Tradisi Pacu Jalur Bakal Diusulkan Jadi Warisan Budaya UNESCO
13 July 2025 |
15:30 WIB
Tradisi Pacu Jalur, perlombaan perahu khas masyarakat Kuantan Singingi, Riau, tengah digodok oleh Kementerian Kebudayaan agar bisa diusulkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) UNESCO. Upaya ini digagas sebagai bagian dari strategi untuk mengangkat warisan budaya lokal ke panggung internasional.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan tradisi Pacu Jalur secara nasional sebenarnya sudah diakui dan ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak 2014. Akan tetapi, pihaknya ingin tradisi ini lebih diakui secara global, dengan berencana memasukkannya ke WBTb.
“Ini adalah satu ekspresi budaya yang memang diharapkan bisa menginternasionalisasikan ekspresi budaya kita,” ucap Fadli Zon.
Baca juga: Viral di Media Sosial, Begini Asal Usul Festival Pacu Jalur yang Sudah Ada Sejak Abad ke-17
Namun, proses pengajuan ke UNESCO, diakui Fadli, memang tidak mudah. Pasalnya, terdapat adanya antrean panjang dari berbagai negara yang ingin mendaftarkan warisan budayanya. Kendati demikian, dirinya optimis bahwa dengan dukungan riset yang memadai dan dokumentasi yang lengkap, Indonesia punya peluang besar mendaftarkan tradisi ini ke UNESCO.
Jika berhasil diakui UNESCO, Pacu Jalur akan menyusul sejumlah budaya Indonesia lainnya seperti wayang, batik, dan angklung, yang lebih dahulu masuk dalam daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Pengakuan ini nantinya diharapkan tidak hanya memperkuat pelestarian budaya lokal, tapi juga mendorong pariwisata dan ekonomi kreatif di daerah asalnya.
"Memang antrian cukup banyak, namun ini merupakan bagian dari tradisi budaya yang panjang ratusan tahun. Kita harapkan bisa kita perjuangkan, kita buatkan kajian, naskah akademik, serta dossier," imbuhnya.
Mengutip laman Kementerian Kebudayaan, tradisi Pacu Jalur saat ini sudah mencapai usia 120-an tahun. Tradisi ini pertama kali diperkenalkan pada masa penjajahan Belanda pada 1905. Mulanya, jalur digunakan untuk mengangkut kebutuhan sehari-hari.
Namun, tradisi ini kemudian berkembang menjadi perlombaan perahu yang dipersembahkan untuk Ratu Wilhelmina setiap tahunnya pada 31 Agustus. Setelah Indonesia merdeka, Pacu Jalur berubah fungsi menjadi ajang peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI yang rutin diselenggarakan setiap bulan Agustus dan kini menjadi agenda nasional.
Pemerintah kabupaten Kuantan Singingi kemudian mengonsepkan tradisi ini dalam bentuk Festival Pacu alur. Konsepnya bukan hanya sekadar perlombaan adu kecepatan. Pacu Jalur juga menjadi simbol kebersamaan dan identitas masyarakat Kuansing.
Oleh karena itu, Festival Pacu Jalur umumnya diselenggarakan dengan penuh kemeriahan. Ragam kegiatan yang turut memeriahkan acara ini antara lain ritual tradisional Maelo Jalur, pertunjukan seni budaya daerah, hingga penampilan lintas etnis serta panggung seni dari berbagai kabupaten/kota.
Dalam festival ini, penonton juga dapat menikmati aneka hiburan lain, seperti musik modern dan konser, seminar kebudayaan, kompetisi foto dan video, expo UMKM serta bazar kuliner tradisional, hingga pameran karya visual bertema Pacu Jalur.
Rangkaian Festival Pacu Jalur biasanya berlangsung cukup panjang karena acara puncaknya baru digelar di penghujung Agustus. Tahun ini, rangkaian perlombaan dan kegiatan dimulai dengan Pacu Jalur Rayon 1 yang telah berlangsung pada 13–15 Juni 2025 yang lalu di Tepian Nyiur Melambai, Kecamatan Cerenti.
Setelah itu, giliran Rayon 2 yang juga sudah digelar pada 20–22 Juni di Tepian Gudang Pulau Gobah, Kecamatan Hulu Kuantan. Setelah itu, Rayon 3 juga menyusul dengan penyelenggaraan dilakukan pada 4–6 Juli di Tepian Rajo, Kecamatan Pangean.
Bagi masyarakat yang ketinggalan dan ingin menyaksikan Pacu Jalur, tenang, masih ada banyak rangkaian kegiatan lain. Pacu Jalur untuk Rayon 4 misalnya, baru akan berlangsung pada 18–20 Juli di Tepian Datuak Bandaro Lelo Budi, Kecamatan Kuantan Tengah.
Rangkaian kegiatan ini akan dilanjutkan dengan Pacu Jalur Mini yang diadakan oleh Ikatan Pemuda Pulau Aro pada 25–27 Juli di Tepian Ronge Biru. Memasuki awal Agustus, acara Pacu Jalur dikombinasikan dengan kegiatan kebudayaan yang berlangsung pada 7–10 Agustus di Tepian Lubuak Sobae, Kecamatan Kuantan Hilir.
Menjelang puncak festival, digelar Pacu Jalur Mini Teluk Kuantan pada 16–18 Agustus di Tepian Narosa. Barulah pada 20–24 Agustus 2025, seluruh rangkaian ditutup dengan acara utama bertajuk Pacu Jalur Event Tradisional yang dilangsungkan meriah di Tepian Narosa, Kecamatan Kuantan Tengah.
Baca juga: Jadwal Lengkap & Link Streaming Festival Pacu Jalur di Riau
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan tradisi Pacu Jalur secara nasional sebenarnya sudah diakui dan ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak 2014. Akan tetapi, pihaknya ingin tradisi ini lebih diakui secara global, dengan berencana memasukkannya ke WBTb.
“Ini adalah satu ekspresi budaya yang memang diharapkan bisa menginternasionalisasikan ekspresi budaya kita,” ucap Fadli Zon.
Baca juga: Viral di Media Sosial, Begini Asal Usul Festival Pacu Jalur yang Sudah Ada Sejak Abad ke-17
Namun, proses pengajuan ke UNESCO, diakui Fadli, memang tidak mudah. Pasalnya, terdapat adanya antrean panjang dari berbagai negara yang ingin mendaftarkan warisan budayanya. Kendati demikian, dirinya optimis bahwa dengan dukungan riset yang memadai dan dokumentasi yang lengkap, Indonesia punya peluang besar mendaftarkan tradisi ini ke UNESCO.
Jika berhasil diakui UNESCO, Pacu Jalur akan menyusul sejumlah budaya Indonesia lainnya seperti wayang, batik, dan angklung, yang lebih dahulu masuk dalam daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Pengakuan ini nantinya diharapkan tidak hanya memperkuat pelestarian budaya lokal, tapi juga mendorong pariwisata dan ekonomi kreatif di daerah asalnya.
"Memang antrian cukup banyak, namun ini merupakan bagian dari tradisi budaya yang panjang ratusan tahun. Kita harapkan bisa kita perjuangkan, kita buatkan kajian, naskah akademik, serta dossier," imbuhnya.
Mengutip laman Kementerian Kebudayaan, tradisi Pacu Jalur saat ini sudah mencapai usia 120-an tahun. Tradisi ini pertama kali diperkenalkan pada masa penjajahan Belanda pada 1905. Mulanya, jalur digunakan untuk mengangkut kebutuhan sehari-hari.
Namun, tradisi ini kemudian berkembang menjadi perlombaan perahu yang dipersembahkan untuk Ratu Wilhelmina setiap tahunnya pada 31 Agustus. Setelah Indonesia merdeka, Pacu Jalur berubah fungsi menjadi ajang peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI yang rutin diselenggarakan setiap bulan Agustus dan kini menjadi agenda nasional.
Pemerintah kabupaten Kuantan Singingi kemudian mengonsepkan tradisi ini dalam bentuk Festival Pacu alur. Konsepnya bukan hanya sekadar perlombaan adu kecepatan. Pacu Jalur juga menjadi simbol kebersamaan dan identitas masyarakat Kuansing.
Oleh karena itu, Festival Pacu Jalur umumnya diselenggarakan dengan penuh kemeriahan. Ragam kegiatan yang turut memeriahkan acara ini antara lain ritual tradisional Maelo Jalur, pertunjukan seni budaya daerah, hingga penampilan lintas etnis serta panggung seni dari berbagai kabupaten/kota.
Dalam festival ini, penonton juga dapat menikmati aneka hiburan lain, seperti musik modern dan konser, seminar kebudayaan, kompetisi foto dan video, expo UMKM serta bazar kuliner tradisional, hingga pameran karya visual bertema Pacu Jalur.

Pacu Jalur (Sumber gambar: Kementerian Pariwisata)
Setelah itu, giliran Rayon 2 yang juga sudah digelar pada 20–22 Juni di Tepian Gudang Pulau Gobah, Kecamatan Hulu Kuantan. Setelah itu, Rayon 3 juga menyusul dengan penyelenggaraan dilakukan pada 4–6 Juli di Tepian Rajo, Kecamatan Pangean.
Bagi masyarakat yang ketinggalan dan ingin menyaksikan Pacu Jalur, tenang, masih ada banyak rangkaian kegiatan lain. Pacu Jalur untuk Rayon 4 misalnya, baru akan berlangsung pada 18–20 Juli di Tepian Datuak Bandaro Lelo Budi, Kecamatan Kuantan Tengah.
Rangkaian kegiatan ini akan dilanjutkan dengan Pacu Jalur Mini yang diadakan oleh Ikatan Pemuda Pulau Aro pada 25–27 Juli di Tepian Ronge Biru. Memasuki awal Agustus, acara Pacu Jalur dikombinasikan dengan kegiatan kebudayaan yang berlangsung pada 7–10 Agustus di Tepian Lubuak Sobae, Kecamatan Kuantan Hilir.
Menjelang puncak festival, digelar Pacu Jalur Mini Teluk Kuantan pada 16–18 Agustus di Tepian Narosa. Barulah pada 20–24 Agustus 2025, seluruh rangkaian ditutup dengan acara utama bertajuk Pacu Jalur Event Tradisional yang dilangsungkan meriah di Tepian Narosa, Kecamatan Kuantan Tengah.
Baca juga: Jadwal Lengkap & Link Streaming Festival Pacu Jalur di Riau
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.