ilustrasi (sumber : cottonbro studio /pexels)

7 Strategi Branding Untuk Mencuri Hati Gen Z di Era Autentisitas

23 July 2025   |   10:30 WIB
Image
Dewi Andriani Jurnalis Hypeabis.id

Era digital yang dipenuhi algoritma, ledakan konten, dan perubahan sosial yang cepat, satu kelompok konsumen kini menjadi pusat perhatian banyak brand yaitu Generasi Z (Gen Z). Lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an, Gen Z bukan sekadar generasi yang tumbuh bersama teknologi, tetapi juga dikenal sebagai kelompok yang kritis, autentik, dan sangat selektif dalam memilih brand yang mereka dukung.

Dengan populasi lebih dari 27 persen dari total penduduk Indonesia, Gen Z telah menjadi kekuatan besar dalam peta pemasaran masa kini. Namun, merebut perhatian dan loyalitas mereka bukan hal yang mudah. Brand dituntut untuk tidak hanya hadir di ruang digital, tapi juga mampu menjalin koneksi emosional yang relevan dan autentik. Komunikasi satu arah, iklan bombastis, dan kampanye tanpa nilai kini tidak cukup.

Baca juga: Soft Hiking Jadi Cara Healing Baru yang Diminati Gen Z & Milenial, Ini Rekomendasi Spotnya

Dalam diskusi yang digelar menjelang Hari Kemerdekaan RI ke-80 bersama tokoh dari TikTok, GoPay, dan Mantappu Corp, terungkap berbagai pendekatan strategis yang bisa diambil oleh brand. Berikut ini adalah tujuh strategi penting untuk menaklukkan hati Gen Z di era autentisitas:


1. Tampilkan Otentisitas, Bukan Sekadar Estetika

Chatrine Siswoyo Senior Advisor Vero Indonesia mengatakan, kunci utama meraih hati Gen Z adalah otentisitas. Sebab, mereka tidak tertarik pada sekadar iklan atau visual yang menarik tetapi pada keaslian, nilai-nilai yang sejalan, serta relevansi sosial.

“Gen Z ingin brand yang terasa manusiawi yang punya nilai, visi, dan misi yang nyata. Mereka nyambung dengan tujuan, bukan sekadar kemasan yang sempurna,” ujarnya

Gen Z tidak tergerak oleh kampanye visual yang indah semata, tetapi oleh cerita dan tujuan di baliknya. Mereka ingin tahu apa alasan brand ini ada? Apakah mereka peduli terhadap isu sosial? Apakah mereka berpihak pada nilai-nilai yang relevan? Brand yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan jujur dan konsisten akan mendapatkan kepercayaan jangka panjang.


2. Libatkan Audiens Lewat Konten yang Partisipatif

Gen Z bukan sekadar penonton, mereka ingin ikut menciptakan dan menjadi bagian dari narasi brand. Studi IDN Media mencatat bahwa 68 persen Gen Z menggunakan TikTok Live untuk berinteraksi secara langsung, menunjukkan kebutuhan untuk didengar dan berpartisipasi.

Kondisi ini mengindikasikan bahwa komunikasi satu arah sudah tidak lagi efektif. Sebaliknya, pendekatan yang partisipatif dan naratif menjadi lebih disukai. Gen Z tidak puas hanya menjadi penonton. Mereka ingin menjadi bagian dari percakapan dan pencipta konten. Karena itulah, konten buatan pengguna atau (User-Generated Content/UGC) sangat disukai Gen Z.

Bagi mereka, UGC menjadi sarana untuk mengekspresikan diri, terhubung dengan orang lain, sekaligus membangun kepercayaan yang tulus terhadap brand. UGC dinilai lebih autentik dan memiliki tingkat kepercayaan yang lebih tinggi dibandingkan materi promosi konvensional.

“Gen Z ingin keaslian dan tidak puas hanya menjadi penonton. Mereka ingin ikut menciptakan, berbagi, dan terlibat dalam percakapan,” ujar Chatrine berdasarkan hasil laporan dalam IDN Indonesia Millennial dan Gen Z Report, 2025.


3. Sentuh Komunitas Hyper-Niche, Bukan Sekadar Niche

Segmentasi pasar tradisional tak lagi cukup. Menurut Jehian Panangian Sijabat dari Mantappu Corp, brand harus melayani komunitas hyper-niche yaitu kelompok kecil dengan minat sangat spesifik, seperti gamer indie, aktivis lingkungan, atau komunitas bahasa daerah. 

Baca juga: Enggak Harus Mahal, Begini Tip Liburan Gen Z Biar Tetap Maksimal

Keberhasilan brand tidak hanya diukur dari seberapa luas jangkauan kampanye, tapi seberapa dalam keterhubungan yang bisa dibangun dengan komunitas-komunitas kecil ini. Mereka bisa menjadi ambassador yang setia jika merasa dimengerti dan dihargai. Dalam komunitas ini pula, loyalitas yang sesungguhnya dibangun.

“Dengan kemampuan melayani hyper-niche, di situlah letak kekuatan brand dalam membangun loyalitas,” ujarnya.


4. Posisikan Brand Sebagai Pihak yang Peduli dan Memihak

Gen Z tidak hanya ingin tahu “apa yang dijual” tetapi “apa yang diperjuangkan” oleh brand. Data dari Market.us menunjukkan bahwa 60 persen Gen Z lebih memilih brand yang mendukung isu sosial yang mereka pedulikan. Di Asia Tenggara, lebih dari 70 persen Gen Z Indonesia dan Filipina bahkan menuntut brand untuk bersuara terhadap isu-isu seperti keberlanjutan, keadilan sosial, hingga inklusivitas.

Keberpihakan kini bukan strategi diferensiasi, tetapi ekspektasi dasar. Brand yang berani mengambil sikap akan lebih mudah membangun keterlibatan emosional dan kepercayaan jangka panjang dari konsumen Gen Z.


5. Ciptakan Obrolan, Bukan Hanya Tayangan

Di era ketika algoritma media sosial mengedepankan interaksi, menjadi viral bukan tujuan utama, tetapi menjadi bahan pembicaraanlah yang lebih berharga. Sasha Sunu dari GoPay menyebut bahwa “obrolan adalah mata uang baru.” Kampanye yang bisa memicu percakapan, baik secara online maupun offline, adalah indikator keberhasilan yang sesungguhnya.

Brand harus mampu menciptakan cerita yang menginspirasi, mengundang komentar, dan membuat audiens ingin terlibat secara aktif. Interaksi dalam bentuk duet TikTok, repost, atau bahkan debat di kolom komentar bisa memperkuat posisi brand dalam lanskap digital.

“Tanya dulu ke diri sendiri, kampanye mu bisa menjadi bahan obrolan atau tidak? Kreativitas yang terasa dekat dan relevan adalah yang membuat orang ingin ikut ngobrol dan obrolan adalah mata uang baru,” ujar Sasha.


6. Gandeng Kreator yang Dipercaya Gen Z

Daripada membangun audiens dari nol, brand kini bisa memanfaatkan jejaring kreator yang sudah memiliki komunitas loyal. Platform Multi-Channel Network (MCN) seperti StreamLab dari SIRCLO mempermudah kolaborasi antara brand dan lebih dari 20.000 content creator lintas kategori.

Kreator lokal memiliki gaya komunikasi yang otentik, bahasa yang dekat dengan Gen Z, dan narasi yang personal. Pendekatan ini jauh lebih efektif untuk menyampaikan pesan brand secara natural dan kredibel dibandingkan kampanye iklan tradisional. Konten video yang memperlihatkan penggunaan produk dalam konteks nyata terbukti mampu membangun kepercayaan dan meningkatkan konversi.


7. Bangun Hubungan yang Tulus dan Berkelanjutan

Di balik semua strategi, yang paling penting adalah membangun hubungan jangka panjang. Bukan tentang menjadi viral sesaat, tapi membangun ikatan emosional yang dilandasi oleh nilai bersama, komunikasi dua arah, dan rasa saling percaya.

“Konten video yang otentik, cerita yang personal, serta penggunaan produk dalam konteks nyata mampu membangun kepercayaan dan koneksi yang kuat dengan brand,” ujar Danang

Karena itu, brand perlu hadir secara konsisten, bukan hanya saat butuh menjual, tetapi saat ingin berkontribusi dalam kehidupan sehari-hari Gen Z.
 

SEBELUMNYA

Legenda Rock Ozzy Osbourne Meninggal Dunia, 2 Minggu Usai Konser Terakhirnya

BERIKUTNYA

Ozzy Osbourne Tutup Usia, Metallica hingga Aerosmith Beri Salam Penghormatan

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: