Ilustrasi usaha kemasan berkelanjutan | Pexels/Karolina Grabowska

Bisnis Kemasan Ramah Lingkungan Kian Dilirik, Ini Peluang & Tantangannya

04 February 2025   |   10:30 WIB
Image
Aldehead Marinda M. U. Mahasiswa Jurnalistik Universitas Padjadjaran

Tren kesadaran limgkungan yang semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir telah mendorong berkembangnya berbagai usaha berbasis keberlanjutan. Konsumen kini makin selektif dalam memilih produk yang ramah lingkungan, sehingga bisnis dengan label sustainable semakin mendapat tempat di pasar.
 
Salah satu pelaku usaha yang melihat itu sebutlah David Christian (32) sebagai pemilik bisnis sustainable package yang pertama. Bekal pengalamannya tinggal empat tahun di Kanada membuatnya semakin sadar akan betapa jomplangnya pola konsumsi plastik di Kanada dan Indonesia.

“Dari sana jadi mikir, ingin buat satu bisnis tapi harus ada impactnya. Dari pemikiran bisnis aku udah mikir bahwa lingkungan akan jadi salah satu yang booming,” ujar David.

Tekatnya tertuang lewat kehadiran Evoware di tahun 2016 dengan Ello Jello Cup (gelas yang bisa dimakan) sebagai lini produk perdana mereka. Niat David sederhana, ia hendak membuka pikiran masyarakat lewat pengembangan produk ramah lingkungan yang benar-benar dapat terserap kembali oleh alam.

Baca juga: Peluang Manis Bisnis Bakery, Roti Jadul Topping Kekinian sampai Isian Mochi ala Jepang

Kini Evoware telah hadir dengan lebih dari 23 lini produk guna pakai dengan bermacam bahan dasar mulai dari kertas, beras, bambu hingga singkong. Dari puluhan produk yang dijualnya, kantong berbahan rumput laut; singkong; hingga sedotan beras adalah rangkaian produk yang paling laris diburu konsumen.

“Kita lebih ke B2B dan yang paling banyak di HOREKA (Hotel, Restoran dan Kafe),” lanjutnya bicara soal target pasar Evoware. Beragam bisnis yang menjalin kerja sama dengan perusahaan David ini sudah tersebar ke lebih dari 50 negara. Adapun pasar utama ekspor mereka mencakup Australia, Malaysia dan Jerman.

David enggan merinci berapa kisaran pendapatan usahanya ini dan hanya menyebut bahwa permintaan produknya bergantung pada situasi ekonomi setempat. “Contohnya pas Covid itu kita turun banget. Baru bisa mulai naik setelah ada kelonggaran usaha makanan boleh mulai jualan lewat layanan pesan antar,” rinci David.

Ke depan, Evoware sedang merancang produk bahan baku pengganti biji plastik yang dapat digunakan di mesin plastik biasa. Nantinya produk-produk yang dihasilkan dapat mencakup sendok, garpu, hingga piring dengan bahan serupa, yakni masih berbasis rumput laut.

Selaras, Inge Setyawati selaku Direktur PT Intera Lestari Polimer (Enviplast) (55) lewat jawaban tertulis menceritakan keprihatinan yang sama terhadap sampah plastik. Usaha ini menciptakan compostable biopolymer compound, sejenis bahan baku kantong untuk menggantikan plastik umum yang berbahan dasar minyak bumi. Jika kantong plastik umum dibuat dengan bahan yang sangat sulit bahkan cenderung tidak dapat terurai oleh lingkungan, Enviplast justru hadir dengan terobosan kantong berbahan alam yang sepenuhnya dapat kembali terserap oleh alam. 

Usaha ini hadir sejak tahun 2009 dan telah memiliki dua lini produk yang konstan diakui di pasaran bernama Enviplast WS  (Water Soluble) dan Enviplast WR (Water Resistant). Inge menyebut bahwa lini produk Enviplast WR kini banyak diburu konsumen dengan wujud produk berupa poly-mailers, bubble wrap, sarung tangan hingga cangkir dengan bahan yang sama. 

“Produk Enviplast juga sudah bersertifikasi SNI Ekolabel 7188-7:2022 dan Sertifikasi internasional yakni DIN CERTCO Home Compostable; DIN CERTCO Industrial Compostable,” ujar Inge. Enviplast lebih banyak menyasar merek, instansi, hingga partner produksi produk jadi lainnya dengan visi yang selaras. Ia merinci bahwa rekan bisnis Enviplast umum menggunakan produknya sebagai bahan baku pengganti plastik untuk kantong belanja, packaging, produk kebutuhan sehari-hari atau souvenir.

Enviplast menjangaku pasar lewat beragam program edukasi baik daring maupun fisik. Jangkauan fisik dilakukan mereka lewat kolaborasi bersama dengan sejumlah universitas maupun sekolah untuk menanamkan dasar pemahakan akan produk berkelanjutan.

Terakhir ada Raeleen Tedjadinata (27) sebagai pemilik usaha kemasan berkelanjutan bernama Mattera Solutions. Pengalamannya bekerja di bagian pergudangan salah satu startup e-commerce terbesar di Indonesia membuatnya akrab dengan pola penggunaan plastik yang masif dan kurang bertanggung jawab.

Ironi tersebut yang mendorong Raiileen di tahun 2019 membangun bisnis kemasan berkelanjutan, utamanya berbahan dasar kertas. Kini mereka punya total 8 lini produk pengganti plastik dengan Honeycomb Paper, Cushion Paper dan Gummed Tape sebagi top of three best selling Mattera.

“Target personal kita ada tiga. Individual, brand and corporate dan UMKM,” ujar Raeleen.
Mereka menjangkau pasar lewat semua kanal pemasaran. Dalam konteks kerja sama, terbaru mereka membangun kolaborasi dengan salah satu acara kecantikan nasional betajuk Cosmobeauté Indonesia 2024.

Langkah-langkah tersebut yang membuat usaha ini mampu menakar omset mencapai Rp 6 miliar per tahunnya saat ini.
Soal tantangan, baik David , Inge sampai Raeleen sepakat bahwa edukasi pasar akan konsep produk keberlanjutan masih menjadi struggle utamanya. Meyakinkan konsumen bahwa produk selain plastik contohnya rumput laut, singkong hingga kertas adalah rangkaian bahan baku yang potensial mensubtitusi nilai guna plastik adalah PR terbesar ketiga bisnis hijau ini.

“Edukasi pasar karena sekarang banyak produk yang ikutan pakai label sustainable padahal gak benar demikian. Masih punya campuran plastik atau kadang masih tidak bisa terdegradasi oleh alam produknya,” ucap David.

Inge menambahkan “Rasa kesadaran masyarakat soal produk berbahan alami dan compostable sih. Mereka masih concern sama harga produk yang masih sangat tinggi,” tuturnya.

“Selain edukasi juga masalah minim kepercayaan konsumen. Mereka trust issue ini kertas mana bisa sekuat plastik untuk lindungi produk dan lainnya,” tutup Raeleen.

Baca juga: Menata Sampah di Perkotaan, Inovasi Teknologi dan Kolaborasi Berkelanjutan

Editor: Puput Ady Sukarno

SEBELUMNYA

Hariyadi B. Sukamdani, Sosok Pengusaha yang Aktif Berorganisasi Sejak Muda

BERIKUTNYA

Memahami Life Path Number, Angka yang Menunjukkan Jalan Hidup Manusia

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: