Aktris Marsha Timothy Sebut Film Lyora: Penantian Buah Hati Bukan Karya Biopik
13 July 2025 |
18:30 WIB
Film Lyora: Penantian Buah Hati garapan Pritagita Arianegara bakal mengangkat tema infertilitas dalam rumah tangga, satu isu yang masih langka di perfilman Indonesia. Dibalut dengan drama emosional, film ini mencoba membuka ruang diskusi tentang perjuangan pasangan dalam menghadapi tekanan sosial dan harapan terhadap kehadiran seorang anak.
Film produksi Jarasta Enterprise, Paragon Pictures dan Ideosource Entertainment ini merupakan adaptasi dari buku berjudul Lyora: Keajaiban yang Dinanti yang ditulis oleh Fenty Effendy. Buku itu menceritakan perjuangan Meutya Hafid, yang kini menjadi Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, saat menanti buah hati bersama suaminya, Noer Fajriensyah.
Kendati diadaptasi dari cerita nyata, film ini rupanya dikemas dengan pendekatan yang berbeda. Aktris Marsha Timothy yang memerankan Meutya menyebut karya ini bukan dibuat untuk menjadi film biopik tokoh tertentu.
"Karena film ini terinspirasi dari buku, nama karakter pun menyesuaikan yang ada di buku tersebut, terutama untuk dua karakter utamanya. Namun, film ini bukan dibuat dalam konsep biopik. Ini lebih pada inspired by true event," kata Marsha.
Baca juga: Film Lyora: Penantian Buah Hati Rilis Official Poster dan Trailer
Aktris berusia 46 tahun ini mengungkapkan bahwa meski karakter yang diperankannya memiliki latar sosok nyata, dirinya tidak melakukan riset mendalam untuk meniru tokoh aslinya. Hal itu disesuaikan dengan pendekatan film yang memang tidak bertujuan menampilkan figur tertentu secara biografis.
Marsha menegaskan bahwa film ini lebih menyoroti sisi perjuangan perempuan. Menurut Marsha, memerankan karakter ini menghadirkan pengalaman emosional yang cukup mendalam baginya. Sebab, karakter ini menghadirkan narasi yang jarang muncul di perfilman Indonesia, bahkan mungkin sekadar percakapan sehari-hari.
Oleh karena itu, apa yang dialami karakternya di film ini pun cukup berat. Marsha pun mengaku harus memahami dan menyelami kompleksitas emosi seorang calon ibu yang begitu kompleks saat menghadapi tantangan memiliki anak, termasuk kenyataan pahit berupa keguguran berulang.
“Meutya menjadi simbol dari banyak perempuan yang berjuang untuk dua garis di alat tes kehamilan. Di film ini, dia mewakili suara-suara yang selama ini jarang muncul ke permukaan—tentang bagaimana kerasnya perjuangan perempuan dan pasangannya untuk mendapatkan keturunan,” tutur Marsha Timothy.
Bagi Marsha Timothy, keterlibatannya dalam film Lyora: Penantian Buah Hati menjadi pengalaman yang penuh makna sekaligus proses pembelajaran diri. Dia mengaku mendapatkan banyak pelajaran berharga yang turut membantunya tumbuh secara pribadi, serta memperluas wawasannya melalui semangat dan kekuatan yang ditemukan dari karakter-karakter perempuan tangguh di Indonesia.
Untuk menghidupkan karakter ini, Marsha mengaku lebih banyak untuk berdiskusi dengan sutradara dan membaca skrip. Menurutnya, naskah film ini sudah cukup lengkap untuk menjelaskan bagaimana latar belakang si karakter dan tujuan yang ingin diraih di film ini.
Berdasarkan hal tersebut, dirinya pun meramu emosi-emosi yang muncul di setiap adegannya. Menurutnya, karakter-karakter di film ini begitu apik dan dia berharap dapat menjadi inspirasi banyak orang di Indonesia, terutama bagi mereka yang juga tengah menanti si buah hati.
Sementara itu, sutradara Pritagita Arianegara mengatakan bahwa Lyora: Penantian Buah Hati merupakan film drama yang sarat empati. Film ini akan mengisahkan perjuangan pasangan suami istri dalam menantikan kehadiran anak.
Dia berharap film ini mampu menyampaikan pesan tentang keteguhan hati, harapan, dan kekuatan cinta yang menjadi penopang di tengah ujian hidup. Melalui kisah Meutya dan Fajrie yang penuh tantangan, Pritagita juga berharap para pejuang garis dua bisa merasa dikuatkan dan termotivasi.
“Film ini sangat personal buat saya. Saya tahu rasanya menunggu, mencoba, dan gagal. Lewat Lyora, saya ingin memeluk mereka yang masih berjuang dan mengingatkan bahwa ini bukan perjuangan satu orang saja,” imbuhnya.
Film Lyora: Penantian Buah Hati akan mengikuti kehidupan Meutya (Marsha Timothy), seorang wanita karir dengan segala kesibukannya, berusaha untuk memiliki keturunan di usianya yang sudah tidak lagi muda.
Penonton juga akan diajak melihat pasangan ini dalam menempuh berbagai cara lain. Mulai dari cara medis hingga cara-cara yang menjadi kepercayaan di kalangan masyarakat.
Pada suatu ketika, keduanya akhirnya sepakat untuk menjalani berbagai program kehamilan bayi tabung. Akan tetapi, masalah dan tantangan seolah tak berhenti datang begitu saja. Di sisi lain, Pertanyaan ‘kapan’ dari orang-orang sekitarnya, menjadi doa tapi sekaligus ‘momok’ yang memunculkan pergulatan batin.
Film Lyora: Penantian Buah Hati tayang di bioskop Indonesia mulai 7 Agustus 2025.
Baca juga: Film Sore: Istri dari Masa Depan Garapan Yandy Laurens Sudah Tayang di Bioskop Seluruh Indonesia
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Film produksi Jarasta Enterprise, Paragon Pictures dan Ideosource Entertainment ini merupakan adaptasi dari buku berjudul Lyora: Keajaiban yang Dinanti yang ditulis oleh Fenty Effendy. Buku itu menceritakan perjuangan Meutya Hafid, yang kini menjadi Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, saat menanti buah hati bersama suaminya, Noer Fajriensyah.
Kendati diadaptasi dari cerita nyata, film ini rupanya dikemas dengan pendekatan yang berbeda. Aktris Marsha Timothy yang memerankan Meutya menyebut karya ini bukan dibuat untuk menjadi film biopik tokoh tertentu.
"Karena film ini terinspirasi dari buku, nama karakter pun menyesuaikan yang ada di buku tersebut, terutama untuk dua karakter utamanya. Namun, film ini bukan dibuat dalam konsep biopik. Ini lebih pada inspired by true event," kata Marsha.
Baca juga: Film Lyora: Penantian Buah Hati Rilis Official Poster dan Trailer
_crop.jpg)
Marsha Timothy (Sumber gambar: Poplicist)
Marsha menegaskan bahwa film ini lebih menyoroti sisi perjuangan perempuan. Menurut Marsha, memerankan karakter ini menghadirkan pengalaman emosional yang cukup mendalam baginya. Sebab, karakter ini menghadirkan narasi yang jarang muncul di perfilman Indonesia, bahkan mungkin sekadar percakapan sehari-hari.
Oleh karena itu, apa yang dialami karakternya di film ini pun cukup berat. Marsha pun mengaku harus memahami dan menyelami kompleksitas emosi seorang calon ibu yang begitu kompleks saat menghadapi tantangan memiliki anak, termasuk kenyataan pahit berupa keguguran berulang.
“Meutya menjadi simbol dari banyak perempuan yang berjuang untuk dua garis di alat tes kehamilan. Di film ini, dia mewakili suara-suara yang selama ini jarang muncul ke permukaan—tentang bagaimana kerasnya perjuangan perempuan dan pasangannya untuk mendapatkan keturunan,” tutur Marsha Timothy.
Bagi Marsha Timothy, keterlibatannya dalam film Lyora: Penantian Buah Hati menjadi pengalaman yang penuh makna sekaligus proses pembelajaran diri. Dia mengaku mendapatkan banyak pelajaran berharga yang turut membantunya tumbuh secara pribadi, serta memperluas wawasannya melalui semangat dan kekuatan yang ditemukan dari karakter-karakter perempuan tangguh di Indonesia.
Untuk menghidupkan karakter ini, Marsha mengaku lebih banyak untuk berdiskusi dengan sutradara dan membaca skrip. Menurutnya, naskah film ini sudah cukup lengkap untuk menjelaskan bagaimana latar belakang si karakter dan tujuan yang ingin diraih di film ini.
Berdasarkan hal tersebut, dirinya pun meramu emosi-emosi yang muncul di setiap adegannya. Menurutnya, karakter-karakter di film ini begitu apik dan dia berharap dapat menjadi inspirasi banyak orang di Indonesia, terutama bagi mereka yang juga tengah menanti si buah hati.
Sementara itu, sutradara Pritagita Arianegara mengatakan bahwa Lyora: Penantian Buah Hati merupakan film drama yang sarat empati. Film ini akan mengisahkan perjuangan pasangan suami istri dalam menantikan kehadiran anak.
Dia berharap film ini mampu menyampaikan pesan tentang keteguhan hati, harapan, dan kekuatan cinta yang menjadi penopang di tengah ujian hidup. Melalui kisah Meutya dan Fajrie yang penuh tantangan, Pritagita juga berharap para pejuang garis dua bisa merasa dikuatkan dan termotivasi.
“Film ini sangat personal buat saya. Saya tahu rasanya menunggu, mencoba, dan gagal. Lewat Lyora, saya ingin memeluk mereka yang masih berjuang dan mengingatkan bahwa ini bukan perjuangan satu orang saja,” imbuhnya.
Film Lyora: Penantian Buah Hati akan mengikuti kehidupan Meutya (Marsha Timothy), seorang wanita karir dengan segala kesibukannya, berusaha untuk memiliki keturunan di usianya yang sudah tidak lagi muda.
Penonton juga akan diajak melihat pasangan ini dalam menempuh berbagai cara lain. Mulai dari cara medis hingga cara-cara yang menjadi kepercayaan di kalangan masyarakat.
Pada suatu ketika, keduanya akhirnya sepakat untuk menjalani berbagai program kehamilan bayi tabung. Akan tetapi, masalah dan tantangan seolah tak berhenti datang begitu saja. Di sisi lain, Pertanyaan ‘kapan’ dari orang-orang sekitarnya, menjadi doa tapi sekaligus ‘momok’ yang memunculkan pergulatan batin.
Film Lyora: Penantian Buah Hati tayang di bioskop Indonesia mulai 7 Agustus 2025.
Baca juga: Film Sore: Istri dari Masa Depan Garapan Yandy Laurens Sudah Tayang di Bioskop Seluruh Indonesia
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.