mental hingga berada dalam kondisi demotivasi. Padahal di saat itulah pentingnya kemampuan untuk memimpin diri sendiri, salah satunya dengan memotivasi diri sendiri dan melakukan refleksi terhadap kelemahan dan kekurangan yang dimiliki.
Selain itu yang tidak kalah penting adalah kemampuan mengontrol diri sendiri, termasuk manajemen waktu, manajemen perilaku dan lain sebagainya. “Untuk menjadi pemimpin atau entrepreneur yang kuat, maka kesadaran akan diri sendiri adalah kunci yang penting,” ujarnya.
Berbeda dengan karyawan, menjadi wirausaha berarti siap dengan risiko dan ketidakpastian. Maka, selain self-leadership, pola pikir bertumbuh (growth mindset) juga menjadi bekal utama.
“Kalau kita masih terpaku pada pola pikir lama dan enggan mengikuti perkembangan zaman seperti digitalisasi dan penggunaan marketplace, akan sulit untuk bertahan. Sekarang ini, bisnis bukan hanya soal jualan, tapi bagaimana membangun engagement melalui media sosial,” terangnya.
Bergerak dengan Strategi
Agus menyarankan seseorang untuk dapat berpikir bukan hanya out of the box, tapi bahkan berpikir there is no box. Artinya, jangan batasi diri dalam menilai peluang dan ide. Apalagi ketika seseorang yang berasal dari dunia korporasi dan ingin menjadi pengusaha maka dia memiliki keunggulan dibandingkan seorang yang memulai dari nol.“Pengalaman dalam strategi pemasaran, pembukuan, dan manajemen SDM itu adalah bekal luar biasa. Dibandingkan yang benar-benar otodidak, ini akan sangat mempermudah langkah awal,” katanya.
Agus juga tidak menutup kemungkinan jika karyawan aktif bisa mencoba memulai bisnis sampingan, tetapi dengan catatan penting jangan sampai mengganggu tugas utama dan hindari adanya konflik kepentingan. Karyawa bisa menggunakan waktu di luar jam kerja seperti malam atau akhir pekan untuk memulai usaha sampingan.
Mulailah dari pasar terdekat seperti rekan kerja atau teman dekat untuk uji coba produk secara organik. Dengan cara ini, calon wirausaha bisa mendapatkan masukan awal sebelum melempar produk ke pasar yang lebih luas.
Dalam kondisi ketidakpastian, termasuk kemungkinan PHK, karyawan perlu memiliki perencanaan keuangan yang matang. Agus mengingatkan pentingnya dana darurat. “Minimal 20 persen dari penghasilan dialokasikan untuk tabungan jangka panjang, investasi, atau dana darurat. Idealnya, dana darurat bisa mencukupi kebutuhan hidup 6 bulan. Jadi, ketika terjadi PHK, ada waktu untuk mencari pekerjaan baru atau membangun bisnis,” katanya.
Selain kepemimpinan dan mindset, kemampuan komunikasi adalah elemen krusial dalam transisi dari pekerja menjadi wirausaha. Sebab bagaimanapun seorang pemimpin adalah jembatan antara manajemen atas dan bawah. “Tanpa komunikasi yang baik, pesan dan visi tidak akan tersampaikan dengan efektif,” tutup Agus.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.