Ilustrasi kaki anak. (Sumber gambar: Ana Curcan/Unsplash)

Kenali Penyebab Kaki Pengkor pada Anak & Cara Mengatasinya

22 July 2025   |   18:30 WIB
Image
Desyinta Nuraini Jurnalis Hypeabis.id

Clubfoot alias kaki pengkor menjadi kelainan bawaan yang kerap dialami anak Indonesia. Kondisi ini bisa membuat anak kesulitan untuk berjalan bahkan berdiri karena bentuk kaki yang abnormal. Akan tetapi, jika ditangani sejak dini, perkembangan kaki anak tersebut bisa lebih baik. 

Spesialis Ortopedi Pediatrik dari Eka Hospital BSD, dr. Patar Parmonangan Oppusunggu, menjelaskan kaki pengkor adalah kondisi yang menyebabkan bentuk kaki atau telapak kaki anak mengarah ke arah dalam. Telapak kaki mereka akan terlihat menghadap ke samping atau ke atas. 

Dalam bahasa medis, kondisi ini juga disebut dengan congenital talipes equinovarus. Sesuai namanya, ini adalah cacat bawaan dan termasuk langka. Sementara tingkat keparahannya bervariasi, mulai dari ringan sampai berat. “Clubfoot dapat terjadi di salah satu kaki ataupun kedua kaki,” ujar Patar dalam keterangannya, Selasa (22/7/2025). 

Baca juga: Faktor Risiko dan Penanganan Bunion, Jangan Remehkan Benjolan di Jempol Kaki 

Kaki pengkor pada anak sering kali tidak disertai dengan kondisi medis lain. Akan tetapi, dalam beberapa kasus, kaki pengkor juga terjadi karena masalah kesehatan penyerta lainnya. 

Oleh karena itu, Patar menyebut bahwa kaki pengkor dikelompokkan ke dalam dua tipe yang berbeda. Pertama, clubfoot idiopathic atau terisolasi. Jenis kaki pengkor yang terjadi begitu saja dan tidak diketahui penyebabnya. Biasanya, tidak ada gejala kesehatan lain yang menyertai. 

Kedua, non-isolated clubfoot. Clubfoot yang terjadi bersamaan dengan kondisi kesehatan lainnya, seperti spina bifida, trisomi 18, atau permasalahan sendi.

Adapun kaki pengkor pada anak terjadi karena otot paha yang terhubung dengan tulang kaki memendek dan menjadi kaku. “Hal inilah yang membuat kaki jadi terpuntir ke arah dalam,” ujar Patar.

Hingga kini, para ahli belum mengetahui dengan hal yang jadi penyebabnya dengan pasti. Kebanyakan kasus clubfoot terjadi dengan sendirinya begitu anak dilahirkan. 

Jadi, penyebab utamanya terkait dengan faktor genetik. Artinya, risiko seorang anak mengalami clubfoot lebih besar ketika dalam keluarga kondisi ini juga terjadi. Selain itu, kaki pengkor juga lebih sering terjadi pada anak laki-laki dibandingkan bayi perempuan. 

Patar menyampaikan ada beberapa kondisi lain saat kehamilan yang juga dapat menyebabkan anak berisiko lebih tinggi mengalami clubfoot. Risiko itu mulai dari air ketuban yang sedikit, terinfeksi virus Zika, dan terpapar asap rokok secara intens ataupun alkohol.

Sementara itu dia menyampaikan, kaki pengkor pada anak umumnya dapat terdeteksi pada saat pemeriksaan kehamilan, yaitu lewat USG pada usia kehamilan yang ke-20. Jika tidak terlihat dari USG, kaki pengkor dapat terdeteksi begitu anak dilahirkan.

Ciri-ciri paling umum anak yang memiliki kaki pengkor adalah kaki atau telapak kaki yang mengarah ke dalam, baik di salah satu kaki atau keduanya. Bisa dikatakan bentuk kaki menyerupai kacang merah atau ginjal. 

Kemudian, bisa dilihat bahwa lengkungan kaki yang sangat dalam. Kemudian, otot betis yang lebih kecil pada kaki yang terdampak, kaki yang lebih pendek, pergelangan kaki yang kaku, keterbatasan rentang gerak pada kaki, bagian atas kaki mengarah ke dalam dan ke bawah, serta telapak kaki tampak terbalik. 
 

Penanganan Kaki Pengkor 

Apakah kaki pengkor bisa disembuhkan? Patar menjelaskan kaki pengkor atau clubfoot pada anak tidak bisa sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan. Jika tidak ditangani dengan baik, anak akan berjalan dengan sisi kaki atau bagian punggung kaki.

Kondisi ini, lanjutnya, bisa menyebabkan anak kesulitan berjalan, pincang, luka pada kaki, atau masalah dalam menggunakan sepatu. Akan tetapi, Patar menyebut ada beberapa metode pengobatan yang dapat diberikan dan dinamakan metode Ponseti.

Penanganannya bisa berupa pemasangan gips untuk mengembalikan bentuk kaki anak. Dokter akan membuat beberapa gips yang menyesuaikan dengan pertumbuhan kaki bayi. 

Gips pertama akan dipasang pada minggu pertama atau kedua setelah bayi dilahirkan. Setelah pemakaian selama seminggu, orang tua bisa membawa bayinya untuk berkonsultasi ke dokter guna melakukan gerakan-gerakan sederhana, peregangan, dan mengganti dengan gips yang baru. Untuk menjalani metode ini, bayi akan menggunakan sekitar 5-7 gips selama beberapa minggu atau bulan.

Kedua, digunakannya penyangga. Patar menerangkan ketika kaki bayi berada dalam posisi yang tepat, dokter spesialis ortopedi anak akan mengganti gips dengan penyangga, atau disebut dengan orthotic. Penyangga ini terbuat dari besi dan terhubung dengan sepatu khusus yang akan menjaga posisi kaki anak agar tidak kembali ke bentuk awal. 

Pemakaian penyangga dapat berlangsung selama 3 bulan penuh selama 24 jam. Setelahnya, penyangga mungkin hanya akan dipakai pada malam hari, sekitar 3-5 tahun. Apabila kedua cara di atas tidak berhasil mengembalikan bentuk kaki pengkor pada anak, operasi mungkin saja diperlukan.

Baca juga: Penelitian: Berjalan Kaki 4.000 Langkah Sehari Efektif Turunkan Risiko Kematian 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor:

SEBELUMNYA

UBTech Pamer Robot Humanoid yang Bisa Ganti Baterai Sendiri & Kerja Non-stop 24 Jam

BERIKUTNYA

Memaknai Perang Jawa yang Dipimpin Pangeran Diponegoro Menurut Sejarawan Peter Carey

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: