Kapal penyeberangan kerap menghadapi gelombang (Sumber gambar/ilustrasi: Pexels/ William Oris)

Tenggelamnya KMP Tunu Pratama Berdampak Besar Terhadap Pariwisata Domestik

08 July 2025   |   21:06 WIB
Image
Yudi Supriyanto Jurnalis Hypeabis.id

Kecelakaan KMP Tunu Pratama beberapa waktu lalu di Selat Bali memiliki dampak yang lebih jauh bagi sektor pariwisata. Pemerintah diminta untuk lebih memperhatikan moda transportasi berbasis laut, yang kerap digunakan untuk ke tempat wisata mengingat Indonesia adalah negara kepulauan. 

Kabar duka datang dari Selat Bali pada beberapa waktu lalu. KMP Tunu Pratama yang mengangkut sejumlah penumpang dan kendaraan itu tenggelam ketika sedang berlayar. Beberapa di antaranya meninggal dunia. 

Kecelakaan itu menjadi perhatian banyak pihak. Selain menghilangkan nyawa sejumlah penumpang, tenggelamnya kapal KMP Tunu Pratama juga dinilai dapat berdampak terhadap sektor pariwisata. Terlebih, Selat Bali merupakan jalur yang kerap ditempuh oleh wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri yang hendak ke Bali dari pulau Jawa atau sebaliknya. 

Baca juga: Wendy Walters Bagikan Kronologi Kecelakaan Jet Ski di Danau Toba 

Pengamat pariwisata yang juga guru besar pariwisata Universitas Udayana I Putu Anom menilai bahwa peristiwa tenggelamnya kapal di Selat Bali tentu berdampak kepada aktivitas wisatawan.  “Terutama wisatawan domestik dan masyarakat yang hendak menyeberang dari Jawa ke Bali maupun sebaliknya dari Bali ke Jawa,” katanya kepada Hypeabis.id.

Kejadian tersebut akan membuat wisatawan merasa khawatir akan keselamatan penyeberangan di Selat Bali, yang merupakan lalu lintas penyeberangan laut yang sangat ramai. Baik penyeberangan orang maupun penyeberangan kendaraan yang mengangkut barang.

Selat Bali merupakan jalur pelayaran dengan arus laut yang cukup kencang, sehingga perlu mendapatkan perhatian serius, khususnya Kementerian Perhubungan agar cermat dalam pengelolaan penyeberangan dan persyaratan kelaikan kapal.

“Perlu dipertanyakan kenapa ada mesin kapal yang mati, wajib diawasi dan dievaluasi apakah kapal-kapal sudah lama dan tidak laik jalan? Apakah terjadi kelebihan muatan barang, kendaraan, maupun penumpang?,” ujarnya.

Dia mengingatkan, moda transportasi laut merupakan sarana yang kerap menjadi pilihan wisatawan ketika berkunjung ke Indonesia mengingat Merah Putih adalah negara kepulauan. Jadi, transportasi yang layak tidak bisa ditawar demi memberikan rasa aman dan nyaman bagi wisatawan maupun penumpang lain. 

Di sisi lain, wisatawan juga harus berhati-hati ketika memilih moda transportasi yang baik dan layak. Para pelancong perlu mencermati volume penumpang ketika hendak menggunakan sarana transportasi berbasis laut untuk mengetahui bahwa kapasitas yang ada berlebih atau tidak.

Dia menilai bahwa pemerintah sebaiknya menyiapkan alat transportasi yang layak bagi wisatawan walaupun tarifnya yang dikenakan bisa lebih mahal, mengingat keselamatan merupakan hal utama. Selain itu, pemerintah juga perlu memastikan bahwa pengawasan terhadap moda transportasi berbasis laut berjalan. 

“Kalau sudah saatnya kapal masuk dock tentu diwajibkan,” ujarnya.

Tidak hanya itu, kesiapsiagaan tim dengan peralatan yang memadai juga penting untuk disiapkan agar selalu tersedia dan cepat beroperasi kala terjadi bencana guna mencegah adanya korban yang berjatuhan. 

Pengamat Transportasi Djoko Setijowarno menuturkan kejadian tenggelamnya KMP Tunu Pratama menjadi pelajaran berharga dan pengalaman memilukan bagi bangsa ini. Kejadian kapal tenggelam bukan yang pertama kali. Kejadian yang berulang ini menunjukkan bahwa banyak pihak tidak pernah mau belajar dan berbenah dari setiap kecelakaan yang terjadi.

“Alasan mendasar dan gampang dilontarkan ke  masyarakat adalah cuaca buruk, daftar manifest, tata cara pemuatan dan lemahnya pengawasan terhadap keselamatan manajemen pelayaran. Alih-alih nakhoda, pemilik kapal dan staf bawah yang harus bertanggung jawab,” katanya. 

Angkutan penyeberangan merupakan angkutan yang berfungsi sebagai jembatan untuk menghubungkan jaringan jalan atau jalur kereta api yang dipisahkan oleh perairan guna mengangkut penumpang dan kendaraan beserta muatannya.

Dengan begitu, penyelenggaraan angkutan penyeberangan tidak bisa dipisahkan dengan jaringan jalan. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki lebih kurang 17.000 pulau, Indonesia sangat membutuhkan angkutan penyeberangan yang handal modern dengan tingkat keselamatan, kenyamanan dan keamanan yang mumpuni. 

Sebagai salah satu solusi agar kejadian kapal penyeberangan tidak terulang kembali, pemerintah seharusnya mulai memikirkan untuk memisahkan urusan penyeberangan dari direktorat jenderal perhubungan darat dan direktorat jenderal perhubungan laut.

“Menjadi Direktorat Jenderal Transportasi Sungai Danau dan Penyeberangan. Hal itu sangat mendasar, mengingat banyaknya lintasan penyeberangan di perairan laut, sungai dan danau, yang semua ini membutuhkan penanganan yang serius,” ujarnya.

Indonesia yang merupakan salah satu kepulauan terbesar perlu memberikan perhatian terhadap penyeberangan dengan porsi yang sama dengan penanganan angkutan laut, udara, jalan, dan kereta api. 

Baca juga: Profil Penyanyi Thailand Ruangsak Loychusak yang Selamat dari Kecelakaan Pesawat Pakai Kursi 11A 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor:

SEBELUMNYA

Game Open World Upin & Ipin Universe Siap Rilis di Steam 17 Juli 2025  

BERIKUTNYA

Cegah Telat Penanganan Sindrom Nefrotik, IDAI Dorong Pemeriksaan Rutin di Sekolah

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga