Salah satu karya dalam pameran tunggal seniman Kei Imazu di Museum Macan (Sumber gambar: Hypeabisid/ Robby Fathan)

Kala Sejarah & Perspektif Membentuk Wajah Jakarta Saat Ini

31 May 2025   |   20:30 WIB
Image
Yudi Supriyanto Jurnalis Hypeabis.id

Sejarah memiliki peran penting dalam kehidupan saat ini, baik itu individu maupun kota - tidak terkecuali dengan Jakarta. Kejadian atau peristiwa pada masa lampau ditambah dengan perspektif masyarakat - pada akhirnya - merevolusi  Jakarta menjadi suatu kota yang dikenal oleh masyarakat pada saat ini, baik dari sisi positif atau negatif. 

Di dalam ruangan pameran tunggal Kei Imazu di Museum Macan bertajuk The Sea is Barely Wrinkled, Genhype akan diajak oleh sang seniman “menyelam” ke dasar laut tempat kapal Batavia kandas ratusan tahun silam. Di dasar laut yang dibuat oleh Kei, kita akan menemukan banyak hal.

Baca juga: 5 Pameran Seni Juni 2025 di Jakarta yang Sayang untuk Dilewatkan

Salah satu di antaranya adalah karya seni instalasi kapal karam berjudul Batavia Ship (2025) yang terbuat dari plastik ABS, poliuretan, struktur besi, resin, kain, dan pasir. Karya ini menjadi salah satu yang menarik perhatian.

Kita dapat melihat bagaimana kondisi kapal yang hanya menyisakan sedikit bagiannya dengan kondisi yang juga sudah sangat menyedihkan – tergerus oleh air laut. Kehadiran karya seni instalasi itu bukan tanpa alasan. Batavia Ship dibuat berdasarkan bentuk kapal Batavia yang karam pada era 1600an.

Kapal tersebut pada dahulunya menjadi ambisi kolonial tentang kendali, perdagangan, dan penaklukan. Namun, ambisi itu tidak pernah tercapai. Tidak hanya itu, para penumpang selamat dan pemimpin kapal juga harus mengalami kudeta brutal.

Dia menggunakan teknik pencetakan 3 dimensi untuk membentuk tulang kerangka kapal sebagai sesuatu yang telah retak alih-alih membuatnya sebagai kapal yang megah. Rekonstruksi bangkai kapal Batavia beserta artefaknya menjadi monumen tandingan yang menandai momen kegagalan ambisi imperial dan cara kekuasaan tergerus oleh waktu.

Tenggelamnya kapal Batavia pada 1626 dan kudeta brutal yang terjadi menjadi titik tolak sang seniman dalam menyajikan sejarah Jakarta yang sangat kaya.

Asisten kurator Aditya Lingga menuturkan bahwa peristiwa kandasnya kapal Batavia pada 1600an dan kudeta yang terjadi terhadap pemimpin kapal dan para penumpang yang selamat digambarkan sebagai ambisi kolonial yang gagal.

Ambisi itu menggema sampai saat ini. Imazu menjukstaposisikan gema ambisi tersebut dengan kerentanan kondisi ekologis kawasan pesisir Jakarta pada masa kini, seperti banjir musiman, permukaan tanah yang turun, dan tantangan lingkungan lainnya yang terus membentuk masa depan kota.

Jika berkaca pada kondisi saat ini, jejak-jejak ambisi terkait dengan kekuasaan itu masih terasa dalam perkembangan kota ketika manusia memiliki keinginan untuk mengelola atau menguasainya.

Lewat karya berjudul The Land Lost to The Sea (2024) dengan medium Plastik ABS, cat minyak, lampu LED, artefak berukuran 835 cm x 308 cm x 5 cm, dia menyoroti tentang suatu area yang memiliki tata kota tidak cocok dengan kondisi geografisnya.

“Ditambah penduduk dan pemerintah yang membuat sampah ke sungai sehingga menjadi penyakit,” katanya. Kondisi ini membuat pusat kota harus berpindah, sehingga daerah pesisir tertinggal.

The Land Lost to The Sea menghadirkan relief tiga dimensi yang secara simbolik menggambarkan lanskap geologis Jakarta-mulai dari lapisan tanah, fosil makhluk purba, hingga citra tubuh Dewi Sri di bawah permukaan.

Dewi Sri atau yang kerap dikenal dengan nama Nyai Pohaci, dipercaya oleh banyak masyarakat Indonesia sebagai dewi kesuburan dan padi di berbagai mitologi lokal. Tidak hanya itu, Dewi Sri juga merupakan figur sentral di kehidupan agrikultur Indonesia.

Relief ini juga merefleksikan sejarah pembangunan pesisir Jakarta dari masa ke masa, yakni dari perluasan pelabuhan Sunda Kelapa di era kolonial, hingga proyek tanggul laut sebagai bagian dari National Capital Integrated Coastal Development (Pengembangan Terpadu Pesisir Ibu Kota Negara atau NCICD), untuk menanggulangi tantangan-tantangan ekologis termasuk banjir rob tahunan dan penurunan permukaan tanah.

Masyarakat pesisir dan nelayan lokal berulang kali harus beradaptasi terhadap berbagai perubahan pola hidup yang digerakkan oleh logika infrastruktur. Dalam narasi pembangunan modern ini, tubuh Dewi Sri hadir untuk merepresentasikan keseimbangan antara manusia dan alam yang terlupakan.

Dewi Sri bukan satu-satunya karakter mitologi yang terdapat dalam karya Imazu. Di pameran itu, dia juga menampilkan tokoh Nyi Roro Kidul. Lewat karya berjudul Nyai Roro Kidul (2025) dengan medium Plat besi, cat akrilik, kain, dan berdimensi variable, sang seniman menyimbolkan sebagai kekuasaan yang mengalahkan kapal Batavia sehingga karam.

Kehadiran karakter yang dikenal sebagai penguasa laut selatan Indonesia oleh masyarakat tersebut tidak dapat dilepaskan dari perkenalan Imazu setelah pindah ke Indonesia dan mendapati bahwa banyak orang tidak satu garis lurus ketika membaca sejarah. Masyarakat memiliki banyak perspektif dan kerap dihubungkan dengan alam.

Kei mengatakan bahwa pameran The Sea is Barely Wrinkled lahir dari keinginannya menggabungkan sejarah dengan cerita rakyat dan adat yang ada. Bukan tanpa alasan, semua berawal ketika sang seniman datang ke Indonesia.

Pada saat itu, dia menyadari cara Jakarta mengalami berbagai perubahan dan evolusi, dari segi fisik dan juga nama. Saat datang ke Indonesia, dia tahu bahwa tentara Jepang pernah datang pada masa kolonial dan Perang Dunia.

“Dengan latar belakang sejarah tersebut, Imazu merasakan perasaan yang cukup campur aduk. Pada awal, dia terkejut mengetahui latar belakang sejarah kota ini yang cukup kelam. Namun, sejarah tersebut pada akhirnya merevolusi menjadi kota Jakarta yang kita kenal sekarang—baik dari sisi positif maupun negative,” ujarnya.

Di Indonesia, khususnya di Jakarta, tidak hanya sejarah. Namun, juga cerita-cerita rakyat dan adat istiadat yang memainkan peran besar dalam perubahan masyarakat. Cerita adat tersebut sebenarnya membantu membentuk cara berpikir masyarakat lokal serta membentuk persepsi yang pada akhirnya turut membentuk masyarakat itu sendiri.

Dia menuturkan, pameran ini merupakan pandangan diri tentang Jakarta. Pandangan itu tentu akan berbeda jika dibandingkan dengan orang lain. Pameran The Sea is Barely Wrinkled berakar dari riset Imazu terhadap kawasan Sunda Kelapa- wilayah pesisir yang pernah menjadi pusat pelabuhan Perusahaan Hindia Timur Belanda (Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC) dan kini merupakan bagian dari Jakarta Utara.

Baca juga: Pameran Imersif di Museum Nasional Rayakan 75 Tahun Diplomasi Indonesia–Prancis

Pada 2018, Imazu berpindah ke Indonesia dan mencermati bagaimana masyarakat lokal memaknai sejarah secara melingkar, yakni ketika masa lalu hidup berdampingan dengan masa kini melalui alam, ritual, dan tradisi lisan.

Dalam konteks ini, tata ruang modern di Indonesia kerap berjalan berdampingan dan kadang bertabrakan dengan sistem kosmologi lokal yang telah lama mengakar.
 

SEBELUMNYA

Bilal Indrajaya Siapkan Setlist Beda di BNI Java Jazz Festival Day 2

BERIKUTNYA

5 Musisi yang Pantang Dilewatkan pada Gelaran Hari Kedua BNI Java Jazz 2025

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga