Hypeprofil: Mimpi-Mimpi & Eksplorasi Kristo Immanuel
22 July 2025 |
11:00 WIB
Kristo Immanuel selama ini dikenal sebagai komedian, aktor, sekaligus kreator konten berbakat. Namanya mencuri perhatian publik berkat kemampuannya menirukan berbagai ekspresi dan suara dari beberapa tokoh publik serta karakter kartun terkenal, yang pada akhirnya membuatnya dikenal sebagai impersonator.
Namun, sejatinya mimpi Kristo sejak kecil ialah menjadi sutradara. Kini, di usianya yang menginjak 28 tahun, dia memberanikan diri untuk mewujudkan mimpinya itu dengan menggarap film panjang perdana berjudul Tinggal Meninggal. Film bergenre komedi getir itu akan menemui penontonnya mulai 14 Agustus 2025 di bioskop Indonesia.
Baca juga: Hypereport: Transformasi Kreatif Aktor-aktris yang Debut Sebagai Sutradara
Kristo bercerita mimpi untuk menjadi sutradara bahkan sudah ada di benaknya sejak kelas 4 SD. Bukan keinginan semata, mimpi itu pun yang akhirnya menuntunnya menempuh studi sarjana jurusan film di Universitas Multimedia Nusantara. Meski, dalam perjalanannya, Kristo lebih dulu terjun ke dunia kreator konten.
Setelah dikenal karena kemampuannya sebagai impersonator, Kristo baru masuk ke dunia film dengan menjadi aktor. Film pertama yang dibintanginya ialah Teka-teki Tika (2021) yang disutradarai oleh Ernest Prakasa.
Sejak itu, Kristo dipercaya untuk membintangi sejumlah judul film dan serial diantaranya The Big 4 (2022), Sleep Call (2023), dan 24 Jam bersama Gaspar (2024). Termasuk, berperan dalam beberapa pertunjukan musikal salah satunya Teater Musikal Cek Toko Sebelah (2022).
Di tengah kesibukannya, Kristo diam-diam mulai memupuk impian masa kecilnya. Dia bersama sang istri, Jessica Tjiu, mulai menulis sinopsis sebuah film dan diunggah di media sosial pribadinya. Unggahan itu pun dilirik oleh Ernest Prakasa, produser dari Imajinari, yang tertarik dan meminta Kristo untuk merampungkan naskah skenario tersebut hingga akhirnya menjadi proyek film Tinggal Meninggal.
"Kita enggak ada rencana mau disyutingin kapannya gitu. Jadi kaya, ya kita berandai-andai aja. Terus Ko Ernest baca skripnya dan tiba-tiba gimana kalau [tayang] 2025? Padahal gue mimpi [bikin film] ini tuh masih di 2035," katanya di Jakarta, belum lama ini.
Film TingNing akan mengikuti kisah tentang seorang pemuda bernama Gema (diperankan oleh Omara Esteghlal), yang selalu merasa kesepian. Sejak kecil, dia tidak memiliki teman begitupun tidak punya hubungan yang dekat dengan kedua orang tuanya.
Hal itu pun berlanjut ketika Gema sudah dewasa dan bekerja di sebuah kantor agensi. Di tempat kerjanya, Gema juga tidak memiliki teman. Namun, suatu hari, ayahnya meninggal dunia. Alih-alih sedih dan merasa kehilangan seperti anak-anak pada umumnya, Gema justru tidak merasa demikian.
Gara-gara kejadian itu, teman-teman di kantornya menjadi empati dan perlahan mendekati Gema. Dia pun merasa senang mendapat perhatian dari teman-temannya. Tetapi, seiring waktu, perhatian itu memudar. Dari situ, Gema pun berpikir bahwa ketika ada yang meninggal dari orang-orang terdekatnya, dia akan punya teman.
Kristo mengatakan kisah film TingNing terinspirasi dari pengalaman pribadinya. Dia bercerita saat duduk di bangku SD, dia cenderung tidak memiliki teman yang akrab hingga sering merasa kesepian. Menurutnya, tidak semua orang diberkahi dengan teman-teman yang tulus untuk memberikan empati dan perhatian. Bahkan, tak sedikit orang yang merasakan hal tersebut hingga dia beranjak dewasa.
"Kalau gue untungnya merasakan itu sampai SD doang. Cuma gue rasa tuh akan ada orang-orang yang merasa sendirian banget sampai dewasa. Mereka enggak terbiasa punya temen dan sekalinya punya temen, itu tuh endorfin yang gede banget buat mereka. Jadi intinya itu sih yang nge-trigger akhirnya membuat cerita itu," ungkapnya.
Hal lain yang mendorongnya untuk membuat film bergenre komedi getir ialah pengalamannya menonton film dark comedy. Menurutnya, film dengan genre tersebut memiliki sensasi tersendiri yang menarik ketika ditonton, dan dia pun ingin membagikan sensasi tersebut kepada penonton Indonesia.
"Sensasinya itu menyenangkan banget. Karena bisa dalam satu baris itu gue ketawa, tapi sebelah gue enggak nyaman. Kala itu ngerasanya sesuatu yang baru banget. Gue suka banget sensasi itu. Jadi gue berusaha kaya suatu hari pengen deh bikin film yang komedi getir juga atau dark comedy gitu," ucapnya.
Dalam film perdananya ini, Kristo memilih untuk menggunakan teknik breaking the fourth wall, guna mendekatkan karakter utama pada penonton. The fourth wall adalah sebutan untuk dinding keempat yang memisahkan dunia aktor dan penonton. Dalam bioskop, dinding keempat yang dimaksud ialah layar lebar, sementara ketiga dinding lainnya ialah yang membentuk ruang teater.
Dalam teknik breaking the fourth wall, aktor dari film mendobrak batasan dinding keempat itu. Hal ini ditandai dengan adanya interaksi yang dibangun oleh aktor kepada penonton. Aktor melihat ke kamera dan berbicara kepada audiens, seolah tak ada batasan antara dunia fiksi dan kenyataan. Di film TingNing, teknik breaking the fourth wall digunakan oleh karakter utama Gema yang diperankan oleh Omara Esteghlal.
Kristo mengatakan penggunaan teknik breaking the fourth wall dalam film Tinggal Meninggal dilatarbelakangi kesukaannya terhadap film-film yang menerapkan konsep itu. Di sisi lain, dia juga merasa bahwa teknik tersebut sangat relevan dengan apa yang dia rasakan khususnya ketika berhadapan dengan momen-momen aneh.
"Gue tuh suka banget kaya misalnya kalo di momen-momen awkward, cringe, atau enggak nyaman, misalnya kaya depan gue ada orang berantem nih. Terus kaya aduh ini awkward lagi gitu. Rasanya tuh pengen nyari dan lihat kamera kaya, kalian lihat apa yang gue lihat enggak sih," katanya.
"Jadi nanti kalau temen-temen lihat, nanti di filmnya itu breaking the fourth wall-nya itu momen ngomong sendirinya si Gema," imbuh pria kelahiran 28 Februari 1997 itu.
Di sisi lain, lantaran film TingNing didominasi oleh karakter anak muda Gen Z dan Milenial di lingkungan kantor agensi, Kristo pun melakukan beberapa riset online dan observasi dengan teman-teman di sekitarnya terutama terkait sejumlah problem dan proses pendewasaan yang dialami oleh orang-orang dari kalangan generasi tersebut.
Kristo menuturkan salah satu kesulitan utama dalam proses debut penyutradaraannya ialah menerjemahkan skrip menjadi film. Misalnya, dia ingin membuat sebuah adegan dengan intensi yang tidak terlalu komedi tapi awkward atau aneh. Sehingga, diharapkan ada emosi unik tersendiri yang akan dirasakan penonton.
"Nah cara ngomong itu ke pemain kadang bingung. Gimana intensi gue adalah gue enggak pengen lo ngelawak kok, tapi adegan ini normal-normal aja yang membuat orang ada yang bisa ketawa, ada yang awkward, ada yang cringe dengan intensional. Itu sih kayanya halangan yang terbesar," ungkapnya.
Diakui olehnya, menjadi sutradara jauh lebih sulit dibandingkan dengan ekspektasinya sebelumnya. Meski demikian, tetap ada juga kesenangan-kesenangan melebihi perkiraannya. Salah satu yang paling menantangnya ialah harus bekerja dengan banyak orang. Berbeda ketika dirinya sebagai kreator konten yang bekerja secara individualis.
"Ini tiba-tiba gue harus memimpin 100 orang, terus juga harus kasih tau apa yang gue mau dengan jelas ke para produser supaya komunikasinya jelas. Nah itu sih tantangan terbesarnya," katanya.
Namun, dia mengaku semua tantangan tersebut dapat teratasi lantaran Ernest Prakasa dan Dipa Andika Nurprasetyo sebagai produser dari Imajinari sangat mendukungnya untuk film TingNing. Selain itu, Kristo juga melakukan benchmarking dengan beberapa sutradara Indonesia, seperti Yandy Laurens, Wregas Bhanuteja, Joko Anwar, termasuk Ernest Prakasa.
"Lebih banyak ngobrolnya gimana sih caranya menyampaikan apa yang lo mau ke teman-teman dari kru sampai ke pemain. Karena enggak segampang itu. Misalnya gue minta akting gimana caranya gue ngomong supaya gak ngedikte dan mendapatkan rasa yang gue mau tapi dengan cara lo pribadi," tutur dia.
Kristo tidak menampik bahwa ada kekhawatiran tersendiri akan respons penonton terhadap karyanya, terlebih ini merupakan proyek debut penyutradaraannya. Apalagi, film yang dibuatnya mengusung genre komedi getir yang terbilang masih jarang diangkat di film-film Indonesia.
"Ketakutan gue salah satunya adalah apakah masyarakat Indonesia udah bisa menerima jenis komedi yang seperti ini," ujarnya. Pertanyaan Kristo itu akan segera terjawab.
Baca juga: Cerita Unik Omara Esteghlal Terpilih Jadi Karakter Utama di Film Tinggal Meninggal
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Namun, sejatinya mimpi Kristo sejak kecil ialah menjadi sutradara. Kini, di usianya yang menginjak 28 tahun, dia memberanikan diri untuk mewujudkan mimpinya itu dengan menggarap film panjang perdana berjudul Tinggal Meninggal. Film bergenre komedi getir itu akan menemui penontonnya mulai 14 Agustus 2025 di bioskop Indonesia.
Baca juga: Hypereport: Transformasi Kreatif Aktor-aktris yang Debut Sebagai Sutradara
Kristo bercerita mimpi untuk menjadi sutradara bahkan sudah ada di benaknya sejak kelas 4 SD. Bukan keinginan semata, mimpi itu pun yang akhirnya menuntunnya menempuh studi sarjana jurusan film di Universitas Multimedia Nusantara. Meski, dalam perjalanannya, Kristo lebih dulu terjun ke dunia kreator konten.
Setelah dikenal karena kemampuannya sebagai impersonator, Kristo baru masuk ke dunia film dengan menjadi aktor. Film pertama yang dibintanginya ialah Teka-teki Tika (2021) yang disutradarai oleh Ernest Prakasa.
Sejak itu, Kristo dipercaya untuk membintangi sejumlah judul film dan serial diantaranya The Big 4 (2022), Sleep Call (2023), dan 24 Jam bersama Gaspar (2024). Termasuk, berperan dalam beberapa pertunjukan musikal salah satunya Teater Musikal Cek Toko Sebelah (2022).
Di tengah kesibukannya, Kristo diam-diam mulai memupuk impian masa kecilnya. Dia bersama sang istri, Jessica Tjiu, mulai menulis sinopsis sebuah film dan diunggah di media sosial pribadinya. Unggahan itu pun dilirik oleh Ernest Prakasa, produser dari Imajinari, yang tertarik dan meminta Kristo untuk merampungkan naskah skenario tersebut hingga akhirnya menjadi proyek film Tinggal Meninggal.
"Kita enggak ada rencana mau disyutingin kapannya gitu. Jadi kaya, ya kita berandai-andai aja. Terus Ko Ernest baca skripnya dan tiba-tiba gimana kalau [tayang] 2025? Padahal gue mimpi [bikin film] ini tuh masih di 2035," katanya di Jakarta, belum lama ini.
_(1)_crop.jpg)
Kristo Immanuel. (Sumber gambar: Imajinari)
Inspirasi Cerita
Tinggal Meninggal (TingNing) adalah film drama komedi yang mengangkat tema komedi getir. Cerita film ini datang dari ide jahil Kristo Immanuel yang menggabungkan humor absurd dengan refleksi tentang kesepian, keinginan untuk diterima, dan berbagai lapisan kehidupan sosial yang sering kali diabaikan oleh masyarakat sosial.Film TingNing akan mengikuti kisah tentang seorang pemuda bernama Gema (diperankan oleh Omara Esteghlal), yang selalu merasa kesepian. Sejak kecil, dia tidak memiliki teman begitupun tidak punya hubungan yang dekat dengan kedua orang tuanya.
Hal itu pun berlanjut ketika Gema sudah dewasa dan bekerja di sebuah kantor agensi. Di tempat kerjanya, Gema juga tidak memiliki teman. Namun, suatu hari, ayahnya meninggal dunia. Alih-alih sedih dan merasa kehilangan seperti anak-anak pada umumnya, Gema justru tidak merasa demikian.
Gara-gara kejadian itu, teman-teman di kantornya menjadi empati dan perlahan mendekati Gema. Dia pun merasa senang mendapat perhatian dari teman-temannya. Tetapi, seiring waktu, perhatian itu memudar. Dari situ, Gema pun berpikir bahwa ketika ada yang meninggal dari orang-orang terdekatnya, dia akan punya teman.
Kristo mengatakan kisah film TingNing terinspirasi dari pengalaman pribadinya. Dia bercerita saat duduk di bangku SD, dia cenderung tidak memiliki teman yang akrab hingga sering merasa kesepian. Menurutnya, tidak semua orang diberkahi dengan teman-teman yang tulus untuk memberikan empati dan perhatian. Bahkan, tak sedikit orang yang merasakan hal tersebut hingga dia beranjak dewasa.
"Kalau gue untungnya merasakan itu sampai SD doang. Cuma gue rasa tuh akan ada orang-orang yang merasa sendirian banget sampai dewasa. Mereka enggak terbiasa punya temen dan sekalinya punya temen, itu tuh endorfin yang gede banget buat mereka. Jadi intinya itu sih yang nge-trigger akhirnya membuat cerita itu," ungkapnya.
Hal lain yang mendorongnya untuk membuat film bergenre komedi getir ialah pengalamannya menonton film dark comedy. Menurutnya, film dengan genre tersebut memiliki sensasi tersendiri yang menarik ketika ditonton, dan dia pun ingin membagikan sensasi tersebut kepada penonton Indonesia.
"Sensasinya itu menyenangkan banget. Karena bisa dalam satu baris itu gue ketawa, tapi sebelah gue enggak nyaman. Kala itu ngerasanya sesuatu yang baru banget. Gue suka banget sensasi itu. Jadi gue berusaha kaya suatu hari pengen deh bikin film yang komedi getir juga atau dark comedy gitu," ucapnya.
Eksplorasi Teknik
Dalam film perdananya ini, Kristo memilih untuk menggunakan teknik breaking the fourth wall, guna mendekatkan karakter utama pada penonton. The fourth wall adalah sebutan untuk dinding keempat yang memisahkan dunia aktor dan penonton. Dalam bioskop, dinding keempat yang dimaksud ialah layar lebar, sementara ketiga dinding lainnya ialah yang membentuk ruang teater. Dalam teknik breaking the fourth wall, aktor dari film mendobrak batasan dinding keempat itu. Hal ini ditandai dengan adanya interaksi yang dibangun oleh aktor kepada penonton. Aktor melihat ke kamera dan berbicara kepada audiens, seolah tak ada batasan antara dunia fiksi dan kenyataan. Di film TingNing, teknik breaking the fourth wall digunakan oleh karakter utama Gema yang diperankan oleh Omara Esteghlal.
Kristo mengatakan penggunaan teknik breaking the fourth wall dalam film Tinggal Meninggal dilatarbelakangi kesukaannya terhadap film-film yang menerapkan konsep itu. Di sisi lain, dia juga merasa bahwa teknik tersebut sangat relevan dengan apa yang dia rasakan khususnya ketika berhadapan dengan momen-momen aneh.
"Gue tuh suka banget kaya misalnya kalo di momen-momen awkward, cringe, atau enggak nyaman, misalnya kaya depan gue ada orang berantem nih. Terus kaya aduh ini awkward lagi gitu. Rasanya tuh pengen nyari dan lihat kamera kaya, kalian lihat apa yang gue lihat enggak sih," katanya.
"Jadi nanti kalau temen-temen lihat, nanti di filmnya itu breaking the fourth wall-nya itu momen ngomong sendirinya si Gema," imbuh pria kelahiran 28 Februari 1997 itu.
Di sisi lain, lantaran film TingNing didominasi oleh karakter anak muda Gen Z dan Milenial di lingkungan kantor agensi, Kristo pun melakukan beberapa riset online dan observasi dengan teman-teman di sekitarnya terutama terkait sejumlah problem dan proses pendewasaan yang dialami oleh orang-orang dari kalangan generasi tersebut.
Tantangan Jadi Sutradara
Kristo menuturkan salah satu kesulitan utama dalam proses debut penyutradaraannya ialah menerjemahkan skrip menjadi film. Misalnya, dia ingin membuat sebuah adegan dengan intensi yang tidak terlalu komedi tapi awkward atau aneh. Sehingga, diharapkan ada emosi unik tersendiri yang akan dirasakan penonton."Nah cara ngomong itu ke pemain kadang bingung. Gimana intensi gue adalah gue enggak pengen lo ngelawak kok, tapi adegan ini normal-normal aja yang membuat orang ada yang bisa ketawa, ada yang awkward, ada yang cringe dengan intensional. Itu sih kayanya halangan yang terbesar," ungkapnya.
Diakui olehnya, menjadi sutradara jauh lebih sulit dibandingkan dengan ekspektasinya sebelumnya. Meski demikian, tetap ada juga kesenangan-kesenangan melebihi perkiraannya. Salah satu yang paling menantangnya ialah harus bekerja dengan banyak orang. Berbeda ketika dirinya sebagai kreator konten yang bekerja secara individualis.
"Ini tiba-tiba gue harus memimpin 100 orang, terus juga harus kasih tau apa yang gue mau dengan jelas ke para produser supaya komunikasinya jelas. Nah itu sih tantangan terbesarnya," katanya.
Namun, dia mengaku semua tantangan tersebut dapat teratasi lantaran Ernest Prakasa dan Dipa Andika Nurprasetyo sebagai produser dari Imajinari sangat mendukungnya untuk film TingNing. Selain itu, Kristo juga melakukan benchmarking dengan beberapa sutradara Indonesia, seperti Yandy Laurens, Wregas Bhanuteja, Joko Anwar, termasuk Ernest Prakasa.
"Lebih banyak ngobrolnya gimana sih caranya menyampaikan apa yang lo mau ke teman-teman dari kru sampai ke pemain. Karena enggak segampang itu. Misalnya gue minta akting gimana caranya gue ngomong supaya gak ngedikte dan mendapatkan rasa yang gue mau tapi dengan cara lo pribadi," tutur dia.
Kristo tidak menampik bahwa ada kekhawatiran tersendiri akan respons penonton terhadap karyanya, terlebih ini merupakan proyek debut penyutradaraannya. Apalagi, film yang dibuatnya mengusung genre komedi getir yang terbilang masih jarang diangkat di film-film Indonesia.
"Ketakutan gue salah satunya adalah apakah masyarakat Indonesia udah bisa menerima jenis komedi yang seperti ini," ujarnya. Pertanyaan Kristo itu akan segera terjawab.
Baca juga: Cerita Unik Omara Esteghlal Terpilih Jadi Karakter Utama di Film Tinggal Meninggal
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.